Tampilkan postingan dengan label Anugerah Pewarta Astra 2017. Tampilkan semua postingan

Wiroto Craft UMKM Teruji dari Madya Hingga Mandiri



Produk Kerajinan "Wiroto Craft" /dokumen pribadi


Memaknai nilai kerajinan itu merupakan suatu anugerah yang tak ternilai , tinggi nilainya dan kemampuan nilai seni dalam pengerjaannya

Sebuah perjalanan yang saya lalui di kota Yogyakarta , kota yang penuh dengan kedinamisan, jiwa seni dari warganya. Rencana dari Jakarta untuk bertemu dengan Bapak Henry C. Widjaja , Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan Bapak Arif Rakmanto , LPB Yogyakarta pada tanggal 23 Desember 2017 dalam rangka Kick Off 2017 UKM Wiroto Craft pada pagi hari jam 8.00 nyaris gagal karena pesawat yang saya tumpangi baru berangkat pukul 12.00 . Rencananya ingin berangkat pagi hari untuk mengejar acara yang diadakan oleh YDBA kunjungan ke Wiroto Craft tapi terpaksa saya harus merelakan kegagalan dan kehilangan acara istimewa itu karena saya tak berhasil mengganti tiket lebih awal karena ternyata penumpang pesawat ke Jogja membludak pada hari itu. 

Kekecewaan yang sangat dalam karena tidak bisa bertemu dengan Bapak Wawan Supriyadi, pemilik Wiroto Craft terobati berkat adanya usaha Bapak Arif dari LPB Jogyakarta untuk mengadakan pertemuan saya dengan Bapak Wawan pada hari Senin, 26 Desember 2017. 

Melaju dari Magelang, saya menyusuri sawah menghijau nan indah bagaikan permadani dan udara cerah sangat saya nikmati. Jalan desa yang sangat mulus dengan aspal, membuat perjalanan lancar tanpa ada kemacetan, perjalanan menuju ke Jalan Monumen Perjuangan 12, Wirokerten, Banguntapan, Bantul. Ketika tiba di bangunan, dari depan tampak sebuah bangunan joglo besar dan luas dengan ukiran kayu yang sangat otentik. Menyusuri ke belakang, ada sebuah pendopo, yang merupakan galeri kecil tapi sangat penuh dengan barang-barang pajangan seni dari aluminium yang sangat artistik, mulai dari frame Hewan, kuda , kepiting, kangguru, jerapah, kuda, gajah, cicak, sampai miniatur becak, sepeda, peralatan rumah dan wayang klitik Sadewa, Rama.

Perbincangan yang sangat informal dan santai dari sebuah perjalanan UKM Wiroto yang panjang, jatuh bangun telah ditempuh oleh Bapak Wawang Supriyadi atau sering dipanggil dengan Wawang. Seorang bapak yang masih cukup muda tapi jiwa seninya yang terbangun sejak masih kecil karena ayahnya seorang pengrajin logam mulia , perhiasan, emas di kota gede. 

Ketika itu Bapak Wawang dengan bakat yang mengalir dari ayahnya itu ingin mengubah jalan hidupnya, membangun UKM dari bahan logam yang lain selain emas karena bahan logam emas sangat sulit dibentuk, bahan yang dapat diproduksi dalam jumlah massal dan disukai dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang, pecinta seni dan penikmat seni terutama seni budaya jawa maupun Indonesia. 

Akhirnya Bapak, Wawang menemukan aluminium ,beli , tembaga sebagai bahan dasar dari pembuatan seni kerajinanan.

Awalnya, tanpa adanya tempat yang memadai dan tanpa adanya modal kerja, Bapak Wawan memakai garasi sebagai tempat produksi. Sebuah tempat yang belum dapat disebut layak sebagai tempat produksi . Dengan keterbatasannya, Bapak Wawang memberanikan dirinya untuk menerima order kecil-kecilan dari perorangan. 

Dari sebuah garasi, dia pindah ke sebuah tempat yang agak besar di galeri di Kota Gede dengan jumlah pengrajin kira-kira berjumlah 10 orang.

 Hambatan dan jalan terjal terus datang dengan tidak adanya tenaga skill yang memang mampu melakukan kerajinan seni dengan teliti dan sangat berjiwa seni. Tenaga skill itu betul-betul sangat sulit ditemukan karena jika ada, mereka tidak bisa bekerja secara full time karena saat itu order belum menentu. Ketika tenaga skill sudah dimiliki , mereka lari ke tempat lain karena memang saat itu Pak Wawang belum mampu memperkerjakan sebagai tenaga tetap karena order belum pasti tiap bulannya.

Namun, dengan proses perjalanan terjal itu dilaluinya dengan teguh . Setelah hampir 10 tahun, pada tahun sekitar tahun 2012 Wiroto Craft ikut pameran di Ina Craft di Jakarta. Bapak Wawang bertemu dengan salah seorang staff YDBA yang memang ikut membantu beberapa UKM yang juga membuka stand di pameran itu. Setelah Bapak Wawang bertemu dengan YDBA, ternyata ada “chemistry” persamaan misi dan visi antara YDBA dengan Wiroto Craft. Pak Wawang bersedia Wiroto Craft diasses atau dinilai oleh LPB Yogyakarta. Bapak Wawang menyiapkan semua data untuk persiapan assesmen. Bapak Arif selaku Koordinator LPB Yogyakarta mengadakan assemen tempat kerajinan KotaGede itu, tempat produksi dari UMKM Wiroto. Hasilnya Wiroto Craft dinyatakan sebagai Madya UKM pada tahun 2014/2015 . 

Dalam pendampingan oleh LPB Jogyakarta , telah dikemukakan apa yang dibutuhkan  bagi Wiroto Craft. Salah satunya adalah pelatihan 5R yang telah dilakukan oleh Bapak Wawang untuk usaha kerajinan Wiroto Craft.

Bukan hanya produksi manufaktur saja,ternyata kerajinan seni juga perlu sekali melakukan 5 pilar yang sering disebut dengan 5R untuk naik kelas jadi UKM Mandiri. 5R itu adalah pembenahan dan perbaikan dalam beberapa bidang seperti:

Produksi: Adanya “improvement” atau perbaikan dalam alur produksi. Produksi menjadi tertata dengan baik mulai proses produksi sampai kepada pengepakan . Semua proses dilaporkan /didokumentasikan seperti berapa dan kenapa kualitas produksi tidak baik, apa yang menjadi kesalahan dalam produksi yang gagal itu.

Pemasaran: Adanya perubahan pemasaran yang dulunya offline dengan membagikan brosur atau verbal kepada pelanggan atau calon pelanggan, sekarang menjadi “online “ bahkan sudah masuk dalam e-katalog YDBA yang sangat mudah diakses oleh calon pembeli di seluruh Indonesia. Juga
dapat mengakses site atau web wirotocraft.com  atau langsung menghubungi Galeri di Benowo, Winong,KG II/295 Kotagede, Yogyakarta atau melalui telp langsung  08122760009 , 0274384149.

HRD: Adanya perubahan manajemen yang makin jelas dalam jobdesk setiap pegawai. Setiap pegawai memiliki jobdesk yang sistimatis dan jelas sesuai dengan kapasitas pekerjaannya.

Keuangan: Semua administrasi keuangan dibukukan dan didokumentasikan dalam laporan kas kecil & Besar dan accounting. 

CSR: Memiliki tanggung jawab sosial dengan membantu dan memberikan dana bantuan kepada masyarakat sekitarnya. 

Ternyata tidak mudah yach mau naik kelas jadi UKM Mandiri dan berkelanjutan itu . Tapi niat dan motivasi Bapk Wawang sangat kuat sekali, sudah hampir 10 tahun dia menekuninya, tak ada jalan lain selain ingin maju baik sebagai UKM Mandiri maupun sebagai pribadi yang sangat menyukai jiwa seni.

Ini terbukti sekali dengan tempat produksi yang sangat rapi , bersih dari polusi meskipun harus mempoles bahan baku dengan debu yang bertebaran dan , alur produksi yang sangat tertata dengan baik sehingga produksi dapat lancar.

Sayang hari itu hari libur para pegawai, hanya beberapa pegawai dari bidang pengepangan dan assembly yang datang. Namun, saya dapat melihat bagaimana proses produksi dari awal sampai akhir.

Proses Penyepuhan Logam, wirotocraft.com
Tungku Pengecoran  Logam/wirotocraft.com


Awalnya , bahan baku berbentuk aluminium, metal atau besi, dicor di tunggu pengecoran. Tungku pengecoran itu terbuat dari bahan anti panas sehingga udara panas tidak terasa sama sekali. Setelah bahan itu mencair, dimasukkan ke dalam mould atau cetakan yang sudah ada berbagai macam bentuk, ada yang berbentuk hewan, becak, sepeda, wayang sadewa . Bahan dikeluarkan dari cetakan, lalu dikeringkan di atas sebuah tempat seperti tempat sate tapi besar bentuknya.

 Hasilnya yang telah berbentuk itu dikikir, dicat, dipoles oleh tenaga yang sangat trampil dan ahli khusus karena barang ini adalah barang kesenian yang sangat sulit dan rumit dalam menanganinya.

