Tampilkan postingan dengan label Produktif. Tampilkan semua postingan

Ketika KIK Kuliah Gagal Menyelamatkan Mimpi Anak Miskin


KIK Kuliah gagal selamatkan mimpi anak miskin
educational-conept-tired-student-library (1).jpg


"Korupsi dana pendidikan bukan hanya mencuri uang negara. Ia bisa mencuri masa depan seorang anak yang hanya memiliki satu jalan untuk mengubah hidupnya: pendidikan."



Bayangkan seorang anak yang sejak kecil belajar di bawah lampu redup, berjalan kaki ke sekolah, dan hidup dari penghasilan orang tua yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 Ia tidak pernah meminta dilahirkan miskin. 

Yang ia minta hanya satu kesempatan.

Kesempatan itu akhirnya datang melalui Program KIP Kuliah. Setelah dinyatakan layak melalui proses verifikasi, ia percaya bahwa negara hadir untuk memastikan kemiskinan tidak lagi menjadi penghalang meraih pendidikan tinggi. 

Namun, di tengah perjalanan, harapan itu berubah menjadi mimpi buruk. Biaya hidup yang seharusnya menjadi haknya berkurang.  Adi (bukan nama sebenarnya) mendapatkan  bantuan yang semestinya menopang kehidupannya  sebesar  Rp.1,250,000 (kategori klaster 4 , per bulan) .  Namun, dia tak menerima sebesar itu, setelah dipotong oleh pengurus penyelenggaran, uang yang diteirmanya  hanya tinggal Rp.900.000 . 

Lebih menyakitkan lagi, ia diminta membayar biaya pendidikan yang sebelumnya dinyatakan ditanggung oleh program tersebut. Adi masuk sebagai penerima beasiswa Prodi Akreditasi  Baik Sekali B sebear Rp.4.000.000 per semester.  

 Bukan karena ia gagal belajar. Bukan karena nilainya buruk. Tetapi karena hak yang seharusnya melindunginya ternyata di tengah jalan gara-gara dana itu habis dikorups, Adi dipaksa untuk tidak melanjutkan , atau jika melanjutkan harus dengan dana sendiri dan mengganti dana yang pernah dipakainya untuk kuliah. 

Inilah tragedi yang seharusnya membuat kita semua bertanya. Kalau bantuan pendidikan untuk anak miskin saja masih bisa tidak sampai kepada penerimanya, lalu siapa yang sedang kita selamatkan? Pendidikan selalu disebut sebagai jalan keluar dari kemiskinan.

 Namun jalan itu akan runtuh apabila dana yang diperuntukkan bagi mahasiswa miskin tidak dikelola secara transparan dan akuntabel. Yang hilang bukan sekadar anggaran. Yang hilang adalah kesempatan. Setiap rupiah bantuan yang tidak sampai kepada penerima berarti satu langkah lebih dekat bagi seorang mahasiswa untuk berhenti kuliah.

Setiap penyimpangan berarti satu mimpi yang dipatahkan. Setiap anak yang gagal menyelesaikan pendidikan karena haknya tidak diterima adalah kegagalan kita sebagai bangsa. Lebih menyedihkan lagi, mereka bukan kehilangan kesempatan karena kurang cerdas. 

Mereka kehilangan kesempatan karena sistem yang seharusnya melindungi mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Lalu kita bertanya mengapa masih banyak anak-anak pintar dari keluarga miskin yang tidak mampu menyelesaikan kuliah. Jawabannya mungkin bukan karena mereka tidak layak. Mungkin karena kita belum mampu menjaga hak mereka. 

Hari ini, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan satu mahasiswa. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap program bantuan pendidikan, terhadap keadilan, dan terhadap keyakinan bahwa negara benar-benar hadir bagi mereka yang paling membutuhkan.

Jika dugaan penyalahgunaan dana bantuan pendidikan benar terjadi, maka korbannya bukan hanya mahasiswa penerima bantuan. Korban sesungguhnya adalah masa depan Indonesia. Sebab bangsa yang membiarkan anak-anak cerdas berhenti kuliah karena hak mereka tidak sampai kepada mereka sedang kehilangan lebih dari sekadar lulusan perguruan tinggi.

 Bangsa itu sedang kehilangan calon guru, dokter, insinyur, peneliti, hakim, pemimpin, dan inovator yang seharusnya membangun negeri ini. Anak-anak miskin tidak meminta dilahirkan dalam keterbatasan. Mereka hanya meminta kesempatan yang adil. Dan ketika kesempatan itu dirampas, yang terlantar bukan hanya seorang anak.

 Yang terlantar adalah masa depan Indonesia.

Ijazah Saja Tak Cukup Sebagai Modal Kerja: AI Sedang Mengubah Standar Kerja Dunia

freepik.com



"Saya sudah lulus kuliah." 

 Kalimat itu dulu menjadi simbol kesiapan memasuki dunia kerja. Hari ini, kalimat yang sama belum tentu cukup untuk membuka pintu kesempatan. 

Dunia kerja sedang mengalami perubahan yang mungkin lebih cepat dibandingkan perubahan apa pun dalam dua dekade terakhir. Perubahan itu bukan sekadar hadirnya teknologi baru, melainkan bergesernya cara perusahaan mendefinisikan talenta. Kini, perusahaan tidak lagi hanya bertanya, "Apa gelar Anda?" atau "Berapa lama pengalaman kerja Anda?" Pertanyaan yang semakin sering muncul adalah, "Apa yang dapat Anda lakukan dengan bantuan AI untuk menciptakan nilai bagi organisasi?" Pertanyaan tersebut mencerminkan kenyataan baru. Ijazah tetap penting. 

Pengalaman kerja tetap berharga. Namun keduanya tidak lagi menjadi pembeda utama ketika hampir semua orang memiliki akses pada pendidikan tinggi, sertifikasi, dan informasi yang sama. Yang membedakan kini adalah kemampuan belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas serta menghasilkan solusi yang lebih baik. 

Perubahan ini bukan sekadar asumsi. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, perubahan teknologi—terutama kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transformasi digital—akan menjadi pendorong utama perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja. 

Di sisi lain, LinkedIn Workplace Learning Report secara konsisten menunjukkan bahwa keterampilan berkembang jauh lebih cepat daripada gelar akademik. Banyak perusahaan kini merekrut berdasarkan keterampilan (skills-based hiring), bukan hanya berdasarkan latar belakang pendidikan.

Artinya, pasar kerja sedang mengirimkan pesan yang sangat jelas: kemampuan untuk terus belajar menjadi lebih penting daripada apa yang pernah dipelajari. 

Ironisnya, sebagian besar pencari kerja masih terjebak pada pola pikir lama. Mereka mengumpulkan sertifikat, mengejar gelar tambahan, atau berharap pengalaman kerja yang panjang akan cukup untuk mempertahankan daya saing. Padahal perusahaan saat ini menghadapi tantangan yang berbeda. Persaingan global semakin ketat, biaya operasional terus meningkat, sementara pelanggan menuntut layanan yang lebih cepat, lebih personal, dan lebih efisien. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu menghasilkan lebih banyak nilai dalam waktu yang lebih singkat. 

Di sinilah AI menjadi faktor pembeda.

 Seorang analis bisnis yang memanfaatkan AI dapat mengolah data dalam hitungan menit, bukan berjam-jam. Seorang tenaga pemasaran dapat menyusun berbagai alternatif kampanye dalam waktu yang jauh lebih singkat. Seorang staf sumber daya manusia dapat mempercepat penyusunan deskripsi pekerjaan, analisis CV, hingga materi pelatihan. Bahkan profesi yang selama ini dianggap sangat bergantung pada keahlian manusia—seperti konsultan, pengacara, dosen, maupun dokter—mulai memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. 

AI tidak menggantikan keahlian mereka. AI memperbesar dampak dari keahlian tersebut. Karena itu, kekhawatiran bahwa AI akan mengambil semua pekerjaan sesungguhnya kurang tepat. Yang lebih realistis adalah bahwa mereka yang mampu bekerja berdampingan dengan AI akan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang memilih mengabaikannya.

 Lalu bagaimana dengan lulusan baru yang belum memiliki pengalaman AI?

 Jawabannya justru memberikan harapan. 

