Mengapa Menjalin Pertemanan Menjadi Lebih Sulit Seiring Bertambahnya Usia?

Menjalin pertemanan di usia lanjut
freepik.com



Ketika masih remaja, dengan sangat mudah saya bisa ikut berkumpul dengan teman baik itu teman sekolah, tetangga , komunitas, atau siapa saja yang saya temui dalam suatu kehidupan sosial. 

Meskipun saya tidak suka ikut pesta-pesta, tapi sekali-kali ikut teman yang merayakan ulang tahun di rumahnya, lalu berkumpul dengan teman-teman baru. Merasakan momen yang bahagia karena bisa merasa terhubung dengan orang /baru dalam waktu singkat. 


 Begitu juga menginjak kuliah, saya masih bisa menikmati momen-momen yang dekat dan intim bersama dengan teman se kos, dan teman sekuliah. Mudah sekali berkumpul, bercengkerama dan belajar bersama-sama dengan mereka yang seusia dan merasa saya tidak sendirian saja. 

Saat bekerja, kebersamaan dengan teman kantor baik yang satu bagian maupun di luar bagian , saya masih sering menjalin interaksi karena adanya hubungan dalam pekerjaan. Koneksi dengan klien juga sering terjadi. Bahkan, ada klien yang tetap menjadi sahabat pribadi saat saya resign dari kantor. 

Namun, seiring bertambahnya usia, masa pensiun pun tiba, saya merasa bahwa teman-teman lama saya satu persatu sirna. Jika ingin mendapatkan teman baru di komunitas, interaksi dan komunikasi kurang begitu lancar. Hal ini karena adanya gap masalah interaksi orang dewasa yang lebih tua , mendambakan koneksi sosial tapi kesulitan untuk bisa mendekati atau memenuhi kebutuhan interaksi dua orang yang sudah punya konsep diri sendiri. 

Apakah hal ini fenomena umum?


 Tidak semua orang mengalami kesulitan dalam kehilangan teman lama dan menemukan teman baru. Namun, faktor usia yang mulai menua , hubungan perteman yang terjalin di masa kanak-kanak, dewasa itu tidak mudah lagi terjalin karena masing-masing punya kegiatan dan kebutuhan yang berbeda.

Salah satu faktor yang berkontribusi kepada kesulitan pertemanan di usia dewasa tua adalah evolusi lingkaran sosial kita. Selama remaja, anak-anak kita dikelilingi dengan anak dan teman sebaya, kegiatan ekstrakurikuler, yang memberikan kesempatan kita untuk berinteraksi secara sosial dan pembentukan persahabatn. 

Nah ketika usia dewasa, lingkaran sosial kita secara bertahap mulai menyusut kecil, kita sendiri memprioritas tanggung jawab misalnya pekerjaan, rumah tangga, kegiatan pribadi. Penyempitan jaringan sosial ini sangat membatasi kesempatan untuk bertemu dengan orang baru dan membentuk hubungan yang bermakna. Apalagi jika di usia tua masih bertanggung jawab untuk pekerjaan, rumah tangga karena anak yang berkeluarga tinggal bersama-sama. 

Dalam suatu survey menunjukkan bhwa untuk membentuk persahabatan dibutuhkan 50 jam kontak dan 200 jam untuk membentuk persahabatan yang sangat erat. Padahal sekarang ini komunikasi persahabatan dapat dibentuk melalui aplikasi WhatsApplication. Aplikasi ini mempermudah membentuk grup persahabatan lama. Sayangnya, seringkali dalam grup persahabatan ini bukannya bererita atau menjalin komunikasi tentang kehidupan kita tetapi lebih seringnya membahasa tentang hal-hal politik , di luar masalah pertemanan. 

Hambatan yang lain yaitu sebagai orang dewasa senior, seringkali kita lebih selektif tentang jenis hubungan yang kita kejar. Tidak seperti di masa kanak-kanak, dimana persahbatan didasarkan oleh kedekatan dan tujuan aktivitas yang sama, orang dewasa justru membangun persahabatan kepada minat, nilai pengalaman hidup yang sama. 

Juga bertambahnya usia, kita mungkin menjadi pribadi yang lebih kaku dan kurang terbuka terhadap pengalaman dan perpektif baru. Hal ini disebabkan karena kita enggan untuk ke luar dari zona nyaman dan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal sedalam-dalamnya.

Mungkin juga ada pengalaman pahit dalam berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal sehingga membuat makin berhati-hati dan waspada dalam menjalin persahabatan baru. Hal ini tentu akan mempersulit proses dalam menjalin persahbatan baru. 

Strategi untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam pertemanan: 

1.Secara proakatif mencari peluang untuk interaksi sosial 


Bergabung dengan klub atau organisasi yang punya minat yang disukai. Misalnya suka yoga atau olahrga, bergabung dalam klub olahrga baik itu di kalangan lingkungan atau di kalangan organisasi tertentu. 

2.Fokus pada kualitas bukan kuantitas


 Apabila kita sudah menemukan pertemanan baru yang memiliki minat dan nilai tujuan hidup yang sama, kita bisa menginvestasikan waktu dan Upaya untuk membangun dan menjaga relasi sehingga ada rasa puas dengan perhasabatan ketimbang hanya sekedar perteman biasa. 

3.Bersikap terbuka dan menerima orang lain 


Kita harus ke luar dari zona nyaman kita. Selalu berusaha untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan membuat sudut pandang baru tentang orang yang baru kita kenal. Proses pertemanan dengan terbuka akan memperkaya kehidupan dan wawasan kita mengenal orang lain lebih dalam. Relasi di masa dewasa senior makin menyusut, tapi kita harus punya strategi yang membuat kita juga tak hanya bersikap apatis dia diri sendiri, tapi bersikap terbuka, proaktif dan menerima orang lain.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman