Tawaran menarik dari pihak laboratorium maupun rumah sakit untuk diskon medical check up setelah 60 tahun ke atas . Iming-iming yang menggiurkan karena besarnya diskon itu sesuai dengan usia pasien.
Sayangnya saya tak pernah bergeming karena anggapannya betapa mahalnya biaya MCU dengan diskon karena biayanya harus dibayar dengan kocek sendiri.
Mengapa Medical check up penting setelah usia 60 tahun?
Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical check up Tak Boleh Dianggap Mahal?
Rasanya dulu ketika saya masih bekerja di kantor, tiap tahun selalu tersedia fasilitas untuk medical check-up (MCU) tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Fasilitas lengkap itu dari kantor untuk semua karyawan tetap, bahkan yang usia 40 tahun ke atas diminta medical check up lengkap untuk EKG dan breast cancer (untuk perempuan) dan kanker paru-paru (untuk lelaki).
Selesai MCU, hasilnya akan diserahkan kepada dokter perusahaan. Dokter perusahaan akan memberikan rekomendasi atas hasil MCU. Jika dianggap penting untuk rujukan, maka kami yang punya rapor merah pun diharapkan untuk ke dokter internis yang berkaitan dengan hasilnya, misalnya ke dokter jantung, dokter internis penyakit dalam, dokter paru-paru, dan lain sebagainya.
Setelah masa pensiun tiba, saya sendiri merasakan betapa saya kehilangan fasilitas yang sangat berharga itu.
Dulu saat bekerja anggap enteng karena semua urusan MCU diatur oleh Kantor, tak pernah bayar, juga usia masih jauh lebih muda, jadi berpikir tak mengapa jika sakit pun masih ditanggung oleh asuransi kesehatan kantor.
Dulu saya Anggap Medical Check UP Terlalu Mahal
Begitu memasuki masa pensiun, saya mulai berhitung setiap pengeluaran. Pemasukan pensiun itu tak sebesar seperti ketika masih bekerja.
Sempat berpikir anggap bahwa biaya MCU itu terlalu mahal untuk saya yang sudah pensiun. Begitu hasil MCU, pasti harus diikuti dengan tindakan ke dokter. Dari dokter, harus beli obat dan seterusnya.
Hampir sepuluh tahun saya skip untuk MCU karena mindset yang saya anggap uang MCU itu terlalu mahal.
Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang usianya juga senior. Dia menceritakan bahwa dia juga tak pernah menyangka bahwa MCU itu penting sekali bagi kita setelah usia 60 tahun untuk deteksi dini penyakit.
Kesehatan lansia itu pasti tidak seprima saat kita usia produktif sekitar 30-40 tahun. Dia juga ngga pernah berpikir bahwa hasil MCU nya ditemukan ada kebocoran jantung sehingga dia harus operasi jantung. Padahal selama ini dia seorang yang aktif sekali, senang berolahraga, tidak merasakan tanda-tanda sebagai orang yang terkena jantung.
Sejak saat itu, saya mulai berpikir keras, jika teman saya bisa jaga kesehatan lansia dengan medical check up, kenapa saya juga tidak mulai memikirkan untuk medical check up juga.
MCU Membawa saya ke dokter jantung
Di suatu rumah sakit swasta, Eka Hospital, memiliki program MCU Imlek dengan diskon cukup besar sesuai dengan usianya.
Tertarik dengan tawaran itu, saya memilih MCU (tanpa breast cancer) tapi cukup lengkap yaitu rutin , kimia klinik, creatine.
Seminggu setelah MCU, hasil laboratorium dikirimkan softcopy melalui email. Bukan main kagetnya saya ketika mengetahui bahwa Kolesterol LDL cukup tinggi 198 diatas high risk, demikian juga dengan total kolesterol 261 diatas normalnya < 200.
Setelah berbicara dengan dokter umum, saya diminta untuk berkonsultasi dengan dokter jantung. Awalnya, saya tak paham, mengapa harus ke dokter jantung jika kolesterol saja tinggi . Apa relevansi kolesterol tinggi dengan penyakit jantung? Kemudian saya mempelajari bahwa risiko terbesar dari kolesterol tinggi itu akan menyebabkan stroke maupun serangan jantung.
Begitu mendengar dan membaca risikonya, saya pun langsung bergegas untuk appointment dengan Dokter Jantung.
Sebelum bertemu dan berkonsultasi dengan dokter jantung rasanya “deg-degan” karena serasa akan ada vonis berat.
Namun, beliau bertanya dengan lembut : “Apakah saya punya gen jantung?” Saya jawab “ya”. Ayah saya meninggal ketika mendapatkan serangan jantung kedua. Lalu, dibacalah semua hasil laboratorium dan memberikan kesimpulannya.
Saya diberikan obat kolesterol yang harus dikonsumsi selama 3 bulan dan tidak bisa dihentikan.
Setelah 3 bulan saya harus kembali medical check up tapi khusus hanya kolesterol saja , kemudian saya harus datang lagi untuk konsultasi.
Beruntung setelah makan obat 3 bulan, kolesterol saya turun dan dalam kondisi normal. Namun, dokternya mengatakan saya tetap harus minum obat kolesterol dengan dosis dikurangi, pola makan pun harus dijaga.
Kebiasan dan pola makan harus terjaga
Nanti 3 bulan lagi tetap MCU lagi dan harus konsultasi kembali.
Menjaga kesehatan setelah 60 tahun bukan sekedar menunggu sakit
Pengalaman menjalani MCU itu membuat saya berpikir.
Selama ini saya menganggap menjaga kesehatan cukup dilakukan ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda. Padahal, tubuh tidak selalu memberikan alarm yang jelas.
Saya tidak merasa sakit. Saya masih bisa beraktivitas.
Namun angka LDL 198 di hasil laboratorium membuat saya sadar bahwa kesehatan tidak bisa hanya dinilai dari apa yang kita rasakan.
Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan setelah usia 60 tahun bukan sekadar soal pergi ke dokter ketika sakit.
Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang justru perlu dijaga setiap hari.
Mulai dari apa yang kita makan, seberapa aktif tubuh kita bergerak, bagaimana kita mengelola stres, menjaga kualitas tidur, hingga tidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan.
Lalu, dari mana kita bisa memulainya?
Saya akan sambung di artikel berikutnya , nantikan dan siapkan untuk tetap mengikutinya.




