Featured Slider

Scale Up Tanpa Kehilangan Identitas: Cara Didiet Maulana Membangun Bisnis Kreatif

Tingkatkan Bisnis Kreatif


Bagaimana sebuah karya berbasis budaya bisa tumbuh menjadi bisnis kreatif yang mendunia? Didiet Maulana membuktikan bahwa kreativitas yang dirawat dengan visi dan konsistensi mampu naik kelas tanpa kehilangan jati diri. 


 Seharian mulai dari malam hingga dini hari hujan rintik-rintik, tak berhenti. Mendung membuat malas untuk datang ke workshop “Scaling Creatiave Business” by Didiet Maulana. 

 Dari empat event yang diadakan oleh Astra mulai dari pengumuman Lomba Foto Astra & Anugerah Pewarta Astra 2025, “Jamu for Mindfulness”, “Pottery Painting”, Scalling Creative Business”, saya memilih untuk mengikuti workshop Scaling Creative Business di hari terakhir.

Meskipun temanya sangat tidak relevan dengan profesi saya sebagai penulis, tetapi justru topik ini sangat menarik untuk diangkat. Awalnya saya sendiri juga tak mengenal siapa Didit Maulana. Setelah mencari informasi dari Google, ternyata sosok Didit adalah seorang yang berhasil dalam memadukan warisan budaya ikat dengan desain yang relevan secara global.

Sebagai direktur kreatif dengan brand IKAT Indonesia, keberhasilan mengangkat tenun Indonesia ke dalam fesyen temporer. Di kancah global , termasuk peragaan busana di New York Fashion Week 2023. Kancah karirnya tak hanya berhenti di situ, dia berperan aktif sebagai educator dan storyteller dengan dua buku , Kisah Kebaya (2021) dan Pesan yang Datang Belakangan (PYDB) (2023). Dia juga ingin memberdayakan para UMKM melalui “Jadi Gini Belajar Bersama (JGBB), platform edukasi yang menjangkau 30.000 UMKM.

 Di sini saya baru menyadari bahwa topik “Scalling Creative Business” ini ada kaitannya para UMKM yang datang hadir di Galeri Astra. Kehadiran mereka itu memang tepat untuk mendengarkan workshop singkat . 

tepat banget jam 13.00 segera mulai. Nach Didiet memperkenalkan siapa dirinya. Bahkan sedikit perkenalan lebih jauh ketika masa kecilnya di usia 5 tahun pun dia sudah punya “sense of business” dengan uang jajan dari ibunya, seorang single parent. 

Berawal dari modal dengkul , buka sebagai fashion designer dengan hanya 3 orang saja. Dia merangkap segala jabatan mulai dari pembelian material, designer, pemasaran, bahkan customer service. Akhirnya sampai kepada puncak dari karirnya sebagai Creative Director of IKAT yang sudah mendunia. 

Dalam paparan singkatnya, Didiet tiga topik dengan sangat singkat: 

1.Bagaimana harus meningkatkan value produk serta berinovasi: 


Hal yang utama adalah mengenal usaha kita dulu.

 a.Mengapa kita mengerjakan ini?  Alasan utama yang paling penting . Dari alasan ini harus kuat dari segi motivasi dan kuat dari segi survei 

b.Produk apa yang kita jual: Produknya harus konsisten dan fokus

 c.Jualan kepada siapa? (Target pasar):  Kita harus mengetahui siapa calon pembeli kita , apa gender (perempuan), usianya (30,40,50 tahun).

 d.Bagaimana pemasarannya: Dari pengalaman, Didiet menjelaskan bahwa 10-20% dari penjualan itu harus dialokasikan untuk pemasaran. Apalagi produk baru yang dikenal oleh masyarakat harus punya pemasaran yang luas jangkauannya. 

e.Dimana jualannya:  Jika menggunakan media sosial, pastikan bahwa personal brand dari produk itu harus diperkenalkan secara unik . 

f.Apa kelebihan dan area yang perlu dikembangkan lagi?:

Keunikan produk yang Anda jual harus ditonjolkan dengan begitu pembeli potensial akan mengenal dan mengetahui proses pembuatan produk sehingga ada nilai tambah dari produk itu. Untuk pengembangan, setelah ada testimoni dari pembeli, perlu diperhatikan apa saja kebutuhan dari pembeli produk misalnya kemasannya harus bagus dan unik. 