Setelah itu barang itu diassembly atau digabung-gabungkan , misalnya untuk wayang, perlu ada tangan, badan, simbol wayang. Juga digabung antara bentuk wayang dengan tempat penyanggahnya seperti kayu. Sangat diperlukan keahlian untuk presisi ukuran dan ketelitian berapa jarak menempatkan wayang dari kiri, tengah dan kanannya.

Setelah digabungkan, perlu finishing yang sangat rapi seperi dihaluskan, dipoles, dicoating .

Barang Kerajinan yang sangat tinggi kualitasnya dan pengawasan kontrol yang ketat itu sudah jadi dan siap untuk dipacking berdasarkan order. Para pengepak bekerja berdasarkan order yang tertulis dan harus mengepak dengan sangat hati-hati supaya barang tidak rusak ketika diterima. 
Bahkan, Pak Wawang sendiri bercerita secara khusus karena takut rusaknya, sebuah souvenir tentang rumah gadang yang dipesan oleh Bapak Bupati dari Sumatra Barat, harus dibawa oleh Bapak Wawang sendiri dengan pesawat.

Pemasaran yang sangat mengandalkan kepada galeri atau toko di tempat Kasongan, Maliboro, Borobudur. Sedangkan pemasaran secara online dapat diakses melalui web atau situsnya yaitu wirotocraft.com . Tempat Galery yang dapat dilihat secara lengkap di Benow Winong, kG II/295,Kotagede, Yogyakarta. Jika ingin mengontak secara langsung di 081220009 atau 0274384149.

Saat sedang banyak pemesanan, kapasitas produksinya mencapai 1000 pieces miniatur dan 1000 pieces gambar . Total tenaga kerja saat ada pesanan ekspor adalah 35 orang . Untuk pengiriman dengan kapal dalam 1 kontainer yang berisi 2000 pieces.

Perjalananan sebuah UKM dari Madya tahun 2014/2015 menjadi Pra Mandiri 2016 dan akhirnya UKM  Mandiri pada Nopember 2017 telah dicapai dengan usaha yang sangat keras dari UKM Wiroto Craft beserta pedampingan dari Bapak Arif, YDBA Yogyakarta. Pak Wawang sangat berterima kasih kepada bantuan dan support YDBA Yogyakarta dalam pencapaian itu karena dia merasakan bagaimana proses produksinya dapat tertata dengan baik dan bersih, energi positif dari para karyawannya, order atau pesanan yang diterima langsung dari salah satu pengunjung Gallery YDBA senilai cukup besar yaitu Rp.40 juta.

Pemasangan Alas frame/ wiroto craft
Pengikiran/wiroto.com

Pengeringan/wiroto.com
Proses Penghalusan.com


Sebuah perjalanan belum sampai di ujungnya, ada cita-cita yang masih belum terlahir, sebuah tekad yang tidak cepat berpuas diri dan mampu mengembangkan diri sampai pada kemajuan yang bisa “branding” dari hasil produksinya.

Perjuangan Pak Wawang terinspirasi dari perjuangan ASTRA yang ke-60 dalam tak henti-hentinya menyuarakan untuk berjuang menginspirasi agar dapat membagikan inovasi, pelatihan dan bimbingan bagi para UKM jadi UKM Mandiri dan awet melalui YDBA . Semoga semuanya dapat mencapai apa yang menjadi impian dan cita-citanya. 


Ina Tanaya

Inovator Pengubah Tanah Gambut Jadi Pupuk Organik

Saya ajak Anda ke Rawa Pening. Dari kejauhan Rawa Pening seperti telaga biru. Letaknya tidak jauh dari kota Semarang, sekitar 48 menit waktu tempuhnya atau jaraknya sekitar 39,4 km. Rawa ini merupakan cekungan terendah dari lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, seperti danau dengan luas 2,670 hektare. Disebut Pening karena awalnya airnya membiru dan sangat bening dimana para penangkap ikan atau nelayan  dengan mudah memancing ikan di danau itu sebagai mata pencahariannya. 

mata pencarian sebagai pengangkut tanah gambut
 Sayangnya, danau yang sangat bening ini lama-kelamaan mengalami pendangkalan karena penuh dengan enceng gondok. Untuk mengatasi populasi gulma yang sangat masif tumbuhnya, sudah banyak cara dilakukannya, misalnya para nelayan melakukan pembersihan enceng gondok lalu menyerahkan dan menjual kepada pengrajin untuk dibuat kerajinan. Penjualan enceng gondok sangat murah dan tidak sepadan dengan hasil kerja keras . Peluh dan keringat mereka untuk mengangkat enceng gondok namun upah yang diterima tidak memadai. Timbul ide untuk memproses enceng gondok jadi tanah gambut.
tanah gambut yang mereka kumpulkan
Pada tahun sekitar 1987, komunitas nelayan yang dulunya pengumpul dan pengangkut enceng gondok harus banting setir untuk jadi penghasil tanah gambut. Pengambilan dan pengangkutan tanah gambut dilakukan oleh 2 UKM yang tergabung dari Paguyuban Sedyo Rukun. 

