Di tengah jari yang sibuk menggulir layar tanpa henti, buku perlahan kehilangan tempatnya, Hari Buku Nasional seharusnya menajdi pengingat pentingnya literasi, tetapi kenyataanya minat baca di Indonesia masih memprihatinkan. Buku Sering dianggap sekadar pelengkap, bahkan kalah penting dibanding gadget yang mampu menyajikan hiburan instan hanya dalam hitungan detik. Padahal, dari lembar-lembar bukulah lahir cara berpikir kritis, imajinasi, dan kedalaman pengetahuan yang tak selalu bisa diberikan oleh layar.
Ketika saya jalan-jalan dan duduk di suatu transportasi umum, apa yang dilakukan oleh para penumpang? Dengan santainya para penumpang , baik itu lelaki maupun perempuan, mulai memegang Handphone. Mereksa sangat fokus dengan scrolling dan menatap layar tanpa berkedip. Apakah mereka itu membaca atau sekedar scrolling? Ketika saya berada di dekat mereka, ternyata mereka mencoba mencari apa yang sedang tren saat ini, baik itu musik, pakaian atau film.
Di tempat yang berbeda, ketika saya masuk ke sebuah toko buku Gramedia, menyusuri beberapa tempat yang dijadikan nongkrong baca buku. Namun, di bagian belakang, ada lorong yang kecil tapi terang dan terdengar music yang mengalun. Di sana banyak yang nongkrong baik anak muda lelaki maupun perempuan. Maklum jam makan siang , suasana makin ramai. Tentu saja waktu makan untuk makan, tapi ada sekelompok anak muda yang memojok di suatu tempat , di sana mereka asyik sekali dengan laptopnya dan gadgetnya.
Bagi mereka yang asyik dengan laptop, pekerjaan jadi faktor utamanya untuk diselesaikan. Suasana nyaman begini memang dicari oleh mereka yang senang suasana homy dengan alunan music ringan. Tak ada seorang pun yang baca buku, padahal café ini justru berada di balik (paling belakang dari toko buku).
Dari dua scenario itu saya harus membongkar lebih dalam lagi kenapa anak-anak muda , khususnya generasi Z tidak menyukai baca buku di waktu senggangnya. Seolah buku itu sudah kuno, atau mereka lebih suka buku digital, ketimbang buku yang dicietak tebal?
Arti buku bagi seseorang
kita masih usia 4-5 tahun, dipaksa oleh orang tua untuk bisa membaca. Nanti jika tidak bisa baca , tidak bisa masuk ke sekolah dasar karena syarat utama adalah mampu membaca dengan lancar. Lalu, anak yang dulunya masih suka bermain, dipaksa mengeja, bahkan terus diajak untuk mampu mengeja satu kata yang dibaca satu per satu misalnya: Ba-bi-bu atau i-ni si-di-di, diulang hingga lancar.
Dalam membaca cepat itu, ternyata sekarang diterpakan juga baca cepat. Namun, apa yang dibaca itu bukan buku melainkan media sosial.
Literasi baca merujuk kepada kemampuan seseorang untuk membaca, menginterpretasi teksi baik dalam bentuk tulisan maupun teks visual. Bukan sekedar mengenal huruf, kata, tetapi mampu menganlisis, menilai, mengunakan informasi dari bacaan itu.
Literasi itu penting banget sebagai fondasi perkembangan individu dalam semua aspek kehidupan. Jika individu itu tingkat literasi baca yang tinggi, dia akan cenderung punya pengetahuan yang luas, kemampuan berpikir kritis dan punya daya saing yang tinggi dalam pendidikan maupun dunia kerja.
Sayangnya, Indonesia, menurut artikel Unesco, indeks minat baca orang Indonesia hanya di angka 0,001% artinya dari 1000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin baca. Hal ini menyebabkan peringkat Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara (melorot paling rendah, di bawah Thailand dan di atas Bostwana.
Apakah pengaruh besar digital?
Kemalasan kita untuk baca , salah satunya akibat dari pengaruh teknologi digital. Teknologi digital ini sangat berkontribusi pada penurunan minat baca yang mendalam dan mengubah jadi konsumsi informasi instan.
