Di antara dinginnya pegunungan, hamparan kebun the, aroma dodol yang khas, dan hangatnya keramahan warganya, Garut bukan sekedar tempat singgah, tetapi tempat yang diam-diam membuat hati ingin kembali.
Pagi buta jam 4.00 alarm berbunyi kencang. Yach biasanya jam segini, aku masih tidur nyenyak. Tapi pagi ini terpaksa buka mata karena harus siap-siap untuk berangkat jam 5:10 ke stasiun Gambir.
Tanggal 28 April 2026, memang sengaja pilih hari Selasa karena pikir jika berangkat weekdays , tempat seperti Garut tidak ramai dan berjejal. Semua pasti masih konsentrasi kerja dong!
Namun, begitu masuk taxi biru, supir taxi langsung tanya “Bu , yakin keretanya jalan?” Hati berdegung kencang, “Meman gada apa Pak?” tanyaku.
“Loh, kemarin malam jam 21.30 ada kecelakaan taxi lawan kereta, lalu kereta lawan kereta!” Wah aku makin bingung bisa ngga jadi nich berangkat!”
Lalu, aku tanya suami, “Apa ada pengumuman dari KAI tentang keberangkatan kita?” Dia berkata: “Ngga ada khan sudah semalaman, pasti evakuasi sudah beres!” katanya sambil meyakinkan.
Kami tiba di stasiun Gambir, masih sepi karena masih jam 6.00. Langsung face recognition karena saya sudah lama tak naik kereta api (data face recognition hanya 6 bulan dari keberangkatan terakhir). Akhirnya selesai itu, kami duduk sebentar sekitar 30 menit , setelah itu kami melihat di papan, KA Papandayan tidak ada cancellation sama sekali. Jadi kami naik ke platfom di atas.
Ngga disangka ternyata platform 1 tempat penumpang Agro Muria yang seharusnya berangkat jam 6.00 ternyata belum juga berangkat dan kereta belum muncul . Sementara ka Papandayan sudah muncul dan kami bisa masuk ke kereta.
Begitu kereta jalan, mendekati Stasiun Bekasi, jalannya makin lambat dan akhirnya berhenti. Tanpa ada pengumuman atau apa pun, kami harus menunggu hampir 2 l/2 jam. Permintaan maaf akhirnya didengungkan tanpa adanya penjelasan. Capai banget dech.
Itinerary yang disiapkan harus di skip beberapa karena waktunya tidak mencukupi.
Sukaregang
Tepat pukull 14.30 kami baru tiba di Garut, langsung menuju ke Sukaregang tempat UMKM yang berjualan produk kulit , dalam bentuk tas, Sepatu, dompet , sabuk. Wow, kualitasnya bagus, harga terjangkau. Waktu yang sangat singkat dan padat, kami hanya masuki 3 toko saja.
Setelah memilih dan mendapatkan produk yang sedang dicari, segera kami meluncur ke Kebun Bunga Situhapa. Sempat kaget tiba-tiba hujan keras di Garut, mau ke kebun yang tempatnya lebih tinggi dari Garut, apa ngga hujan juga, lalu gimana hujan mau lihat apanya? Ternyata, kami masih mendapatkan anugerah, cuaca terang benderang . Persis pukul 16.10 (jelang tutup jam 17:00) kami tiba di kebun Bunga Situhapa.
Kebun Bunga Sukaregang
Tiketnya per orang Rp.35.000 . Letak kebun ini 1.100 di atas permukaan laut. Dikelilingi oleh Gunung Guntur, Gunung Cikurai dan Gunung Papandayan.
Sepanjang mata memandang terlihat bunga-bunga yang bermekaran, mulai dari mawar dengan warna warni, ada 150 jenis . Ejosistem bunga mawar yang dirawat dengan baik.
Ada 500 jenis tanaman dan pepohonan di taman yang sejuk dan asri ini. Termasuk salah satunya Damask Rose, yang dibuat jadi minyak atsiri, air mawar dan the mawar. Juga aneka begonia, koleksi katus dan Agave. Bunga eksotik lainnya The Flame of Irian dan anggrek.
RM Botram dan Oleh-oleh
Selesai itu kami segera kami turun ke Garut, menuju tempat oleh-oleh yang terbesar di Garut. Cukup beli oleh-oleh makanan sebentar. Dilanjutkan makan malam , RM Botram Garut,. Areanya luas , nyaman dan ada dua jenis makanan . Yang pertama sudah disiapkan dengan aneka makanan siap saji, ada paket liwet , ayam bakar/goreng, gurami, jengkol, tahu, tempe aneka sambal. Paket Botram menu satuan, Western dan Chinese Food.
Lumayan enak dan gurih untuk pesanan paket ayam garangan.
Rancabango Resort
Selesai makan segera meluncur ke Hotel & Resort Rancobango, lokasinya dekat dan tidak jauh dari tempat makan. Berhubung waktu sudah cukup malam 19:30, kami langsung di antar ke kamar di hotel itu.
Esoknya saya sempat bangun pagi jam 6:00, penginnya jalan kaki sepanjang Resort, ternyata jam 6:00 pagi sudah terlalu siang karena banyak kendaraan dan saya melihat banyak sawah kiri dan kanan sudah begitu banyak bangunan baik itu tempat nongkrong permanen maupun Indomaret.
Hanya udara segar dari pegunungan Gunung Guntur. Perjalanan kakai itu dilanjutkan dengan makan pagi dan ambil foto untuk spot yang sangat cantik, sawah, tempat gapura bernuansa Bali dan jembatan yang sangat estetis.
Saya akhiri cerita perjalanan Garut ini, terlalu singkat jika hanya dua hari karena seharusnya tiga hari banyak tempat yang belum sempat dikunjungi seperti Kawah Kamojang dan tempat lainnya.
Tidak ada komentar
Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!