Featured Slider

Menemukan Ketenangan Jiwa: Perjalanan Ziarah dan Kontemplasi ke Rawaseneng

Ziarah dan Kontemplasi di Rawaseneng
canva.com



Langkah kaki terkadang melemah, bukan karena jarak yang terlampau jauh, melainkan karena jiwa yang terlampau lelah menanggung bisingnya dunia. Di usia yang tak lagi muda, ketika ambisi duniawi perlahan surut dan berganti dengan kerinduan akan keheningan yang hakiki, perjalanan bukan lagi soal mencari sensasi yang viral atau tempat-tempat estetis demi sebuah swafoto. Perjalanan masa tua adalah tentang merajut kembali sisa napas dalam doa, memaknai setiap inci perjalanan hidup, dan bersiap pulang dengan damai. 

Di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing, tersembunyi sebuah tempat yang menawarkan ketukan ritmis yang berbeda: Biara Trappist Santa Maria Rawaseneng di Temanggung. Tempat ini berdiri megah dalam kesederhanaan, memanggil siapa saja yang hatinya tengah rapuh untuk datang, bersujud, dan menepi dari hiruk-pikuk semesta. 

Menyapa Sang Pencipta dalam Heningnya Rawaseneng


Tujuan utama menapaki tanah Rawaseneng adalah mencari keheningan mutlak. Di kapel yang sederhana namun agung, para biarawan mendedikasikan hidup dalam keheningan total (silence). Bagi jiwa-jiwa yang lelah, ruang ini menjadi tempat perlindungan yang paling aman untuk bertemu kembali dengan Sang Pencipta. Tanpa kata-kata yang rumit, doa dan alunan kidung dilantunkan perlahan, meresap ke dalam relung hati yang paling dalam. Rawaseneng mengarahkan setiap hati yang rapuh untuk melepaskan beban, membasuh luka batin, dan menemukan kembali kekuatan tersembunyi di dalam keheningan doa yang tulus.

Menyaksikan Kebesaran  Ciptaan di Lereng Sindoro-Sumbing

 

ziarah dan kontemplasi rawaseneng


Perjalanan kontemplatif ini belum usai di dalam biara. Melangkah keluar dari kawasan Rawaseneng, mata dan batin kita akan disuguhi panorama alam yang luar biasa megah. Diapit oleh dua raksasa agung—Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing—udara dingin pegunungan menyapu wajah, membawa kesegaran yang menyembuhkan. Hamparan perkebunan kopi yang hijau, kabut tipis yang turun perlahan, serta ladang sayuran penduduk setempat menghadirkan keindahan visual yang menenangkan. 

Menyaksikan kebesaran ciptaan Tuhan di tanah Temanggung ini mengingatkan kita betapa kecilnya diri di hadapan alam semesta, sekaligus betapa besar kasih sayang yang Ia limpahkan melalui semesta yang tenang ini.

 Memaknai Perjalanan Hidup di Penghujung Usia


 Menikmati hari tua dengan berwisata religi dan alam bukanlah tentang pelarian, melainkan sebuah bentuk perayaan atas kedewasaan jiwa. Di masa tua ini, hidup tidak lagi perlu dihabiskan untuk mengejar validasi publik atau sensasi semu yang melelahkan. Perjalanan ke Rawaseneng mengajarkan kita untuk merangkul kesederhanaan, mensyukuri napas yang masih tersisa, dan merenungkan lembar-lembar kehidupan yang telah terukir. Pada akhirnya, wisata rohani ini menjadi titik balik. Sebuah pengingat bahwa rumah sejati dari jiwa yang lelah bukanlah tempat yang ramai, melainkan hati yang damai di dalam dekapan Sang Pencipta.

 Bagaimana rencana perjalanan spiritual ini jika dipadukan dengan kunjungan ke destinasi alam lain di sekitar Temanggung?

Sehat di Usia Senja Bukan Sekadar Bebas Penyakit

Sehat di Usia Senja, bukan sekedar bebas penyakit
canva.com


Dulu saya berpikir bahwa memasuki usia senior berarti saya harus lebih serius menjaga kesehatan fisik. 