Di era digital, hampir semua orang lebih menyukai cari informasi lewat digital ketimbang cari lewat buku.
Disrupsi literasi, orang senang menatap layar berjam-jam, menyebabkan rendahnya fokus dan dangkalnya pemahaman informasi.
Kadang-kadang hal itu memang tanpa disadari oleh orang . Namun, sering terjadi ketika orang diberikan pilihan apakah mau mencari sumber referensi lewat buku atau lewat berbagai journal website.
Faktor uamg membuat orang lebih suka jurnal digital dibandingkan buku fisik karena faktor kecepatan, aksesbilitas, dan aktualitas inforamsi.
Kecepatan dan kemudahan akses dalam arti 24 jam, dapat diakses terus. Bahkan aksesbilitas global, dimana pun dan kapan saja tanpa harus ke perspustakaan.
Praktis tidak perlu bawa buku tebal, ribuan jurnal mudah disimpan dalam satu perangkat.
Informasi pun terkini dan relvan dan actual.
Lalu bagaimana dengan buku tebal?
Meskipun banyak kelemahannya seperti terbatas dan repot harus bawa, lambat waktunya, dan jarang sekali terupdate, bahkan pencariannya juga secara manual, tetapi keunggulannya adalah pemahaman konsep yang mendalam, terstruktur dan pengalaman membaca yang lebih nyaman bagi mata tanpa eye strain dari layar.
Bagaimana jawab tantangan untuk penerbit maupun pembaca?
Penerbit ditantang untuk bisa tetap menjaga mutu buku. Dalam hal ini penerbit menyanggupi untuk berkualitas. Namun, jika penerbit harus jawab tantangan kedua yang berat yaitu buku harus murah, ini yang tidak mungkin dilakukan.
Banyak faktor dari pihak penerbit yang harus jadi tantangan untuk membuat buku murah misalnya biaya produksi (kertas dan cetak), biaya distribusi mahal dan ancaman pembacakan, pergeseran pembaca ke format digital.
Menjawab tantangan di atas, penerbit buku harus punya strategi berikut ini:
Dalam hal disrupsi digital dan penurunan minat cetak:
Diversifikasi produk menerbitkan versi-e-book dan audiobook
Penerbitan hybrid: menggabugnkan penerbitan fisik dengan pemasaran digital yang kaut
Adaptasi konten: Membuat konten yang interaktif
hal pembajakan:
Penerbit perlu edukasi konsumen, dampak negatif pembajakan bagi penulis dan industrii. Penegakan hukum, harus hukum penjual buku bajakan. Harga kompetitif yang lebieh terjangkau.
Dalam hal distribusi dan pemasaran
Melakukan pemanfaatan e-commerce dan pemasaran digital dengan strategi marketing.
Dalam hal biaya produksi: Printo on demand sesuai dengan pesanan, esfisiensi editorial menggunakan teknologi untuk mempercepat penyuntingan dan tata letak.
Tantangan bagi pembaca
Membuat buku sebagai sebagai budaya baca . Dari segi psikologis dan menal, melemahnya atensi atau fokus harus diarahkan untuk tidak cepat bosan, manusia lebih cenderdung visual. Jangan anggap membaca sebagai beban tetapi sebagai hobi dan petualangan yang menyenangkan.
Jika lingkungan selalu membuat distraksi digital, maka stop atau mengurangi distraksi itu.
Jika aksebilitas buku jadi hambatannya, maka dukung hambatan itu dengan mencari peminjaman buku yang murah atau cari perspustakaan.
Untuk tantangan kognitif dan dampaak sosial, membaca buku memang butuh latihan . Otak yang tidak dilatih dengan teks panjang dan mendalam, harus mulai dilatih sedikit demi sedikit.
Juga harus mampu berpikri kritis , mampu berpikir dengan wawasan luas. Juga mampu memberikan
Kesimpulan dan ide inovatif kreatif yang seringkali hambat mahasiswa dan profesional
.
Tidak ada komentar
Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!