Tidak Mudah Dibeli

Tidak Mudah Dibeli
viva.co.id


Hari itu, bendera merah putih berkibar. Orang-orang datang menghadiri upacara kemerdekaan. Mereka berdiri rapi, memberi hormat, menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh khidmat.


Tetapi di antara suasana sakral itu, ada sesuatu yang ikut datang. Bukan hanya undangan. Bukan hanya senyum dan salam. Ada bingkisan. Ada souvenir. Ada pemberian yang dibungkus begitu indah. Sekilas, semuanya terlihat sebagai bentuk penghargaan. 


Namun, tidak semua yang dibungkus indah datang tanpa kepentingan. Kadang, sebuah hadiah bukan sekadar hadiah. Di baliknya bisa ada harapan agar seseorang merasa berutang. Ada keinginan agar sebuah tangan yang menerima, suatu hari mau membalas. Dan di situlah kita harus belajar membedakan: mana hak, mana pemberian. Mana penghargaan, mana upaya membeli loyalitas. Sebab hadiah tidak selalu indah dalam sekejap. 

Ada hadiah yang membuat kita tersenyum hari ini, tetapi diam-diam mengambil kebebasan kita untuk berkata “tidak” esok hari. 

Ada pemberian yang terlihat kecil, tetapi perlahan membuat prinsip menjadi mahal. Maka, menjadi manusia yang tidak mudah dibeli bukan berarti kita harus curiga kepada setiap pemberian. Tetapi kita harus cukup dewasa untuk bertanya: “Mengapa saya diberi?” Karena tidak semua yang diberikan kepada kita benar-benar cuma-cuma. 

Kemerdekaan seharusnya mengajarkan kita sesuatu yang sederhana: Jangan biarkan pemberian membuat kita kehilangan keberanian untuk berpikir. 

Jangan biarkan souvenir membuat kita lupa bahwa suara kita punya nilai. 

Jangan biarkan sesuatu yang kecil hari ini membuat kita kehilangan hak untuk memperjuangkan sesuatu yang jauh lebih besar bagi banyak orang. 

Kita boleh menerima kebaikan. Tetapi jangan pernah menjual prinsip karena kebaikan itu. 

Kita boleh menghargai pemberian. Tetapi jangan sampai pemberian membuat kita merasa harus menggadaikan loyalitas. 

Sebab hak rakyat bukan hadiah dari penguasa. Hak rakyat bukan souvenir yang boleh dibagikan ketika dibutuhkan. Hak rakyat adalah sesuatu yang memang menjadi milik rakyat. 

Seorang pemimpin harus memahami itu. Rakyat bukan komoditas politik. Rakyat bukan kumpulan orang yang bisa didekati ketika suara mereka dibutuhkan, lalu dilupakan ketika kepentingan sudah tercapai. 

Pemimpin tidak seharusnya sibuk bertanya, “Apa yang harus saya berikan agar mereka berpihak kepada saya?” Tetapi bertanya, “Apa yang harus saya perjuangkan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik?” Karena pemimpin yang benar-benar memahami rakyat tidak membeli loyalitas.

Ia membangun kepercayaan. Ia tidak membagikan hadiah untuk mendapatkan kesetiaan. Ia memberikan keadilan agar kesetiaan tumbuh dengan sendirinya. Dan akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan.

Kemerdekaan juga tentang memiliki keberanian untuk berkata: “Saya berterima kasih atas pemberianmu, tetapi prinsip saya tidak untuk dijual.” Sebab ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah bingkisan: harga diri. Dan ada sesuatu yang tidak boleh menjadi komoditas politik: rakyat. 

#HadiahBukanKomoditasPolitik #TidakMudahDibeli #Kemerdekaan

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman