Target 2021: Menggapai Mimpi untuk Menerbitkan Buku Antalogi

 S
Target 2021 Menerbitkan buku
sumber: dokpri

Tahun 2021 sebenarnya penuh dengan tantangan, berbagai macam kesulitan dan kondisi yang tidak-pasti tentang apa yang akan terjadi masa depan. Siapa yang dapat membaca masa depan dengan kondisi pandemi yang belum pulih? Apakah masa depan itu akan menyerupai yang dulu lagi, atau justru berubah total karena adanya pandemii. 
 
Seolah kita hanya berkkimat untuk memaknai perubahan baik itu sosial maupun ekonomi. Tidak bisa berbuat banyak kecuali adaptasi. Adaptasi pada hal yang terjadi maupun yang akan terjadi. Ketika saat ini hampir setiap kegiatan baik itu ekonomi maupun interaksi sosial hanya berpaku kepada teknologi digital, mau tidak mau.
 
Saya pun berpikir untuk mulai belajar mengoperasikan semua peralatan serba digital yang memang sulit bagi seorang tua. 
 
Nach, saya sendiri punya passion untuk menulis . Bagi saya menulis jadi bagian hidup yang tak bisa ditinggalkan.  
 
Sebuah mimpi untuk bisa menerbitkan  buku antalogi.  Tetapi harus punya bekal  untuk mengasah tulisan saya menjadi lebih baik, saya banyak membaca, mengikuti online training dan satu lagi adalah mengikuti online seri dari “Ngobrol Proses Kreatif Penulis PBK (Penulis Kompas)” yang diadakan setiap dua minggu sekali. 
 
Pada saat sesi ngobrol itu saya hanya mendengarkan paparan dari penulis. Kadang-kadang saya juga bertanya dengan Penulis yang sudah mencetak bukunya sebagai buku bestseller, bahkan buku cetakan itu masuk ke-19.
 
Penulis itu bercerita  tentang bagaimana proses mereka menulis hingga sampai cetakan ke-19 atau ke-24. Hanya berdecak kagum, karena saya membayangkan untuk menulis satu buku saja, betapa sulitnya bagi saya. Apalagi harus menerbitkan buku sendiri yang memang seharusnya bertemakan aktual dan yang disukai oleh pembacanya dan sesuai passion kita. 
 
Gagasan yang masih ada dalam mimpi dan  ide itu belum teralisir, apalagi  belum bisa mengenal bagaimana langkah konkritnya menerbitkan buku sendiri.
 
Namun, diluar dugaan, ketika pada hari H ada tawaran yang luar biasa dari sang penulis. Untuk tawaran ini, kami diminta untuk membuat naskah buku  dengan tema “Makna Kehidupan Keluarga”. 
 
Tanpa mengenal lelah, langsung saya pun berusaha menepati syarat dan ketentuan yang diminta. Begitu diserahkan, hati saya masih menduga, apakah bisa lolos atau tidak karena jumlah peserta saat itu cukup banyak 70 orang dari Sabang hingga Merauke. Jumlah yang diminta hanya 25 saja
 
Namun,  saya sudah berusaha sekuat tenaga dan berdoa, langkah selanjutnya yach serahkan saja rezeki itu ke tangan Tuhan.. 
 
Berjalan hampir 3 minggu , ketika kami ngobrol lagi dalam acara yang sama dengan penulis lain. Host mengumumkan bahwa saya termasuk diantara 25 orang yang dipilih untuk ikut buku antalogi itu.
 
Betapa senangnya, apakah ini jadi jalan untuk menuju cita-cita yang diidamkan? Semoga, cita-cita itu teralisasi meskipun harus  menunggu langkah selanjutnya yang cukup panjang.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!