2.Mengapa butuh branding? 

Tujuan dari branding adalah

1.Branding membuat persepsi 
2,Kejelasan tujuan dan visi sebuah brand akan memudahkan orang memilih product
3.Branding akan membuat keterkaitan emosi. 
4.Branding membantu orang untuk memilih produk kita. 
5.Branding akan meningkatkan nilai, meningkatkan penjualan dan membuat usaha kita lestari. 

3. Mengenal teknik dasar pemasaran/marketing


 Anda harus ingat bahwa orang tidak membeli barang dan jasa, mereka membeli kebutuhan cerita dan keajaiban. Langkah-langkah menyusun strategi marketing 

1.Analisa keadaan brand Anda : 1.Membuat list tentang situasi brand Anda 
2.Definisikan target market: Segementasi customer , studi demografis, 
3.Set tujuan marketing Anda; Membuat daftar tujuan anda membuat strategi marketing
4. Menentukan budget dan kegiatan: Detailing 
5.Pilih Platform marketing Anda: berada dimana target market anda berada 
6.Timeline: Menenukatn waktu eksekusi dan periodenya 

 Selanjutnya Didiet memaparkan “journey of Ikat Indonesia” dari nol hingga sukses, tidak mudah, penuh perjuangan dan penuh tantangan. 

 Last but not least, sesi diakhiri dengan Sesi review product UMKM yang sangat beragam. Para UMKM ini juga inovatif dan kreatif, mengajukan beberapa pertanyaan untuk masalah yang dihadapinya dalam membangun pasar untuk produknya.

72 Jam Persiapan yang Menentukan: Panduan Bertahan dalam Keadaan Darurat


Emergency plan
freepik.com




Bayangkan listrik padam, komunikasi terputus, dan toko-toko tutup. Dalam situasi seperti itu, 72 jam pertama bukan tentang kenyamanan—melainkan tentang bertahan hidup. 


Mengapa kita harus mengubah mindset untuk selalu bersiap-siap? 


Suatu hari, di Whatsapplication keluarga , salah seorang anggota bertanya kepada saya, apakah kakak saya tinggal di Belanda sudah menerima pamplet dari pemerintah Belanda “72 jam persiapan”. Saya jawab, sudah terima karena memang sehari sebelumnya saya  bicara dengan kakak di Belanda. Bersiap diri sesuai dengan petunjuk buku panduan .

Mindset kuno mengatakan bahwa bersiaplah ketika bencana datang. Namun, sekarang hal ini telah berubah sama sekali, bersiaplah sebelum bencana datang. 

Bencana apa yang harus disiapkan? Kita hidup dalam dunia fana yang penuh dengan dinamika global, lokal, ekologis. Ada banyak bencana baik itu kasat mata maupun tidak. Bencana yang kasat mata seperti banjir, longsor, gunung meletus, kecelakaan.   Sementara bencana yang tak kasat mata, peperangan. 

 Peperangan di era kini bukan dengan senjata, tetapi dengan bom nuklir, penghentian listrik, mematikan internet, merebut tempat strategis seperti tempat senjata dan lainnya. Siapa yang berperang? Dulunya orang menyangka bahwa perang itu hanya terjadi di  tempat yang rawan perang seperti Iran, Suriah, Libia, 

 Ternyata, hampir semua negara di Eropa yang dikenal dengan keamanannya (pengertian keamanan di sini adalah keamanan dari gangguan peperangan) sekarang mulai terusik dengan masalah keamanan.  

Fakta menunjukkan bahwa hampir semua negeri termasuk negera Eropa tak lepas dari rasa was-was akan timbulnya perang . Dalam dunia global yang sedang memanas kondisinya, dimana Amerika menginginkan “mencaplok” sebuah tempat yang dinamakan “greendland”. Keinginan Amerika Serikat untuk “mencaplok” greenland"  menjadi symbol atau tanda bahwa Amerika Serikat sebagai pendiri NATO telah mengingkari sendiri deklarasi NATO , salah satunya adalah antar sesama negara NATO dilalrang untuk “mencaplok” negara itu. Tidak dipungkiri ketika keinginan “mencaplok” itu semakin di depan mat akita, Ruia pun mulai bergerak untuk mengincar semua persenjataan atau titik lemah dari setiap negara NATO. Termasuk salah satunya adalah Belanda. 

