Featured Slider

Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical Check Up Tak Boleh Dianggap Mahal

Mengapa MCU Tidak Boleh Dianggap Mahal



Tawaran menarik dari pihak laboratorium maupun rumah sakit untuk diskon medical check up setelah 60 tahun ke atas . Iming-iming yang menggiurkan karena besarnya diskon itu sesuai dengan usia pasien. 


Sayangnya saya tak pernah bergeming karena anggapannya betapa mahalnya biaya MCU dengan diskon karena biayanya harus dibayar dengan kocek sendiri. 


Mengapa Medical check up penting setelah usia 60 tahun?


Menjaga Kesehatan Setelah 60 Tahun: Mengapa Medical check up Tak Boleh Dianggap Mahal? Rasanya dulu ketika saya masih bekerja di kantor, tiap tahun selalu tersedia fasilitas untuk medical check-up (MCU) tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Fasilitas lengkap itu dari kantor untuk semua karyawan tetap, bahkan yang usia 40 tahun ke atas diminta medical check up lengkap untuk EKG dan breast cancer (untuk perempuan) dan kanker paru-paru (untuk lelaki). 

Selesai MCU, hasilnya akan diserahkan kepada dokter perusahaan. Dokter perusahaan akan memberikan rekomendasi atas hasil MCU. Jika dianggap penting untuk rujukan, maka kami yang punya rapor merah pun diharapkan untuk ke dokter internis yang berkaitan dengan hasilnya, misalnya ke dokter jantung, dokter internis penyakit dalam, dokter paru-paru, dan lain sebagainya. Setelah masa pensiun tiba, saya sendiri merasakan betapa saya kehilangan fasilitas yang sangat berharga itu.

 Dulu saat bekerja anggap enteng karena semua urusan MCU diatur oleh Kantor, tak pernah bayar, juga usia masih jauh lebih muda, jadi berpikir tak mengapa jika sakit pun masih ditanggung oleh asuransi kesehatan kantor. 

Dulu saya Anggap Medical Check UP Terlalu Mahal Begitu memasuki masa pensiun, saya mulai berhitung setiap pengeluaran. Pemasukan pensiun itu tak sebesar seperti ketika masih bekerja. Sempat berpikir anggap bahwa biaya MCU itu terlalu mahal untuk saya yang sudah pensiun. Begitu hasil MCU, pasti harus diikuti dengan tindakan ke dokter. Dari dokter, harus beli obat dan seterusnya. 

Hampir sepuluh tahun saya skip untuk MCU karena mindset yang saya anggap uang MCU itu terlalu mahal. Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang usianya juga senior. Dia menceritakan bahwa dia juga tak pernah menyangka bahwa MCU itu penting sekali bagi kita setelah usia 60 tahun untuk deteksi dini penyakit.

 Kesehatan lansia itu pasti tidak seprima saat kita usia produktif sekitar 30-40 tahun. Dia juga ngga pernah berpikir bahwa hasil MCU nya ditemukan ada kebocoran jantung sehingga dia harus operasi jantung. Padahal selama ini dia seorang yang aktif sekali, senang berolahraga, tidak merasakan tanda-tanda sebagai orang yang terkena jantung. 

Sejak saat itu, saya mulai berpikir keras, jika teman saya bisa jaga kesehatan lansia dengan medical check up, kenapa saya juga tidak mulai memikirkan untuk medical check up juga. 

 MCU Membawa saya ke dokter jantung

 Di suatu rumah sakit swasta, Eka Hospital, memiliki program MCU Imlek dengan diskon cukup besar sesuai dengan usianya. Tertarik dengan tawaran itu, saya memilih MCU (tanpa breast cancer) tapi cukup lengkap yaitu rutin , kimia klinik, creatine. Seminggu setelah MCU, hasil laboratorium dikirimkan softcopy melalui email. Bukan main kagetnya saya ketika mengetahui bahwa Kolesterol LDL cukup tinggi 198 diatas high risk, demikian juga dengan total kolesterol 261 diatas normalnya < 200.

Setelah berbicara dengan dokter umum, saya diminta untuk berkonsultasi dengan dokter jantung. Awalnya, saya tak paham, mengapa harus ke dokter jantung jika kolesterol saja tinggi . Apa relevansi kolesterol tinggi dengan penyakit jantung? Kemudian saya mempelajari bahwa risiko terbesar dari kolesterol tinggi itu akan menyebabkan stroke maupun serangan jantung. 

 Begitu mendengar dan membaca risikonya, saya pun langsung bergegas untuk appointment dengan Dokter Jantung. Sebelum bertemu dan berkonsultasi dengan dokter jantung rasanya “deg-degan” karena serasa akan ada vonis berat. 

 Namun, beliau bertanya dengan lembut : “Apakah saya punya gen jantung?” Saya jawab “ya”. Ayah saya meninggal ketika mendapatkan serangan jantung kedua. Lalu, dibacalah semua hasil laboratorium dan memberikan kesimpulannya. Saya diberikan obat kolesterol yang harus dikonsumsi selama 3 bulan dan tidak bisa dihentikan. 

 Setelah 3 bulan saya harus kembali medical check up tapi khusus hanya kolesterol saja , kemudian saya harus datang lagi untuk konsultasi. Beruntung setelah makan obat 3 bulan, kolesterol saya turun dan dalam kondisi normal. Namun, dokternya mengatakan saya tetap harus minum obat kolesterol dengan dosis dikurangi, pola makan pun harus dijaga.

Kebiasan dan pola makan harus terjaga


 Nanti 3 bulan lagi tetap MCU lagi dan harus konsultasi kembali. Menjaga kesehatan setelah 60 tahun bukan sekedar menunggu sakit Pengalaman menjalani MCU itu membuat saya berpikir. Selama ini saya menganggap menjaga kesehatan cukup dilakukan ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda. Padahal, tubuh tidak selalu memberikan alarm yang jelas. Saya tidak merasa sakit. Saya masih bisa beraktivitas. 

Namun angka LDL 198 di hasil laboratorium membuat saya sadar bahwa kesehatan tidak bisa hanya dinilai dari apa yang kita rasakan. Sejak saat itu saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan setelah usia 60 tahun bukan sekadar soal pergi ke dokter ketika sakit. 

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang justru perlu dijaga setiap hari. Mulai dari apa yang kita makan, seberapa aktif tubuh kita bergerak, bagaimana kita mengelola stres, menjaga kualitas tidur, hingga tidak lagi menunda pemeriksaan kesehatan. Lalu, dari mana kita bisa memulainya? Saya akan sambung di artikel berikutnya , nantikan dan siapkan untuk tetap mengikutinya.

Menuju Indonesia Ramah Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Menuju Lansia Bermartabat

asian-elderly-couple-dancing-together-while-listen-music-living-room-home-sweet-couple-enjoy-love-moment-while-having-fun-when-relaxed-home.jpg




Usia lanjut bukanlah akhir dari perjalanan , melainkan puncak kehidupan yang sarat makna, pengalaman dan kebijaksanaan. Di balik setiap kerutan tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, serta keteguhan yang menjadi fondasi bagi generasi penerus. Karena itu, lansia bukan hanya perlu dihormati, tetapi juga diberi ruang untuk tetap berkarya, berdaya, dan tumbuh bersama masyarakat. 


 Siapkah kita jadi lansia Tangguh?


Mendengar kata lansia pun, ada yang menertawakan karena merasa jauh waktunya atau belum waktunya. MEreka yang masih generasi X atau Y anggap bahwa nggak perlu pikirkan jadi lansia tangguh. 

Fase manusia itu begitu cepat loh, dulu ketika saya melahirkan, menganggap bahwa saya masih lama jadi lansia. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Tiba-tiba anak bayi, sudah masuk SD, SMP, SMA, lulus universitas, bekerja, dan belajar lagi untuk S2. Saya sudah lansia sejak anak bekerja. Tahap proses lansia jika dihitung jari memang lama, namun , tanpa disadari kita semua yang dulunya muda, akan masuk ke tahap lansia. 

 Jika kita tidak memperhitungkan persiapan jadi lansia yang bermartabat, nanti ketika tiba waktunya kita akan kaget dan kadang penyesalan datang sudah terlambat.

Apa pengertian lansia tangguh? 


Menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah penghalang bagi seseorang untuk tetap sehat, mandiri, aktif , dan produktif. 

Apa pengertian Indonesia tumbuh? 


Menjaga masyarakat memandang lansia sebagai bagian dari kekuatan bangsa yang terus berpartisipasi dan berkontribusi dalam Pembangunan. 

 Proyeksi persentase penduduk lanjut usia di Indonesia 


 Tiap tahun terus meningkat. Mulai dari 2020, jumlahnya 10,7% dari total warga di Indonesia , tahun 2025, naik 12,5%, 2030 naik 14,6%, 2035 naik 16,6%, 2040 naik 18,3% dan tahun 2045 naik 19,9%. Jika ada slogan Indonesia emas, seharusnya ada juga lemas karena ada bonus dalam jumlahnya meningkatnya mencapai 19,4% di tahun 2045. Dalam jumlah yang cukup besar, apakah kehidupan lansianya baik secara finansial maupun fisiknya dalam kondisi yang baik, terawatt? 

Seiring kehidupan lansia yang bertambah usia, sangat rentan terhadap penyakit kronis misalnya stroke, diabetes. Dari segi ekonomi pendapatan warga lansia rentan tak punya tabungan, bahkan sering tergantung kepada keluarga, bahkan rentan mendapat ancaman fisik, psikis di ruang domestic. Mereka yang tak mempersiapkan diri secara finansial, harus menyambung hidupnya dengan bekerja secara informal , contohnya seorang bernama Ramses (66) tinggal di Kawasan Pulo Bran, Sumatera Utara. Dia tak kuat bekerja sebagai tukang bangunan, terpaksa beralih menjadi pemulung botol untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama ibunya yang berusia 90 tahun.

 Belum lagi lansia yang”riskan terbuang” Seorang lansia, Wawan (79) ia ingin menikmati masa tua dalam dekapan anak, cucu karena dia sendiri fisiknya sudah sangat lemah. Kenyataannya, berbeda, sejak ia berpisah dengan istri, tiga anaknya sudah meninggalkan dirinya sendiri. Tidurnya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya dan hidupnya bergantung pada belas kasihan orang lain. 

Begitu pula di panti Jompo , ada seorang bapak Wawan yang kondisi kesehatannya sudah rawan atau buruk. Dia ingin sekali ada keluarga yang menjenguk. Namun, harapannya sia-sia, tak seorang pun keluarga baik anak maupun cucu datang ke panti itu. 

Persiapan Lansia Tangguh, Tumbuh (berdaya), dan Bermartabat 


Persiapannya harus dimulai sejak dini (pra-lansia) melalui pendekatan 7 Dimensi Lansia Tangguh: finansial, spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional (keterampilan hobi), dan lingkungan.

Finansial:

Miliki dana pensiun yang cukup untuk menghidupi diri termasuk kesehatan. Dana pensiun ini harus dikumpulkan sejak usia muda.  Tidak bergantung kepada anak, keluarga lainnya.

Fisik: 

Jalani pola hidup sehat dengan gizi seimbang (rendah gula, garam, dan minyak) rutin berolahraga ringan, tidur cukup, dan lakukan pemeriksaan kesehatan berkala. 

Intelektual dan vokasional: 

Latih otak dengan terus belajar hal baru, membaca, atau menekuni hobi dan keterampilan produktif agar tetap mandiri secara ekonomi.

Emosional & spiritual: 

Perbanyak ibadah, mendekatkan diri pada Tuhan, Kelola stres, dan kembangkan sikap ikhas serta berpikir positif. 

Sosial kemasyarakatan:

Tetap aktif bersosialisasi, mengikuti kegiatan warga, dan menjaga komunikasi yang hangat dengan keluarga. 

Lingkungan:

Pastikan rumah atau tempat tinggal memiliki akses yang aman dan nyaman bagi fisik lansia (ramah lansia).

 Penutup 


Lansia yang bermartabat adalah mereka yang dihargai dan diperlakukan dengan penuh penghormatan. Lansia tangguh adalah mereka yang mampu menghadapi perubahan dengan semangat dan keteguhan. Lansia yang tumbuh adalah mereka yang terus belajar, berbagi dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. 