Cara mengolah tanah gambut dengan cara yang sangat sederhana. Mencampurkan bahan baru yang tersedia di danau Rawa Pening yaitu tanah gambut yang diambil dari dasar atau dari permukaan Rawa Pening , bersama dengan enceng gondok yang menjadi gulma bagi badan permukaan perairan dana Rawa Pening. Selain itu dicampurkan dengan bahan lain, kotoran ternak (sapi) dedaunan, kapur pertanian, bekatul dan juga decomposer.

 Paguyuban Sedyo Rukun merasa tidak puas dengan hasil pengolahan tanah gambut yang langsung dijual dan disetorkan kepada perusahaan besar dalam bentuk mentah. Upah dan hasil kerja mereka yang terima itu ternyata tidak sebanding dengan pekerjaan berat yang dilakukannya. Mereka berpikir bagaimana cara mendapatkan tambahan uang . Lalu, terpikir oleh mereka untuk menambah nilai dari produk yang selama ini mereka jual yaitu tanah gambut jadi pupuk organik . Pupuk organik selain dibutuhkan oleh banyak industri pertanian juga punya nilai tinggi dibandingkan dengan tanah gambut. 

 Pengolahan tanah gambut jadi pupuk organik memerlukan proses panjang dan sumber daya manusia yang lebih besar. Mereka membaginya dalam dua bagian yaitu UMKM Penyuplai bahan baku dan UMKM Pengolah Pupuk Organik. Ketua Paguyuban Sedyo Rukun adalah Bapak Widodo. Lokasi komunitas ini sangat dekat dengan tempat produksinya yaitu di pinggir danau Rawa Pening bagian Utara (Pinggiran Daerah Aliran Sungai Tuntang), tepatnya di Desa Sumurup, Ds. Asinan, Kec.Bawen, Kab Semarang. 


Memproses tanah gambut menjadi pupuk organik memang tak mudah seperti membalikkan tangan . Perlu pengetahuan dan cara yang tepat agar pupuk organik ini dapat menghasilkan pupuk yang dapat dijual dengan kualitas organik yang standar . Namun, para nelayan yang telah beralih fungsi jadi penghasil gambut dan akhirnya jadi petani pupuk organik tak mau menyerah begitu saja.  Keahlian awal hanya mengangkut gambut ,sekarang mereka harus banyak belajar bagaima cara memproses pupuk organik.

Bak Gayung bersambut, komputas Pengolah Pupuk Organik Paguyuban Sedyo Rukun ini mendaftarkan diri sebagai UMKM Pupuk Organik di Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) . Mereka mendapatkan pelatihan dan ketrampilan dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Semarang dengan  Bapak Isa Anzori sebagai Fasilitator dan Dimas sebagai staf . Sejak Oktober 2016 dibawah bendera LPB Semarang yang merupakan cabang dari YDBA terus mendampingi mereka dalam kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Mereka dibekali dengan pengetahuan mendasar tentang Mentalitas kewirausahaan, sangat bermanfaat karena tanpa mentalitas kewirausahaan yang kuat, usaha mereka tidak akan berkembang dan mereka cepat putus asa jika tidak berhasil.

Pelatihan LPB Semarang ke Pengolah Pupuk Organik
Pelatihan LPB Semarang ke Pengolah Pupuk Organik

Pelatihan dan pendampingan pupuk organik diberikan oleh LPB Semarang kepada UMKM Pengolah Pupuk Organik Widodo Sedyo Rukun sebelum mereka terjun langsung dalam produksi pupuk organik. 

Berikut ini adalah tahap-tahap pemrosesan pupuk organik: 
Bahan : 
  •  Enceng Gondok Timbunan (Sudah di tumpuk 2-4 minggu sebelumnya – disemprot EM4) – 50 Kg 
  •  Tanah Gambut 25 Kg
  •  Kotoran Ternak (sapi / kambing) – 25 Kg 
  •  Probiotik (EM4) – 1 botol 
  •  Orgadek – 1 Kg
  •   Bekatul – 5 kg
  •   Kapur Pertanian – 2 Kg
  •  Cacahan Dedaunan (2 Kg)
  •  Pupuk Hayati (Trichroderma) – 1/2 Ons 

Catatan :  Bahan diatas merupakan bahan jika akan memproduksi 100 Kg 

Proses : 
  • a. Campurkan Bahan A dan B lalu digiling
  • b. Tambahkan bahan D, E dan F lalu digiling lagi
  • c. Campurkan C dan G lalu digiling 
  • d. Campurkan H dan I lalu digiling dan ditutup dengan terpal
  • e. Ditutup selama 25 hari 
  • f. Setiap satu minggu sekali, adonan dibuka dan diolah / digiling lagi
  • g. Setelah 25 hari, lalu pupuk diayak dan siap dikemas 



C& G  digiling

Tidak mudah untuk mencapai keberhasilan memproduksi pupuk organik.Tetapi mereka pantang menyerah. Selalu ada jatuh bangun dalam proses produksi pupuk organik karena mereka belum menemukan kuncinya. Ketika mereka menemukan kesulitan dalam produksi pupuk organik, LPB Semarang pun mengadakan pelatihan dengan mengundang pakar-pakar dari sektor pertanian.

Ternyata para nelayan yang telah berubah fungsi jadi petani juga masih mengalami masalah besar dalam mentalitas jadi pengusaha. Sehari-hari pekerjaan mereka hanya berkutat dengan pupuk maupun bahan bakunya.Tak mengenal apa yang disebut dengan mentalitas dasar dari kewirausahaan.

Inisiatif diberikan oleh IPB Semarang dengna mengadakan pelatihan mentalitas Dasar dan Kewirausahaan bagi UMKM di sekitar Rawa Penign termasuk Paguyuban Sedyo Rukun.Selama dua hari mereka harus belajar tentang pengertian kualitas, manajemen, siklus PDCA,manajemen data, fakta, targeting dan prinsip prioritas dan basic mentalitas bagi UMKM.

Mengenai potensi diri sendiri melalui pengisian pengisian penilaian evaluasi diri, lalu peserta diajak untuk diskusi mengenai simulasi kecelakaan pesawat yang terdampar di gurun pasir.Tujuan dari pelatihan ini agar peserta dapat meningkatkan mental dan sikap bekerjanya. Semua ini demi kesuksesan usaha mereka.

Alhasil,sediki demi sedikit, usaha yang dulunya belum kelihatan hasilnya, sekarang telah menjadi usaha pupuk organik yang dikenal orang,klien, maupun perusahaan.

Pemasaran dilakukan dengan menitipkan penjualan pupuk organik ke toko pertanian, di pinggir jalan jalan perkampungan desa mereka tinggal, dikirim di beberapa kota sebagai bahan baku campuran, di jual perusahaan yang membutuhkan seperti :
 a) PT Widyamitha Subkon PT Trans Marga Jateng (pembuat jalan Tol)
 b) Ud. Wiji Subur, Muntilan 
 c) Ud. Tani Unggul, Ambarawa
 d) Cv. Inra Ambarawa
 e) PT Humatani Agro Lestari
 f) UD. Omah Tani Wonosobo 

Salah satu berkah yang mereka terima dari hasil kerja keras itu ternyata membuahkan hasil yang besar karena PT. Widyamitha yang merupakan subkon PT. Trans Marga jateng itu membutuhkan pupuk organik dalam rangka pemadatan jalan-jalan yang mereka buat

Rasanya ikut senang melihat wajah-wajah yang puas, bangga dari kerja keras yang mereka capai untuk mengubah produksi gambut menjadi pupuk organik sudah tampak hasilnya .

Malam Kick off "UMKM Program Sektor Unggulan Pupuk Organik"
 Atas hasil kerja keras itu , mereka memperoleh predikat “UMKM Program Sektor Unggulan Pupuk Organik” di Kick Off Unggulan Pupuk Organik 25 Agustus 2017. Sebuah komitmen bersama antara Paguyuban Sedyo Rukun dengan LPB Semarang sebagai cabang Yayasan Dharma Bhakti Astra untuk selalu memperbaiki atau “Improve” proses produksi dan belajar tentang 5R ( Produksi , HRD, Keuangan, Pemasaran, EHS, CSR) terus selama 2 tahun ke depan hingga Agustus 2019 sehingga akhirnya dapat naik kelas menjadi UMKM Mandiri bahkan jadi anak angkat Grup Perusahaan Astra. 

Suatu Prestasi besar "UMKM Program Sektor Unggulan Pupuk Organik"
Paguyuban Sedyo Rukun meletakkan harapan yang besar untuk jadi UMKM Pupuk Organik yang mandiri dan bisa menyuplai permintaan pupuk organik di beberapa tempat/perusahaan swasta maupun negeri secara kontinyu dan memiliki kapasitas produksi yang besar. 

 Cita-cita tinggi pun dilayangkan oleh Paguyuban Sedyo Rukun untuk menjadi salah satu role model tonggak lahirnya Desa Berdikari di Kab. Semarang/Jawa Tengah.