 Pemerintah Belanda yang keren 


 Menyadari keterbatasan pemerintah Belanda untuk melindungi seluruh warganya dari serangan negara lain, maka dengan tanpa malu-malu pemerintah menyebarkan suatu pamplet. Pamlet atau buklet informasi bertajuk "Bereid je voor op een noodsituatie" (Bersiaplah untuk Keadaan Darurat) adalah bagian dari kampanye "Denk Vooruit" (Berpikir ke Depan) yang diluncurkan oleh pemerintah Belanda. Buklet ini didistribusikan kepada 8,5 juta warga dari bulan November 2025 hingga Januari 2026 untuk meningkatkan kemandirian warga dalam menghadapi krisis selama 72 jam pertama 

Apa isi pamplet itu? 


Daftar panduan mandiri 72 jam itu meliputi: 


1.Daftar perlengkapan Nampung (emergency kit) Ada tas darurat yang berisi: Air dan makanan: minimum 3 liter air per orang per hari dan makanan tahan lama (kalengan, kacang-kacangan, buah kering). 


2.Komunikasi & informasi: Radio bertenaga baterai atau putar (mendengarkan siaran darurat) , ponsel terisi penuh, power bank

3.Penerangan & kehangatan: Senter dengan baterai Cadangan, lilin , korek api tahan api, dan selimut hangat atau kantong tidur. 

4.Uang tunai: disarankan menyimpan sekitar Euro 70 orang dewasa dan Euro 30 per anak dalam bentuk uang kertas dan koin, kemungkinan mesin ATM tidak berfungsi saat pemadaman listirk. 

5.Kesehatan & higienitas: Kotak3P, obat-obatan pribadi, tisu basah, pembersih tangan, kertas toilet, dan perlengkapan sanitasi. 

6.Dokumen: Salinan paspor, daftar nomor telepon penting (tertulis), kunci Cadangan, peluit untuk menarik perhatian dan peralatan multifungsi (pisau, tang). Skenario kritis yang diantisipasi

 Peristiwa yang diantisipasi akan terjadi dimana layanan pulbik akan terganggu, seperti: 


1.Gangguan digital: Serangan siber yang melumpuhkan internet, sinyal telepon, atau sistem pembayaran. 

2.Pemadaman listrik masal (blackout): Terhentinya pasokan listirk dalam waktu lama. 

3.Cuaca ekstrim dan bajir: Dampak perubahan iklim atau bencan alam. 

4.Ketegangan geopolitik: Ancaman kemanan nasional yang dapat menggangu rantai pasokan.

 Langkah darurat untuk kondisi emergency:

1.Siapkan Tas darurat: Selalu stand by tas darurat dengan barang-barang penting di salah satu tempat yang mudah dijangkau. 

2.Buat rencana darurat: Berdiskusi dengan keluarga terdekat apa yang harus dilakukan jika harus mengungsi atau tetap di rumah tanpa listrik. 

 3.Membantu: orang lain:  Membantu tetangga yang rentan selama krisis terjadi (apakah orang tua yang sudah tidak mampu mandiri, atau orang tua yang sudah sakit tua).

72 jam persiapan, adalah bagian yang penting dalam menghadapi krisis, jangan lengah dan tidak mempersiapikan diri.


When One Spouse Knows Everything, The Other is Left Helpness

One spouse knows everthing
freepik.com



Judul di atas memang lebih tepat dituliskan dalam bahasa Inggris ketimbang diterjemahaan dalam bahasa Indonesia. Pengertiannya lebih dalam jika ditulis dalam bahasa Inggris. Makna terjemahannya mungkin kurang tepat,

Jika pasanganmu (suami) mengendalikan semua aspek mulai dari keuangan hingga semua keputusan rumah tangga, maka pasangannya (istri) akan merasa tidak bermanfaat. Dalam sebuah keluarga memang tidak pernah ada yang sempurna . Namun, apabila ada situasi salah satu pasangan yang mengendalikan keuangan (finansial) dan mengatur seluru keputusan rumah tangga , hal ini akan menmibulkan rasa ketimpangan kekuasaan. Artinya pihak lain atau pasangan yang lain merasa tidak berharga, terkekang, dan tidak memiliki kebebasan.

