
linkedln.com

Hidup Tidak Pernah Menjanjikan Jalan yang Mudah
Ada masa ketika hidup terasa seperti sedang melawan kita.
Rencana yang sudah disusun berantakan.
Bisnis yang dibangun bertahun-tahun mengalami tekanan.
Penghasilan tidak lagi sebesar sebelumnya.
Pekerjaan hilang.
Investasi turun.
Hubungan berubah.
Dan tiba-tiba, sesuatu yang selama ini kita anggap aman ternyata tidak pernah benar-benar aman.
Pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana, apa yang membuat saya tetap berdiri?”
Di sinilah kita membutuhkan grit.
Bukan grit dalam pengertian jaringan listrik atau garis-garis dalam sebuah tabel, tetapi sebuah jaring ketahanan hidup—sekumpulan kekuatan, kebiasaan, hubungan, kemampuan, dan nilai yang membuat kita tidak jatuh sampai ke titik nol ketika satu bagian kehidupan mengalami kegagalan.
Karena hidup itu sulit.
Dan semakin panjang perjalanan hidup kita, semakin kita menyadari bahwa kesulitan bukan pengecualian.
Perjalanan dan Perjuangan Kesuksesan Jensen Huang
Kesulitan adalah bagian dari permainan.
Jensen Huang, di usia 62 tahun, pendiri NVDIA , perusahaan aset bernilai triliuan dollar itu bukan orang yang langsung melejit sukses.
Kesuksesannya bukan datang dari kepintaran sematan, tetapi kombinasi ketekunan dan kemampuan melihat pola yang tak terlihat oleh orang lain.
Kesuksesannya bukan datang karena dia seorang yang kaya. Dia terlahir dari seorang ibu yang sederhana di Taiwan. Jensen sekeluarga pindah ke Thailand pada usia lima tahun. Lalu, dia dikirim oleh orang tuanya ke Amerika serikat pada usia sembilan tahun karena situasi politik di Thailand yang tidak stabil.
Di usia yang sangat muda, dia sekolah asrama di Kentucky, harus membersihkan toilet setiap hari. Juga di usia muda, dia bekerja sebagai pencuci piring dan pelayan restoran Denny’s untuk bertahan hidup.
Ketika dia lulus sebagai sarjana teknik dari Oregon State University dan master dari Teknik Elektro Stanford University, dia masih bekerja sebagai pegawai di LSI dan Advance Micro Devices.
Bersama dengan dua orang temannya Chris Malachowsky dan Curtis Priem , dengan modal yang sangat kecil, mereka bertiga mendirikan Nvidia. Jabatan sebagai CEO diembannya sejak pertama kali dibuka untuk menciptakan unit pemprosesan grafis.
Sayangnya, perusahaan yang dipimpin oleh Jensen itu tak selalu berjalan mulus, bahkan pernah mengalami kegagalan besar dan krusial. Titik kegagalan yang paling fatal dan membuat perusahaan menjadi bangkrut terjadi tahun 1995 hingga 1997.
Penyebab utamanya adalah salah memilih strategi teknologi, dia menggunakan teknis pemprosesan grafis berbasis segiempat. Sedangkan industry memerlukan standar industry format segitiga, akibatnya produk Nvidia tidak kompatibel dengan ekosistem computer dan ditolak pasar dan seluruh uniti dikirim ke pabrikan dan dikembalikan. Modal pun habis dan menyisakan uang kas hanya 30 hari saja.
Kegagalan ini menjadi pukulan yang berat bagi Jensen. Namun, dia tak pernah gentar dengan kegagalan. Dia seorang jujur dalam hadapi kegagalan, dia menemui CEO Sega dan mengakui kesalahan teknologi Nvidia. Atas kejujuran itu Jensen, Sega menyuntikkan dana daruran sebesar $5 juta dan modal inilah yang dijadikan arsitektur baru yang sesuai dengan standar pasar RIVA 128, sukses di pasaran.
1. Hidup Itu Sulit
Kita sering membayangkan keberhasilan sebagai sebuah garis lurus.
Belajar → bekerja keras → berhasil → hidup nyaman.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Hidup lebih mirip perjalanan yang penuh tikungan.
Ada masa kita naik. Ada masa kita turun. Ada masa kita berlari. Ada masa kita harus berhenti untuk menarik napas.
Tekanan ekonomi membuat semuanya menjadi semakin nyata.
Ketika biaya hidup meningkat, pendapatan tidak bertambah secepat kebutuhan, bisnis menghadapi tekanan, atau pekerjaan menjadi tidak pasti, kita tidak hanya diuji secara finansial.
Kita diuji secara mental.
Di sinilah pentingnya memiliki grid.
Bayangkan seseorang yang hanya memiliki satu sumber penghasilan.
Ketika pekerjaan itu hilang, seluruh kehidupannya ikut terguncang.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki keterampilan, jaringan pertemanan yang baik, reputasi, kesehatan finansial, kemampuan belajar, pengalaman, dan mental yang kuat memiliki beberapa titik untuk berpijak.
Ketika satu titik runtuh, ia masih memiliki titik lainnya.
Itulah grid.
Grid membuat kegagalan di satu area tidak otomatis berubah menjadi kehancuran di seluruh kehidupan.
Karena itu, membangun kehidupan bukan hanya tentang bagaimana kita mendapatkan lebih banyak.
Tetapi juga tentang bagaimana kita membangun ketahanan ketika sesuatu yang kita miliki tiba-tiba hilang.
2. Apa Itu Grit?
Grit adalah jaringan penyangga yang membuat kita tetap bertahan ketika satu bagian kehidupan mengalami kegagalan.
Dalam kehidupan nyata, grid bisa berupa banyak hal.
Keterampilan yang kita miliki adalah grit.
Tabungan adalah grid.
Relasi yang sehat adalah grid.
Reputasi yang kita bangun adalah grit.
Kemampuan untuk belajar kembali adalah grit.
Pengalaman menghadapi masalah adalah grid.
Kesehatan adalah grit.
Keluarga dan orang-orang yang bisa dipercaya adalah grit.
Bahkan kemampuan untuk tetap tenang ketika menghadapi tekanan adalah grit.
Semakin banyak titik ketahanan yang kita bangun, semakin kecil kemungkinan satu kegagalan menghancurkan seluruh kehidupan kita.
Namun ada satu hal yang lebih penting.
Grit bukan sekadar apa yang kita miliki. Grit juga adalah siapa kita ketika apa yang kita miliki hilang.
Seseorang bisa kehilangan pekerjaan, tetapi tidak kehilangan kemampuannya.
Bisa kehilangan bisnis, tetapi tidak kehilangan pengalamannya.
Bisa kehilangan uang, tetapi tidak kehilangan kemauan untuk belajar.
Bisa mengalami kegagalan, tetapi tidak kehilangan keberaniannya untuk mencoba kembali.
Di situlah grit bertemu dengan grit.
Grit memberikan kita tempat untuk bertahan.
Grit memberikan kita alasan dan tenaga untuk terus berjalan.
3. Kesulitan dan Kegagalan Bukan Berarti Kegagalan Total
Salah satu kesalahan terbesar dalam menghadapi kegagalan adalah menganggap bahwa satu kegagalan berarti semuanya gagal.
Padahal tidak.
Kehilangan satu pekerjaan bukan berarti kehilangan seluruh kemampuan.
Bisnis yang gagal bukan berarti seluruh pengalaman menjadi sia-sia.
Investasi yang buruk bukan berarti kita tidak akan pernah mampu membangun kekayaan kembali.
Rencana yang gagal bukan berarti masa depan juga gagal.
Kegagalan hanyalah sebuah kejadian. Bukan identitas.
Yang membedakan orang yang mampu bertahan dalam jangka panjang bukanlah seberapa sering mereka gagal.
Tetapi bagaimana mereka merespons kegagalan.
Di sinilah konsep grit menjadi penting.
Grit adalah kemampuan untuk tetap memiliki ketekunan dan komitmen terhadap tujuan jangka panjang meskipun perjalanan menuju ke sana penuh dengan kesulitan, kegagalan, dan hambatan.
Grit bukan berarti keras kepala.
Grit bukan berarti terus melakukan hal yang sama meskipun jelas tidak berhasil.
Justru orang yang memiliki grit mampu mengatakan:
“Cara ini tidak berhasil. Saya harus belajar. Saya harus mengubah strategi. Tetapi saya belum selesai.”
Kalimat terakhir itulah yang penting.
Belum selesai.
Grit untuk Jangka Panjang
Kita hidup dalam budaya yang sangat menyukai hasil cepat.