Di era AI, pengalaman tidak lagi semata-mata diukur dari lamanya seseorang bekerja. Pengalaman juga dapat dibangun melalui proyek nyata. Membangun chatbot sederhana, menyusun analisis pasar dengan bantuan AI, membuat otomatisasi pekerjaan administratif, atau mengembangkan portofolio penggunaan AI dalam bidang tertentu dapat menjadi bukti kompetensi yang jauh lebih meyakinkan daripada sekadar daftar sertifikat.

 Hal yang sama berlaku bagi para profesional senior. 

Banyak yang merasa terlambat mempelajari AI karena menganggap teknologi tersebut hanya relevan bagi programmer atau ilmuwan data. Padahal yang paling dibutuhkan perusahaan bukan hanya orang yang mampu membangun model AI, melainkan mereka yang memahami proses bisnis dan mampu mengintegrasikan AI untuk menyelesaikan persoalan organisasi. 

Pengalaman memimpin tim, memahami pelanggan, membaca dinamika pasar, serta mengambil keputusan strategis tetap menjadi aset yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Ketika pengalaman tersebut dipadukan dengan pemanfaatan AI secara efektif, nilainya justru meningkat.

Karena itu, tidak semua orang harus menjadi ahli teknis AI. Dunia kerja juga membutuhkan profesional yang mampu menjadi penghubung antara teknologi dan bisnis: pemimpin transformasi digital, manajer proyek AI, analis bisnis, konsultan, spesialis operasional, hingga pemilik produk yang memahami bagaimana AI dapat menciptakan nilai bagi perusahaan.

 Inilah sebabnya mengapa literasi AI tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Sama seperti kemampuan menggunakan komputer dan internet yang dahulu dianggap sebagai keahlian khusus, dalam beberapa tahun ke depan kemampuan memanfaatkan AI kemungkinan akan menjadi kompetensi dasar yang diharapkan dimiliki hampir semua pekerja. 

Pada akhirnya, masa depan dunia kerja bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki ijazah paling tinggi atau pengalaman paling panjang. Masa depan akan lebih berpihak kepada mereka yang tidak berhenti belajar, berani beradaptasi, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperbesar kontribusinya. Ijazah membuka pintu pertama.

 Pengalaman memperkuat reputasi. Namun di era kecerdasan buatan, kemampuan menggunakan AI secara bijak dan produktif akan menjadi salah satu kunci untuk tetap relevan. 

Mungkin pertanyaan terpenting yang perlu kita renungkan hari ini bukan lagi, "Apakah AI akan mengambil pekerjaan saya?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Apakah saya sudah cukup siap bekerja bersama AI?"

Jika masih bingung, saya sudah senior, saya tak mampu belajar AI?

Tak perlu bingung, pelajari keterampilan ringan Senior dapat mempelajari keterampilan AI untuk mempermudah hidup dan melindungi diri. Fokus utamanya meliputi  dasar percakapan (prompting) untuk tugas sehari-hari, penilaian kritis untuk mengenali penipuan (scam) serta personalisasi hobi dan kesehatan, semuanya tanpa  perlu menjadi programmer.

Hari Buku Nasional: Saat Scroll Mengalahkan Lembar Buku

Hari Buku Nasional
Close-up-various-open-book (sumber: Freepik.com


Di tengah jari yang sibuk menggulir layar tanpa henti, buku perlahan kehilangan tempatnya, Hari Buku Nasional seharusnya menajdi pengingat pentingnya literasi, tetapi kenyataanya minat baca di Indonesia masih memprihatinkan. Buku Sering dianggap sekadar pelengkap, bahkan kalah penting dibanding gadget yang mampu menyajikan hiburan instan hanya dalam hitungan detik. Padahal, dari lembar-lembar bukulah lahir cara berpikir kritis, imajinasi, dan kedalaman pengetahuan yang tak selalu bisa diberikan oleh layar. 


Ketika saya jalan-jalan dan duduk di suatu transportasi umum, mata saya tertuju ke beberapa penumpang. Dengan santainya, penumpang , baik itu lelaki maupun perempuan, mulai memegang Handphone. Mereksa sangat fokus dengan scrolling dan menatap layar tanpa berkedip. Apakah mereka itu membaca atau sekedar scrolling? Ketika saya berada di dekat mereka, ternyata mereka mencoba mencari apa yang sedang tren saat ini, baik itu musik, pakaian atau film.

 Di tempat yang berbeda, ketika saya masuk ke sebuah toko buku Gramedia, menyusuri beberapa tempat yang dijadikan nongkrong baca buku. Namun, di bagian belakang, ada lorong yang kecil tapi terang dan terdengar music yang mengalun. Di sana banyak yang nongkrong baik anak muda lelaki maupun perempuan. Maklum jam makan siang , suasana makin ramai. Tentu saja waktu makan untuk makan, tapi ada sekelompok anak muda yang memojok di suatu tempat , di sana mereka asyik sekali dengan laptopnya dan gadgetnya. 

 Bagi mereka yang asyik dengan laptop, pekerjaan jadi faktor utamanya untuk diselesaikan. Suasana nyaman begini memang dicari oleh mereka yang senang suasana homy dengan alunan music ringan. Tak ada seorang pun yang baca buku, padahal café ini justru berada di paling belakang dari toko buku. 

 Dari dua scenario itu saya harus memahami  lebih dalam lagi kenapa anak-anak muda , khususnya generasi Z tidak menyukai baca buku di waktu senggangnya. Seolah buku itu sudah kuno, atau mereka lebih suka buku digital, ketimbang buku yang dicetak tebal? 


 Arti buku bagi seseorang 


Masih ingatkah, saat kita masih usia 4-5 tahun, dipaksa oleh orang tua untuk bisa membaca. Nanti jika tidak bisa baca , tidak bisa masuk ke sekolah dasar karena syarat utama adalah mampu membaca dengan lancar. Lalu, anak yang dulunya masih suka bermain, dipaksa mengeja, bahkan terus diajak untuk mampu mengeja satu kata yang dibaca satu per satu misalnya: Ba-bi-bu atau i-ni si-di-di, diulang hingga lancar.

 Dalam membaca cepat itu, ternyata sekarang konteksnya hampir samam baca cepat. Namun, apa yang dibaca itu bukan buku melainkan media sosial. 

 Literasi baca merujuk kepada kemampuan seseorang untuk membaca, menginterpretasi teksi baik dalam bentuk tulisan maupun teks visual. Bukan sekedar mengenal huruf, kata, tetapi mampu menganlisis, menilai, mengunakan informasi dari bacaan itu.

 Literasi itu penting banget sebagai fondasi perkembangan individu dalam semua aspek kehidupan. Jika individu itu tingkat literasi baca yang tinggi, dia akan cenderung punya pengetahuan yang luas, kemampuan berpikir kritis dan punya daya saing yang tinggi dalam pendidikan maupun dunia kerja. 

Sayangnya, Indonesia, menurut artikel Unesco, indeks minat baca orang Indonesia hanya di angka 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin baca. Hal ini menyebabkan peringkat Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara (melorot paling rendah, di bawah Thailand dan di atas Bostwana. 

 Apakah pengaruh besar digital? 


Kemalasan kita untuk baca , salah satunya akibat dari pengaruh teknologi digital. Teknologi digital ini sangat berkontribusi pada penurunan minat baca yang mendalam dan mengubah jadi konsumsi informasi instan. Di era digital, hampir semua orang lebih menyukai cari informasi lewat digital ketimbang cari lewat buku. 

Disrupsi literasi, orang senang menatap layar berjam-jam, menyebabkan rendahnya fokus dan dangkalnya pemahaman informasi.

 Kadang-kadang hal itu memang tanpa disadari oleh orang . Namun, sering terjadi ketika orang diberikan pilihan apakah mau mencari sumber referensi lewat buku atau lewat berbagai journal website. 

Faktor uamg membuat orang lebih suka jurnal digital dibandingkan buku fisik karena faktor kecepatan, aksesbilitas, dan aktualitas inforamsi. Kecepatan dan kemudahan akses dalam arti 24 jam, dapat diakses terus. Bahkan aksesbilitas global, dimana pun dan kapan saja tanpa harus ke perspustakaan. Praktis tidak perlu bawa buku tebal, ribuan jurnal mudah disimpan dalam satu perangkat. Informasi pun terkini dan relevan dan actual.