Kondisi ini akan menimbulkan dan menciptakan ketimpangan kekuasaan, dimana pihak lain merasa tidak berharga, terkekang, dan tidak memiliki kebebasan. 

Untuk mengetahui kekuasaan atau control apa yang dilakukan oleh pasangan, berikut ini adalah rinciannya: 

1.Tanda-tanda finansial abuse: Membatasi akses uang: Pasangan menahan dana, membatasi akses ke rekening bersama, atau memaksa pasangan lain meminta uang untuk kebutuhan dasar. Menyembunyikan informasi: Pasangan tidak jujur mengenai jumlah pendaptan, utang atau aset. Mengontrol keputusan: Semua keputusan (pengeluaran, karier, hingga aktivitas sehari-hari) ditentukan oleh satu pihak. 

2.Dampak pada pasangan yang dikuasai :  Rasa tidak berharga: Pihak yang dikontrol merasa tidak dihargai, tidak dianggap sebagai mitra setara, dan kehilangan harga diri. Ketergantungan ekstrem: Terjebak dalam ketergantungan finansial, membuatnya sulit untuk mengambil keputusan sendiri atau keluar dari hubungan. 

3.Stres dan Cemas: Adanya tekanan emosional yang tinggi karena merasa tidak memiliki kebebasan. 

 4.Bahaya bagi hubungan Hubungan tidak sehat (Toxic relationship): Hubungan yang didasarkan pada manipulasi dan ketidakseimbangan kekuasaan , bukan kepercayaan 

5.Potensi perceraian: Ketimpangan ekonomi dan masalah control keuangan adalah salah satu penyebab utama tingginya angka perceraian. 

 Dampak psikologis Kondisi ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan seringkali berujung pada pelecehan finansial. Ketika salah satu pihak mengendalikan seluruh askes ekonomi dan keputusan, pasangan lainnya kehilangan otonomi dan harga diri. 

1.Kehilangan kepercayaan diri: Pasangan dikendalikan merasa “kerdil” dan tidak berdaya karena merasa harus minta izin untuk kebutuhan dasar. 

2.Isolasi: Ketergantungan finansial seringkali digunakan untuk membatasi interaksi sosial pasangan dengan dunia luar. 

3.Anxiety dan depresi: Perasaan terjebak dalam situasi yang tidak setara memicu stres kronis.

 Solusi dan Cara mengatasi: 


Apabila kekuasaan hanya pada suami sedangkan istrinya tidak dipercaya, istrinya tidak pernah diajak berkomunikasi, istrinya tidak pernah belajar berbagai aspek kehidupan, keuangan, hukum, dan lainnya . 

Hal ini bukan karena sang istri tidak mampu belajar, tetapi karena istri percaya suaminya sebagai orang yang pertama yang mengerjakannya. Jadi masalah utamanya adalah bukan karena bukan merasa seorang diri saja, tetapi karena “Ketidak pahaman “ apa yang seharusnya dikerjakan .

 Komunikasi terbuka: Mulailah bicara tentang literasi finansial dan tujuan bersama. Jika suami mengerti tentang keuangan, sedangkan pasangann tidak mengerti, maka suami harus melibatkan istrinya dalam hal keuangan untuk mencapai keseimbangan. 

Edukasi dan membangun kemandirian: Anda harus sadar bahwa anda adalah mitra bukan dominasi. Untuk bisa mandiri, mulailah menabung secara rahasia dan mengasah keterampilan yang dapat menghasilkan pendapatan. 

Transparansi keuangan: Buat rekening bersama atau sekpakai anggara bersama yang adil.

Tetapkan batasan : Tegaskan bahwa dalam hubungan, kedua belah pihak setara, meskipun ada perbedaan pendapatan. 