Kita ingin bisnis cepat besar.
Ingin investasi cepat menghasilkan.
Ingin karier cepat naik.
Ingin usaha segera berhasil.
Padahal banyak hal besar dalam hidup membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang daripada yang kita bayangkan.
Grit berarti memahami bahwa perjalanan hidup bukan sprint.
Ia adalah permainan jangka panjang.
Hari ini mungkin kita kalah.
Besok mungkin kita harus mulai lagi.
Tahun ini mungkin bisnis kita tidak tumbuh.
Karier mungkin tidak berjalan sesuai rencana.
Tetapi selama kita masih memiliki kemampuan untuk belajar, memperbaiki diri, membangun kembali, dan mencoba dengan strategi yang lebih baik, permainan belum berakhir.
Kita tidak harus menang setiap ronde. Kita hanya perlu cukup kuat untuk tetap bermain dalam jangka panjang.
Dan itulah fungsi grit.
Grit menjaga kita agar tidak jatuh terlalu dalam.
Grit membuat kita mau bangkit kembali.
Bangun Grit Sebelum Kita Membutuhkannya
Masalahnya, kebanyakan orang baru berpikir tentang ketahanan ketika krisis sudah datang.
Baru berpikir tentang tabungan ketika kehilangan pekerjaan.
Baru membangun jaringan ketika membutuhkan bantuan.
Baru belajar keterampilan baru ketika pekerjaan lama hilang.
Baru menjaga kesehatan ketika tubuh mulai memberi peringatan.
Padahal grid harus dibangun sebelum badai datang.
Kita tidak membangun payung ketika hujan sudah deras.
Kita menyiapkannya ketika langit masih cerah.
Begitu juga dengan kehidupan.
Bangun kemampuan sebelum membutuhkannya.
Bangun hubungan sebelum membutuhkan pertolongan.
Bangun tabungan sebelum kehilangan penghasilan.
Bangun reputasi sebelum membutuhkan kesempatan.
Bangun mental sebelum menghadapi kegagalan.
Karena ketika krisis datang, kita tidak punya banyak waktu untuk membangun fondasi.
Kita hanya bisa menggunakan fondasi yang sudah kita bangun sebelumnya.
Penutup
Jangan Hanya Membangun Kehidupan yang Besar, Bangun Kehidupan yang Tahan Banting
Mungkin kita tidak bisa menghindari kesulitan.
Tidak ada orang yang bisa menjamin bisnisnya tidak akan gagal.
Tidak ada pekerjaan yang benar-benar aman selamanya.
Tidak ada investasi yang selalu naik.
Tidak ada rencana hidup yang berjalan persis seperti yang kita inginkan.
Tetapi kita bisa membangun grit. Kita bisa memiliki lebih dari satu kemampuan.
Lebih dari satu sumber nilai.
Hubungan yang kuat.
Kebiasaan yang sehat.
Cadangan finansial.
Kemampuan belajar.
Dan yang paling penting, mentalitas untuk terus berjalan.
Karena pada akhirnya, ketahanan bukan tentang tidak pernah jatuh.
Ketahanan adalah kemampuan untuk jatuh tanpa kehilangan kemampuan untuk bangkit.
Dan mungkin itulah cara terbaik melihat hidup.
Bukan sebagai usaha untuk menghindari kegagalan.
Tetapi sebagai usaha untuk memastikan bahwa ketika kegagalan datang, kita tidak kehilangan seluruh kehidupan kita karenanya.
Grit membuat kita tetap memiliki pijakan.
Grit membuat kita terus bergerak.
Dan ketika keduanya kita bangun bersama, kita memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keberhasilan sesaat:
kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang.
Karena pada akhirnya, ketahanan bukan tentang tidak pernah jatuh.
Ketahanan adalah kemampuan untuk jatuh tanpa kehilangan kemampuan untuk bangkit.
Dan mungkin itulah cara terbaik melihat hidup.
Bukan sebagai usaha untuk menghindari kegagalan.
Tetapi sebagai usaha untuk memastikan bahwa ketika kegagalan datang, kita tidak kehilangan seluruh kehidupan kita karenanya.
Grid membuat kita tetap memiliki pijakan.
Grit membuat kita terus bergerak.
Dan ketika keduanya kita bangun bersama, kita memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada keberhasilan sesaat:
kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang.