7 Karakter yang Kuat Tampil dalam Diriku

 
 
7 karakter

Judulnya tentu sangat fantastis. Terus terang saya tak punya “karakter kuat” yang dapat dibanggakan karena saya sendiri bukan manusia super yang bisa menilai diri saya sendiri. Penilaian itu sebenarnya datang dari teman kolega , sahabat atau tetangga yang lebih mengenal saya ketimbang diri saya sendiri. 
 
Saya terpaksa merubah judul  “Top 7 Fakta Tentang Saya”, menjadi "7 Karakater yang Kuat Tampil dalam Diriku". Dengan kesadaran penuh, atau sering disebut dengan “mindfulness”, saya tak punya apa yang disebut dengan top tapi lebih pada karakter .
 
Sekali lagi saya hanya mengutip pembicaraan teman, sahabat saya yang saya kenal tentang kekuatan karakter dalam diri saya atau my personality is Introvert yang punya idealis kuat.
 
Dibesarkan dari keluarga kecil, saya adalah bungsu dari dua bersaudara. Jarak usia dengan kakak cukup besar yaitu 11 tahun. Jadi relasi saya dengan kakak agak jauh karena kami berdua punya gap kesenangan, cara berpikir yang sudah berbeda satu dengan yang lainnya. Saya dianggap anak-anak yang masih harus diasuh terus. 
 

Disiplin dan Respect

 
Sejak kecil hidup sebagai anak bungsu memang dimanja, tapi juga disiplin penuh diterapkan di keluarga saya. Jadi saya tak berani untuk bolos, tidak belajar bahkan tidak berani bohong. Saya tak punya teman banyak, hanya satu atau dua orang saja baik itu tetangga atau teman sekolah. 
 
Namun, sekali saya bersahabat dengan teman, saya selalu menyimpan respect dan merasa “secure” berteman dengan dia. Rahasia apa pun akan saya ceriterakan kepada sahabatku yang setia itu. Demikian juga saya akan jadi sahabat setianya, selama dia mau. 
 

Suka Berpikir

 
Setiap masalah saya pikir hingga tuntas. Mulai dari apa penyebabnya, mengapa hal itu bisa terjadi, apa yang akan saya perbuat agar tidak terjadi hal yang demikian itu. Pemikir berat sehingga saya suka lupa bahwa masalah sudah selesai dan tidak perlu dipikir lagi. Akibatnya saya menderita insomnia menengah sampai usia saya saat ini. 
 

Penuh dengan Welas Kasih

 

Saya tak mampu melihat orang yang menderita. Begitu mata fisik saya melihat sesuatu yang tidak masuk akal, saya jatuh welas kasih saya. Contohnya ketika saya melihat seorang kakek tua, tubuhnya rentan, masih bekerja menggendong “teleman cuci baju” yang cukup berat untuk dijual. 
 
Pikiran terus mengembara siapa yang akan beli teleman seberat ini. Kenapa dia harus jualan benda seberat ini yang tidak laku, lalu gimana nanti pulangnya kalo tidak laku. Belum lagi kalo melihat bencana, mata hati saya langsung tidak tega melihatnya. Lebih baik saya matikan televisi atau mendengar radio atau warta berita tanpa gambar saja. 
 

Sinergi Kawan Kerja 

 
Saya pernah bekerja di satu tim cukup lama sekali. Pekerjaan satu tim itu penuh dengan sinergi, tidak bisa kerja sendiri-sendiri. Jika saya egois, maka tim saya tidak akan berhasil. Ego pun harus dikandaskan dan tetap berpegang teguh dengan kepentingan tim. 
 

Mandiri 

 
Ibuku sejak kecil mengajarku untuk mandiri tidak tegantung dari orang lain. Mandiri itu bukan berarti tidak mau membantu orang lain, tapi justru melakukan semua yang bisa dilakukan tetapi juga minta bantuan apabila tidak bisa dilakukan. Jadi kemandirian itu semata-mata diajarkan untuk lebih mengetahui mana yang perlu dikerjakan sendiri dan mana yang tidak bisa. 
 
Walaupun kami punya pembantu, saya tidak diperkenankan memanggil pembantu untuk minta A, B, C. Selama bisa diambil sendiri, pakaian, tas, sepatu, harus diatur sendiri. Dari segi keuangan juga harus mampu mengatur kemandirian tanpa harus bolak balik meminta dana . Saya hanya dibiayai cukup tiga tahun di perguruan tinggi, setelah itu saya menyelesaikan dengan dana sendiri dari bekerja. 
 

Membaca Masa Depan 

 
Saya suka dengan persiapan diri untuk masa depan. Ketika baru lulus, saya berpikir bagaimana punya rumah, sekolah lagi. Ketika saya sudah berumah tangga, saya berpikir bagaimana anak saya bisa menyelesaikan perguruan tinggi. Ketika saya pension, saya berpikir bagaimana saya harus pension dengan baik. 
 

Menemukan Passion 

 
Menemukan passion setelah pension jadi kendala bagi saya. SEolah hampir kehilangan arah kehidupan. Tapi begitu saya menemukannya, menulis, saya sangat Bahagia. Bahagia yang saya rasakan benar-benar merasakan damai, optimal untuk terus belajar sampai tuntas di akhir hayat. 
 
Inilah ketujuh karakater kekuatan saya yang mungkin membuat saya bertahan dan mampu berjalan melangkah kehidupan yang boleh dikatakan sangat ganas.

1 komentar

  1. Wah, itu sih betul-betul karakter kuat Mba. Salut. Salam kenal ya Mba.

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!