![]() |
| woman-tech-men-how-work-with-laptop (Sumber: Freepik.com) |
Mereka tumbuh dengan mimpi besar, belajar lebih lama, menguasai teknologi lebih cepat dan percaya bahwa pendidikan akan membuka jalan menuju masa depan. Namun, hari ini, banyak Generasi Z justru berdiri di persimpangan yang membingungkan. Lowongan kerja semakin sempit, pekerjaan tetap semakin sulit, dan pekerjaan informal menjadi satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup.
Pertemuan saya dengan seorang anak generasi Z. Usianya saat itu masih sangat muda sekitar 23 tahun. Semangat hidupnya luar biasa, serba cepat ruang geraknya. Tak bisa diam saja, mata, kaki selalu ingin melakukan yang paling cepat.
Namun, ketika hampir setahun kemudian, mata yang bersinar cerah itu sudah berubah menjadi mendung kelabu. Memang gerakannya penuh dengan energi. Hanya dari sorot mata itu saya melihat ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan.
Mengapa? Dia sudah hampir setahun menganggur, cita-citanya untuk bisa bekerja setelah lulus S1 tak membuahkan hasil. Ratusan lamaran kerja sudah dilayangkan, tak satupun yang dijawab, bahkan dia sudah mencari orang-orang yang dikenalnya sebagai koneksi . Bantuan koneksi itu penting meskipun tak selalu bisa diandalkan.
Anak muda ini tak sendirian , menganggur setelah lulus. Luntang lantung, mencari pekerjaan, mencari harapan yang tak kunjung datang. Berharap untuk bisa ada satu lowongan sat pun yang menerima mereka meskipun tak punya pengalaman kerja.
Kondisi paradoks pengangguran anak muda, generasi Z ini terjadi dimana-mana bukan hanya di Indonesia saja. .
Menurut data secara global, generasi Z usia 15-24 jumlah mereka yang tidak bekerja, tidak sekolah dan tidak ikut latihan atau sering disebut dengan nama NETT, jumlahnya cukup besar sekali dari total generasi , 262 juta. Ternyata, ada 12,4% menganggur, bahkan saat ini meningkat menjadi 19,44%.
Apakah penyebab anak generasi Z ini menganggur?
Secara global itu kondisi geopolitik yang tidak kondusif adanya perang Iran melawan USA dan Israel, membuat dunia usaha menahan diri untuk memperluas usahanya.
Akhirnya rekrutmen untuk tenaga-tenaga muda termasuk generasi Z sulit dilakukan. Tidak adanya rekrutmen baru itu membuat generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan baru.
Sayangnya, data dari IMF pertumbuhan lapangan kerja global menunjukkan menurun tiap tahunnya , awal di tahun 2024 , 3,3%, 2025 – 3,2% dan 2026 menurun menjadi 3,1$.
Jumlah lulusan baru makin banyak, sementara yang pengangguran sebelumnya belum mendapatkan pekerjaan, menambah banyak pengangguran, sementara lapangan kerja tak mampu menyerap atau mengimbangi jumlah tersebut.
Penyebab lainnya karena kemajuan teknologi , para lulusan ini belum memiliki keterampilan digital di berbagai sektor yang dibutuhkan. Memang Gen Z punya pemahaman teknologi yang baik, tetapi setiap perusahaan selalu mencari kandidat dengan keahlian yang spesifik.
Apa yang dikhawatirkan oleh Gen Z?
Ada empat hal yang membuat Gen Z khawatir akan masa depan yang tak kunjung cerah.
1.Jumlah pencari kerja melebihi kapasitas dari lapangan kerja yang tersedia.
Hal ini sudah tampak dari fakta di lapangan, lulusan baru bertarung dengan mereka yang belum mendapatkan pekerjaan (lulusan sebelumnya), juga bertarung dengan mereka yang juga ingin pindah karier.
2.Otomatisasi AI dan AI Generatif.
Pekerjaan tingkat pemula (entry level) yang biasanya menjadi gerbang awal bagi lulusan baru semakin banyak digantikan oleh sistem kecerdasan buatan.
3.Kesenjangan keterampilan.
Terdapat ketidaksesuaian antara keterampilan yang dipelajari di bangku pendidikan dan keahlian teknis spesifik yang saat ini dicari oleh perusahaan.
4.Kalah bersaing dan terjebak di posisi tanggung.
Banyak pencari kerja muda kalah bersaing dengan kandidat berpengalaman. Fenomena ini juga menyulitkan mereka yang telah di -PHK untuk kembali melamar di posisi entry-level atau tingkat lanjut.
5.Dampak Finansial dan beban mental.
Menganggur dalam waktu lama menciptakan kekhawatiran akan masa depan finansial, hilangnya kemandirian, dan tekanan psikologis. Hal ini diperburuk oleh tingginya biaya hidup yang tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja.
6.Tuntutan berlebihan dan standar pengalaman:
Banyak dari mereka terjebak dalam siklus sulit: butuh pekerjaan untuk mendapat pengalaman, tetapi butuh pengalaman untuk bisa diterima bekerja.
Apa yang bisa dibantu bagi gen Z yang belum berhasil mendapatkan pekerjaan?
1.Tingkatkan soft skill dan keahlian relevan
Banyak kandidat muda dinilai kurang dalam time management, komunikasi, dan Kerjasama tim. Jika Anda berada di Indonesia, carilah informasi pelatihan gratis , kursus bersertifikat dari Kementerian Ketenagakerjaan atau platform seperti PraKerja untuk meningkatkan keahlian sesuatu industri yang dituju.
Ketika Meta mem-PHK 8.000 pekerjanya di seluruh global, 100 di Singapore, mereka yang kena layoff itu, akan digantikan oleh AI. Saatnya Anda juga mempelajari keterampilan AI yang mumpuni agar tidak tergerus dalam arus PHK.
2.Optimalkan Personal Branding
Rekruter masa kini sering melihat jejak digital dan profil daring kandidat.
Profil professional: Pastikan akun Linkedin Anda lengkap dan gunakan fitur “Open to Work”
Portofolio Daring: Buat portofolio digital di situ seperti Behance (untuk desain) atau GitHub(untuk bidang IT).
3.Perluas akses ke lowongan kerja
Jangan hanya mengandalkan satu portal pencari kerja. Gunakan platform terpercaya untuk melamar pekerjaan:
Situs karir terkemuka: Cari pekerjaan entry-level atau fresh graduate di Glints dan Jobstreet.
Aplikasi Khusus: Gunakan platform seperti Kalibrr yang menghubungkan pencari kerja muda dengan perusahaan
4.Alternatif Jalur Karir sambil Menunggu. Jika belum mendapatkan pekerjaan purnawaktu, manfaatkan waktu untuk menambah pengalaman dan penghasilan:
Kerja paruh waktu/freelance: Cari proyek lepas di Upwork atau Seribu untuk memperkaya portofolio
Program magang: Ikuti program magang berbayar guna membangun jaringan dan pengalaman. Industry terkait.
Penutup
Generasi Z tidak kekurangan semangat atau kemampuan. Mereka hanya hidup di masa ketika dunia kerja berubah terlalu cepat. Karena itu, solusi pengangguran bukan hanya tanggung jawab anak muda, tetapi juga pemerintah, pendidikan dan dunia industri agar masa depan tidak berubah menjadi ketidakpastian
Mereka juga sulit beradaptasi dengan dunia kerja. Beberapa laporan terbaru dari Intelligent, sebuah platform konsultasi pendidikan dan karier, sejumlah perusahaan enggan mempekerjakan Gen Z.