Tekanan darah mulai harus diperhatikan. Kolesterol tidak boleh dianggap sepele. Perut yang dulu rasanya “kebal” terhadap berbagai makanan, sekarang mulai sensitif. Pedas sedikit, terasa. Makanan bersantan terlalu banyak, tubuh pun seperti memberikan protes. 

Tubuh ternyata mulai memiliki aturan mainnya sendiri. Apa yang dulu bisa dimakan dengan santai, sekarang harus dipikirkan dua kali. Awalnya saya menganggap semua itu sebagai bagian biasa dari proses menua. Tinggal mengatur makanan, olahraga, istirahat, dan rutin memeriksakan kesehatan. Tetapi kemudian saya menyadari ada hal lain yang tidak kalah penting: bagaimana menjaga pikiran dan hati tetap sehat


Ketika rumah mulai terasa lebih sepi 


Salah satu tantangan terbesar di usia senior bukan hanya perubahan tubuh, tetapi juga perubahan kehidupan. Anak yang dulu setiap week-end ada di rumah, kini harus melanjutkan pendidikan S2 di Polandia. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga. Tetapi di balik rasa bangga itu, ada juga ruang kosong yang perlahan terasa. 

Rumah menjadi lebih sepi. Tidak ada lagi percakapan kecil setiap hari. Tidak ada lagi rutinitas sederhana yang dulu terasa biasa, tetapi ternyata begitu berarti. Di saat seperti itu, pikiran terkadang mulai berjalan ke mana-mana. Bagaimana keadaan anak? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana situasi di negara tempat dia tinggal? 

Belum lagi ketika membaca berita tentang situasi negara atau melihat berbagai persoalan di sekitar kita. Kadang muncul keresahan yang sulit dijelaskan. Pertemanan pun ternyata bisa berubah seiring bertambahnya usia. 

Ada teman yang ternyata memiliki pandangan hidup berbeda. Ada perbedaan visi, cara melihat keadaan, bahkan cara menyikapi berbagai persoalan. Dulu mungkin perbedaan seperti itu bisa dianggap biasa. Namun ketika memasuki usia senior, saya semakin menyadari bahwa ketenangan batin juga merupakan bagian dari kesehatan. Tidak semua hal harus diperdebatkan. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Dan tidak semua keresahan harus kita bawa pulang ke dalam hati.

Tubuh dan pikiran ternyata tidak berjalan sendiri-sendiri 


Semakin bertambah usia, saya justru melihat bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ketika tubuh tidak sehat, pikiran bisa ikut terganggu. Tekanan darah yang harus dipantau, kolesterol yang meningkat, pencernaan yang semakin sensitif, atau munculnya berbagai keluhan kesehatan dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah cemas.

Sebaliknya, ketika pikiran terus dipenuhi kekhawatiran, kesepian, atau stres, kita pun bisa merasa tubuh menjadi lebih lelah dan tidak nyaman. Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Mana yang lebih penting, kesehatan fisik atau kesehatan mental?” 

Melainkan: “Bagaimana menjaga keduanya agar tetap seimbang?” 

 Menua bukan berarti berhenti menikmati hidup 


Menjadi senior bukan berarti harus takut terhadap setiap perubahan tubuh. Justru mungkin inilah waktunya untuk semakin mengenal diri sendiri. Belajar memahami makanan apa yang cocok untuk tubuh. Mengatur pola hidup. Berolahraga sesuai kemampuan. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 

Tetapi di saat yang sama, kita juga perlu memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat. Tetap bersosialisasi. Memiliki aktivitas yang membuat hati bahagia. 

Berkomunikasi dengan anak dan keluarga meskipun jarak memisahkan. Memilih lingkungan pertemanan yang membuat kita merasa nyaman. Dan yang tidak kalah penting: belajar menerima bahwa hidup memang terus berubah. Anak-anak akan tumbuh dan memiliki kehidupannya sendiri.

Teman-teman mungkin memiliki pandangan yang berbeda. Tubuh kita pun tidak akan sama seperti ketika muda. Semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup. 

Pada akhirnya, sehat adalah tentang keseimbangan 


Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kesehatan bukan hanya tentang angka di hasil pemeriksaan laboratorium. Bukan hanya tentang berapa tekanan darah kita. Bukan hanya tentang kadar kolesterol. 

Tetapi juga tentang bagaimana perasaan kita ketika bangun pagi. Apakah kita masih memiliki semangat untuk menjalani hari? Apakah kita masih memiliki orang untuk diajak berbicara? Apakah kita mampu menikmati hal-hal sederhana? Apakah kita bisa merasa tenang meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan?

 Kesehatan fisik dan kesehatan mental adalah dua sisi dari kehidupan yang saling memengaruhi. Karena itu, di usia senior, keduanya perlu dirawat bersama. Tubuh perlu dijaga. Pikiran perlu ditenangkan. Hati perlu diberi ruang untuk menerima. Dan hidup tetap perlu dinikmati. Sebab menjadi tua bukan tentang bagaimana kita menghindari semua masalah. Tetapi tentang bagaimana kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan tubuh yang terawat, pikiran yang sehat, dan hati yang tenang.

Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical Check Up Tak Boleh Dianggap Mahal

Mengapa MCU Tidak Boleh Dianggap Mahal



Tawaran menarik dari pihak laboratorium maupun rumah sakit untuk diskon medical check up setelah 60 tahun ke atas . Iming-iming yang menggiurkan karena besarnya diskon itu sesuai dengan usia pasien. 


Sayangnya saya tak pernah bergeming karena anggapannya betapa mahalnya biaya MCU dengan diskon karena biayanya harus dibayar dengan kocek sendiri. 


Mengapa Medical check up penting setelah usia 60 tahun?


Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical check up Tak Boleh Dianggap Mahal? Rasanya dulu ketika saya masih bekerja di kantor, tiap tahun selalu tersedia fasilitas untuk medical check-up (MCU) tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Fasilitas lengkap itu dari kantor untuk semua karyawan tetap, bahkan yang usia 40 tahun ke atas diminta medical check up lengkap untuk EKG dan breast cancer (untuk perempuan) dan kanker paru-paru (untuk lelaki). 

Selesai MCU, hasilnya akan diserahkan kepada dokter perusahaan. Dokter perusahaan akan memberikan rekomendasi atas hasil MCU. Jika dianggap penting untuk rujukan, maka kami yang punya rapor merah pun diharapkan untuk ke dokter internis yang berkaitan dengan hasilnya, misalnya ke dokter jantung, dokter internis penyakit dalam, dokter paru-paru, dan lain sebagainya. Setelah masa pensiun tiba, saya sendiri merasakan betapa saya kehilangan fasilitas yang sangat berharga itu.

 Dulu saat bekerja anggap enteng karena semua urusan MCU diatur oleh Kantor, tak pernah bayar, juga usia masih jauh lebih muda, jadi berpikir tak mengapa jika sakit pun masih ditanggung oleh asuransi kesehatan kantor. 

Dulu saya Anggap Medical Check UP Terlalu Mahal Begitu memasuki masa pensiun, saya mulai berhitung setiap pengeluaran. Pemasukan pensiun itu tak sebesar seperti ketika masih bekerja. Sempat berpikir anggap bahwa biaya MCU itu terlalu mahal untuk saya yang sudah pensiun. Begitu hasil MCU, pasti harus diikuti dengan tindakan ke dokter. Dari dokter, harus beli obat dan seterusnya. 

Hampir sepuluh tahun saya skip untuk MCU karena mindset yang saya anggap uang MCU itu terlalu mahal. Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang usianya juga senior. Dia menceritakan bahwa dia juga tak pernah menyangka bahwa MCU itu penting sekali bagi kita setelah usia 60 tahun untuk deteksi dini penyakit.