60 tahun perjalanan Astra penuh dengan warna dan inspirasi. Kisah inspiratif dari Paguyuban Sdoyo Rukun yang jatuh bangun dalam meniti mata pencahariannya. Berkat dukungan , pelatihan Mentalitas Dasar Kewirausahaan   dari LPB Semarang, Paguyuban Sedyo Rukun  membuktikan dirinya  bekerja sebagai UMKM Unggulan di sektor Pupuk Organik dan jadi UMKM Mandiri  yang berkelanjutan.

Prestasi kerja keras ED Aluminium


LPB Jogjayakarta
Perjalananan Jumat, siang tanggal 8 September 2017 dari rumah kami menuju kantor Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) terasa  menyengat panasnya dan  lama karena pilihan jalan tol pun ternyata tidak tepat.   Penuh dengan kendaraan truk dan kemacetan pun terjadi dengan antrean panjang. Beruntung hal ini sudah kami prediksi kemacetan dengan berangkat lebih awal 3 jam sebelumnya.
Daerah Sunter memang dikenal dengan daerah industri otomotif . Ada berbagai kantor dan industri mobil dari Astra Grup terlihat di tempat Sunter. Menyusuri jalan yang belum pernah kami kenal itu, akhirnya kami berhasil menemukan kantor YDBA setelah sempat sedikit menyasar. Masih ada waktu 1 jam untuk bertemu. 

Diterima oleh Mbak Santi , sekretaris Bapak Henry C. Wijaja, Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Begitu memasuki ruangan ber AC, suasananya yang tenang, dan nyaman membuat suasana hati kami pun damai dan kegelisahan jadi hilang. Di kantor YDBA ini kami berharap banyak informasi dan pengetahuan yang luas tentang apa itu UKM dan bagaimana pembinaan UKM dilakukan di YDBA.
Galeri YDBA

 Kami dipersilahkan menunggu di Galeri YDBA. Sambil menunggu, saya takjub   melihat  ruangan galeri yang berukuran tidak begitu luas tetapi penuh dengan barang-barang hasil UKM binaan dari YDBA. Ditata rapi dalam suatu etalase dan lemari kaca dengan apik dan diberikan sinar lampu yang terang. Contoh produk yang saya lihat  mulai dari produk makanan, kerajinan tangan (seprei, baju, songket, sulam, bordir gelang, kalung, tas, aneka aksesori,   produk pertanian dan alat-alat spare parts baik itu untuk motor,mobil, alat berat maupun alat-alat industri manufaktur memasak seperti penggorengan sampai kepada bengkel-bengkel motor yang jadi binaan YDBA. Saya sempat melihat majalah YDBA dan tertarik dengan salah satu UMKM dalam bidang manufaktur aluminium. 

Waktu kami bertemu dengan Bapak Henry, kesan dan impresi awal yang kami dapatkan adalah Beliau sangat mencintai pekerjaannya dan berpengalaman dalam bidang pengembangan UMKM. Padahal beliau baru saja menjabat posisi sebagai ketua dalam waktu 2 tahun belakangan ini.

Ketika pembicaraan  sudah menyentuh tentang pembinaan UKM , beliau dengan sangat fasih
bercerita dengan detail apa yang ditanganinya tentang para UKM yang sudah dibina .

Para staf Yayasan Dharma Bhakti Astra ini memiliki dedikasi dalam membantu pengembangan, pelatihan para UKM, mereka bekerja dengan semangat dengan nilai-nilai “compasionate, responsbility, adaptive”. Aura kerja  staff internal di dalam kantor maupun yang bekerja sebagai tenaga koordinator, fasilitator, back officer yang berkoordinasi dengan UKM dan pemda setempat bekerja dengan sepenuh hati .

Beliau menekankan konsep bekerja bagi para staff “Man for with others” artinya karyawan bekerja bersama saling membahu dengan para UKM sampai ke level yang diinginkan bukan hanya sekedar memberikan sesuatu dana atau uang saja, setelah itu ditinggalkan. Istilah yang sering dipakai atau tepat didengar adalah “Berikan Kail, Bukan Ikan”.

 Berlanjut dengan ketertarikan saya untuk menggali lebih jauh tentang industri cor aluminium di sebuah desa di Umbulharjo, Jogyakarta . Sebagai seorang ibu rumah tangga, pada awalnya saya berpikir mungkin produk wajan yang pernah saya pakai itu berasal dari ED Aluminium. Sederhana pemikirannya tapi belum pernah melihat proses produksinya membuat saya makin penasaran dan terlebih bagaimana UKM ini dapat terpilih sebagai UKM unggulan dan pemenang Awards. 