 Lalu bagaimana dengan buku tebal? Meskipun banyak kelemahannya seperti terbatas dan repot harus bawa, lambat waktunya, dan jarang sekali terupdate, bahkan pencariannya juga secara manual, tetapi keunggulannya adalah pemahaman konsep yang mendalam, terstruktur dan pengalaman membaca yang lebih nyaman bagi mata tanpa eye strain dari layar. 

 Bagaimana jawab tantangan untuk penerbit maupun pembaca? 

Penerbit ditantang untuk bisa tetap menjaga mutu buku. Dalam hal ini penerbit menyanggupi untuk berkualitas. Namun, jika penerbit harus jawab tantangan kedua yang berat yaitu buku harus murah, ini yang tidak mungkin dilakukan.

 Banyak faktor dari pihak penerbit yang harus jadi tantangan untuk  membuat buku murah misalnya biaya produksi (kertas dan cetak), biaya distribusi mahal dan ancaman pembacakan, pergeseran pembaca ke format digital.

 Menjawab tantangan di atas, penerbit buku harus punya strategi berikut ini:

Dalam hal disrupsi digital dan penurunan minat cetak: Diversifikasi produk menerbitkan versi-e-book dan audiobook Penerbitan hybrid: menggabugnkan penerbitan fisik dengan pemasaran digital yang kaut Adaptasi konten: Membuat konten yang interaktif 

 hal pembajakan: Penerbit perlu edukasi konsumen, dampak negatif pembajakan bagi penulis dan industrii. Penegakan hukum, harus hukum penjual buku bajakan. Harga kompetitif yang lebieh terjangkau. 

Dalam hal distribusi dan pemasaran Melakukan pemanfaatan e-commerce dan pemasaran digital dengan strategi marketing. Dalam hal biaya produksi: Printo on demand sesuai dengan pesanan, esfisiensi editorial menggunakan teknologi untuk mempercepat penyuntingan dan tata letak.

 Tantangan bagi pembaca 

Membuat buku sebagai sebagai budaya baca . Dari segi psikologis dan menal, melemahnya atensi atau fokus harus diarahkan untuk tidak cepat bosan, manusia lebih cenderdung visual. Jangan anggap membaca sebagai beban tetapi sebagai hobi dan petualangan yang menyenangkan. 

Jika lingkungan selalu membuat distraksi digital, maka stop atau mengurangi distraksi itu. Jika aksebilitas buku jadi hambatannya, maka dukung hambatan itu dengan mencari peminjaman buku yang murah atau cari perspustakaan.

 Untuk tantangan kognitif dan dampaak sosial, membaca buku memang butuh latihan . Otak yang tidak dilatih dengan teks panjang dan mendalam, harus mulai dilatih sedikit demi sedikit. Juga harus mampu berpikri kritis , mampu berpikir dengan wawasan luas. Juga mampu memberikan 

Kesimpulan dan ide inovatif kreatif yang seringkali hambat mahasiswa dan profesional .

Freelancer: Jembatan Bertahan Hidup atau Jalan Baru di Tengah Sulitnya Kerja Formal?

Freelancer jembatan untuk hidup
portrait-beautiful-young-woman-professional-working-remote-from-home-freelancing-with-her-lapt.jpg


Saat pintu pekerjaan formal terasa semakin sempit, banyak orang memilih berdiri di jembatan bernama freelancer. Bukan karena pilihan ideal , melainkan karena bertahan hidup tak bisa menunggu. Tapi benarkah freelancing hanya peringgahan, atau justru menjadi rumah baru bagi pencari kerja?


Membuka lembaran tahun 2026 kita semua mengharapkan bahwa tahun ini akan menjadi tahun lebih baik untuk dunia ketenagakerjaan.Namun, kenyataan tidak menunjukkan tanda-tanda itu.

Kondisi global yang sedang memanas karena keganasan Amerika Serikat mengambil Venezuela , sekarang sedang dalam persiapan untuk menduduki Greenpeace. NATO tentunya tak akan berdiam diri. Bukan sekedar USA saja, tapi perang Rusia vs Ukraina, Israel vs Hammas  di Gaza.

Dampak dari ketidakstabilan kondisi global ditambah dengan keadaan investor yang tidak berminat untuk merekrut tenaga kerja baru karena kondisi ekonominya belum membaik. 

Strategi para investor yang justru ingin berinvestasi dalam teknologi yang dapat menggantikan manusia yang bekerja secara rutin dan tak butuhkan interaksi dengan manusia. Semua keadaan di atas membuat dunia pasar kerja di Indonesia belum membaik , bahkan sulit untuk akses dunia kerja. 

Dunia freelancer 

 Pelarian dari para calon pekerja yang tak berhasil untuk mendapatkan pekerjaan, mereka akan mencari pekerjaan informal atau freelancer. Opsi pekerjaan freelancer bisa menjanjikan atau sekedar batu loncatan tergantung pada tujuan, keterampilan, dan manajemen diri masing-masing individu. Contohnya seorang yang punya high skill seperti pengembangan perangkat lunak, analis data, digital marketing, coding, copywriting dan manajemen proyek yang telah berpengalaman dan punya performa tinggi . 

Apabila Anda sudah punya high skill, pastikan Anda bisa memilih fleksibilitas tinggi, potensi penghasilan besar dan kebebasan memilih proyek. Meskipun memiliki risiko ketidakpastian pendaptan dan kurangnya tunjangan. 

Jadi pertimbangan untuk menjadi freelancer itu bukan sekedar karier jangka panjang atau batu loncatan. 

1.Kapan keahlian khusus: Bidang seperti pengembangan perangkat luanak, AI, pemasaran digital yang permintaan tinggi dan bayaran tinggi, misalnya mencapai $20-$150/jam. Bekerja untuk klient global; Menggunakan platform seperti Upwork atau Fiverr untuk mendapatkan klien internasional dapat menghasilkan pendapatan jauh lebih besar dari perusahaan lokal. 

Berjiwa wirausaha : Sukes sebagai freelancer membutuhkan kemampuan pemasaran diri, negosiasi, dan manajemen keuangan, bukan hanya keterampilan teknis. Membangun portofolio: Reputasi yang baik meningkatkan kerpcayaan klien, yang berujung pada proyek berkelanjutan. 

 2.Kapan Freelance menjadi batu loncatan?

 Banyak orang menggunkan freelance sebagai langkah awal atau transisi seperti: Membangun portofolio dan pengalaman: Pemula sering menggunakan freelance untuk mengumpulkan pengalaman nyata sebelum melamar ke pekerjaan tetap. Eksplorasi minat: Freelance memungkinkan anda mencoba berbagai bidang pekerjaan tanpa terikat kontrak jangka panjang. 

Mencari modal usaha: Pendapatan tambahan dari freelance dapat digunakan sebagai modal untuk memulai bisnis sendiri. Transisi karir: Saat ingin pindah ke industry baru, freelance adalah cara aman untuk belajar keterampilan baru.

 3.Realita freelance di Indonesia Terus meningkat: Freelance semakin popular karena flexibilitas bhakan diproyeksikan tumbuh pesat. Pendapatan bervariasi: Rata-rata pendapatan bersih pekerja lepas di Indonesia pada awal 2024 sekitar Rp.2 juta per bulan. Namun, bagi mereka yang professional, potensi penghasilan jauh di atas angka tersebut 

Risiko: Masalah utama adalah ketidakpastian pendapatan dan kkurangnya tunjangan kesehatan/ketenagakerjaan. Freelance bukanlah “urang mudah”, melainkan bentuk pekerjaan professional yang memerlukan dedikasi. 

Jadikan sebagai bantu loncatan jika Anda ingin membangun portofolio atau mencari pengalaman. Jadikan sebagai pekerjaan menjanjuka jika Anda mampu membangun personal bradning, memiliki keahlian teknis tinggi dan manajemen bisnis yang baik.

Hidup Lansia: Apakah Pilihan Hidup Mandiri Lebih Baik daripada Senior Living?"

Mandiri atau senior living
smiley-couple-with-drinks-side-view

Dalam dunia yang semakin berubah, banyak lansia yang menghadapi dilema besar—apakah hidup sendiri di rumah lebih baik atau memilih tinggal di tempat tinggal senior? Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan dari kedua pilihan tersebut untuk membantu lansia dan keluarga membuat keputusan yang tepat. 

Topik ini mungkin kurang pas bagi generasi Z dan X karena pasti belum waktunya untuk memikirkan hidup seorang lansia . Usia masih belia, kenapa memikirkan urusan usia lansia. Benar, jika Anda generasi X atau Z, masalah ini memang bukan untuk Anda sendiri tetapi untuk orang tua Anda yang sudah memasuki dunia lansia. 

Saya dan seorang sahabat yang berada di Amerika Serika memang sudah memasuki kategori ini. Jadi kami berdiskusi intens untuk memikirkan masa depan kami. Meskipun kami juga memiliki anak, sahabat saya memiliki dua orang anak dan saya seorang anak, tetapi kami sebagai orang tua yang terbiasa hidup mandiri (berdua dengan suami) dan punya otonomi untuk bebas menentukan, ingin membahas lebih lanjut keputusan untuk hidup kami di usia makin lanjut. 

 Makin tinggi usia, apalagi memasuki usia 70 hingga 80 an tentu fisiknya tidak sekuat dulu ketika masih usia 60 an. Kelemahan fisik karena sahabat saya mulai terkena  beberapa penyakit osteoporosis, gerd . Saya juga sudah punya koleksi penyakit tekanan darah tinggi, keloid , kolesterol tinggi. Setahun sekali selalu check up , ada saja pertambahan penyakit yang dikoleksi dan harus minum obat sehingga kadang-kadang obat yang satu berefek terhadap penyakit yang sudah ada sebelumnya. 

Kami berdiskusi tentang kebaikan dan keburukan apakah tetap hidup mandiri berdua atau mungkin sendiri jika salah seorang dari pasangan meninggal atau justru hidup di senior living.

Di senior living pasti ada kebaikan dan keburukannya. Jadi diskusi kami mulai dari hidup mandiri. Apa keuntungan dan kerugian hidup mandiri di rumah: 

Keuntungannya hidup mandiri adalah berikut ini: 


  • Kemandirian penuh: memiliki kendali penuh atas jadwal harian, makanan, dan privasi tanpa batasan.
  • Lingkungan familiar: Kenyamanan psikologis karena sudah berada di lingkungan rumah yang dikenal secara fisik dan emosional. 
  • Biaya operasional lebih rendah: Bagi emreka yang telah memiliki rumah sendiri (bukan sewa atau kontrak), biaya perawatan mungkin lebih murah. 
  • Dekat komunitas setempat: Mempertahankan kedekatan dengan tetangga, teman, tempat ibadah, atau toko lokal yang sudah dikenal.

 Kerugian di rumah sendiri: 

  • Risiko isolasi sosial: Jika sudah tidak mampu pergi kemana-mana, pasti tidak dapat bersosialisasi dengan tetangga atau teman-teman yang jauh. 
  • Beban pemeiliharaan: Tanggung jawab penuh atas pemeliharaan rumah, kebun, dan pekerjaan rumah tangga , bisa sulit secara fisik. 
  • Risiko keamanan dan kesehatan: Potensi yang sangat krusial adalah jatuh . Ketika jatuh dan hidup sendidri tidak bisa kontak keadaan darurat medis dan bantuan instan.
  •  Akses bantuan tertunda. Kesulitan transportasi: Mengemudi sudah tidak mungkin lagi, lalu cari transportasi yang harus menggunakan ponsel dan aplikasi, apakah masih mampu untuk menggunakannya.

 Sekarang kita bahas keuntungan dan kerugian hidup di Senior Living Di Indonesia tempat Senior Living sangat bervariasi atau beragam, baik dari segi fasilitas, harga maupun persyaratannya. 

Keuntungan tinggal di Senior Living: 


  • Keamanan dan bantuan 27/7: Staf dan sistem panggilan darurat sering tersedia dan memberikan ketengan pikiran bagi penghuni dan keluarga 
  • Sosialisasi terstruktur: Ada berbagai tawaran program dan kegiatan sosial yang dapat diakses oleh peserta baik di ruang makan komunal, di tempat ruang tertentu dan mengurangi kesepian. 
  • Bebas Repot pemeliharaan: Semua pemeliharaan, kebersihan, dan penyediaan makanan sudah ditangani oleh staf 
  • Akses layanan medis: Bantuan dengan manajemen pengobatan, transportasi dan janji ke dokter atau perawatan prbadi tersedia di tempat 

 Kerugian tinggal di Senior Living:


  • Biaya tinggi: Kita harus bayar biaya bulanan sangat mahal dan bahkan yang tidak punya dana passive income terpaksa jual property atau Tabungan.
  •  Kehilangan kemandirian: Harus mengikuti peraturan, jadwal makan/tidur dan struktur komunitas dan otomatis kurangi otonomi pribadi.
  •  Lingkungan asing: Membutuhkan penyesuaian besar untuk pindah dari rumah seumur hidup ke lingkungan baru yang jauh lebih kecil. 
  • Perasaan stigma /penuaan: Beberapa orang merasa “lebih tua” atau “Sudah tua” atau terbebani secara emosional karena pindah ke fasilitas semacam ini.

Keputusan terbaik ada di tangan kita masing-masing berdasarkan kepada kondisi ksehatan fisik, finansial , keingina prbadi akan prviasi dan kebutuhan dukungan sosial dan medis.

Perjalanan Buku Antologi “Memeluk Diriku yang Lalu”

Memeluk Diriku yang Lalu
sumber:  Meta State Publishing




Menulis adalah bagian aktivitas pikiran, jiwa saya yang tak pernah lepas dari keseharian saya. Jenis artikel yang saya tuliskan adalah artikel popular dalam keseharian yang seperti pendidikan, bullying, keuangan, mandiri secara finansial.

 Nach tulisanku sering juga bertema sesuatu yang lagi tren seperti Amazon PHK 14.000 karyawan, . Menulis juga menjadi kebiasaan saya bagaikan gaya hidup, misalnya setiap hari perlu makan.  Aku tak punya idealisme yang kuat, misalnya pengin tulisan naik jadi Headline, atau viral. 

 Sekarang ini, aku menulis bukan untuk mencari panggung yang menjadi personal brand. Kesadaran saya, bahwa tulisan itu ternyata punya jalannya sendiri. Ada yang menyukai gaya penulisan saya , tetapi ada juga yang belum menyukainya. Semua terserah kepada pembaca yang punya hak untuk memilih tulisan sesuai dengan seleranya.

 Nah kita kembali kepada topik awal, di akhir Oktober 2025, biasanya kegiatan menulis sudah mulai “slow motion”, tak menggebu seperti awal hingga pertengahan tahun. Walaupun demikian, ada kejutan dari pihak Meta State Publishing (Meta). Meta adalah penerbit sekaligus fasilitator untuk pembuatan buku berbagai jenis seperti solo, antologi, biografi dan lainnya. 

Temanya adalahyang saya sukai, yaitu tema bidang psikologi “Memeluk Diriku yang Lalu”. Langsung aku menanggapinya dengan positif, aku ikut sebagai salah satu penulisnya. Meskipun aku suka banget dengan temanya, bukan berarti, menulisku jadi lancar tanpa hambatan. Aku perlu riset, baca berbagai artikel psikologi yang berkaitan dengan tema yang diminta. 

 Sebagai pembukaan dari pertemuan untuk menulis buku Antologi ini, koordinator sekaligus general manager Kak Saskia telah menyusun sedemikian baik schedule .

 Schedule mulai dari opening dan training dan pengenalan dulu siapa saja mentor, dan siapa Meta. Lalu dijelaskan dengan gamblang, teknik penulisan antologi itu . Bukan buku fiksi, tetapi non fiksi yang dapat berupa cerita, cerpen, self development. 

Dalam beberapa hari setelah opening, diharapkan sudah menyerahkan kerangka tulisan. Kerangka tulisan sudah dikumpulkan dan diedit oleh editor. Langkah selanjutnya, kami diminta untuk segera menulis naskah awal. 

 Diberikan waktu cukup singkat. Untung saya sudah riset dan sudah menuliskan setengah dari artikelnya. Melanjutkan saja artikel yang baru selesai setengahnya. Penulisan kali ini , ada getaran perasaan dan trauma-trauma yang sering saya jumpai di beberapa orang yang belum saja terselesaikan. 

Lalu saya tuangkan dengan cepat supaya apa yang jadi insight atau ide itu tak hilang. Setelah selesai, semua naskah awal akan dikoreksi oleh editor. Kami akan berjumpa dalam beberapa hari mendatang dengan editor. 

Apabila tulisan yang telah dikoreksi itu sudah dibicarakan, maka penulis diharuskan untuk mengoreksinya. Tenggat waktu cukup singkat , tetapi cukuplah bagi kita yang memang sudah disiplin dengan tenggat waktu.

Selanjutnya tentu semua hasil tulisan akan dibuatkan layout dalam sebuah buku. Ini adalah bagian pekerjaan dari percetakan, bahkan mereka harus mengajukan ISBN yang waktunya cukup lama sekitar 2-3 minggu, tergantung dari Perpustakaan Nasional sebagai penerbit ISBN. 

Diantara waktu pencetakan itu, kami penulis diharuskan membeli dua buku, juga mempromosikan kepada teman, saudara untuk membeli bukunya juga. Ada komitmen kami untuk bisa menyelesaikan buku ini hingga tuntas. 

Diharapkan akhir Desember, buku antologi "Memeluk Diriku yang Lalu" sudah terbit dan dinikmati setiap pembaca yang ingin dan sadar pentingnya melepaskan masa lalu dan memeluk kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Sehelai Kain Tembe Nggoli: Perubahan Kecil Mengubah Kampung Ntobo

Kain Tembe Ngoli Mengubah Kampung Ntobo
Yuyun kenakan kain tenun Bima.  Sumber: FB : Yuyun Kaen Tenun Bima



Suara alat tenun yang dulunya terdengar iramanya setiap kali penenun bekerja, kini hanya terdengar lirih. Jeritan tangis para penenun yang kehilangan gairah. Setiap benang yang dijalin bukan lagi untuk merajut harapan , tapi untuk bertahan hidup. Wajah-wajah yang dulu penuh senyum, kini memancarkan kelelahan dan keputusasaan. Hasil tenun tak lagi dihargai, proses yang dulu dihormati, kini terasa sia-sia, harapan pun perlahan memudar.

Kampung Ntobo sebuah desa kecil dan lokasinya nun jauh dari kota Bima dan kurang strategis karena lokasinya terpencil, terdapat sebuah tradisi yang sudah berusia ratusan tahun, yaitu menenun Tembe Nggoli, kain khas yang menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

Namun, bagi sebagian penenun di desa Ntobo, keterampilan tenun itu bagaikan belenggu hidup . Dengan proses menenun yang panjang mulai dari penggulungan benang, pemisahan benang, memasukkan benang ke sisir tenun, pembentangan, penggulungan benang yang sudah terpasang , pembuatan motif, sampai terakhir proses menenu dengan alat tenun tradisional. Lamanya proses pembuatan dapat dua minggu, sebulan bahkan ada yang sampai setahun tergantung dari kesulitannya. Namun, tragisnya, hasil jerih payah menenun yang panjang itu tak sepadan dengan apa yang dikerjakannya. Hasil tenunan itu diserahkan dan dihargai murah oleh para tengkulak. 

Para penenun itu terpaksa terjerat para tengkulak karena mereka tak punya modal untuk beli benang, dan alat-alat menenun, tak mampu akses untuk meminjam modal ke bank. Mereka harus datang ke tengkulak, pinjam uang dengan bunga tinggi. Mengembalikan pinjaman dengan hasil tenun yang dihargai sangat murah.

Para penenun di desa Ntobo itu sudah mati langkah dan menyurutkan langkah dan semangat para penenun untuk melanjutkan bertenun . Di tengah kesulitan ini, muncul sosok penenun bernama ibu bernama Yuyun Ahdiyanti. Dia seorang ibu dengan tiga orang anak yang tak hanya berjuang untuk keluarganya tetapi juga ingin mengubah nasib para penenun di desanya. 

 Keterbatasan yang memantik perubahan 


Yuyun Ahdiyanti, seorang lulusan SMA yang tinggal di desa Ntobo bersama suami dan ketiga anaknya merasa prihatin melihat nasib para penenun di sekitarnya. Sebagai penenun, dia juga merasakan bagaimana para penenun itu sudah bekerja keras mengolah benang dan menenun kain yang indah, namun, tidak mendapatkan imbalan sebanding . Keterbatasan modal dan ketergantungan pada tengkulak membuat para penenun terperangkap dalam siklus kemiskinan. Bahkan, keahlian mereka dalam membuat tenun Tembe Nggoli yang bernilai tinggi , warisan nenek moyang serasa tidak bernilai , tak cukup membawa perubahan dalam hidup mereka. 

Namun, Yuyun tak menyerah begitu saja. Dia merasa terpanggil untuk berbuat kecil . Meskipun langkah sekecil apa pun. Dengan tekad yang kuat, ia mulai memasarkan tenunan keluarganya di akun pribadi Facebook. Pada awalnya, dia tak banyak mengharapkan dari langkah kecil ini. Namun, kenyataan sangat berbeda. Sambutan dari para pembeli di luar desa, di luar pulau, jauh melampaui ekspektasi Yuyun. Hasil tenunan yang selama ini dipasarkan melalui tengkulak, kini dapat dijual langsung kepada konsumen dengan harga yang lebih baik. Yuyun pun mulai memasarkan hasil penenun di Ntobo, yang dulunya sulit dijangkau oleh para pembeli, sekarang jauh lebih mudah dengan pemasaran online. Pemasaran lebih lancar dan harganya pun juga lebih tinggi. 

Mengubah takdir dengan langkah kecil 


Ketika pemasaran online di  akunmedia sosial berhasil meningkatkan wisatawan yang datang dan beli produk tenun Tembe Nggoli, dia tak berhenti di situ. Yuyun memberdayakan para penenun dan memasarkan hasilnya melalui online maupun galeri yang disebut dengan “Dina”. Lokasinya di samping rumahnya, luas ruangan 2 x 6 meter. Di Galeri “Dina”, Yuyun memajang hasil tenun khas dari daerah Bima dengan koleksi Sambolo Bima (penutup kepala atau syal khas Bima), kain tenun Bima lainnya. 


Tempat inilah jadi bakal cikal untuk mengembangkan Ntobo sebagai “Kampung Tenun” di Bima, sehingga semua koleksi di galerinya fokus pada hasil tenun dari komunitas tersebut. "Sehelai kain bisa mengubah kehidupan," ungkap Yuyun dengan penuh keyakinan. "Kita bisa membantu penghasilan suami, menambah penghasilan keluarga, sekaligus melestarikan budaya yang sudah diwariskan turun-temurun." 

Selain itu Yuyun juga mengadakan workshop bagi para penenun muda untuk belajar cara menenun dengan teknik dalam pewarnaan maupun teknik produksi . Dengan menggandeng kolaborasi dengan universitas lokal dalam pengembangan warna alami berbasis nanopartikel yang cepat dan ramah lingkungan. 

Langkah kecil yang dia mulai membawa dampak besar, tidak hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk desa Ntobo secara keseluruhan. Penenun-penenun lain mulai menyadari bahwa mereka juga bisa memperoleh keuntungan lebih baik dengan cara yang lebih mandiri. Yuyun bukan hanya sekadar menenun; dia menenun masa depan yang lebih baik untuk desanya. 

Perubahan yang berdampak luas 


Dengan semangat juang yang tak kenal lelah, Yuyun terus menginspirasi banyak orang, baik di desanya maupun di luar sana. Keberhasilan Yuyun tak hanya diukur dari peningkatan pendapatan keluarganya, tetapi juga dari dampak positif yang dia bawa ke desa Ntobo.

  •  Kemandirian ekonomi perempuan penenun

Sekarang, para penenun di desa Ntobo mampu mandiri secara finansial. Hasil dari tenunan dihargai sesuai dengan jenis kesulitan memproduksi kain tenun itu. Mereka bisa bangga dengan jernih payah dan uang yang dihasilkan dapat digunakan untuk membantu suami, punya penghasilan sendiri dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

  •  Pelestari budaya 


Sebagai pelestari budaya tenun yang diwariskan oleh nenek moyang, awalnya penenun muda tidak berminat untuk meneruskan pekerjaan sebagai penenun, mereka lebih suka bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKI). Namun, ketika mereka melihat adanya perubahan penghargaan hasil karya penenun, mereka mulai beralih bekerja sebagai penenun. Bayangkan, apabila tak ada generasi penenun muda, maka warisan budaya tenun Tembe Nggoli akan hilang, punah. 

  •  Identitas kampung 


Bagi wisatawan asing atau lokal yang datang ke Kampung Tenun Ntobo sudah sangat mudah karena kampung ini sudah dikenal sebagai kampung penenun di Bima. Meskipun lokasi tak strategis tapi semua warga Bima mengetahui dan dapat mengantarkan tamu-tamu wisatawan domestik dan asing untuk berkunjung ke Galeri “Dina”. Keindahan, keanggunan dan kekayaan tenun Tembe Nggoli dipamerkan dalam display Galeri “Dina”. 

  •  Berdayakan warga sekitar


 Bukan hanya penenun saja yang mampu berdaya, tetapi beberapa warga yang bekerja sebagai tukang ojek, makanan, warung membuat ekonomi warga sekitar bergeliat. Mereka bekerja sebagai pendukung kegiatan dari wisata tenun di Kampung Ntobo. 

Pengakuan Nasional


Perjuangan dan kegigihan wirausaha sosial Yuyun Ahdiyanti telah membuahkan hasil penghargaan yang sangat tinggi. Pada Oktober 2024, Yuyun telah berhasil menjadi pemenang Semangat Astra Terpadu untuk SATU Indonesia Award ke 15 bidang kewirausahaan yang digelar sejak 2010 dan diikuti oleh 657 peserta seluruh Indonesia. 

Yuyun telah berkontribusi dalam pemberdayaan penenun di Bima, mengangkat derajat para penenun, dari langkah kecilnya mampu membangkitkan geliat usaha tenun yang hampir punah, menjadi warisan budaya Indonesia dan identitas kampung.

 Ina Tanaya
 #anugerahpewartaastra2025 #kabarbaiksatuindonesia 

 Sumber referensi: 

  • Dari Keterbatasan Menuju Keberdayaan: Kisah Lahirnya UKM Dina di Kampung Ntobo: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/10/26/yuyun-ahdiyanti-dari-ntobo-untuk-nusantara-menenun-harapan-lewat-kain-tradisi-bima Yuyun Ahdiyanti,

  • Srikandi Pejuang Kampung Kain Tenun Bima Nusa Tenggara Barat: https://www.kompasiana.com/marthauli/672e01ca34777c4ff12dcf13/yuyun-ahdiyanti-srikandi-pejuang-kampung-kain-tenun-bima-nusa-tenggara-barat

Job Hopping atau Job Hugging, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Job Hopping Job Hugging
man-performaing-vogue-dance-indoor. Sumber: Freepik.com



Bagaikan roda perjalanan yang berputar terus, kadang-kadang naik , tapi kadang-kadang juga turun. Roda tak pernah statis, selalu ada gerakan dari orang yang menggenjotnya. Orang yang menggenjot itu jika ingin cepat sampai tujuan, dia akan secepatnya memacu roda, roda yang diatas hanya sebentar saja berada di puncaknya, tak lama kemudian dia turun perlahan-lahan. 

Adanya sistem suspensi, pegas dan peredam , bekerja bersama-sama dan menyerap guncangan dari jalan. Jalan tidak rata dan mulus, ketika masuk ke jalan tak rada, pegas menerima tekanan dan terkompresi, membuat roda bergerak ke atas dan ke bawah tanpa pelepasan energi .

 Begitu pula dengan kehidupan yang menyerupai dengan roda sepeda , titik awalnya datar sekali, ketika melewati pergulatan jalan-jalan tak rata, banyak kesulitan yang dihadapi, baik dari segi pekerjaan maupun ekonomi, langsung, pegas itu tertekan dan hanya bisa bergerak sedikit sekali, apabila sudah mampu bergerak sedikit lebih lega, dia bisa mengeluarkan energi pegas dan mencari sesuatu yang lebih tenang . 

Tak pernah menyangka bahwa perjalanan bekerja anak , jauh berbeda dengan perjalanan bekerja saya. Di era saya , hanya tiga kali pindah kerja. Satu kali memang bekerja sebagai part timer junior secretary di embassy of Ceylon. Sambil kuliah, saya dapat pekerjaan itu, jadi lumayan dapat uang jajan. Tak lama setelah lulus, dapat pekerjaan di perusahaan Jepang. Ada sistem junior dan senior di perusahaan ini. 

 Awalnya saya tak merasakan perbedaan itu. Tetapi setelah memasuki tahun kedua, saya baru merasakan adanya beda perlakukan antara orang baru dan orang lama. Saya pikir sebagai orang yang masih muda yang punya banyak energi dan daya kreatif, saya tak mau mati kutu jadi junior terus sambil menunggu kesempatan senior resign. Betapa tak menyenangkan menunggu kesempatan yang tak diketahui kapan akan datang. 

Saya resign setelah tiga tahun bekerja. Saya mendapatkan pekerjaan baru di suatu perbankan asing. Bekerja sebagai sekretaris dari seorang manajer, saya suka sekali dengan lingkungannya. Begitu pula untuk mendapatkan kesempatan beralih fungsi kerja dari sekretaris menjadi service assistant. Saya belajar, berbagai macam produk, pelayanan dan training. 

 Senangnya bukan main. Saya cukup menikmati pekerjaan ini hingga sekitar 20 tahun. Gaya perubahan manajemen yang minimalis dan menginginkan anak-anak muda yang lebih energetic untuk menggantikan mereka yang dianggap sudah senior. 

Tergeserlah saya untuk mengambil pensiun dini. Jadi journe pekerjaanku untuk satu perusahaan ini cukup lama, hampir seperempat abad. Sementara pekerjaan anak di era milenial, berpindah kantor hampir enam kali dalam kurun waktu sepuluh tahun. 

Mulai kerja di suatu perusahaan yang notabene bukan passionnya. Dia ambil pekerjaan ini karena dianggap bisa naik ke jenjang berikutnya. Namun, ketika baru tiga bulan selesai, dia anggap tak ada kesempatan, tak ada kemajuan, jadi dia resign. Berturut-turut ke pekerjaan kedua adalah pekerjaan di suatu start up , dari segi pekerjaan, dia cukup nyaman. Namun, justru perusahaan ini tak bisa bertahan lama, jelang satu tahun dia di sana, perusahaan akan gulung tikar dan semua karyawan kena PHK. 

 Pindah ke perusahaan start up fintech, juga menyenangkan sekali baginya. Sayangnya di tahun ke tiga, dia harus menghadapi supervisor yang toxic , tak tahun dengan lingkup suasana kerja , dia juga resign. Terdampar di suatu perusahaan start up lagi, di sini dia harus kerja secara work from home selama hampir tiga tahun (satu tahun karena covid, lalu dilanjutkan dengan work from home selama tiga tahun). 

Namun, akhirnya perusahaan start up mulai goncang lagi. Sebagian besar karyawan kena PHK, termasuk anak saya. Lagi-lagi kerja hunting pekerjaan, masuk ke semua perusahaan start up yang sudah mapan. Selama dalam masa percobaan, dia merasakan beratnya workload dan juga kapasitasnya yang tidak memadai. Hasil dari masa percobaan adalah gagal. Dia tak berhasil menjadi pegawai tetap. 

 Akhirnya untuk kesekian enam kalinya dalam waktu sepuluh tahun, dia masuk lagi ke perusahaan asset managemen. Awalnya berpikir bahwa perusahaan finansial ini cukup establish dari luarnya, setelah melewati masa-masa percobaan akhirnya dia diterima .

 Namun, baru saja adaptasi dilakukan, dia terkejut dengan cara kerja dengan fungsi triple, sebagai UX designer, sebagai bisnis analyst, sebagai proyek manager. Tak kuat dengan kondisi workload berlebihan, dia sering sakit , akhirnya dia mundur dengan resign.

