Rupiah Melemah terhadap Dolar AS, Warga Harus Apa? Ini Dampak dan Tips Menghadapinya

Rupiah Melemah terhadap Dolar
diappointed-young-pretty-asian-girl (sumber: Freepik.com)


Pelemahan rupiah sering terdengar seperti isu ekonomi yang jauh dari kehidupan warga biasa. Padahal efeknya bisa langsung terasa , harga elektronik naik, tiket pesawat jauh lebih mahal, biaya usaha meningkat. Daya beli turun. 
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, masyarakat perlu memahami dampak pelemahan rupiah sekaligus mengetahui langkah yang tepat menjaga keuangan tetap stabil. 


Saya melihat pergerakan Rupiah setiap hari sejak bulan Mei 2026, mencolok pelemahannya , awal Mei 2026 masih di Rp.17.300 Sekarang hari ini, 19 Mei sudah menyentuh Rp.17,719per dollar AS. 

Saya bukan orang desa,  juga bukan orang kota, tapi orang pinggiran Jakarta alias Tangerang Selatan. Tapi saya paham bahwa pelemahan rupiah ini bukan sekedar “omong kosong” tidak ada dampaknya bagi saya sendiri. 

 Sebagai ibu rumah tangga , saya sudah merasakan dampak atau efeknya ketika bulan April 2026, begitu sebulan setelah perang Iran-USA dan Israel terjadi, energi gas yang saya pakai sehari-hari untuk memasak naik 30%, LPG 12 kg dulu harganya Rp.Rp.210,000 sekarang sudah menjadi Rp.245,000 artinya ada kenaikan sebesar 16%. Belum lagi harga pangan yang sehari-hari saya beli misalnya tahun, tempe (menggunakan kedelai impor), lalu jagung (impor), gandum (impor) , Transportasi sehari-hari , bagi kendaraan mobil di atas 1500CC tidak bisa lagi gunakan bbm subsidi, kenaikannya pasti mengikuti harga pasar. 

Bayangkan ini baru sebagian kecil dari kenaikan, lalu bagaimana jika pelemahan rupiah setiap hari melemahnya cukup drastis , 99 poin dibandingkan sehari sebelumnya. Pelemahan ini telah mencapai 5 persen secara tahun kalender berjalan (year to date). 

Mengapa rupiah terus melemah tajam? 


Ada dua faktor yaitu eksternal dan internal. Yang pertama adalah faktor external, konflik Timur Tengah perang Iran vs Amerika serikat-Israel yang tak kunjung selesai. Harga minyak mental global langsung naik drastis di tiga bulan terakhir Indonesia sebagai negara importir minyak tak bisa lepas dari kenaikan harga minyak global dan hal ini membuat permintaan dolar AS jadi tinggi. Hal ini buat penguatan dolar AS dan sebaliknya pelemahan nilai tukar rupiah. Saat yang sama, para investor di negara berkembang seperti Indonesia, ingin menyelamatkan asetnya ke tempat yang paling aman . Imbasnya dengan outflow dana USD kembali ke negaranya, rupiah semakin jatuh.

Faktor kedua adalah tekanan domestic: Ada yang anggap bahwa pertumbuhan domestic di kuartal pertama tahun 2026 yang baru dirilis sebesar 5,61 persen itu sungguh angka yang fantastis. Kenyataan sektor riil justru terpukul karena berbagai kebijakan dan tata Kelola Pemerintah yang sulit ditebak. Program besar dan populis dari Pemerintah, MBG yang menyedot triliun dari fiskal, juga koperasi Merah Putih yang belum punya tujuan jelas ternyata membuang dana fiskal yang sedang “cekak” menjadi makin deficit. 

Sorotan dari sejumlah pemeringkat internasional seperti Moody’s Ratings, Fitch Ratings, dan S&P Global. Proyeksi peringkat utang Pemerintah Indonesia diturunkan dari stabil jadi negatif. Dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) pun melihat transparansi pasar Indonesia tidak ada. Bobot saham-saham Indonesia dalam indeks global banyak yang dikeluarkan. 

Langkah Pemerintah /Bank Indonesia 


Tujuh jurus yang dilakukan Bank Indonesia selaku stabilitas moneter, melakukan intervensi valuta asing besar-besaran , menarik modal asing melalui Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI), membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Lalu, BI akan jaga likuiditas di pasar dan perbankan tetap longgar, memperbesar intervensi di pasar non-delivery forward (NDF). Selain itu memperketat pembelian USD menjadi 25.00 dollar AS per orang per bulan.

 Kementrian Keuangan juga masuk ke pasar obligasi domestic untuk menahan kenaikan imbal hasil Surat Utang negara (SUN) agar tak memicu arus keluar modal . Intervensi pasar obligasi akan dilakukan dengan instrumen stabilisasi obligasi atau bond stabilization fund (BSF). Instrumen ini digunakan membeli kembali Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Intervensi akan dijalankan bertahap. Begitu cepatnya Pemerintah (Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan) melakukan intervensi. Namun apakah langkah itu hanya sekedar menunda (buying time) tekanan lebih lanjut) ? 

 Masalah utamanya justru bukan di aspek moneter tapi di tata Kelola kurang hati-hati di desain fiskal yang tidak jelas yang membuat investor menurun. 

 Apa langkah warga hadapi melemahnya rupiah? 


1.Mengatur dan merevisi budget rumah tangga


Dengan harga minyak goreng, gas, BBM yang naik, otomatis semua barang juga akan naik. Pendapatan kita tidak naik, sementara semua barang akan naik. Jika kita asumsikan inflasi mencapai 10-15% maka kita harus siap dengan menggerus Tabungan sebesar 10-15% karena pendapatan kita tidak naik. 

2.Mengurangi komoditas impor


 Saya sendiri bingung apa yang mesti dikurangi karena hampir semua pangan kita berasal dari impor. Apabila ada kenaikan dollar As maka imbasnya juga harga jual barang yang biasanya kita konsumsi akan naik. Terpaksa kita mengurangi pembelian kah? Seperti plastic, minyak, kedelai, terigu, gula pasir, dan lainnya. 

3.Menggunakan transportasi umum 


Salah satu produk impor Indonesia adalah bahan bakar minyak (BBM). Meskipun Pemerintah menahan kenaikan hampir satu bulan, tapi akhirnya untuk bahan bakar non subsidi pun mengalami kenaikan sesuai harga pasar. Anggaran rumah tangga untuk transportasi mobil , untuk pembelian BBM non subsidi membengkak. Kita harus mulai mengurangi atau berhemat dengan menggunakan transportasi umum. Meskipun transportasi umum , belum aman dan nyaman, tapi kita harus mulai melakukan kebiasan untuk memulainya .

 4.Membeli produk lokal 


Pergeseran untuk beli produk-produk lokal yang diproduksi dalam negeri. Sayangnya tidak semua barang impor punya substitusi seperti kedelai, terigu, tidak ada subsidinya. Jadi kita harus pandai mencari produk dalam negeri yang dapat menggantikan produk impor yang harganya sudah melambung. 

 5.Belanja di Warung 


Himbauan agar belanja di warung untuk bisa membeli produk yang proses produksinya dari bahan baku tidak terkait dengan nilai tukar dolar atau impor.

Kesimpulan

Dengan melemahnya Rupiah terhadap Dolar, harga makin meningkat, inflasi tinggi, daya beli turun, maka warga harus lakukan  pembenahan belanja atau budget rumah tangga.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman