Featured Slider

When One Spouse Knows Everything, The Other is Left Helpness

One spouse knows everthing
freepik.com



Judul di atas memang lebih tepat dituliskan dalam bahasa Inggris ketimbang diterjemahaan dalam bahasa Indonesia. Pengertiannya lebih dalam jika ditulis dalam bahasa Inggris. Makna terjemahannya mungkin kurang tepat,

Jika pasanganmu (suami) mengendalikan semua aspek mulai dari keuangan hingga semua keputusan rumah tangga, maka pasangannya (istri) akan merasa tidak bermanfaat. Dalam sebuah keluarga memang tidak pernah ada yang sempurna . Namun, apabila ada situasi salah satu pasangan yang mengendalikan keuangan (finansial) dan mengatur seluru keputusan rumah tangga , hal ini akan menmibulkan rasa ketimpangan kekuasaan. Artinya pihak lain atau pasangan yang lain merasa tidak berharga, terkekang, dan tidak memiliki kebebasan.

Kondisi ini akan menimbulkan dan menciptakan ketimpangan kekuasaan, dimana pihak lain merasa tidak berharga, terkekang, dan tidak memiliki kebebasan. 

Untuk mengetahui kekuasaan atau control apa yang dilakukan oleh pasangan, berikut ini adalah rinciannya: 

1.Tanda-tanda finansial abuse: Membatasi akses uang: Pasangan menahan dana, membatasi akses ke rekening bersama, atau memaksa pasangan lain meminta uang untuk kebutuhan dasar. Menyembunyikan informasi: Pasangan tidak jujur mengenai jumlah pendaptan, utang atau aset. Mengontrol keputusan: Semua keputusan (pengeluaran, karier, hingga aktivitas sehari-hari) ditentukan oleh satu pihak. 

2.Dampak pada pasangan yang dikuasai :  Rasa tidak berharga: Pihak yang dikontrol merasa tidak dihargai, tidak dianggap sebagai mitra setara, dan kehilangan harga diri. Ketergantungan ekstrem: Terjebak dalam ketergantungan finansial, membuatnya sulit untuk mengambil keputusan sendiri atau keluar dari hubungan. 

3.Stres dan Cemas: Adanya tekanan emosional yang tinggi karena merasa tidak memiliki kebebasan. 

 4.Bahaya bagi hubungan Hubungan tidak sehat (Toxic relationship): Hubungan yang didasarkan pada manipulasi dan ketidakseimbangan kekuasaan , bukan kepercayaan 

5.Potensi perceraian: Ketimpangan ekonomi dan masalah control keuangan adalah salah satu penyebab utama tingginya angka perceraian. 

 Dampak psikologis Kondisi ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan seringkali berujung pada pelecehan finansial. Ketika salah satu pihak mengendalikan seluruh askes ekonomi dan keputusan, pasangan lainnya kehilangan otonomi dan harga diri. 

1.Kehilangan kepercayaan diri: Pasangan dikendalikan merasa “kerdil” dan tidak berdaya karena merasa harus minta izin untuk kebutuhan dasar. 

2.Isolasi: Ketergantungan finansial seringkali digunakan untuk membatasi interaksi sosial pasangan dengan dunia luar. 

3.Anxiety dan depresi: Perasaan terjebak dalam situasi yang tidak setara memicu stres kronis.

 Solusi dan Cara mengatasi: 


Apabila kekuasaan hanya pada suami sedangkan istrinya tidak dipercaya, istrinya tidak pernah diajak berkomunikasi, istrinya tidak pernah belajar berbagai aspek kehidupan, keuangan, hukum, dan lainnya . 

Hal ini bukan karena sang istri tidak mampu belajar, tetapi karena istri percaya suaminya sebagai orang yang pertama yang mengerjakannya. Jadi masalah utamanya adalah bukan karena bukan merasa seorang diri saja, tetapi karena “Ketidak pahaman “ apa yang seharusnya dikerjakan .

 Komunikasi terbuka: Mulailah bicara tentang literasi finansial dan tujuan bersama. Jika suami mengerti tentang keuangan, sedangkan pasangann tidak mengerti, maka suami harus melibatkan istrinya dalam hal keuangan untuk mencapai keseimbangan. 

Edukasi dan membangun kemandirian: Anda harus sadar bahwa anda adalah mitra bukan dominasi. Untuk bisa mandiri, mulailah menabung secara rahasia dan mengasah keterampilan yang dapat menghasilkan pendapatan. 

Transparansi keuangan: Buat rekening bersama atau sekpakai anggara bersama yang adil.

Tetapkan batasan : Tegaskan bahwa dalam hubungan, kedua belah pihak setara, meskipun ada perbedaan pendapatan. 

Cari Bantuan: Jika control sudah mengarah kepada kekerasan fisik/mental, konsultasikan kepada ahli atau konselor pernikahan. 

Jika ingin rumah tangga harmonis dengan kekuasaan seimbang, usahakan ada tugas suami dan istri yang  pembagiannya sebagai berikut ini:

Suami                                                                             
  • Jangan hanya menyimpan semua pengetahuan  
  • Melibatkan istrinya dalam aspek keuangan                   
  • Jelaskan apa pun meskipun istri tidak bertanya              
  • Siapkan kehidupan istri selanjutkan jika anda tidak ada


Istri
  • Selalu bertanya dirinya sendiri
  • Belajar keuangan dasar
  • Mengerti dimana dokumen disimpan
  • Ketergantungan membuat kerusakan diri sendiri

 Love should create helpessness. Knowledge should be share in every relationship 

Dr.Tushar Chokshi

Mengapa Menjalin Pertemanan Menjadi Lebih Sulit Seiring Bertambahnya Usia?

Menjalin pertemanan di usia lanjut
freepik.com



Ketika masih remaja, dengan sangat mudah saya bisa ikut berkumpul dengan teman baik itu teman sekolah, tetangga , komunitas, atau siapa saja yang saya temui dalam suatu kehidupan sosial. 

Meskipun saya tidak suka ikut pesta-pesta, tapi sekali-kali ikut teman yang merayakan ulang tahun di rumahnya, lalu berkumpul dengan teman-teman baru. Merasakan momen yang bahagia karena bisa merasa terhubung dengan orang /baru dalam waktu singkat. 


 Begitu juga menginjak kuliah, saya masih bisa menikmati momen-momen yang dekat dan intim bersama dengan teman se kos, dan teman sekuliah. Mudah sekali berkumpul, bercengkerama dan belajar bersama-sama dengan mereka yang seusia dan merasa saya tidak sendirian saja. 

Saat bekerja, kebersamaan dengan teman kantor baik yang satu bagian maupun di luar bagian , saya masih sering menjalin interaksi karena adanya hubungan dalam pekerjaan. Koneksi dengan klien juga sering terjadi. Bahkan, ada klien yang tetap menjadi sahabat pribadi saat saya resign dari kantor. 

Namun, seiring bertambahnya usia, masa pensiun pun tiba, saya merasa bahwa teman-teman lama saya satu persatu sirna. Jika ingin mendapatkan teman baru di komunitas, interaksi dan komunikasi kurang begitu lancar. Hal ini karena adanya gap masalah interaksi orang dewasa yang lebih tua , mendambakan koneksi sosial tapi kesulitan untuk bisa mendekati atau memenuhi kebutuhan interaksi dua orang yang sudah punya konsep diri sendiri. 

Apakah hal ini fenomena umum?


 Tidak semua orang mengalami kesulitan dalam kehilangan teman lama dan menemukan teman baru. Namun, faktor usia yang mulai menua , hubungan perteman yang terjalin di masa kanak-kanak, dewasa itu tidak mudah lagi terjalin karena masing-masing punya kegiatan dan kebutuhan yang berbeda.

Salah satu faktor yang berkontribusi kepada kesulitan pertemanan di usia dewasa tua adalah evolusi lingkaran sosial kita. Selama remaja, anak-anak kita dikelilingi dengan anak dan teman sebaya, kegiatan ekstrakurikuler, yang memberikan kesempatan kita untuk berinteraksi secara sosial dan pembentukan persahabatn. 

Nah ketika usia dewasa, lingkaran sosial kita secara bertahap mulai menyusut kecil, kita sendiri memprioritas tanggung jawab misalnya pekerjaan, rumah tangga, kegiatan pribadi. Penyempitan jaringan sosial ini sangat membatasi kesempatan untuk bertemu dengan orang baru dan membentuk hubungan yang bermakna. Apalagi jika di usia tua masih bertanggung jawab untuk pekerjaan, rumah tangga karena anak yang berkeluarga tinggal bersama-sama. 

Dalam suatu survey menunjukkan bhwa untuk membentuk persahabatan dibutuhkan 50 jam kontak dan 200 jam untuk membentuk persahabatan yang sangat erat. Padahal sekarang ini komunikasi persahabatan dapat dibentuk melalui aplikasi WhatsApplication. Aplikasi ini mempermudah membentuk grup persahabatan lama. Sayangnya, seringkali dalam grup persahabatan ini bukannya bererita atau menjalin komunikasi tentang kehidupan kita tetapi lebih seringnya membahasa tentang hal-hal politik , di luar masalah pertemanan. 

Hambatan yang lain yaitu sebagai orang dewasa senior, seringkali kita lebih selektif tentang jenis hubungan yang kita kejar. Tidak seperti di masa kanak-kanak, dimana persahbatan didasarkan oleh kedekatan dan tujuan aktivitas yang sama, orang dewasa justru membangun persahabatan kepada minat, nilai pengalaman hidup yang sama. 

Juga bertambahnya usia, kita mungkin menjadi pribadi yang lebih kaku dan kurang terbuka terhadap pengalaman dan perpektif baru. Hal ini disebabkan karena kita enggan untuk ke luar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal sedalam-dalamnya.

Mungkin juga ada pengalaman pahit dalam berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal sehingga membuat makin berhati-hati dan waspada dalam menjalin persahabatan baru. Hal ini tentu akan mempersulit proses dalam menjalin persahbatan baru. 

Strategi untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam pertemanan: 

1.Secara proakatif mencari peluang untuk interaksi sosial 


Bergabung dengan klub atau organisasi yang punya minat yang disukai. Misalnya suka yoga atau olahrga, bergabung dalam klub olahrga baik itu di kalangan lingkungan atau di kalangan organisasi tertentu. 

2.Fokus pada kualitas bukan kuantitas


 Apabila kita sudah menemukan pertemanan baru yang memiliki minat dan nilai tujuan hidup yang sama, kita bisa menginvestasikan waktu dan Upaya untuk membangun dan menjaga relasi sehingga ada rasa puas dengan perhasabatan ketimbang hanya sekedar perteman biasa. 

3.Bersikap terbuka dan menerima orang lain 


Kita harus ke luar dari zona nyaman kita. Selalu berusaha untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan membuat sudut pandang baru tentang orang yang baru kita kenal. Proses pertemanan dengan terbuka akan memperkaya kehidupan dan wawasan kita mengenal orang lain lebih dalam. Relasi di masa dewasa senior makin menyusut, tapi kita harus punya strategi yang membuat kita juga tak hanya bersikap apatis dia diri sendiri, tapi bersikap terbuka, proaktif dan menerima orang lain.

Hidup Lansia: Apakah Pilihan Hidup Mandiri Lebih Baik daripada Senior Living?"

Mandiri atau senior living
smiley-couple-with-drinks-side-view

Dalam dunia yang semakin berubah, banyak lansia yang menghadapi dilema besar—apakah hidup sendiri di rumah lebih baik atau memilih tinggal di tempat tinggal senior? Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan dari kedua pilihan tersebut untuk membantu lansia dan keluarga membuat keputusan yang tepat. 

Topik ini mungkin kurang pas bagi generasi Z dan X karena pasti belum waktunya untuk memikirkan hidup seorang lansia . Usia masih belia, kenapa memikirkan urusan usia lansia. Benar, jika Anda generasi X atau Z, masalah ini memang bukan untuk Anda sendiri tetapi untuk orang tua Anda yang sudah memasuki dunia lansia. 

Saya dan seorang sahabat yang berada di Amerika Serika memang sudah memasuki kategori ini. Jadi kami berdiskusi intens untuk memikirkan masa depan kami. Meskipun kami juga memiliki anak, sahabat saya memiliki dua orang anak dan saya seorang anak, tetapi kami sebagai orang tua yang terbiasa hidup mandiri (berdua dengan suami) dan punya otonomi untuk bebas menentukan, ingin membahas lebih lanjut keputusan untuk hidup kami di usia makin lanjut. 

