Pencapaian Tertinggi dalam Hidup, Mengisi Kehidupan Bermakna


Pencapaian tertinggi

 
Saya tak pernah bermimpi besar. Cukup dengan mimpi kecil saja tapi dengan usaha dan tekad besar untuk bisa mencapainya. Mencapai bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi kepada makna hidup.
 
Langkah hidup saya dari muda hingga usia pension, saya habiskan dengan bekerja, belajar, dan akhirnya bisa berkeluarga dalam usia yang tak muda lagi. Jika diingat apakah semua yang sudah saya lakoni itu sudah sesuai dengan cita-cita? Tidak semuanya, tapi paling tidak semua pencapaian itu ada nilainya, bisa dibilang kecil hingga besar.
 
 Awalnya saya tak pernah bercita-cita kerja di bank, tapi saya akhirnya memulai karir sebagai sekretaris dan akhirnya jadi office di suatu bank asing. Mudah? 
 
Tidak ada kondisi pasang surut saat menapaki karir awal, hingga akhir. Pertama kali pindah ke bagian Customer Service, tidak terbayangkan apa yang akan saya jalani.
 
Tapi saya suka dengan belajar. Belajar yang membuat diri saya seperti “hidup” untuk merasa memperjuangkan hidup. Ketika saya merasakan sudah di titik akhir dari suatu karir, saya menunggu saja untuk bisa pensiun. 
 
Saya berpikir pensiun adalah titik akhir dari suatu pencapaian karena saya sudah tidak ada karir lagi setelah pensiun. Lalu, saya hanya mulai belajar nulis atau ngblog . Ketika menapaki jalur ngblog, saya tak memiliki gambaran tentang pencapaian. 
 
Tetapi saya lebih mementingkan untuk mengisi sisa hidup ini. Kembali kepada passion ngblog, ternyata tak mudah ngblog karena perlu konsisten, disiplin, bahkan yang terakhir kali adalah kreativitas. 
 
Berrjalannya waktu, saya seringkali menantang diri saya untuk ikut lomba. Bukan untuk menang tujuan utamanya, tapi ingin membuktikan diri bahwa apa yang saya pelajari dan saya praktikkan itu punya pencapaian yang tinggi untuk suatu usaha. 
 
Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, hanya sekali dalam setahun memenangkan lomba. Saya pernah menang untuk nulis jurnalistik dalam skala lokal, yaitu Tangerang Selatan. Saya masih terobesesi untuk bisa melangkah lebih jauh, di tingkat nasional.
 
Lalu, ketika saya mencoba untuk “gambling” ikut dalam satu lomba blog Pendidikan Keluarga yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 
 Setelah mengirimkan naskah lombah hampir 6 bulan berlalu, saya sudah tak teringat apa yang telah saya kirimkan. Ketika tiba-tiba ada surel yang menyatakan saya sebagai salah satu pemenang Harapan pada Lomba Blog Pendidikan Keluarga Tahun 2018, saya seperti bernafas lega. Lega karena satu pencapaian terbesar yang pernah saya impikan telah terwujud. 
 
Suatu plakat besar yaitu Piagam PEnghargaan diberikan oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy melalui wakilnya di momen Malam Penghargaan pemenang Lomba Menulis, Vidio, Vlog dalam rangka Hari Keluarga Tahun 2018. 
 
Hati saya tentu senang, puas, bahagia mencapai apa yang saya rindukan selama ini. Lalu jika ditanya, apa Langkah selanjutnya setelah pencapaian tertinggi ini? Masih punya mimpi lain, atau masih mencapai penghargaan tertinggi lain? 
 
 
 
Tentu, manusia tak pernah puas apabila dia belum punya makna lebih besar dalam pencapaiannya. Saya terus mencari suatu pencapaian yang tak mudah. Saya ingin jadi contributor satu buku. Bagi saya membuat buku itu bukan mimpi saya karena terlalu berat baik dari segi administrasi maupun segi penjualannya. 
 
Tapi aneh tapi nyata, ketika saya mengikuti Ngobrol dengan Penulis PBK, ada tawaran dari seorang penulis senior untuk mengirimkan naskah. Saya tak berharap penuh karena peserta yang ikut Ngobrol dengan Penulis PBK itu adalah penulis yang sudah mumpuni.
 
 Namun, ternyata ada berita Bahagia di tanggal 15 April 2021, saya diterima bersama 27 penulis yang lainnya untuk penerbitan buku antologi. Inilah pencapaian akhir tahun 2021 yang telah saya lakukan.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!