Mari bersama membangun Indonesia yang ramah lansia, di mana setiap lanjut usia dapat menjlani kehidupannya dengan sehat, bahagia, produktif dan penuh makna. Lansia: Bermartabat, Tangguh, dan Terus Bertumbuh

Slump Reading: Hilangnya Minat Baca Tanpa Alasan

Slump Reading
close-up-still-life-hard-exams.jpg




Salah satu hobi yang saya lakukan adalah membaca buku. Jika belum sempat membaca di suatu pagi, siang , rasanya ada yang kurang. Kebiasaan membaca itu sangat menyenangkan bagi saya. Namun, beberapa hari ini saya merasa tidak ingin menyentuh satu buku atau artikel apa pun. Kelihatannya saya sedang mengalami penurunan semangat, konsistensi, kemampuan untuk fokus membaca, padahal sebelumnya saya bisa membaca dengan cukup lancar.

Ternyata, hal ini bukan berarti saya tiba-tiba “malas” atau kemampuan membaca hilang.

Mengapa slump reading dapat terjadi?

 
Dari yang saya alami, saya memang sedang merasa bosan atau jenuh, membaca monoton hal-hal yang tidak variatif , dan otak saya selalu menyukai scrolling media sosial. Saya bisa melakukan scrolling media sosial hampir dua jam. 

 Namun, untuk membaca, baru saja memegang satu buku dan mata baru membaca lima menit, tapi saya merasa tidak tahan dan tak ada ketertarikan untuk melanjutkan membaca, bahkan saya sering merasa bersalah kenapa tidak mampu membaca lebih banyak seperti yang sebelumnya. 

Ternyata banyak penyebab umum mengapa slump reading dapat terjadi 

Contohnya: 


  1. Kelelahan mental : otak sudah terlalu banyak menerima informasi atau harus berpikir sepanjang hari. 
  2. Bosan atau jenuh: Materi yang dibaca terasa monoton, terlalu familiar, atau tidak lagi terasa bermakna.
  3. Beban kognitif terlalu tinggi: Buku/artikel terlalu sulit sehingga setiap paragraph terasa seperti kerja keras.
  4. Ekspektasi terlalu tinggi: Misalnya merasa harus membaca 30-50 halaman setiap hari. Ketiga gagal, muncul rasa bersalah dan akhirnya makin sulit memulai.
  5. Terlalu banyak distraksi: Terutama HP, notifikasi, media sosial, atau kebiasaan berpindah-pindah perhatian. 
  6. Tujuan membaca kurang jelas: Membaca hanya karena “harus membaca”, bukan karena tahu apa yang ingin diperoleh. 
  7. Kondisi tubuh kurang mendukung: Kurang tidur, lapar, atau tidak punya waktu istirahat yang cukup juga sangat mempengaruhi konsentrasi. 

 Kondisi slump reading itu seringkali menjadi siklus yang berulang kali. Mulai sulit fokus, membaca sedikit, merasa bersalah, memaksa diri membaca banyak, makin lelah, semakin sulit fokus. 

Solusinya bukan memaksa membaca lebih lama, tetapi harus memutuskan siklus tersebut. Strategi untuk kembali fokus: 

1.Turunkan target secara drastis 
Kalau biasanya membaca 30 menit, coba mulai dengan 5-10 menit saja. Tujuannya bukan mengejar jumlah halaman, tetapi mengembalikan kebiasaan. Bahkan jika hari ini hanya membaca 3 halaman, hal ini sudah merupakan keberhasilan. 

2.Gunakan aturan “satu sesi, satu tujuan” 
Sebelum mulai, tentukan: Contohnya dalam waktu 15 menit saya hanya ingin memahami satu ide utama. Hal ini jauh lebih ringan daripada berpikir, “saya harus menyelesaikan satu bab.” 

 3.Jangan langsung kembali ke buku yang sulit
Pada waktu yang lalu, saya menyukai buku-buku tema psikologi popular. Namun, ketika saya sedang dalam rasa bosan, maka saya mengambil buku yang lebih ringan dan menyenangkan. Contohnya buku prosa atau esai, artikel ringan yang saya sukai dan menjadi “pemanasan”. Analoginya ketika kita terbiasa berolahraga, tiba-tiba berhenti. Untuk memulainya latgi, kita tidak bisa bertahan dengan latihan yang berat, cukup yang ringan dulu. 

4.Hilangkan friksi sebelum membaca 

Membuat suatu ritual yang san gat sederhana: HP dijauhkan atau mode Do Not Disturb. Siapkan air minum. Buka buku tepat pada halaman yang akan dibaca. Tentukan timer 10-15 menit. Selama timer berjalan, hanya membaca. Semakin sedikit keputusan yang harus dibuat sebelum membaca, semakin mudah memulainya.

 5.Membaca secara aktif 

Ada orang yang membaca banyak tetapi tidak memahami apa yang dibacanya. Jadi membaca secara aktif bukan jumlah halaman yang dibaca, tetapi berapa kata-kata yang telah menempel dari setiap halaman yang telah say abaca. Lalu, rangkumlah dalam satu-dua kalimat dengan kata-katamu sendiri. 

6.PErhatikan kapan kamu paling fokus

 Tidak semua orang cocok membaca pada malam hari. Kita harus coba mengamati apakah kita lebih fokus pada pagi, siang atau malam? Setelah menemukan waktu yang tepat untuk fokus, jadikan waktu yang fokus itu sebagai “prime reading time”. 

 7.Jangan mengejar streak 

Ukuran keberhasilan bukan diukur “tidak boleh melewatkan satu hari pun”. Untuk ukuran yang sehat, “Saya kembali membaca ketika saya bisa”. Konsistensi jangka panjang leibh penting daripada streak sempurna. 

Yuk kita mulai latihan pada hari ini 10 menit saja:

 1. Pilih bacaan yang relatif lebih mudah.
 2. Jauhkan HP. 
3. Set timer 10 menit. 
4. Baca tanpa memikirkan jumlah halaman. 
5. Setelah selesai, tulis satu kalimat tentang apa yang kamu dapatkan. 
6. Jika masih ingin lanjut, tambahkan 10 menit. Jika tidak berhenti tanpa rasa bersalah. 

Tujuannya bukan membuat produktif dalam membaca. Tujuannya adalah membuat otak kembali mengasosiasikan membaca dengan sesuatu yang ringan dan menyenangkan.

Kesehatan Lansia: Cara Tetap Sehat, Aktif, dan Bahagia di Usia Lanjut

Kesehatan Lansia: Cara tetap sehat di usia lanjut
Kesehatan Lansia: Cara Tetap Sehat di Usia Lanjut (Canva.com)



Pagi 23 Agustus 2026, sesi pertama dimulai dengan sebuah kenyataan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering kita lupakan: menua adalah bagian dari kehidupan. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.

Seiring bertambahnya usia, tubuh perlahan mengalami perubahan. Penglihatan mungkin tidak lagi setajam dulu. Otot mulai kehilangan massa dan kekuatannya. Kepadatan tulang berkurang. Paru-paru tidak lagi selentur ketika muda. Kulit pun menjadi lebih kering dan elastisitasnya berkurang. Namun, apakah bertambahnya usia berarti kita harus berhenti aktif? 
Tentu tidak. Justru di sinilah pentingnya memahami apa yang terjadi pada tubuh kita.

 Dalam sesi yang dibawakan oleh Dr. Hilderbrand Hanoch Victor Watupongo, SpPD, K-Ger, FInasim, dijelaskan bahwa di Indonesia seseorang mulai dikategorikan sebagai lansia ketika berusia 60 tahun ke atas. 

WHO sendiri membagi usia lanjut menjadi tiga kelompok: 60–74 tahun sebagai lanjut usia, 75–90 tahun sebagai lanjut usia tua, dan di atas 90 tahun sebagai usia sangat tua. Tetapi menjadi lansia tidak hanya soal angka.

Ada gambaran yang jauh lebih menarik: tetap aktif, sehat, dan bahagia. Ketika Usia Harapan Hidup Bertambah Ada kabar baik dari perkembangan kehidupan manusia. Usia harapan hidup semakin meningkat. 

Data yang dipaparkan menunjukkan usia harapan hidup meningkat dari 69,8 tahun pada 2010 menjadi 70,9 tahun pada 2017. Perempuan memiliki usia harapan hidup sekitar 73 tahun, sementara laki-laki sekitar 69 tahun.

 Tetapi angka tersebut membawa sebuah pertanyaan penting: Kalau kita hidup lebih lama, bagaimana kualitas hidup kita selama tahun-tahun tambahan itu? Sebab panjang umur saja tidak cukup. Kita tentu ingin usia yang panjang tetap disertai kemampuan untuk bergerak, berpikir, beraktivitas, berkomunikasi dengan orang lain, dan menikmati kehidupan. 

Itulah sebabnya kesehatan pada usia lanjut perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Tubuh Berubah, tetapi Kita Bisa Tetap Menjaganya.

 Proses menua berlangsung pada berbagai organ tubuh. Mata mulai mengalami penurunan penglihatan dan lebih mudah silau. Massa otot berkurang sehingga kekuatan tubuh menurun. Tulang semakin kehilangan kepadatannya dan risiko osteoporosis meningkat. Elastisitas paru-paru juga berkurang, sementara kulit menjadi lebih kering dan keriput lebih mudah muncul. Perubahan tersebut adalah bagian dari proses menua. 

Namun ada hal lain yang perlu diperhatikan. Seiring bertambahnya usia, berbagai penyakit degeneratif maupun infeksi juga semakin menjadi perhatian.

Dalam materi ini disebutkan antara lain hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, ISPA, diare, pneumonia, dan obesitas. Karena itu, semakin bertambah usia, semakin penting pula kita mengenali tubuh sendiri. Jangan menunggu tubuh benar-benar menyerah baru mulai memperhatikannya.

 Jangan Biarkan Tubuh Hanya Duduk dan Diam Salah satu hal yang sering terjadi ketika usia bertambah adalah aktivitas fisik yang semakin berkurang. Padahal tubuh tetap membutuhkan gerakan. Dalam materi disampaikan bahwa kurang aktivitas fisik cukup tinggi pada kelompok usia 60–64 tahun dan semakin meningkat pada kelompok usia 65–69 tahun. 

Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Ada banyak pilihan yang dapat disesuaikan dengan kemampuan, seperti tai chi, berjalan kaki, water aerobic, swimming, maupun resistance training. Intinya bukan berapa berat olahraga yang kita lakukan. Yang lebih penting adalah tetap bergerak sesuai kemampuan tubuh. Karena tubuh yang terus digunakan akan memiliki kesempatan untuk tetap berfungsi dengan baik. Bukan Hanya Otot yang Perlu Dilatih Ada satu hal yang tidak kalah penting: pikiran. Demensia atau pikun menjadi salah satu gangguan kognitif yang perlu mendapat perhatian. 

Materi ini mencatat bahwa jumlah penderita demensia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1,2 juta pada 2015 menjadi 4 juta pada 2050. Karena itu, menjaga usia lanjut bukan hanya tentang menjaga kaki agar tetap kuat berjalan. Kita juga perlu menjaga kemampuan berpikir, memori, penilaian, emosi, dan keterlibatan dengan lingkungan.

 Sebab menjadi tua bukan sekadar perubahan fisik. Ada perubahan dalam kehidupan sosial, psikologis, ekonomi, bahkan lingkungan. Makan Sedikit, tetapi Jangan Kehilangan Gizi Ada satu perubahan lain yang mungkin tidak terasa pada awalnya: nafsu makan dapat menurun. Mengapa? Fungsi penciuman dan pengecapan dapat menurun. Produksi air liur berubah. Gigi dan gusi mengalami perubahan. Pengosongan kerongkongan dan lambung juga menjadi lebih lambat. 

Semua ini dapat membuat keinginan untuk makan berkurang. Belum lagi faktor lain seperti depresi, kesepian, penyakit kronis, disabilitas, demensia, penggunaan obat-obatan, hingga masalah keuangan. Karena itu, makan pada usia lanjut bukan sekadar persoalan kenyang. 

Yang penting adalah kualitas makanan yang masuk ke tubuh. Materi menyarankan makanan yang bervariasi, menjaga berat badan, memilih makanan rendah lemak dan kolesterol, memperbanyak serat, sayuran, buah-buahan, serta produk grain, dan menggunakan gula serta garam secukupnya. Dan bila selera makan menurun, salah satu pendekatannya adalah makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering, dengan makanan yang padat gizi dan teksturnya lebih mudah dikonsumsi.

Ada Satu Hal yang Sering Diremehkan: Tidur Kita menghabiskan sekitar sepertiga hidup untuk tidur. Tidur bukan sekadar berhenti beraktivitas. Dalam materi dijelaskan bahwa tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk melakukan perbaikan dan pertumbuhan sel. Lansia membutuhkan sekitar 5–7 jam tidur. Karena itu, jangan menganggap tidur sebagai kemewahan. Tidur yang cukup merupakan bagian dari menjaga kesehatan. 

Membuat jadwal tidur teratur, melakukan olahraga ringan, berjemur pagi, melakukan aktivitas yang menenangkan, menghindari rokok dan kafein pada sore hari, serta membatasi minum setelah makan malam merupakan beberapa hal yang disarankan untuk membantu mendapatkan tidur yang lebih baik. Jangan Tunggu Sakit untuk Memeriksa Diri Memasuki usia lanjut berarti kita juga perlu lebih sadar melakukan pemeriksaan kesehatan. 

Tekanan darah perlu dipantau secara berkala. Berat dan tinggi badan diperiksa. Kesehatan gigi dan mulut diperhatikan. Penglihatan dan pendengaran diperiksa. Lemak darah, gula darah, serta fungsi ginjal dan hati juga perlu mendapat perhatian. 

Dan yang menarik, pemeriksaan lansia sebaiknya tidak hanya melihat satu bagian tubuh. Ada pula penilaian geriatri secara menyeluruh yang mencakup gizi, fungsi, kognitif, dan kondisi mental. Sebab seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi ternyata mengalami kesulitan dalam aspek lain kehidupannya. 

Ternyata Sehat Itu Bukan Hanya Soal Tubuh Di sinilah konsep geriatri menjadi menarik. Ketika seorang lansia memiliki dua atau lebih penyakit atau mengalami gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologis, sosial, ekonomi, dan lingkungan, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dan melibatkan berbagai bidang. Jadi, kesehatan lansia bukan hanya urusan dokter dan obat. Ada gizi. Ada aktivitas fisik. 

Ada kondisi mental. Ada lingkungan tempat tinggal. Ada kondisi ekonomi. Ada spiritualitas. Dan ada hubungan dengan keluarga serta teman. Semua saling berhubungan. Jangan Kehilangan Hubungan dengan Orang Lain Mungkin ini bagian yang paling manusiawi dari seluruh pembahasan. Ketika usia bertambah, kita tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat. Kita juga membutuhkan orang lain. Materi tentang status fungsional lansia memasukkan dukungan sosial, yaitu keluarga, teman, dan keterlibatan sosial. 

Di dalamnya juga terdapat aspek spiritualitas—makna hidup, keyakinan, dan kedamaian batin—serta aspek afektif yang berkaitan dengan kesehatan mental, emosi, dan kesejahteraan. Mungkin itu sebabnya menjaga kesehatan di usia emas tidak cukup hanya dengan menghitung berapa langkah yang kita lakukan setiap hari. Kita juga perlu bertanya: Dengan siapa saya berbicara hari ini? Apa yang membuat saya merasa dibutuhkan? Apakah saya masih memiliki kegiatan yang membuat saya bersemangat? Apa yang membuat hidup saya terasa berarti?

Pada Akhirnya, Menua Adalah Perjalanan Menua bukan penyakit. Menua adalah perjalanan yang tidak bisa kita hentikan. Tubuh akan berubah. Kekuatan mungkin berkurang. Penglihatan tidak setajam dulu. Tidur bisa berubah. Nafsu makan mungkin menurun. Risiko penyakit meningkat. Tetapi perjalanan itu masih bisa dijalani dengan lebih baik. 

Kita bisa tetap bergerak sesuai kemampuan. Memperhatikan makanan. Menjaga tidur. Melakukan pemeriksaan kesehatan. Memelihara hubungan dengan keluarga dan teman. Tetap bersosialisasi. Menjaga pikiran tetap positif. Dan yang tidak kalah penting, menemukan kembali makna hidup. Karena mungkin tujuan dari usia emas bukan sekadar hidup lebih lama. 