 Makin tinggi usia, apalagi memasuki usia 70 hingga 80 an tentu fisiknya tidak sekuat dulu ketika masih usia 60 an. Kelemahan fisik karena sahabat saya mulai terkena  beberapa penyakit osteoporosis, gerd . Saya juga sudah punya koleksi penyakit tekanan darah tinggi, keloid , kolesterol tinggi. Setahun sekali selalu check up , ada saja pertambahan penyakit yang dikoleksi dan harus minum obat sehingga kadang-kadang obat yang satu berefek terhadap penyakit yang sudah ada sebelumnya. 

Kami berdiskusi tentang kebaikan dan keburukan apakah tetap hidup mandiri berdua atau mungkin sendiri jika salah seorang dari pasangan meninggal atau justru hidup di senior living.

Di senior living pasti ada kebaikan dan keburukannya. Jadi diskusi kami mulai dari hidup mandiri. Apa keuntungan dan kerugian hidup mandiri di rumah: 

Keuntungannya hidup mandiri adalah berikut ini: 


  • Kemandirian penuh: memiliki kendali penuh atas jadwal harian, makanan, dan privasi tanpa batasan.
  • Lingkungan familiar: Kenyamanan psikologis karena sudah berada di lingkungan rumah yang dikenal secara fisik dan emosional. 
  • Biaya operasional lebih rendah: Bagi emreka yang telah memiliki rumah sendiri (bukan sewa atau kontrak), biaya perawatan mungkin lebih murah. 
  • Dekat komunitas setempat: Mempertahankan kedekatan dengan tetangga, teman, tempat ibadah, atau toko lokal yang sudah dikenal.

 Kerugian di rumah sendiri: 

  • Risiko isolasi sosial: Jika sudah tidak mampu pergi kemana-mana, pasti tidak dapat bersosialisasi dengan tetangga atau teman-teman yang jauh. 
  • Beban pemeiliharaan: Tanggung jawab penuh atas pemeliharaan rumah, kebun, dan pekerjaan rumah tangga , bisa sulit secara fisik. 
  • Risiko keamanan dan kesehatan: Potensi yang sangat krusial adalah jatuh . Ketika jatuh dan hidup sendidri tidak bisa kontak keadaan darurat medis dan bantuan instan.
  •  Akses bantuan tertunda. Kesulitan transportasi: Mengemudi sudah tidak mungkin lagi, lalu cari transportasi yang harus menggunakan ponsel dan aplikasi, apakah masih mampu untuk menggunakannya.

 Sekarang kita bahas keuntungan dan kerugian hidup di Senior Living Di Indonesia tempat Senior Living sangat bervariasi atau beragam, baik dari segi fasilitas, harga maupun persyaratannya. 

Keuntungan tinggal di Senior Living: 


  • Keamanan dan bantuan 27/7: Staf dan sistem panggilan darurat sering tersedia dan memberikan ketengan pikiran bagi penghuni dan keluarga 
  • Sosialisasi terstruktur: Ada berbagai tawaran program dan kegiatan sosial yang dapat diakses oleh peserta baik di ruang makan komunal, di tempat ruang tertentu dan mengurangi kesepian. 
  • Bebas Repot pemeliharaan: Semua pemeliharaan, kebersihan, dan penyediaan makanan sudah ditangani oleh staf 
  • Akses layanan medis: Bantuan dengan manajemen pengobatan, transportasi dan janji ke dokter atau perawatan prbadi tersedia di tempat 

 Kerugian tinggal di Senior Living:


  • Biaya tinggi: Kita harus bayar biaya bulanan sangat mahal dan bahkan yang tidak punya dana passive income terpaksa jual property atau Tabungan.
  •  Kehilangan kemandirian: Harus mengikuti peraturan, jadwal makan/tidur dan struktur komunitas dan otomatis kurangi otonomi pribadi.
  •  Lingkungan asing: Membutuhkan penyesuaian besar untuk pindah dari rumah seumur hidup ke lingkungan baru yang jauh lebih kecil. 
  • Perasaan stigma /penuaan: Beberapa orang merasa “lebih tua” atau “Sudah tua” atau terbebani secara emosional karena pindah ke fasilitas semacam ini.