 Dunia kerja memang tak seindah dengan apa yang diinginkan. Ketika ekspektasi yang diinginkan tak terpenuhi, kita tinggal memilih, apakah kita ingin bahagia untuk bekerja atau terpaksa memendam ketidak bahagiaan demi tidak kena PHK atau bertahan dalam kondisi yang tak bahagia.

Review “The Old Man and The Sea” by Ernest Hemingway

The old man and the sea
dokumen pribadi



Dalam rangka hari Literasi Internasional pada tanggal 8 September yang lalu, dari tim Educare GKI PI mengadakan suatu diskusi review “The Old Man and The Sea”. 

Wow, saya langsung tertarik dengan review baca buku yang sangat berbobot ini. Sabtu sudah berjanji kepada diri sendiri untuk cepat tidur agar bisa bangun pagi untuk Kebaktian pertama, lanjut dengan kegiatan review buku “The Old Man and the Sea”.

Sulitnya untuk bisa bangun pagi karena mata masih mengantuk, bahkan badan juga masih kurang fit sehabis flu.  Semangat hampir pudar, jika sebelumnya terlalu semangat. Beruntung masih ada alarm kecil yang membangunkan diriku, untuk bisa secepatnya bergegas menyiapkan sarapan dan pergi ke gereja.

 Langkah yang diatur itu agak tersendat dengan sulitnya mendapatkan gocar, bolak balik saya harus cancel karena semua driver yang masuk, lokasinya jauh dari tempat saya. Saya pikir bisa terlambat nich. 

Ach I had my luck, dapat Blue Bird yang dengan sigap mengantarkan saya sampai ke gereja. Selesai kebaktian, saya langsung menuju ke Lantai 2 Taman Sahabat, Graha Persahabatan tempat dimana diskusi buku. Ternyata, pembicara, Ryan Suryadi dan satu ibu yang jadi panitia Sesi Ngobrolin Buku telah siap untuk pemaparannya. 

jam 9.00 Ryan telah membuka acara dengan perkenalan bahwa buku “ “The Old Man and The Sea” by Ernest Hemingway merupakan buku yang prestisius karena memenangkan dua hadiah tertinggi yaitu Pulitzer pada tahun 1953 dan Nobel Sastra pada tahun 1954 

Mengenal siapa Ernest Hermingway 


Dia seorang penulis lahir 1899 dan wafat tahun 1961, dari Amerika Serikat. Gaya menulisnya:Sederhana, ugas, dikenal dengan iceberg theory (lebih banyak makna tersembunyi di balik kalimat singkat). 

Tema yang sering dibawakan: Perjuangan manusia, keberanian, kesepian, hubungan manusia dengan alam. The Old Man and The Sea: Karya yang membuatnya memenangkan nobel, kegigihan dan ketabahan manusia. 

 Plot The Old Man and The Sea


  •  Santiago seorang nelayan Kuba, telah berlayar pulang pergi selama hampir 84 hari tanpa tangkapan. Ia berhasil memancing ikan marlin raksasa di laut lepas. 
  • Bertarung 3 hari 3 malam, penuh rasa sakit dan kelelahan 
  • Akhirnya berhasil menangkap marlin raksasa, tapi dimakan hiu saat perjalanan pulang
  • Kembali pulang hanya membawa kerangka ikan. 
  • Tubuh kalah, tapi semangatnya tetap tak terkalahkan. 

Quotes menarik 


  • “But man is not made for defeat. A man can be destroyed but not defeated” 
  • “Everything about him was old except his eyes and they were the same color as the sea and were cheerful and undefeated.” 
  • “Every day is a new day. It is better to be lucky. But I would rather be exact. Then when luck comes you are ready.”

 Interpretasi dan Hubungan dengan Tuhan 


Novel ini sering dibaca sebuah perumpamaan tentang iman, ketabahan,penebusan, perjuanganSantiago mencerminkan ketekunan rohani dalam menghadapi penderitaan. 

Kerendahan hati Santiago,penerimaannya terhadap penderitaan, serata rasa keterhubungannya dengan semua mahluk mencerminkan nilai kristiani, beberapa tafsiran bahkan melihatnya sebagai figur Kristus, terutama melalui perjuangan soliternya dan luka-luka yang dia derita.

Interpretasi dan Hubungan dengan Tuhan


Kisah ini mencerminkan ketangguhan, kekuatan, kehendak,martabat, kebanggaan, serta gagasan bahwa keberhasilan dan nilai sejati bukan terletak pada hasil akhir, melainkan pada perjuangan sendiri. 

Perjalanan Santiago juga mengundang pembaca untuk merefleksikan hubungan kita terhadap tantangan, iman, dan tujuan hidup yang dapat selaras dengan panggilan Kristiani untuk tekun dan percaya kepada Tuhan dalam menghadapi cobaan.

Nilai yang dapat dipelajari Ketangguhan dan Kekuatan Tekad: Santiago yang tidak menyerah menunjukkan kekuatan manusia dalam kesulitan.

Kebanggaan dan Kehormatan: Rasa bangga memotivasi Santiago , namun tetap seimbang dengan kerendahan hati, perjuangan bukan hanya tentang ikan, tetapi juga dengan harga diri. 

Manusia & alam: Novel menggambarkan harmoni sekaligus pertarungan antara manusia dan alam, dengan rasa hormat mendalam terhadap marlin dan laut.

Simbolisme Spiritual: Penderitaan, ketabahan dan ketenangan Santiago di tengah tekanan dapat dibaca sebagai symbol iman kepada Tuhan dan kemenangan rohani. 

 Diskusi 


  • Hidup bukan hasil akhir yang dilihat tapi proses panjang bagaimana dia berhasil mengatasi kesulitan
  •  Setiap hari kita bergelut dengan ombak, kecil maupun besar, ikan-ikan hiu yang begitu ingin mengambil milik kita, kita harus menjaganya dengan segala kekuatan dan kemampuan. 
  • Narasinya bukan sekedar datar saja, penuh makna dalam dan pembaca diminta memaknai artinya sesuai dengan kemampuan mendalaminya.

Perempuan Jadi Garda Terdepan di Ruang Digital

Komdigi, perempuan jadi garda terdepan
freepik.com



Perempuan muda itu bernama Susi (bukan nama sebenarnya). Susi adalah istri keponakanku yang punya latar belakang pendidikan sebagai guru SD Kristen yang terkenal kedisiplinannya. 

 Sebagai seorang guru yang aktif dan dedikatif dia juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kedua putranya , sebut saja namanya Andri (bukan nama sebenarnya) dan Krisna (bukan nama sebenarnya). 

 Andri usia empat tahun, sedangkan Krisna delapan tahun. Kedua anak lelakinya memang punya karakter yang berbeda, Andri pendiam, tetapi suka sekali dengan dunia teknologi, sedangkan Krisna sangat aktif dan selalu senang dunia olahraga dan tertarik dengan dunia seni. Ketika masih kecil kedua anak ini sering ditinggalkan oleh ibunya karena kesibukan tugas mengajar dari pagi hingga sore hari. 

Saat ditinggal oleh kedua orangtuanya, mereka berdua hanya ditemani oleh seorang pembantu saja. Sejak kecil kedua anak sudah dibekali dengan gadget karena alasan untuk komunikasi yang efektif sehingga kedua anak itu dapat dimonitor dimana dan sedang apa. 

 Sayangnya, Susi yang sibuk mengajar itu tak punya kesadaran tentang pentingnya literasi digital. Dia berpikir praktis bahwa gadget itu sangat efisien untuk komunikasi dan tak pernah terpikir apa akibatnya jika digunakan tanpa literasi digital. 

 Masalah kesehatan mata 


 Suatu hari selesai mengajar, Susi kaget mendapatkan laporan dari pembantu bahwa Andri matanya berair dan kabur, tidak jelas melihat orang atau benda-benda di sekitarnya.

 Selain itu Andri menderita gangguan punggung leher. Pembantu menyerahkan sepucuk surat “cinta” dari guru yang ditujukan kepada Susi selaku orangtua. Begitu surat cinta dibuka, Susi kaget sekali membacanya karena guru mengatakan bahwa Andri tidak dapat mengerjakan tugas PR dengan baik , akhir-akhir ini kurang memahami pelajaran saat di sekolah, dan prestasi belajarnya menurun. Perilakunya juga sering kasar dan sering cepat marah dan emosional terhadap temannya. Begitu selesai membaca, Susi menahan nafas dalam-dalam dan akhirnya dia mencoba menenangkan diri. 

Setelah itu dia mulai mengetok kamar Andri. Dijumpainya Andri sedang bermain gadget , dan terlihatlah bahwa permainan game itu sangat menyita waktu dan membuatnya kecanduan. Susi dengan suara yang sedikit berwibawa, “Andri, apa yang sedang kamu kerjakan?”. Dengan tenang Andri mengatakan, “Aku sedang bermain game!”. Lalu Susi bertanya lanjut: “Berapa lama kamu main game?” “Nggak lama kok, hanya 3-4 jam saja!”, katanya Santai. Begitu mendengar kata-kata tidak lama, Susi segera memotong dengan tegas, dengarkan mamah yah, mulai saat ini, penggunaan gadget hanya untuk komunikasi dengan mamah apabila ada masalah dengan penjemputan dan pengantaran sekolah. Saat kamu di rumah, tidak boleh lagi menggunakan gadget. Hanya pada hari Sabtu dan Minggu , kamu gunakan boleh 2 -3 jam saja. 

 Andri mau protes dan tidak suka dengan statemen itu. Dalam hati Andri, dia tak setuju dengan pembatasan penggunaan gadget karena dia melihat semua temannya juga sama seperti dirinya. Namun, Susi dengan tegas mengatakan bahwa gadget itu hanya alat bantu komunikasi dan untuk belajar yang positif , nanti setelah kamu kelas dua SD kamu boleh belajar coding. Sekarang kamu harus berjanji kepada mamah tidak akan melakukan main game di luar hari Sabtu dan minggu lagi . Dengan lirih, Andri menjawab: “OK, aku berjanji mah!”. 

 Belajar literasi digital 


Menyadari kesalahan yang agak terlambat, Susi mulai mengambil tindakan untuk belajar soal literasi digital. Selama ini dia menganggap mengontrol kegiatan anak hanya melalui pembantunya saja. Susi berharap bahwa bukan hanya dia yang belajar literasi digital tetapi anak juga perlu edukasi literasi digital melalui dirinya. 


Akhirnya Susi berhasil mendaftar sebuah lokakarya tentang literasi digital berjudul “Literasi Digital untuk Berdayakan Perempuan”. 

 Dalam lokakarya yang singkat itu dia melihat banyak perempuan terutama ibu-ibu usia muda tidak peduli dengan literasi digital. Lokakarya itu untuk mengantisipasi kerentanan atau ancaman di dunia maya. 

 Mereka hanya mengenal internet untuk digunakan di ponsel untuk berselancar mencari sumber informasi di berbagai media sosial. Banyaknya dan banjirnya informasi di media sosial itu tak selalu benar bahkan sering kali negatif dan jauh dari kebenaran atau yang disebut dengan hoax. Ada juga perempuan yang menganggap bahwa literasi digital hanya diperuntukkan lelaki saja. Padahal, ketimpangan gender itu tak berlaku bagi literasi digital. 

 Ada empat pilar literasi digital yang perlu dikembangkan yaitu Keterampilan Digital (Digital skills) Budaya Digital (Digital Culture), Etika Digital (Digital Ethics) dan Keamanan Digital (Digital Safety).

 1.Keterampilan Digital (Digital Skills) 


Kemampuan setiap individu untuk menggunakan perangkat dan aplikasi digital, termasuk kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menciptakan informasi menggunakan teknologi digital, melakukan belanja online dan menggunakan media sosial. 

 2.Budaya Digital (Digital Culture) 


Pentingnya memahami dan menerapkan bagaimana caranya berkomunikasi di ruang digital. Ini mencakup bagaimana berperilaku, berkomunikasi , dan berinteraksi secara positif dan bertanggung jawab. 

 3.Etika Digital (Digital Ethics) 


Kesadaran akan pentingnya berperilaku etis dalam menggunakan teknologi digital. Hal ini mencakup prinsip-prinsip seperti tidak menyebarkan berita bohong, tidak melakukan perundungan dunia maya, serta menghormati privasi orang lain. 

 4.Keamanan Digital (Digital Safety) 


Kemampuan untuk melindungi diri dari ancaman dan risiko yang mungkin terjadi di dunia digital, seperti penipuan online, phishing, malware, dan pelanggaran data pribadi. Ini mencakup pemahaman cara menjaga keamanan akun, perangkat dan informasi pribadi. 

 Literasi Digital untuk Anak Dini 


Setelah paham literasi digital, Susi tak berhenti belajar. Susi selalu melengkapi dirinya bukan sekedar literasi digital untuk diri sendiri tapi juga untuk kedua putranya yang sedang tumbuh kembang menjadi anak remaja. 

Menurut para ahli, banyak anak yang kecanduan main gadget karena terlalu lama screen time. Prinsipnya anak usia dini 2-5 tahun hanya diperbolehkan main gadget satu jam saja.

 Untuk menghindari kecanduan, Google meluncurkan program “Tangkas Berinternet: Jaga Keamanan dan Privasi Keluarga”. 

 Langkah “Tangkas Berinternet” adalah sebagai berikut:


 1.Harus Cerdas : Artinya cerdas dalam memilih komunikasi mana yang baik , mana yang buruk bagi posting mereka. Ibu akan memandu komunikasi mana yang boleh diungkapkan dan mana yang tidak boleh. Tujuannya agar anak lebih paham menggunakan internet. 

 2.Bersikap Cermat: Artinya anak diajarkan agar tidak cepat tertipu dan selalu bersikap hati-hati dalam menjalankan pertemanan di dunia maya. Tugas dari ibu adalah ikut memperhatikan siapa teman anaknya, termasuk yang tidak dikenalnya. Ibu juga mendampingi anak memberikan arahan bahwa dunia online tidak sesuai dengan dunia nyata. Mereka harus waspada dunia maya. 

 3.Tangguh Berinternet: Artinya anak dapat menjaga privasi mereka dan informasi yang berharga tetap dijaga. Jangan menyampaikan akun dan password mereka kepada orang lain yang bertujuan tidak baik. Tujuannya agar akun mereka tidak mudah diretas. 

 4.Jadilah Bijak: Selalu mengingatkan kepada anak bahwa menggunakan internet itu harus bijak karena rekam jejak selalu terekam dan tidak bisa dihapus sama sekali. Sebagai orang tua pun kita memberikan pendampingan dan contoh. 

 5. Berani berinternet: Selalu berkomunikasi terbuka dengan anak dan ajak berdiskusi. Mereka tidak boleh takut bertanya tentang apa yang sedang dicarinya di internet. 

Prinsip dasar saat mendampingi anak dalam mengunggah aplikasi atau media online: 


1.Orang tua selalu melek literasi digital waktu berselancar di dunia maya. 

2.Orang tua selalu pegang kendali akses atau akun anak untuk internet. Memegang kendali dengan cara menggunakan family link atau safe search untuk memantau aktivitasnya sehingga tidak masuk ke dalam dampak negatif.

3.Mengunduh aplikasi ramah anak, misalnya Youtube Kids, tetapi orang tua harus tetap kendali agar tetap aman dan terkendali. 

 Susi sekarang sudah lebih siap menghadapi gempuran media sosial dan segala bentuk aplikasi untuk anak-anaknya. Dia bahkan telah punya cara jitu untuk mengarahkan Andri yang suka belajar Coding, untuk pembuatan game . Andri berhasil jadi juara dalam pembuatan coding suatu game. Internet bagaikan pisau bermata dua, Susi sebagai orang tua bisa memilih yang menguntungkan saja. Berinternet secara “smart” dan jadikan internet untuk mendapatkan keuntungan bukan kerugian baik bagi pribadi maupun bagi keluarga.
 
komdigi



Sumber referensi: 
  • Perempuan Jadi Garda Depan Perlindungan Anak di Ruang Digital: https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/perempuan-jadi-garda-depan-perlindungan-anak-di-ruang-digital 
  • Kartini Digital : Perempuan Indonesia Harus Jadi Penggerak Inovasi:https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/kartini-digital-perempuan-indonesia-harus-jadi-penggerak-inovasi

Total Tayangan Halaman