 Kesehatan lansia itu pasti tidak seprima saat kita usia produktif sekitar 30-40 tahun. Dia juga ngga pernah berpikir bahwa hasil MCU nya ditemukan ada kebocoran jantung sehingga dia harus operasi jantung. Padahal selama ini dia seorang yang aktif sekali, senang berolahraga, tidak merasakan tanda-tanda sebagai orang yang terkena jantung. 

Sejak saat itu, saya mulai berpikir keras, jika teman saya bisa jaga kesehatan lansia dengan medical check up, kenapa saya juga tidak mulai memikirkan untuk medical check up juga. 

 MCU Membawa saya ke dokter jantung

 Di suatu rumah sakit swasta, Eka Hospital, memiliki program MCU Imlek dengan diskon cukup besar sesuai dengan usianya. Tertarik dengan tawaran itu, saya memilih MCU (tanpa breast cancer) tapi cukup lengkap yaitu rutin , kimia klinik, creatine. Seminggu setelah MCU, hasil laboratorium dikirimkan softcopy melalui email. Bukan main kagetnya saya ketika mengetahui bahwa Kolesterol LDL cukup tinggi 198 diatas high risk, demikian juga dengan total kolesterol 261 diatas normalnya < 200.

Setelah berbicara dengan dokter umum, saya diminta untuk berkonsultasi dengan dokter jantung. Awalnya, saya tak paham, mengapa harus ke dokter jantung jika kolesterol saja tinggi . Apa relevansi kolesterol tinggi dengan penyakit jantung? Kemudian saya mempelajari bahwa risiko terbesar dari kolesterol tinggi itu akan menyebabkan stroke maupun serangan jantung. 

 Begitu mendengar dan membaca risikonya, saya pun langsung bergegas untuk appointment dengan Dokter Jantung. Sebelum bertemu dan berkonsultasi dengan dokter jantung rasanya “deg-degan” karena serasa akan ada vonis berat. 

 Namun, beliau bertanya dengan lembut : “Apakah saya punya gen jantung?” Saya jawab “ya”. Ayah saya meninggal ketika mendapatkan serangan jantung kedua. Lalu, dibacalah semua hasil laboratorium dan memberikan kesimpulannya. Saya diberikan obat kolesterol yang harus dikonsumsi selama 3 bulan dan tidak bisa dihentikan. 

 Setelah 3 bulan saya harus kembali medical check up tapi khusus hanya kolesterol saja , kemudian saya harus datang lagi untuk konsultasi. Beruntung setelah makan obat 3 bulan, kolesterol saya turun dan dalam kondisi normal. Namun, dokternya mengatakan saya tetap harus minum obat kolesterol dengan dosis dikurangi, pola makan pun harus dijaga.

Kebiasan dan pola makan harus terjaga


 Nanti 3 bulan lagi tetap MCU lagi dan harus konsultasi kembali. Menjaga kesehatan setelah 60 tahun bukan sekedar menunggu sakit Pengalaman menjalani MCU itu membuat saya berpikir. Selama ini saya menganggap menjaga kesehatan cukup dilakukan ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda. Padahal, tubuh tidak selalu memberikan alarm yang jelas. Saya tidak merasa sakit. Saya masih bisa beraktivitas. 

Namun angka LDL 198 di hasil laboratorium membuat saya sadar bahwa kesehatan tidak bisa hanya dinilai dari apa yang kita rasakan. Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan setelah usia 60 tahun bukan sekadar soal pergi ke dokter ketika sakit. 

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang justru perlu dijaga setiap hari. Mulai dari apa yang kita makan, seberapa aktif tubuh kita bergerak, bagaimana kita mengelola stres, menjaga kualitas tidur, hingga tidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan. Lalu, dari mana kita bisa memulainya? Saya akan sambung di artikel berikutnya , nantikan dan siapkan untuk tetap mengikutinya.

Menuju Indonesia Ramah Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Menuju Lansia Bermartabat

asian-elderly-couple-dancing-together-while-listen-music-living-room-home-sweet-couple-enjoy-love-moment-while-having-fun-when-relaxed-home.jpg




Usia lanjut bukanlah akhir dari perjalanan , melainkan puncak kehidupan yang sarat makna, pengalaman dan kebijaksanaan. Di balik setiap kerutan tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, serta keteguhan yang menjadi fondasi bagi generasi penerus. Karena itu, lansia bukan hanya perlu dihormati, tetapi juga diberi ruang untuk tetap berkarya, berdaya, dan tumbuh bersama masyarakat. 


 Siapkah kita jadi lansia Tangguh?


Mendengar kata lansia pun, ada yang menertawakan karena merasa jauh waktunya atau belum waktunya. MEreka yang masih generasi X atau Y anggap bahwa nggak perlu pikirkan jadi lansia tangguh. 

Fase manusia itu begitu cepat loh, dulu ketika saya melahirkan, menganggap bahwa saya masih lama jadi lansia. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba anak bayi, sudah masuk SD, SMP, SMA, lulus universitas, bekerja, dan belajar lagi untuk S2. Saya sudah lansia sejak anak bekerja. Tahap proses lansia jika dihitung jari memang lama, namun , tanpa disadari kita semua yang dulunya muda, akan masuk ke tahap lansia. 

 Jika kita tidak memperhitungkan persiapan jadi lansia yang bermartabat, nanti ketika tiba waktunya kita akan kaget dan kadang penyesalan datang sudah terlambat.

Apa pengertian lansia tangguh? 


Menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah penghalang bagi seseorang untuk tetap sehat, mandiri, aktif , dan produktif. 

Apa pengertian Indonesia tumbuh? 


Menjaga masyarakat memandang lansia sebagai bagian dari kekuatan bangsa yang terus berpartisipasi dan berkontribusi dalam Pembangunan. 

 Proyeksi persentase penduduk lanjut usia di Indonesia 


 Tiap tahun terus meningkat. Mulai dari 2020, jumlahnya 10,7% dari total warga di Indonesia , tahun 2025, naik 12,5%, 2030 naik 14,6%, 2035 naik 16,6%, 2040 naik 18,3% dan tahun 2045 naik 19,9%. Jika ada slogan Indonesia emas, seharusnya ada juga lemas karena ada bonus dalam jumlahnya meningkatnya mencapai 19,4% di tahun 2045. Dalam jumlah yang cukup besar, apakah kehidupan lansianya baik secara finansial maupun fisiknya dalam kondisi yang baik, terawatt? 

Seiring kehidupan lansia yang bertambah usia, sangat rentan terhadap penyakit kronis misalnya stroke, diabetes. Dari segi ekonomi pendapatan warga lansia rentan tak punya tabungan, bahkan sering tergantung kepada keluarga, bahkan rentan mendapat ancaman fisik, psikis di ruang domestic. Mereka yang tak mempersiapkan diri secara finansial, harus menyambung hidupnya dengan bekerja secara informal , contohnya seorang bernama Ramses (66) tinggal di Kawasan Pulo Bran, Sumatera Utara. Dia tak kuat bekerja sebagai tukang bangunan, terpaksa beralih menjadi pemulung botol untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama ibunya yang berusia 90 tahun.

 Belum lagi lansia yang”riskan terbuang” Seorang lansia, Wawan (79) ia ingin menikmati masa tua dalam dekapan anak, cucu karena dia sendiri fisiknya sudah sangat lemah. Kenyataannya, berbeda, sejak ia berpisah dengan istri, tiga anaknya sudah meninggalkan dirinya sendiri. Tidurnya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya dan hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain. 

Begitu pula di panti Jompo , ada seorang bapak Wawan yang kondisi kesehatannya sudah rawan atau buruk. Dia ingin sekali ada keluarga yang menjenguk. Namun, harapannya sia-sia, tak seorang pun keluarga baik anak maupun cucu datang ke panti itu. 