Keputusan terbaik ada di tangan kita masing-masing berdasarkan kepada kondisi ksehatan fisik, finansial , keingina prbadi akan prviasi dan kebutuhan dukungan sosial dan medis.

Dari Meja Kerja ke Ikatan Hati: Teman Kantor yang Jadi Keluarga

Kantor lamaku adalah sebuah perbankan asing. Aku masih ingat sekali saat rekrutmen, ada beberapa sainganku yang cukup berat. Mereka itu semuanya lulusan dari luar negeri. Tinggal aku sendiri yang lulusan lokal. Begitu juga ketika diwawancari, rasanya percaya diriku hampir hilang karena belum apa-apa aku sudah merasa tak mampu bersaing dengan mereka yang punya kemampuan berbicara dan berkomunikasi lancar dalam bahasa Inggris.

Sementara diriku, aku harus bicara dalam bahasa Inggris dengan tersendat-sendat. Akhirnya, aku merasakan “blessing” saat aku diterima bukan sebagai kandidat utama tetapi kandidat back-up . Dalam suasana yang asing ketika menginjakkan kaki pertama kali, aku tidak bisa membayangkan bahwa ruang tempat kerjaku itu yang terkecil di antara mereka yang punya meja dan tempat computer tersendiri. Aku memang merasa kaku ditengah pergaulan teman-teman yang kelihatannya sudah begitu terbiasa dengan suasana terbuka , selalu kompak sebagai anggota dari suatu unit kerja. 

 Kekakuanku ini mulai pudar dan mencair ketika salah satu manajer memberikan “job description” kerja tentang tugas kerjaku . Divisi kerja dibagi per industry, kebetulan di tempatku kerja termasuk divisi Chemical dan Petrochemical. Para manajer yang jadi ujung tombak dari marketing adalah mereka yang selalu mencari klien baru dan mencari projek kredit baru . Tugasku adalah membantu para manajer yang harus membuat laporan dan segala proposal ke atasan untuk pemberikan kredit. Aku mulai familiar dengan semua orang yang ada dalam divisiku.

 Namun, aku belum kenal teman-teman selevel di divisi lain. Aku berpikir bagaimana berkenalan lintas divisi karena belum ada seorang pun yang memperkenalkanku. Kesempatan itu datang ketika ada teman-teman yang makan siang di suatu ruangan aku mulai mengenal satu persatu teman-temanku. Setiap siang makan bersama merupakan cerita yang unik, ada yang dengan mudahnya berkenalan dan langsung jadi teman dekat. 

 Sementara diriku, aku belum bisa memiliki teman dekat seorang pun. Aku tipe introvert yang selalu mencari orang yang benar-benar punya value dan nilai-nilai yang sama sehingga dalam percakapan seperti “klik”. Tidak bekerja dalam satu divisi tapi selalu dekat di hati Setelah berkenalan hampir dua tahun, aku mulai kenal satu persatu mengenal lebih dalam siapa teman-teman di lingkungan kerja .

 Cara pendekatan yang paling ampuh yang aku lakukan adalah mencari orang yang memang memiliki persamaan value , aku tak peduli latar belakang, tak peduli apakah dia lebih senior , tak peduli apakah dia sombong di luarnya. Masing-masing temanku punya kepribadian yang perlu dipelajari. Posisi kami selevel, jadi apabila ada seseorang yang cuti, kami harus saling memback up.

 Contohnya teman saya Tantri (bukan nama sebenarnya) cuti, maka saya akan back up pekerjaannya. Demikian juga jika saya cuti, Tantri akan back up saya mengerjakan pekerjaan saya. Dari pekerjaan back-up pun saya mengenal siapa teman yang baik. Ada teman yang sangat “sempurna”, jika dia cuti, saya mengerjakan pekerjaannya, harus diserahkan semua berkas pekerjaan seperti yang diinginkannya. Dia akan ngomel berat apabila hasilnya tak sesuai dengan yang diinginkna.

 Anehnya, ada seorang teman yang justru saya tak mengenal dekat secara “heart to heart”, tapi saya melihat dengan mata hati saya, dia ini teman sejati. Sayangnya ketika saya baru saja kenal teman say aini, sekitar setahun, dia harus “resign” dari pekerjaan karena akan menjadi permanent residence di Amerika Serikat.

Dalam perjalanan berikutnya, saya pikir relasi kami sebagai teman akan berakhir dengan kepindahannya. Ternyata, begitu dia pindah di sana, dari hari ke hari, kami makin dekat.  Apa pun yang sedang kami alami, baik saat bahagia maupun senang, sakit , kami selalu sharing bersama.  Rasanya tak ada teman yang begitu dekat secara "heart to heart" yang mau mendengar keluhan , kesedihan yang sedang menimpa kami .   Begitu dekatnya sehingga kami sering merasakan bonding dan attachement itu bagaikan lebih dari saudara sendiri.

Puncaknya ketika ibu dari teman kami yang merupakan tetangga saya, meninggal dunia.  Tentu teman kami tidak bisa pulang dalam pulang dalam waktu singkat.  Dia minta tolong agar mengurus semua acara dari acara penghiburan hingga kremasi.  Meskipun saya tak mengurus sendiri, tetapi minta bantuan orang lain, tetapi rasa kehilangan juga dengan ibu teman yang telah dianggap sesperti ibu sendiri.

Perjalanan panjang masih kami alami bersama-sama, dalam suka maupun duka. Tahun 2024 temanku ini pulang ke Indonesia, meskipun singkat berjumpa dengan saya karena dia harus membagi waktu dengan keluarganya, saya sangat senang dan bahagia.  
Itulah yang disebut teman serasa keluarga.

Marak Penculikan Anak: Mengapa Pengawasan Orang Tua Kini Lebih Penting dari Sebelumnya?

Marak Penculikan Anak
father-spending-time-with-his-daughter-outdoors-father-s-day
Di tengah meningkatnya kasus penculikan anak, apakah kita sudah cukup menjaga buah hati kita? Setiap detik, ancaman semakin nyata, namun sering kali kita lengah. Saat anak berinteraksi dengan dunia luar, tidak hanya gadget dan lingkungan yang harus kita perhatikan—tapi juga bagaimana kita memberi pengawasan yang tepat. Artikel ini akan mengungkapkan mengapa peran orang tua kini lebih krusial dan memberikan tips konkret untuk melindungi anak dari bahaya yang mengintai. Jangan tunggu sampai terlambat—kenali langkah-langkah perlindungan yang harus diambil sekarang!


 Sebagai orang tua yang menyayangi dan mengasihi anaknya, tentu kita akan terkejut , shock dan panik apabila kita menemukan anak-anak kita tiba-tiba hilang dan sudah berpindah tangan ke orang lain. Berpindah tangan ke orang lain atau diculik. 

Penculikan terhadap anak-anak balita atau bawah lima tahun ini makin marak di tahun 2025 di Indonesia. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, ada 91 kasus penculikan anak di Indonesia dengan 180 korban sejak 2022.

 Peristiwa penculikan anak popular adalah Bilqis yang berasal dari Makasar dan berpindah tempat tiga kali hingga ditemukan di pedalaman Jambi. Dalam penuturan oleh ayah Bilqis bernama, Dwi Nurmas, saat hari minggu pagi 2 November ingin melatih ibu-ibu mengajar tenis di taman Pakui Sayang, Makasar. Sayangnya, tidak jadi, sehingga Dwi berlatih bersama temannya, sementara anaknya minta izin untuk bermain di taman sebelahnya.

Pemandangan dari lapangan tenis ke taman memang terbuka dan mudah melihatnya. Tapi dalam sekejab ketika Dwi Nurmas lengah, Bilqis sudah hilang dari pemandangan. Pencarian berbuntut panjang mulai dari minta bantuan keapda “orang pintar” sampai melapor ke Polisi. Dari pihak kepolisian dinyatakan bahwa Bliqis telah dijual kepada pihak lain oleh penculik. Penculik menawarkan anak lewat Facebook, diberikan kepada seorang warga di Sukoharjo dengan harga Rp.3 juta. Dari Sukoharjo, Bilquis dibawa ke Jambi untuk ditawarkan kepada pasangan yang belum dikaruniai anak, dengan dijual sebesar Rp.30 juta. Ternyata, Bilquis berpindah tangan dijual keapda Suku Anak Dalam yang ingin mengadopsi dijual seharga Rp.80 juta. 

