Perubahan Iklim Bencana Alam Rusak Alam Apa Kontribusiku



Bencana Karena Perubahan Iklim: 

Keindahan laut penuh dengan aneka spesies ikan yang cantik nan menawan. Banyak ragam spesies itu menambah kekayaan trumbu karang yang berada di laut. Kecantikan dari tiap spesies membuat kita makin kagum ciptaan Tuhan .  Berdecak kagum kita dibuatnya. 
Kerusakan Trumbu Karang.  Sumber: national Geography.com


Celakanya, perubahan iklim suhu panas membuat spesies ikan yang umumnya tinggal di bawah 40 derajat, sekarang kepanasan dibuat oleh perubahan suhu. Mereka berpencar, mencari tempat yang lebih dingin. 

Sayangnya, pencarian itu sering terhambat dengan banyak spesies yang lebih besar dan ganas lebih duluan mencari tempat yang nyaman. Spesies besar tak segan-segan menguras dan menjadi predator spesies kecil lainnya.

Suhu panas jadi awal malapetaka dari hilangnya spesies hampir 30% . Dari sisa yang 60% mereka harus mengarungi samudera yang tak ramah bagi kehidupan mereka. Suhu panas jadi tak nyaman bagi kehidupan para spesies hewan . Akibatnya mereka dapat punah karena tak mampu menanggulanginya. 

Langitnya bersih, tapi membahayakan:

Selama pandemi Covid 19, langit di sejumlah kota termasuk Jakarta tampak lebih biru. Namun, jika dilihat lebih detail, udara belum bersih.
Langit Kota Jakarta penuh polusi .  Sumber:   national kompas.com


Banyak partikel polusi halus berterbaran. Secara kasat mata, ketika melihat foto-foto dari orang yang mengambil foto di hampir beberapa kota besar dari beberapa negara, terlihatlah langitnya biru. Seiring dengan melambannya aktivitas warga, kualitas udara meningkat. Indeks standar pencemar udara pun membaik. 

Namun, fakta itu tak serta merta menandakan udara di atmosfer Jakarta dan sekitarnya benar-benar bersih . Jika diperiksa secara detail ternyata ditemukan emisi polusi udara yaitu PM2,5.

Lembaga data kualitas udara mencatat polusi PM2,5 jakarta pada awal tahun hingga pertengahan 2020 jauh lebih banyak dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya. Angka 2,5 ini cukup membahayakan kelompok kaum rentan. 

Tertinggi di Indonesia di Tangerang Selatan 41.2 mikrogram per meter kubik.Menurut WHO, standar untuk kesehatan yaitu 25 mikrogram per meter kubi per hari (24 Jam). 

Pengalamanku ketika aku berangkat dari rumah (Tangerang Selatan) menuju ke Jakarta,  polusi udara terasa sekali. Aku sangat peka dengan udara yang rawan kotor karena adanya allergi pernafasan. Ketika menghirup udara kotor, terpaksa aku harus menggunakan masker dan menghindari kepulan asap kendaraan bermotor . 

Polusi  Udara Picu Penyakit:

 Menurut guru besar Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia Budi Haryanto, mengatakan bahwa ada keterkatian antara peningkatan 1 mikgrogram per meter kubik PM 2,5 dalam pandemic memiliki dampak peningkatan 8 persen kematian Covid-19. Orang yang terpapar polusi udara rentan terkena Covid-19. Dampak polusi PM 2.5 bersifat kronis atau pelan-pelan tetapi berpotensi mematikan. Partikel halus bisa memicu kanker dan penyakit pernapasan.

 Di Jakarta polusi yang tinggi disebabkan adanya pengepungan sejumlah listrik tenaga uap (PLTU) pada radius 100 kilometer. 5 PLTU berbahan batubara dan 6 PLTU baru. PM 2,5 diduga berasal dari aktivitas konstruki yang berkurang saat pandemi. Meskipun langit cerah bukan berarti polusinya berkurang, justru karena masih adanya pencetusnya maka tetap saja polusi itu tetap ada. Perlu adanya izin dari lingkungan untuk membersihkannya. 

Hutanku Terbakar:

Kebanggaan kita saat Hari Hutan Indonesia yang baru saja kita peringati , tanggal 7 Agustus 2020 dengan tema “Hutan Juara”. Mengapa disebut juara? Indonesia boleh berbangga karena kita punya hutan terbesar ke 2 dari segi keanekaragaman, dan terbesar ke-3 dari segi hutan hujan tropis. 
Kerusakan Hutan di NTT    Sumber:  tribunenews.com

Dalam peringatan ini kita diingatkan kembali untuk ancaman hutan dari kepunahan keanekaragaman, kehilangan fungsi hutan dan kebakaran hutan. Bagi yang pernah ke hutan, terdengarlah suara kera yang riang bermain-main meloncat dari satu pohon ke pohon lain, kodok yang saling bersahutan, burung terbang kian kemari,serta serangga bercengkerama di antara rerumputan dan pohon-pohon hijau. 

Itulah ekosistem hutan yang indah. Delapan dari seputuh spesies ditemukan dalam hutan . Bahkan, banyak orang yang tinggal dalam hutan sebagai rumah dan melestarikan hutan itu.

Namun, sayang seribu sayang, ketika ancaman hutan terjadi dengan sangat masif, bertambahnya penduduk dan ketamakan manusia melakukan illoging dan penebangan yang terus menerus untuk kebutuhan ekonomi dari permintaan kayu untuk dibuat kertas maupun dijual untuk kebutuhan pembangunan rumah, bahkan penebangan kayu dengan dalih alih fungsi, membujuk warga lokal untuk melakukannya. 

Deforestrasi dan alih fungsi hutan, jadi masalah utama. Akibatnya, sungguh menyedihkan dan mengerikan, kerusakan hutan dengan gundulnya pohon-pohon yang ditebang, erosi besar-besar membuat sering terjadi banjir bandang dan longsor. Ancaman pembakaran hutan demi memudahkan penanaman lahan sawit. 

Kontribusiku untuk Mengurangi Perubahan Iklim:

Aku belum pernah terlibat langsung dengan komunitas pecinta lingkungan hidup. Sebagai pecinta lingkungan hidup tentu aku tidak sekedar bicara tanpa melakukan aksi apa pun. 

Aku tahu bahwa peranku sangat kecil dibandingkan dengan kerusakan laut, hutan, udara yang sudah sedemikian masif kerusakannya. Jika dibandingkan dengan peran komunitas pecinta lingkungan hidup, peranku sangat tidak berarti. 

Namun, aku percaya peranku ini bisa mempengaruhi orang lain sekecil apa pun. Tak mampu mengubah dunia, tapi mampu mengubah orang lain untuk berubah lewat tulisanku, sudah sangat berarti. 

Aku selalu berbagi cerita tentang jaga lingkungan hidup dan aku selalu tertarik untuk ikut seminar lingkungan hidup dan membagikan tulisanku kepada teman-temanku tentang menjaga hutan, laut dan udara .

Berikut ini adalah tulisanku:


Disamping itu, aku ikut berdonasi untuk Adopsi Hutan dengan mengirimkan sedekah lewat kitabisa.com (lihat tanda terima dari kitabisa.com). Menjaga pohon hutan agar tetap lestari, demi keberlangsungan kehidupan keanekaragaman hutan dan warisan kepada anak cucu kita. 



Aku berusaha  untuk mengurangi sampah plastik, dengan membawa tas belanja setiap kali belanja mingguan/bulanan. 

Memohon agar para ibu-ibu di lingkungan RT agar memilah sampah menjadi dua yaitu organik dan inorganik.

Sulitnya kami memang mendapatkan jatah plastik untuk pengangkutan sampah itu hanya sedikit (10 buah) dalam sebulan. Padahal pengangkutan sampah 3x dalam seminggu artinya ada 12 kali penangkutan sampah.

Dengan terbatasnya kantong sampah plastik, aku memohon kesediaan para ibu untuk menempatkan/menyediakan sampah inorganik dengan kardus atau tempat yang lainnya dan sampah organik di dalam kantong sampah plastik.  Pemilahan sampah organik dan inorganik  tujuannya untuk mempermudah pemilahan sampah oleh pemulung yang  juga  membantu untuk daur ulang. 

Alam dan lingkungan hidup merupakan keseimbangan dalam kehidupan manusia. Ketika alam kita pelihara, maka kehidupan kita pun terpelihara. Mari semua menjaga dan melestarikannya, demi alam lestari dan keberlangsungan harmoni alam semesta dan manusia. 

 

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!