Cari Bantuan: Jika control sudah mengarah kepada kekerasan fisik/mental, konsultasikan kepada ahli atau konselor pernikahan. 

Jika ingin rumah tangga harmonis dengan kekuasaan seimbang, usahakan ada tugas suami dan istri yang  pembagiannya sebagai berikut ini:

Suami                                                                             
  • Jangan hanya menyimpan semua pengetahuan  
  • Melibatkan istrinya dalam aspek keuangan                   
  • Jelaskan apa pun meskipun istri tidak bertanya              
  • Siapkan kehidupan istri selanjutkan jika anda tidak ada


Istri
  • Selalu bertanya dirinya sendiri
  • Belajar keuangan dasar
  • Mengerti dimana dokumen disimpan
  • Ketergantungan membuat kerusakan diri sendiri

 Love should create helpessness. Knowledge should be share in every relationship 

Dr.Tushar Chokshi

Mengapa Menjalin Pertemanan Menjadi Lebih Sulit Seiring Bertambahnya Usia?

Menjalin pertemanan di usia lanjut
freepik.com



Ketika masih remaja, dengan sangat mudah saya bisa ikut berkumpul dengan teman baik itu teman sekolah, tetangga , komunitas, atau siapa saja yang saya temui dalam suatu kehidupan sosial. 

Meskipun saya tidak suka ikut pesta-pesta, tapi sekali-kali ikut teman yang merayakan ulang tahun di rumahnya, lalu berkumpul dengan teman-teman baru. Merasakan momen yang bahagia karena bisa merasa terhubung dengan orang /baru dalam waktu singkat. 


 Begitu juga menginjak kuliah, saya masih bisa menikmati momen-momen yang dekat dan intim bersama dengan teman se kos, dan teman sekuliah. Mudah sekali berkumpul, bercengkerama dan belajar bersama-sama dengan mereka yang seusia dan merasa saya tidak sendirian saja. 

Saat bekerja, kebersamaan dengan teman kantor baik yang satu bagian maupun di luar bagian , saya masih sering menjalin interaksi karena adanya hubungan dalam pekerjaan. Koneksi dengan klien juga sering terjadi. Bahkan, ada klien yang tetap menjadi sahabat pribadi saat saya resign dari kantor. 

Namun, seiring bertambahnya usia, masa pensiun pun tiba, saya merasa bahwa teman-teman lama saya satu persatu sirna. Jika ingin mendapatkan teman baru di komunitas, interaksi dan komunikasi kurang begitu lancar. Hal ini karena adanya gap masalah interaksi orang dewasa yang lebih tua , mendambakan koneksi sosial tapi kesulitan untuk bisa mendekati atau memenuhi kebutuhan interaksi dua orang yang sudah punya konsep diri sendiri. 

Apakah hal ini fenomena umum?


 Tidak semua orang mengalami kesulitan dalam kehilangan teman lama dan menemukan teman baru. Namun, faktor usia yang mulai menua , hubungan perteman yang terjalin di masa kanak-kanak, dewasa itu tidak mudah lagi terjalin karena masing-masing punya kegiatan dan kebutuhan yang berbeda.

Salah satu faktor yang berkontribusi kepada kesulitan pertemanan di usia dewasa tua adalah evolusi lingkaran sosial kita. Selama remaja, anak-anak kita dikelilingi dengan anak dan teman sebaya, kegiatan ekstrakurikuler, yang memberikan kesempatan kita untuk berinteraksi secara sosial dan pembentukan persahabatn. 

Nah ketika usia dewasa, lingkaran sosial kita secara bertahap mulai menyusut kecil, kita sendiri memprioritas tanggung jawab misalnya pekerjaan, rumah tangga, kegiatan pribadi. Penyempitan jaringan sosial ini sangat membatasi kesempatan untuk bertemu dengan orang baru dan membentuk hubungan yang bermakna. Apalagi jika di usia tua masih bertanggung jawab untuk pekerjaan, rumah tangga karena anak yang berkeluarga tinggal bersama-sama. 

Dalam suatu survey menunjukkan bhwa untuk membentuk persahabatan dibutuhkan 50 jam kontak dan 200 jam untuk membentuk persahabatan yang sangat erat. Padahal sekarang ini komunikasi persahabatan dapat dibentuk melalui aplikasi WhatsApplication. Aplikasi ini mempermudah membentuk grup persahabatan lama. Sayangnya, seringkali dalam grup persahabatan ini bukannya bererita atau menjalin komunikasi tentang kehidupan kita tetapi lebih seringnya membahasa tentang hal-hal politik , di luar masalah pertemanan. 

Hambatan yang lain yaitu sebagai orang dewasa senior, seringkali kita lebih selektif tentang jenis hubungan yang kita kejar. Tidak seperti di masa kanak-kanak, dimana persahbatan didasarkan oleh kedekatan dan tujuan aktivitas yang sama, orang dewasa justru membangun persahabatan kepada minat, nilai pengalaman hidup yang sama. 

Juga bertambahnya usia, kita mungkin menjadi pribadi yang lebih kaku dan kurang terbuka terhadap pengalaman dan perpektif baru. Hal ini disebabkan karena kita enggan untuk ke luar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal sedalam-dalamnya.

Mungkin juga ada pengalaman pahit dalam berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal sehingga membuat makin berhati-hati dan waspada dalam menjalin persahabatan baru. Hal ini tentu akan mempersulit proses dalam menjalin persahbatan baru. 

Strategi untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam pertemanan: 

1.Secara proakatif mencari peluang untuk interaksi sosial 


Bergabung dengan klub atau organisasi yang punya minat yang disukai. Misalnya suka yoga atau olahrga, bergabung dalam klub olahrga baik itu di kalangan lingkungan atau di kalangan organisasi tertentu. 

2.Fokus pada kualitas bukan kuantitas


 Apabila kita sudah menemukan pertemanan baru yang memiliki minat dan nilai tujuan hidup yang sama, kita bisa menginvestasikan waktu dan Upaya untuk membangun dan menjaga relasi sehingga ada rasa puas dengan perhasabatan ketimbang hanya sekedar perteman biasa. 

3.Bersikap terbuka dan menerima orang lain 


Kita harus ke luar dari zona nyaman kita. Selalu berusaha untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan membuat sudut pandang baru tentang orang yang baru kita kenal. Proses pertemanan dengan terbuka akan memperkaya kehidupan dan wawasan kita mengenal orang lain lebih dalam. Relasi di masa dewasa senior makin menyusut, tapi kita harus punya strategi yang membuat kita juga tak hanya bersikap apatis dia diri sendiri, tapi bersikap terbuka, proaktif dan menerima orang lain.

Hidup Lansia: Apakah Pilihan Hidup Mandiri Lebih Baik daripada Senior Living?"

Mandiri atau senior living
smiley-couple-with-drinks-side-view

Dalam dunia yang semakin berubah, banyak lansia yang menghadapi dilema besar—apakah hidup sendiri di rumah lebih baik atau memilih tinggal di tempat tinggal senior? Artikel ini membahas kelebihan dan kekurangan dari kedua pilihan tersebut untuk membantu lansia dan keluarga membuat keputusan yang tepat. 

Topik ini mungkin kurang pas bagi generasi Z dan X karena pasti belum waktunya untuk memikirkan hidup seorang lansia . Usia masih belia, kenapa memikirkan urusan usia lansia. Benar, jika Anda generasi X atau Z, masalah ini memang bukan untuk Anda sendiri tetapi untuk orang tua Anda yang sudah memasuki dunia lansia. 

Saya dan seorang sahabat yang berada di Amerika Serika memang sudah memasuki kategori ini. Jadi kami berdiskusi intens untuk memikirkan masa depan kami. Meskipun kami juga memiliki anak, sahabat saya memiliki dua orang anak dan saya seorang anak, tetapi kami sebagai orang tua yang terbiasa hidup mandiri (berdua dengan suami) dan punya otonomi untuk bebas menentukan, ingin membahas lebih lanjut keputusan untuk hidup kami di usia makin lanjut. 