Persiapan Lansia Tangguh, Tumbuh (berdaya), dan Bermartabat 


Persiapannya harus dimulai sejak dini (pra-lansia) melalui pendekatan 7 Dimensi Lansia Tangguh: finansial, spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional (keterampilan hobi), dan lingkungan.

Finansial:

Miliki dana pensiun yang cukup untuk menghidupi diri termasuk kesehatan. Dana pensiun ini harus dikumpulkan sejak usia muda.  Tidak bergantung kepada anak, keluarga lainnya.

Fisik: 

Jalani pola hidup sehat dengan gizi seimbang (rendah gula, garam, dan minyak) rutin berolahraga ringan, tidur cukup, dan lakukan pemeriksaan kesehatan berkala. 

Intelektual dan vokasional: 

Latih otak dengan terus belajar hal baru, membaca, atau menekuni hobi dan keterampilan produktif agar tetap mandiri secara ekonomi.

Emosional & spiritual: 

Perbanyak ibadah, mendekatkan diri pada Tuhan, Kelola stres, dan kembangkan sikap ikhas serta berpikir positif. 

Sosial kemasyarakatan:

Tetap aktif bersosialisasi, mengikuti kegiatan warga, dan menjaga komunikasi yang hangat dengan keluarga. 

Lingkungan:

Pastikan rumah atau tempat tinggal memiliki akses yang aman dan nyaman bagi fisik lansia (ramah lansia).

 Penutup 


Lansia yang bermartabat adalah mereka yang dihargai dan diperlakukan dengan penuh penghormatan. Lansia tangguh adalah mereka yang mampu menghadapi perubahan dengan semangat dan keteguhan. Lansia yang tumbuh adalah mereka yang terus belajar, berbagi dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. 

Mari bersama membangun Indonesia yang ramah lansia, di mana setiap lanjut usia dapat menjlani kehidupannya dengan sehat, bahagia, produktif dan penuh makna. Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Slump Reading: Hilangnya Minat Baca Tanpa Alasan

Slump Reading
close-up-still-life-hard-exams.jpg




Salah satu hobi yang saya lakukan adalah membaca buku. Jika belum sempat membaca di suatu pagi, siang , rasanya ada yang kurang. Kebiasaan membaca itu sangat menyenangkan bagi saya. Namun, beberapa hari ini saya merasa tidak ingin menyentuh satu buku atau artikel apa pun. Kelihatannya saya sedang mengalami penurunan semangat, konsistensi, kemampuan untuk fokus membaca, padahal sebelumnya saya bisa membaca dengan cukup lancar.

Ternyata, hal ini bukan berarti saya tiba-tiba “malas” atau kemampuan membaca hilang.

Mengapa slump reading dapat terjadi?

 
Dari yang saya alami, saya memang sedang merasa bosan atau jenuh, membaca monoton hal-hal yang tidak variatif , dan otak saya selalu menyukai scrolling media sosial. Saya bisa melakukan scrolling media sosial hampir dua jam. 

 Namun, untuk membaca, baru saja memegang satu buku dan mata baru membaca lima menit, tapi saya merasa tidak tahan dan tak ada ketertarikan untuk melanjutkan membaca, bahkan saya sering merasa bersalah kenapa tidak mampu membaca lebih banyak seperti yang sebelumnya. 

Ternyata banyak penyebab umum mengapa slump reading dapat terjadi 

Contohnya: 


  1. Kelelahan mental : otak sudah terlalu banyak menerima informasi atau harus berpikir sepanjang hari. 
  2. Bosan atau jenuh: Materi yang dibaca terasa monoton, terlalu familiar, atau tidak lagi terasa bermakna.
  3. Beban kognitif terlalu tinggi: Buku/artikel terlalu sulit sehingga setiap paragraph terasa seperti kerja keras.
  4. Ekspektasi terlalu tinggi: Misalnya merasa harus membaca 30-50 halaman setiap hari. Ketiga gagal, muncul rasa bersalah dan akhirnya makin sulit memulai.
  5. Terlalu banyak distraksi: Terutama HP, notifikasi, media sosial, atau kebiasaan berpindah-pindah perhatian. 
  6. Tujuan membaca kurang jelas: Membaca hanya karena “harus membaca”, bukan karena tahu apa yang ingin diperoleh. 
  7. Kondisi tubuh kurang mendukung: Kurang tidur, lapar, atau tidak punya waktu istirahat yang cukup juga sangat mempengaruhi konsentrasi. 

 Kondisi slump reading itu seringkali menjadi siklus yang berulang kali. Mulai sulit fokus, membaca sedikit, merasa bersalah, memaksa diri membaca banyak, makin lelah, semakin sulit fokus. 

Solusinya bukan memaksa membaca lebih lama, tetapi harus memutuskan siklus tersebut. Strategi untuk kembali fokus: 

1.Turunkan target secara drastis 
Kalau biasanya membaca 30 menit, coba mulai dengan 5-10 menit saja. Tujuannya bukan mengejar jumlah halaman, tetapi mengembalikan kebiasaan. Bahkan jika hari ini hanya membaca 3 halaman, hal ini sudah merupakan keberhasilan. 

2.Gunakan aturan “satu sesi, satu tujuan” 
Sebelum mulai, tentukan: Contohnya dalam waktu 15 menit saya hanya ingin memahami satu ide utama. Hal ini jauh lebih ringan daripada berpikir, “saya harus menyelesaikan satu bab.” 

 3.Jangan langsung kembali ke buku yang sulit
Pada waktu yang lalu, saya menyukai buku-buku tema psikologi popular. Namun, ketika saya sedang dalam rasa bosan, maka saya mengambil buku yang lebih ringan dan menyenangkan. Contohnya buku prosa atau esai, artikel ringan yang saya sukai dan menjadi “pemanasan”. Analoginya ketika kita terbiasa berolahraga, tiba-tiba berhenti. Untuk memulainya latgi, kita tidak bisa bertahan dengan latihan yang berat, cukup yang ringan dulu. 

4.Hilangkan friksi sebelum membaca 

Membuat suatu ritual yang san gat sederhana: HP dijauhkan atau mode Do Not Disturb. Siapkan air minum. Buka buku tepat pada halaman yang akan dibaca. Tentukan timer 10-15 menit. Selama timer berjalan, hanya membaca. Semakin sedikit keputusan yang harus dibuat sebelum membaca, semakin mudah memulainya.

 5.Membaca secara aktif 

Ada orang yang membaca banyak tetapi tidak memahami apa yang dibacanya. Jadi membaca secara aktif bukan jumlah halaman yang dibaca, tetapi berapa kata-kata yang telah menempel dari setiap halaman yang telah say abaca. Lalu, rangkumlah dalam satu-dua kalimat dengan kata-katamu sendiri. 

6.PErhatikan kapan kamu paling fokus

 Tidak semua orang cocok membaca pada malam hari. Kita harus coba mengamati apakah kita lebih fokus pada pagi, siang atau malam? Setelah menemukan waktu yang tepat untuk fokus, jadikan waktu yang fokus itu sebagai “prime reading time”. 

 7.Jangan mengejar streak 

Ukuran keberhasilan bukan diukur “tidak boleh melewatkan satu hari pun”. Untuk ukuran yang sehat, “Saya kembali membaca ketika saya bisa”. Konsistensi jangka panjang leibh penting daripada streak sempurna. 

Yuk kita mulai latihan pada hari ini 10 menit saja:

 1. Pilih bacaan yang relatif lebih mudah.
 2. Jauhkan HP. 
3. Set timer 10 menit. 
4. Baca tanpa memikirkan jumlah halaman. 
5. Setelah selesai, tulis satu kalimat tentang apa yang kamu dapatkan. 
6. Jika masih ingin lanjut, tambahkan 10 menit. Jika tidak berhenti tanpa rasa bersalah. 

Tujuannya bukan membuat produktif dalam membaca. Tujuannya adalah membuat otak kembali mengasosiasikan membaca dengan sesuatu yang ringan dan menyenangkan.

Total Tayangan Halaman