Perempuan Jadi Garda Terdepan di Ruang Digital

Komdigi, perempuan jadi garda terdepan
freepik.com



Perempuan muda itu bernama Susi (bukan nama sebenarnya). Susi adalah istri keponakanku yang punya latar belakang pendidikan sebagai guru SD Kristen yang terkenal kedisiplinannya. 

 Sebagai seorang guru yang aktif dan dedikatif dia juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kedua putranya , sebut saja namanya Andri (bukan nama sebenarnya) dan Krisna (bukan nama sebenarnya). 

 Andri usia empat tahun, sedangkan Krisna delapan tahun. Kedua anak lelakinya memang punya karakter yang berbeda, Andri pendiam, tetapi suka sekali dengan dunia teknologi, sedangkan Krisna sangat aktif dan selalu senang dunia olahraga dan tertarik dengan dunia seni. Ketika masih kecil kedua anak ini sering ditinggalkan oleh ibunya karena kesibukan tugas mengajar dari pagi hingga sore hari. 

Saat ditinggal oleh kedua orangtuanya, mereka berdua hanya ditemani oleh seorang pembantu saja. Sejak kecil kedua anak sudah dibekali dengan gadget karena alasan untuk komunikasi yang efektif sehingga kedua anak itu dapat dimonitor dimana dan sedang apa. 

 Sayangnya, Susi yang sibuk mengajar itu tak punya kesadaran tentang pentingnya literasi digital. Dia berpikir praktis bahwa gadget itu sangat efisien untuk komunikasi dan tak pernah terpikir apa akibatnya jika digunakan tanpa literasi digital. 

 Masalah kesehatan mata 


 Suatu hari selesai mengajar, Susi kaget mendapatkan laporan dari pembantu bahwa Andri matanya berair dan kabur, tidak jelas melihat orang atau benda-benda di sekitarnya.

 Selain itu Andri menderita gangguan punggung leher. Pembantu menyerahkan sepucuk surat “cinta” dari guru yang ditujukan kepada Susi selaku orangtua. Begitu surat cinta dibuka, Susi kaget sekali membacanya karena guru mengatakan bahwa Andri tidak dapat mengerjakan tugas PR dengan baik , akhir-akhir ini kurang memahami pelajaran saat di sekolah, dan prestasi belajarnya menurun. Perilakunya juga sering kasar dan sering cepat marah dan emosional terhadap temannya. Begitu selesai membaca, Susi menahan nafas dalam-dalam dan akhirnya dia mencoba menenangkan diri. 

Setelah itu dia mulai mengetok kamar Andri. Dijumpainya Andri sedang bermain gadget , dan terlihatlah bahwa permainan game itu sangat menyita waktu dan membuatnya kecanduan. Susi dengan suara yang sedikit berwibawa, “Andri, apa yang sedang kamu kerjakan?”. Dengan tenang Andri mengatakan, “Aku sedang bermain game!”. Lalu Susi bertanya lanjut: “Berapa lama kamu main game?” “Nggak lama kok, hanya 3-4 jam saja!”, katanya Santai. Begitu mendengar kata-kata tidak lama, Susi segera memotong dengan tegas, dengarkan mamah yah, mulai saat ini, penggunaan gadget hanya untuk komunikasi dengan mamah apabila ada masalah dengan penjemputan dan pengantaran sekolah. Saat kamu di rumah, tidak boleh lagi menggunakan gadget. Hanya pada hari Sabtu dan Minggu , kamu gunakan boleh 2 -3 jam saja. 

 Andri mau protes dan tidak suka dengan statemen itu. Dalam hati Andri, dia tak setuju dengan pembatasan penggunaan gadget karena dia melihat semua temannya juga sama seperti dirinya. Namun, Susi dengan tegas mengatakan bahwa gadget itu hanya alat bantu komunikasi dan untuk belajar yang positif , nanti setelah kamu kelas dua SD kamu boleh belajar coding. Sekarang kamu harus berjanji kepada mamah tidak akan melakukan main game di luar hari Sabtu dan minggu lagi . Dengan lirih, Andri menjawab: “OK, aku berjanji mah!”. 

 Belajar literasi digital 


Menyadari kesalahan yang agak terlambat, Susi mulai mengambil tindakan untuk belajar soal literasi digital. Selama ini dia menganggap mengontrol kegiatan anak hanya melalui pembantunya saja. Susi berharap bahwa bukan hanya dia yang belajar literasi digital tetapi anak juga perlu edukasi literasi digital melalui dirinya. 


Akhirnya Susi berhasil mendaftar sebuah lokakarya tentang literasi digital berjudul “Literasi Digital untuk Berdayakan Perempuan”. 

 Dalam lokakarya yang singkat itu dia melihat banyak perempuan terutama ibu-ibu usia muda tidak peduli dengan literasi digital. Lokakarya itu untuk mengantisipasi kerentanan atau ancaman di dunia maya. 

 Mereka hanya mengenal internet untuk digunakan di ponsel untuk berselancar mencari sumber informasi di berbagai media sosial. Banyaknya dan banjirnya informasi di media sosial itu tak selalu benar bahkan sering kali negatif dan jauh dari kebenaran atau yang disebut dengan hoax. Ada juga perempuan yang menganggap bahwa literasi digital hanya diperuntukkan lelaki saja. Padahal, ketimpangan gender itu tak berlaku bagi literasi digital. 

 Ada empat pilar literasi digital yang perlu dikembangkan yaitu Keterampilan Digital (Digital skills) Budaya Digital (Digital Culture), Etika Digital (Digital Ethics) dan Keamanan Digital (Digital Safety).

 1.Keterampilan Digital (Digital Skills) 


Kemampuan setiap individu untuk menggunakan perangkat dan aplikasi digital, termasuk kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menciptakan informasi menggunakan teknologi digital, melakukan belanja online dan menggunakan media sosial. 

 2.Budaya Digital (Digital Culture) 


Pentingnya memahami dan menerapkan bagaimana caranya berkomunikasi di ruang digital. Ini mencakup bagaimana berperilaku, berkomunikasi , dan berinteraksi secara positif dan bertanggung jawab. 

 3.Etika Digital (Digital Ethics) 


Kesadaran akan pentingnya berperilaku etis dalam menggunakan teknologi digital. Hal ini mencakup prinsip-prinsip seperti tidak menyebarkan berita bohong, tidak melakukan perundungan dunia maya, serta menghormati privasi orang lain. 

 4.Keamanan Digital (Digital Safety) 


Kemampuan untuk melindungi diri dari ancaman dan risiko yang mungkin terjadi di dunia digital, seperti penipuan online, phishing, malware, dan pelanggaran data pribadi. Ini mencakup pemahaman cara menjaga keamanan akun, perangkat dan informasi pribadi. 

 Literasi Digital untuk Anak Dini 


Setelah paham literasi digital, Susi tak berhenti belajar. Susi selalu melengkapi dirinya bukan sekedar literasi digital untuk diri sendiri tapi juga untuk kedua putranya yang sedang tumbuh kembang menjadi anak remaja. 

Menurut para ahli, banyak anak yang kecanduan main gadget karena terlalu lama screen time. Prinsipnya anak usia dini 2-5 tahun hanya diperbolehkan main gadget satu jam saja.

 Untuk menghindari kecanduan, Google meluncurkan program “Tangkas Berinternet: Jaga Keamanan dan Privasi Keluarga”. 

 Langkah “Tangkas Berinternet” adalah sebagai berikut:


 1.Harus Cerdas : Artinya cerdas dalam memilih komunikasi mana yang baik , mana yang buruk bagi posting mereka. Ibu akan memandu komunikasi mana yang boleh diungkapkan dan mana yang tidak boleh. Tujuannya agar anak lebih paham menggunakan internet. 

 2.Bersikap Cermat: Artinya anak diajarkan agar tidak cepat tertipu dan selalu bersikap hati-hati dalam menjalankan pertemanan di dunia maya. Tugas dari ibu adalah ikut memperhatikan siapa teman anaknya, termasuk yang tidak dikenalnya. Ibu juga mendampingi anak memberikan arahan bahwa dunia online tidak sesuai dengan dunia nyata. Mereka harus waspada dunia maya. 

 3.Tangguh Berinternet: Artinya anak dapat menjaga privasi mereka dan informasi yang berharga tetap dijaga. Jangan menyampaikan akun dan password mereka kepada orang lain yang bertujuan tidak baik. Tujuannya agar akun mereka tidak mudah diretas. 

 4.Jadilah Bijak: Selalu mengingatkan kepada anak bahwa menggunakan internet itu harus bijak karena rekam jejak selalu terekam dan tidak bisa dihapus sama sekali. Sebagai orang tua pun kita memberikan pendampingan dan contoh. 

 5. Berani berinternet: Selalu berkomunikasi terbuka dengan anak dan ajak berdiskusi. Mereka tidak boleh takut bertanya tentang apa yang sedang dicarinya di internet. 

Prinsip dasar saat mendampingi anak dalam mengunggah aplikasi atau media online: 


1.Orang tua selalu melek literasi digital waktu berselancar di dunia maya. 

2.Orang tua selalu pegang kendali akses atau akun anak untuk internet. Memegang kendali dengan cara menggunakan family link atau safe search untuk memantau aktivitasnya sehingga tidak masuk ke dalam dampak negatif.

3.Mengunduh aplikasi ramah anak, misalnya Youtube Kids, tetapi orang tua harus tetap kendali agar tetap aman dan terkendali. 

 Susi sekarang sudah lebih siap menghadapi gempuran media sosial dan segala bentuk aplikasi untuk anak-anaknya. Dia bahkan telah punya cara jitu untuk mengarahkan Andri yang suka belajar Coding, untuk pembuatan game . Andri berhasil jadi juara dalam pembuatan coding suatu game. Internet bagaikan pisau bermata dua, Susi sebagai orang tua bisa memilih yang menguntungkan saja. Berinternet secara “smart” dan jadikan internet untuk mendapatkan keuntungan bukan kerugian baik bagi pribadi maupun bagi keluarga.
 
komdigi



Sumber referensi: 
  • Perempuan Jadi Garda Depan Perlindungan Anak di Ruang Digital: https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/perempuan-jadi-garda-depan-perlindungan-anak-di-ruang-digital 
  • Kartini Digital : Perempuan Indonesia Harus Jadi Penggerak Inovasi:https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/kartini-digital-perempuan-indonesia-harus-jadi-penggerak-inovasi

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman