Lestarikan Hutan Sebagai Paru-paru Kota


Kita semua mengetahui apa fungsi paru-paru. Paru-paru adalah salah satu organ pernafasan yang sangat vital untuk mengatur penukaran oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Kerusakan paru-paru membuat fungsi tubuh secara keseluruhan berakibat fatal. 

Demikian juga dengan hutan adalah jantung kehidupan dari kota sedangkan udara adalah oksigen yang bermanfaat untuk bernafas. Tanpa keduanya kehidupan kota dan kehidupan manusia tidak berdetak sama sekali. 

Bagi Indonesia, hutan adalah sumber pangan, hutan sebagai sumber air, hutan merupakan ekosistem dari semua  mahluk hidup, menjaga kehidupan dan tanah untuk melindungi dari erosi, dan mengatur suhu hingga tanaman dapat bertumbuh baik pada musim kemarau maupun musim hujan.


Ancaman Kebakaran Hutan dan Covid-19

Perubahan iklim atau cuaca telah berubah. Para ahli mengatakan alasannya kompleks. Tetapi ada hubungan jelas antara meningkatnya risiko kebakaran hutan dan suhu lautan yang lebih hangat sebagai dampak dari perubahan iklim. 

Laut lebih hangat jadi akselerator api. Juga gas rumah kaca memicu suhu rata-rata bumi naik satu derajat celsius. Permukaan laut menghangat sekitar 0,8 derajat Celsius. Semakin hangat samudera, semakin sedikit energi dan CO2 yang dapat diserap dan disimpan oleh air dari atmosfer. 

Hal ini berdampak besar dan dahsyat bagi hutan yang dulunya sebagai pengatur ekosistem dari pertanian, pertanahan, pengairan menjadi tempat yang berbahaya karena rawan kebakaran.

Kebakaran hutan yang dahsyat akibat gelombang panas dan kekeringan ekstrem, Australia dilanda kebakaran hutan yang hebat dan luas. Bukan sekali dua kali terjadi, tetapi terjadi berkali-kali, bahkan setiap tahun. 

Daerah yang paling rawan terjadi kebakaran hutan ada di Sumatera Utara, Jambi dan Riau.  Menurut Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisik terdapat 700 titik api di bulan Mei yang merupakan musim panas.  Titik api ini akan dengan mudah terbakar jika disulut dengan api.  Setelah terjadi kebakaran tidak mudah untuk memadamkannya.

Asap hitam pekat akibat kebakaran itu membuat orang akan sesak nafas.  Bagi orang yang sesak nafas dan terpapar Covid-19, dampaknya makin berat.   Udara kotor itu masuk ke dalam pernapasan kita. Hal ini akan memperparah kondisi paru-paru dan menyerang sistem pernafasan.

Kebakaran hutan di Indonesia umumnya disebabkan oleh pembukaan lahan baik itu untuk lahan pribadi atau perusahaan. Untuk mempermudah penanaman sawit atau tanaman yang lainnya,  dibakarlah tanah gambut karena  biayanya jauh lebih murah ketimbang melakukan proses penanaman secara normal.

Kesengajaan pembakaran lahan membuat kerugian besar dari segi ekonomi, sosial maupun kesehatan bagi masyarakat .  Dari segi ekonomi, semua warga terdampak tidak bisa bekerja di luar rumah, kabut asap pekat membuat mereka harus berada di rumah.

Dari segi sosial, banyak anak-anak, orangtua harus tetap berada di rumah dengan rasa khawatir karena polusi udara kotor yang tak berhenti-henti biasanya memakan waktu hampir sebulan untuk pemadaman.

Dari segi kesehatan,  mereka terpaksa mengisap udara dengan polusi tinggi , mudah terpapar polusi udara dan sesak nafas dan rentan terpapar Covid akibatnya sangat fatal dapat meninggal. 
Oksigen bersih hilang digantikan dengan asap udara yang mematikan manusia.

Bukan hanya kebakaran saja, tetapi hutan jadi rusak dan rawan banjir dan sumber longsor karena adanya illegal logging yang dilakukan manusia.

Kayu-kayu yang diambil dari hutan, dijual dengan tak pedulikan kelestarian setelah menebang. Akhirnya, hutan gundul karena pengambilan dan penebangan pohon-pohon illegal, dijual secara masif.

Hutan gundul itu tak mampu menyimpan air yang deras ketika musim hujan tiba. Akibatnya terjadilah longsor dan bahkan banjir bandang, bencana yang mengerikan bagi manusia..

Hutan sebagai sumber makanan bagi warga lokal tinggal sekitar hutan, kehilangan sumber tersebut , tidak lagi yang tersisa. Mereka harus beradaptasi dengan menanam tanaman lainnya seperti dulunya petani menanam karet dan kakao, sekarang harus menanam buah-buahan. 

Cara Strategis untuk pencegahan kebakaran hutan:


  1. Pos terpadu Karthutla bersama Anggota dari Kepolisian , Manggala Akni dan KPHP melakukan patroli dan sosialisasi.
  2. Pos terpadu Karthulata melakukan patroli dan sosialisasi kepada masyarakat dan melakukan kegiatan terpadu 
  3.  KLHK dan mitranya melakukan modifikasi cuaca.
  4.  Penanganan bersama ini merupakan tanggung jawab bersama yaitu Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, BNPB.
  5. Sanksi administrasi, pidana kepada mereka yang sengaja membakar hutan.
  6. Melakukan audit compliance untuk perusahaan apakah mereka sudah mematuhi peraturan KLHK tentang preventif kebakaran hutan.
  7.  KLHK terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahayanya kebakaran hutan dan pencegahannya melalui pemuka agama, media online, media sosial.
  8. Warga yang rentan dan dekat dengan kebakaran hutan harus antisipasi kebakaran hutan . Jika mereka melihat langit biru di sekitar gunung berubah jadi kabut hitam, segera mulai masuk rumah. Menggunakan masker untuk lindungi pernafasan, terutama saat pandemi Covid-19.


Kontribusi kita sebagai orang yang berada di kota besar : 
  • Zero waste: Sebagai orang yang punya kepedulian tentang lingkungan hidup, kita harus belajar untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat terutama saat kita sedang ikut wisata ke hutan buatan. 
  • Kurangi penggunaan plastik dan tissuedan gunakan produk ramah lingkungan: Plastik dan tissue adalah dua barang yang tidak ramah lingkungan, bahkan sulit untuk bisa hancur (puluhan tahun baru bisa  hancur), belilah barang ramah lingkungan, contohnya sabun mandi ramah lingkungan.
  • Menanam pohon di rumah sendiri: Menanam pohon di rumah sendiri sehingga ada penghijauan dan udara segar yang dapat kita hirup. 
  • Merawat hutan: Apabila kita ikut tour di Kawasan Hutan, maka hal penting agar kita tidak memetik/merusak tanaman hutan, membuang sampah atau melakukan vandalisme di pohon.

Tidak ada komentar