![]() |
| freepik.com |
Generasi yang tumbuh dengan internet harus beradaptasi dengan dunia digital ternyata menghadapi tekanan unik yang sering berujung pada overthinking
Orang berpikir bahwa “overthinking” yang sebenarnya adalah kecemasan itu hanya milik orang tua saja. Persepsi demikian karena orang tua banyak pikiran karena bertanggung jawab atas kehidupan anak-anaknya dalam kondisi yang tidak stabil baik keuangan maupun politik.
Nach, kenapa kecemasan itu justru dimiliki oleh generasi Y yang notabene belum punya tanggung jawab besar seperti orang tuanya atau orang yang lebih tua dari generasi Y.
Jawabannya ternyata sangat mengejutkan sekali. Generasi Y itu adalah generasi yang sudah mengenal dunia digital sejak mereka menginjak dewasa. Ketika dunia digital memperkenalkan berbagai macam kehidupan,.
Cara pandang atau mindset mereka itu mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya di dunia media sosial. Bahkan, hal itu sampai mempengaruhi kesehatan mental secara siginifican.. Tekanan dari dalam (misalnya keluarganya) maupun dari luar (media sosial ) membuat mereka terus bergumul menghadapi tekanan yang kadang tidak disadari oleh para Generasi Y.
Ketika generasi Y berada di posisi transisi teknologi, dihadapkan ketidak pastian ekonomi, dan memikul ekspektasi sosial yang tinggi. Mereka sering membandingkan pencapaian dengan teman sebaya di internet.
Definisi kecemasan:
Kita perlu mengetahui perbedaan antara sesuatu yang nyata dan tidak nyata. Ketika kita memikirkan sesuatu yang nyata itu artinya kita takut . Sementara jika kita cemas masa depan itu artinya kita cemas pada sesuatu yang belum terjadi.
Ketika kita cemas, hal itu akan berdampak pada tubuh baik secara fisik maupun mental.
Kecemasan jauh lebih berbahaya bagi tubuh dan pikirian sehingga orang yang mengalami kecemasan secara berlebihan harus melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Penyebab dari kecemasan
1.Perrbandingan sosial: Tumbuh bersamaan dengan lahirnya media sosial membuat Gen Y sering membandingkan pencapaian hidup (Karier, pernikahan, finansial) dengan orang lain.
2.Kecemasan finansial dan karier: Berada di gejeloka ekonomi dan biaya hidup yang tinggi, memikirkan stabilitas masa depan menjadi beban pikiran konstan
3.Kultur “Hustle Custure: Adanya tuntutan untuk selalu produktif dan berprestasi membuat mereka kesulitan mematikan pikiran untuk beristirahat
Beda antara khawatir dan cemas:
1.Khawatir hanya ada dalam pikiran saja . Namun kecemasan , setelah dalam pikiran akan berdampak pada tubuh dan akhirnya pada fisik.
2.Kekhawatiran memicu pengidapnya untuk menyelesaikan masalah, sedangkan kecemasan tidak.
Kekhawatiran membuat kita selalu berpikir untuk menyelesaikan dengan solusi dan strategi itu. Sementara kecemasan hanya berputar-putar tanpa solusi yang efektif.
3.Rasa khawatir menyebabkan tekanan sosial ringan, sedangkan kecemasan memberi tekanan emosional yang parah
Kecemasan berdampak kondisi psikologis secara kuat dibandingkan dengan kekhawatiran. Oleh sebab itu kecemasan sangat mengganggu dan akan menimbulkan masalah pada pengidapnya.
4.Kekhawatiran itu disebabkan sesuatu yang nyata sedangkan kecemasan berasal dari sesuatu yang tanpa dasar.
Rasa khawatir terhdap situasi masalah yang nyata dan masuk akal. Contohnya kita takut dipecat karena kinerja kita semakin buruk.
Sementara cemas, itu merupakan kegelisahn yang muncul tanpa dasar dan situasi yang dihdapi. Contohnya kita jarang menyapa atasan, sehingga kita cemas mungkin ada hal negatif yang akan menimpa kita.
5.Kekhwatiran bersifat sementara dan singkat, tetapi kecemasan dapat berlangsung dalam waktu yang lama
Kekhawatiran itu biasanya bersifat sementara dan terjadi sebagai respons alami terhadap situasi tertentu yang menimbulkan ketidakpastian atau ketidaknyamanan.
Misalnya kita khawatir ujian presentasi yang akan kita hadapi. Meskipun sudah persiapan matang tetapi masih ada kekhawatiran apakah hasil belajar bisa berhasil atau tidak.
Sementara kecemasan tentang masa depan setelah lulus dari perguruan tinggi dimana generasi Y merasa sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Gangguan Mental yang sering dialami oleh Gen Z
Menurut penelitian dari American Psychological Association (APA) sekitar 91% Gen Z pernah mengalami salah satu gejala fisik atau emosional akibat stress. Misalnya merasa depresi, sedih, kehilangan minat, motivasi, atau energi.
Bagaimana menghilangkan kekhawatirann yang berlebihan?
Tidak mudah untuk memberikan rekomenasi bagi generasi Y agar tidak menggunakan media sosial supaya tidak timbul kekhawatiran bahkan kecemasan.
Untuk mengurangi stress atau kebiasaan berpikir berlebihan, berikut ini beberapa caranya:
1.Refleksi yang bermanfaat: sebagai alat introspeksi yang produktif yang memungkinan kita belajar dari masa lalu atau merencanakan masa depan secara konstruktif. Hal ini membangun wawasan , kecerdasan emosional, dan ketahanan.
2.Mengalihkan kebiasaan: misalnya kita membagi waktu untuk membaca atau scrolling media sosial yang dulunya bisa 1 jam, sekarang cukup 15 menit saja. Juga alihkan kebiasaan dari scrolling jadi mengerjakan hobi yang justru sangat produktif.
3.Mindfulness: adalah kesadaran tentang melatih pikiran untuk memisahkan antara kehawatiran yang realistis dari asumsi negatif yang belum tentu terjadi. (here and now).
4.Jurnal pemecahan masalah: Alih-alih memikirkan masalah secara abstrak, tuliskan di kertas dan pecah menjadi langkah-langkah kecil yang bisa kita tindak lanjuti.
5.Kurangi perfeksionisme: Tetapkan standar yang realistis. Hargai setiap proses dan usaha yang telah kita lakukan dairpada berfokus sepnuhnya pada hasil akhir.
6.Tujuan scrolling: Kita harus memahami bahwa tujuan scrolling bukan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain dalam pencapaian.

Tidak ada komentar
Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!