 Makin tinggi usia, apalagi memasuki usia 70 hingga 80 an tentu fisiknya tidak sekuat dulu ketika masih usia 60 an. Kelemahan fisik karena sahabat saya mulai terkena  beberapa penyakit osteoporosis, gerd . Saya juga sudah punya koleksi penyakit tekanan darah tinggi, keloid , kolesterol tinggi. Setahun sekali selalu check up , ada saja pertambahan penyakit yang dikoleksi dan harus minum obat sehingga kadang-kadang obat yang satu berefek terhadap penyakit yang sudah ada sebelumnya. 

Kami berdiskusi tentang kebaikan dan keburukan apakah tetap hidup mandiri berdua atau mungkin sendiri jika salah seorang dari pasangan meninggal atau justru hidup di senior living.

Di senior living pasti ada kebaikan dan keburukannya. Jadi diskusi kami mulai dari hidup mandiri. Apa keuntungan dan kerugian hidup mandiri di rumah: 

Keuntungannya hidup mandiri adalah berikut ini: 


  • Kemandirian penuh: memiliki kendali penuh atas jadwal harian, makanan, dan privasi tanpa batasan.
  • Lingkungan familiar: Kenyamanan psikologis karena sudah berada di lingkungan rumah yang dikenal secara fisik dan emosional. 
  • Biaya operasional lebih rendah: Bagi emreka yang telah memiliki rumah sendiri (bukan sewa atau kontrak), biaya perawatan mungkin lebih murah. 
  • Dekat komunitas setempat: Mempertahankan kedekatan dengan tetangga, teman, tempat ibadah, atau toko lokal yang sudah dikenal.

 Kerugian di rumah sendiri: 

  • Risiko isolasi sosial: Jika sudah tidak mampu pergi kemana-mana, pasti tidak dapat bersosialisasi dengan tetangga atau teman-teman yang jauh. 
  • Beban pemeiliharaan: Tanggung jawab penuh atas pemeliharaan rumah, kebun, dan pekerjaan rumah tangga , bisa sulit secara fisik. 
  • Risiko keamanan dan kesehatan: Potensi yang sangat krusial adalah jatuh . Ketika jatuh dan hidup sendidri tidak bisa kontak keadaan darurat medis dan bantuan instan.
  •  Akses bantuan tertunda. Kesulitan transportasi: Mengemudi sudah tidak mungkin lagi, lalu cari transportasi yang harus menggunakan ponsel dan aplikasi, apakah masih mampu untuk menggunakannya.

 Sekarang kita bahas keuntungan dan kerugian hidup di Senior Living Di Indonesia tempat Senior Living sangat bervariasi atau beragam, baik dari segi fasilitas, harga maupun persyaratannya. 

Keuntungan tinggal di Senior Living: 


  • Keamanan dan bantuan 27/7: Staf dan sistem panggilan darurat sering tersedia dan memberikan ketengan pikiran bagi penghuni dan keluarga 
  • Sosialisasi terstruktur: Ada berbagai tawaran program dan kegiatan sosial yang dapat diakses oleh peserta baik di ruang makan komunal, di tempat ruang tertentu dan mengurangi kesepian. 
  • Bebas Repot pemeliharaan: Semua pemeliharaan, kebersihan, dan penyediaan makanan sudah ditangani oleh staf 
  • Akses layanan medis: Bantuan dengan manajemen pengobatan, transportasi dan janji ke dokter atau perawatan prbadi tersedia di tempat 

 Kerugian tinggal di Senior Living:


  • Biaya tinggi: Kita harus bayar biaya bulanan sangat mahal dan bahkan yang tidak punya dana passive income terpaksa jual property atau Tabungan.
  •  Kehilangan kemandirian: Harus mengikuti peraturan, jadwal makan/tidur dan struktur komunitas dan otomatis kurangi otonomi pribadi.
  •  Lingkungan asing: Membutuhkan penyesuaian besar untuk pindah dari rumah seumur hidup ke lingkungan baru yang jauh lebih kecil. 
  • Perasaan stigma /penuaan: Beberapa orang merasa “lebih tua” atau “Sudah tua” atau terbebani secara emosional karena pindah ke fasilitas semacam ini.

Keputusan terbaik ada di tangan kita masing-masing berdasarkan kepada kondisi ksehatan fisik, finansial , keingina prbadi akan prviasi dan kebutuhan dukungan sosial dan medis.

Total Tayangan Halaman