Dikenal dengan nama ED Aluminium, awalnya UKM Manufaktur ini bergerak dalam Pembuatan alat rumah tangga yang bahan bakunya dari aluminium . Seiring dengan perjalanan dan proses produksi untuk pengembangan usaha, maka perusahaan ini mengembangkan sayap dalam bidang pembuatan produk presisi seperti spare part sepeda, pembuatan part presisi lainnya sesuai dengan pesanan konsumen, pembuatan mould (cetakan) keramik maupun besi yang berbahan baku terspesifikasi dari aluminium seri 1 sampai 7. 

Mudah sekali menemukan lokasinya karena terletak sekitar 3,5 km dari Ringroad Selatan, persisnya di Jl. Ki Guno Mrico 414 Giwangan, Umbulharjo, Jogyakarta. 

Menengok sejarah dari produksi cor aluminium di desa Giwangan, Umbulharjo, ternyata ilmu pengecoran aluminium didapatkan dari turun temurun sejak zaman Jepang. Awalnya, produksi aluminium cor menjadi sendok, cetakan kue, wajan, ketel, dilakukan dengan alat-alat sederhana dan tanpa teknologi. 

 Jumlah pengrajin di desa itu sekitar 150 orang tetapi yang paling aktif sekitar 70 orang, berkurang satu persatu karena selain tidak tahan dengan suasana kerja yang bersuhu panas dan merasa tidak nyaman karena upah atau gaji yang diterima dianggapnya tidak memadai. Sementara bagi pimpinan UKM berpikir keras bagaimana berkompetisi dengan pabrik besar yang dapat memproduksi alat rumah tangga dengan lebih mudah karena adanya teknologi canggih, modal besar dan fasilitas yang lebih nyaman.

Namun, di antara 70 orang yang masih giat itu, terdapat seorang yang berhasil bertahan dalam kancah kompetisi cor aluminium yaitu Bapak Bambang Cahyana selalu pimpinan dari ED Aluminum . Usahanya di mulai sejak tahun 1985 dan sekarang telah berhasil UKM manufaktur cor aluminium dengan Sertifikasi : B4t QSC Reg No. 314/SEM-09/149. 

Proses pembuatan cor aluminium ini tidak lagi dilakukan secara sederhana seperti sediakala.  Dengan bantuan teknologi dan pemikiran dari Dr. Suyitno dari UGM, standar material yang digunakan pun material ac 4b, adc12, a356, hd2 untuk mengetahui mold sempurna digunakan alat flutridy.

Proses Pertama Mengumpulkan Bahan
 Proses produksinya dimulai dengan mengumpulkan bahan baku yang berupa base metal dan sisa aluminium berupa bekas aluminium dari kaleng, wajan, kaleng minuman . Bahan baku itu diproses menjadi aluminium ingot. Aluminium ingot adalah kualitas aluminium dalam produksi yang harus dijaga unsur logam Fe, Si dan CU dengan pengukuran alat yang disebut flutridy. Jika kadarnya sesuai dengan apa yang diarahkan oleh alat maka hasilnya akan sesuai dengan kualitas kemurnian aluminium yang diinginkan. 

Proses kedua: Masukan ingot ke dalam tungku panas
 Setelah itu, aluminium ingot akan dicairkan dengan dimasukkan ke dalam tungku pemanas . Dulu tungku pemanas menggunkan bahan batu bata, namun sekarang menggunakan bahan besi. Dicairkan dalam suhu 700 derajat C. Setelah mencair , diambil dengan “gayung” disambung dengan tongkat yang panjang dan dituangkan ke dalam cetakan. 

Proses ketiga: menuangkan cairan aluminium ke dalam cetakn
Cetakannya pun sudah sangat modern, dulu gunakan batu bata , sekarang telah gunakan besi (hasil dari penelitian dengan software full 3G) dalam waktu yang lebih singkat 3-5 detik sudah dapat dilepas dari cetakan.

 Akhirnya finishing pun dilakukan dengan memotong hasilnya yang kurang simetris, dan memberikan asesori seperti pegangan pada wajan dan digosok sampai halus. Teknologi untuk finishing menggunakan mesin CNC lebih modern sehingga menghasilkan wajan yang ternyata saya salah duga sama sekali , produk yang disebut Wajan EDA itu punya kualitas dan nilai produk terstandar sehingga dapat digunakan senjata dalam perang 2015. Wow, saya tidak bisa bayangkan bagaimana ketajamannya dan kegunaannya yang dwifungsi (wajan dan alat perang). Dibuat dalam 3 jenis ukuran 33,36, dan 30 , tinggal pilih yang sesuai dengan kebutuhan para ibu untuk keluarga. 

 "Persaingan keras dengan industri manufaktur besar jadi kendala utama terutama dalam bidang pemasaran, pembiayaan bank yang masih tinggi", kata Bapak Bambang.