 Motivasi dari maraknya penculikan anak itu sering dikaitkan dengna faktor ekonomi dan psikologis. Alasan umum dari faktor ekonomi:

Eksploitasi ekonomi 


Tujuan menculik untuk mengeksploitasi anak untuk membantu kegiatan mengemis atau mengamen. Dengan menggunakan anak kecil sebagai alat untuk meminta, hasilnya dan keuntungan lebih besar. 

Perdagangan anak


Penculik yang masuk dalam jaringan internasional untuk komoditas organ, maka penculik dengan mudahnya anak-anak yang diculik dan dijual organnya lewat media sosial , bahkan ada yang dijual untuk kegiatan eksploitasi seksual 

Adopsi illegal 


Suami istri yang belum juga dikaruniai anak, ingin mendapatkan anak secara illegal. Mereka nekad menculik anak dan ingin membesarkan anak sendiri atau juga menjual kepada orang lain setelah dianggap besar. 

Uang tebusan 


Ini sering terjadi dan justru dilakukan oleh mereka yang terdesak ekonominya , untuk mendapatkan uang tebusan dari orang tua. Terutama apabila anak itu berasal dari keluarga berada. 

Dendam


Ketika ada yang merasa dendam kepada keluarga korban, maka anak dijadikan korban penculikan untuk pelampiasan amarah dan sakit hatinya. 

Penculikan oleh orang tua kandung


 Ketika orang tua sedang dalam kasus perceraian, hak asuh anak misalnya jatuh kepada ibunya, ada kasus “parental Abduction” dimana ayah kandungnya yang tak punya hak asuh, memaksa untuk merebut anaknya dari ibunya . Perebutan anak dalam proses perceraian ini juga menjadi kasus yang sering terjadi dan membuat anak itu menjadi bingung dan kurang cinta dari kedua orang tuanya karena yang dia lihat hanya pertengkaran saja. 

 Tips agar anak aman terhadap penculikan 


Sebagai orang tua, anak-anak selalu dibawah pengawasan, jangan pernah tinggalkan anak sendiri pergi tanpa pengawasan. Meskipun anak hanya pergi ke luar di depan rumah, pengawasan pun harus tetap dilakukan. Anak juga harus dididik sejak dini untuk melindungi dirinya sendiri terhadap kejahatan di sekitarnya. Orang tua harus membekali anak dengan tips untuk jaga diri terhadap orang yang tidak kenal. 

  • 1.Ajari anak aturan “tanya ibu atau ayah dulu”


 Ajarkan bahwa semua orang asing tidak boleh mendekatinya. Apabila mereka didekati orang asing, dan mengajak pergi. Mereka harus segera menjawab: “tanya ibu atau ayah”. Tidak boleh seorang pun , biarpun orang yang sudah dikenalnya untuk menawarkan permen, bujukan dibelikan mainan atau apa pun. Mereka harus patuh dan minta izin kepada pengasuh atau orang tua. 

  •  2.Ajari anak untuk menolak


 Ajari anak untuk menolak pemberian dari orang asing. Pemberian berupa hadiah, dari orang asing tidak diperbolehkan dan harus ditolak. Mereka harus berani menolak dan konsisten untuk tidak menerima pemberian. 

  • 3.Mengajarkan cara hadapi penculikan


Upaya penculikan Dalam kondisi genting atau luput dari perhatian orang tua, anak harus diajarkan untuk berteriak dan menjatuhkan barang-barang sekeras mungkin dan berlari ke orang yang dikenalnya . Minta pertolongan kepada polisi, guru atau orang yang dikenalnya.

  • 4.Pergi ke tempat aman 


ada orang asing yang membututi anak, segera menyingkir atau berlari ke tempat yang aman seperti tempat polisi atau petugas keamanan atau seorang ibu lainnya. Juga jika lewati jalan sepi, sunyi, harus bersama dengan orang tua , tidak boleh sendirian.

  •  5.Ajari keterampilan bela diri dasar


 Setiap anak baik perempuan atau lelaki dibeirkan keterampilan dasar seperti latihan taekwondo, karate, wushu. Latihan ini sangat bermanfaat bagi mereka untuk melindungi diri , meningkatkan kekuatan dan daya tubuh anak.

Total Tayangan Halaman