Tetapi bagaimana kita bisa menjalani tahun-tahun yang ada dengan tubuh yang tetap dirawat, pikiran yang tetap digunakan, hati yang tetap terhubung dengan orang lain, dan kehidupan yang masih memiliki makna. Usia boleh bertambah. Tetapi semangat untuk hidup tidak harus ikut menua.

Tidak Mudah Dibeli

Tidak Mudah Dibeli
viva.co.id


Hari itu, bendera merah putih berkibar. Orang-orang datang menghadiri upacara kemerdekaan. Mereka berdiri rapi, memberi hormat, menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh khidmat.


Tetapi di antara suasana sakral itu, ada sesuatu yang ikut datang. Bukan hanya undangan. Bukan hanya senyum dan salam. Ada bingkisan. Ada souvenir. Ada pemberian yang dibungkus begitu indah. Sekilas, semuanya terlihat sebagai bentuk penghargaan. 


Namun, tidak semua yang dibungkus indah datang tanpa kepentingan. Kadang, sebuah hadiah bukan sekadar hadiah. Di baliknya bisa ada harapan agar seseorang merasa berutang. Ada keinginan agar sebuah tangan yang menerima, suatu hari mau membalas. Dan di situlah kita harus belajar membedakan: mana hak, mana pemberian. Mana penghargaan, mana upaya membeli loyalitas. Sebab hadiah tidak selalu indah dalam sekejap. 

Ada hadiah yang membuat kita tersenyum hari ini, tetapi diam-diam mengambil kebebasan kita untuk berkata “tidak” esok hari. 

Ada pemberian yang terlihat kecil, tetapi perlahan membuat prinsip menjadi mahal. Maka, menjadi manusia yang tidak mudah dibeli bukan berarti kita harus curiga kepada setiap pemberian. Tetapi kita harus cukup dewasa untuk bertanya: “Mengapa saya diberi?” Karena tidak semua yang diberikan kepada kita benar-benar cuma-cuma. 

Kemerdekaan seharusnya mengajarkan kita sesuatu yang sederhana: Jangan biarkan pemberian membuat kita kehilangan keberanian untuk berpikir. 

Jangan biarkan souvenir membuat kita lupa bahwa suara kita punya nilai. 

Jangan biarkan sesuatu yang kecil hari ini membuat kita kehilangan hak untuk memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar bagi banyak orang. 

Kita boleh menerima kebaikan. Tetapi jangan pernah menjual prinsip karena kebaikan itu. 

Kita boleh menghargai pemberian. Tetapi jangan sampai pemberian membuat kita merasa harus menggadaikan loyalitas. 

Sebab hak rakyat bukan hadiah dari penguasa. Hak rakyat bukan souvenir yang boleh dibagikan ketika dibutuhkan. Hak rakyat adalah sesuatu yang memang menjadi milik rakyat. 

Seorang pemimpin harus memahami itu. Rakyat bukan komoditas politik. Rakyat bukan kumpulan orang yang bisa didekati ketika suara mereka dibutuhkan, lalu dilupakan ketika kepentingan sudah tercapai. 

Pemimpin tidak seharusnya sibuk bertanya, “Apa yang harus saya berikan agar mereka berpihak kepada saya?” Tetapi bertanya, “Apa yang harus saya perjuangkan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik?” Karena pemimpin yang benar-benar memahami rakyat tidak membeli loyalitas.

Ia membangun kepercayaan. Ia tidak membagikan hadiah untuk mendapatkan kesetiaan. Ia memberikan keadilan agar kesetiaan tumbuh dengan sendirinya. Dan akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga tentang memiliki keberanian untuk berkata: “Saya berterima kasih atas pemberianmu, tetapi prinsip saya tidak untuk dijual.” Sebab ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah bingkisan: harga diri. Dan ada sesuatu yang tidak boleh menjadi komoditas politik: rakyat. 

#HadiahBukanKomoditasPolitik #TidakMudahDibeli #Kemerdekaan

Total Tayangan Halaman