"Dalam teknologi kami mampu bersaing karena banyak dukungan dari Ilmuwan di Gajah Mada , dalam manajemen kami juga banyak mendapat dukungan dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Jogjakarta sebagai cabang dari Yayasan Dharma Bhakti Astra", tambah Bapak Bambang selanjutnya.

Berkat ketangguhan dalam mengikuti latihan manajemen, latihan pengembangan UMKM dan pelatihan 5R maka segala kesulitan yang dihadapi oleh Bapak Bambang dapat teratasi. Ditambah dengan selalu mengikuti sharing dengan mitranya yaitu LPB Jogyakarta yang dikoordinasi oleh Bapak Arif Rakhmanto, maka perjuangan Bapak Bambang pun membuahkan hasil. 

Hebatnya, ED Aluminium mendapat dua Award di tahun 2017 dari YDBA Yang pertama adalah sebagai “UKM Mandiri Manufaktur Terbaik”. Award ini membuktikan bahwa ED Aluminium telah melakukan perbaikan dan pembenahan dalam 5 pilar yaitu :

Malam Penghargaan UKM Mandiri Manufaktur
Bapak Bambang bersama Bp Arif /LPB Jogya dan Fasilitator LPB
  
2 Award Sbg UKM Manufaktur Terbaik dan UKM QC Terbaik
Produksi: 
Adanya “improvement” atau perbaikan dalam alur produksi. Produksi menjadi tertata dengan baik dan selalu dilaporkan /didokumentasikan seperti berapa dan kenapa kualitas produksi tidak baik, apa yang menjadi kesalahan dalam produksi yang gagal itu. 

Pemasaran:
Adanya perubahan  sistem pemasaran yang dulunya membagikan brosur-brosur kepada pelanggan atau calon pelanggan, sekarang menjadi “online “ bahkan sudah masuk dalam e-katalog YDBA yang sangat mudah diakses oleh calon pembeli di seluruh Indonesia. 

HRD: 

Adanya perubahan manajemen yang makin jelas dalam jobdesk setiap pegawai. Setiap pegawai memiliki jobdesk yang sistimatis dan jelas sesuai dengan kapasitas pekerjaannya. 

Keuangan:

 Semua administrasi keuangan dibukukan dan didokumentasikan dalam laporan kas kecil & Besar dan accounting.

CSR:
 Memiliki tanggung jawab sosial dengan membantu dan memberikan dana bantuan untuk mesjid di sekitar tempat produksi ED Aluminium.

 Award yang kedua adalah “UKM Quality Control Circle Terbaik 2”. Kualitas Kontrol dari ED aluminium ini telah terbukti mengikuti standar industri manufaktur 5R (Ringkas,Rapi,Resik,Rawat, Rajin) . 

5R dikenal sebagai budaya kerja dari Jepang , suatu proses perubahan sikap dengan menerapkan kerapian, kebersihan tempat kerja. Serangkaian urutan proses kerja 5R dari Ringkas, Rapi, Resik,Rawat, dan Rajin dalam budaya kerja dimana setiap pekerja harus merawat, merapikan, menjaga alat atau hasil produksinya sehingga terjaga kebersihan dan kerapiannya.

Bayangin bagaimana proses panjang telah dilalui oleh ED Aluminium untuk mencapai prestasi terbaiknya. Bukan hanya kerja keras saja yang dipacu dalam pencapaian itu, tapi juga mempertahankan motivasi agar terus bersemangat memperbaiki diri dalam bekerja dengan menemukan inovasi untuk perbaikan standar industri manufaktur . 

 Konsumen atau pelanggan ED Aluminium pun semakin besar ada 82 Perusahaan diantaranya Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Bantul, Universitas Gajah Mada, dan lain-lain. 

Kesuksesan dan keberhasilan Bapak Bambang tidak langsung menyurutkan dirinya untuk tidak melihat prospek jangka waktu panjang. Beliau masih punya cita-cita tinggi untuk menjadikan UKM ED Aluminium sebagai UKM mandiri yang dapat meneruskan pencapaiannya sampai Tier 1,2, 3 dan mampu menerima pesanan produk apa pun dengan skill, attitude dengan kualitas yang tinggi, cost yang murah dan delivery yang cepat yang pada akhirnya memuaskan pelanggan.

 Cita-cita yang tinggi ini patut mendapat acungan jempol karena sesuai dengan tujuan, misi dan visi YDBA dalam mengangkat UKM yang dibina jadi UKM Mandiri dan berkelanjutan akan terwujud. 

Sejalan dengan  60 tahun perjalanan Astra penuh dengan warna, inspirasi, ED Aluminium telah membuktikan dirinya sebagai UKM yang berhasil menangguhkan citranya , mandiri, berkelanjutan dan terus berinovasi.

Total Tayangan Halaman