![]() |
| freepik.com |
Bayangkan listrik padam, komunikasi terputus, dan toko-toko tutup. Dalam situasi seperti itu, 72 jam pertama bukan tentang kenyamanan—melainkan tentang bertahan hidup.
Mengapa kita harus mengubah mindset untuk selalu bersiap-siap?
Suatu hari, di Whatsapplication keluarga , salah seorang anggota bertanya kepada saya, apakah kakak saya tinggal di Belanda sudah menerima pamplet dari pemerintah Belanda “72 jam persiapan”. Saya jawab, sudah terima karena memang sehari sebelumnya saya bicara dengan kakak di Belanda. Bersiap diri sesuai dengan petunjuk buku panduan .
Mindset kuno mengatakan bahwa bersiaplah ketika bencana datang. Namun, sekarang hal ini telah berubah sama sekali, bersiaplah sebelum bencana datang.
Bencana apa yang harus disiapkan? Kita hidup dalam dunia fana yang penuh dengan dinamika global, lokal, ekologis. Ada banyak bencana baik itu kasat mata maupun tidak. Bencana yang kasat mata seperti banjir, longsor, gunung meletus, kecelakaan. Sementara bencana yang tak kasat mata, peperangan.
Peperangan di era kini bukan dengan senjata, tetapi dengan bom nuklir, penghentian listrik, mematikan internet, merebut tempat strategis seperti tempat senjata dan lainnya.
Siapa yang berperang? Dulunya orang menyangka bahwa perang itu hanya terjadi di tempat yang rawan perang seperti Iran, Suriah, Libia,
Ternyata, hampir semua negara di Eropa yang dikenal dengan keamanannya (pengertian keamanan di sini adalah keamanan dari gangguan peperangan) sekarang mulai terusik dengan masalah keamanan.
Fakta menunjukkan bahwa hampir semua negeri termasuk negera Eropa tak lepas dari rasa was-was akan timbulnya perang . Dalam dunia global yang sedang memanas kondisinya, dimana Amerika menginginkan “mencaplok” sebuah tempat yang dinamakan “greendland”.
Keinginan Amerika Serikat untuk “mencaplok” greenland" menjadi symbol atau tanda bahwa Amerika Serikat sebagai pendiri NATO telah mengingkari sendiri deklarasi NATO , salah satunya adalah antar sesama negara NATO dilalrang untuk “mencaplok” negara itu.
Tidak dipungkiri ketika keinginan “mencaplok” itu semakin di depan mat akita, Ruia pun mulai bergerak untuk mengincar semua persenjataan atau titik lemah dari setiap negara NATO. Termasuk salah satunya adalah Belanda.
Pemerintah Belanda yang keren
Menyadari keterbatasan pemerintah Belanda untuk melindungi seluruh warganya dari serangan negara lain, maka dengan tanpa malu-malu pemerintah menyebarkan suatu pamplet.
Pamlet atau buklet informasi bertajuk "Bereid je voor op een noodsituatie" (Bersiaplah untuk Keadaan Darurat) adalah bagian dari kampanye "Denk Vooruit" (Berpikir ke Depan) yang diluncurkan oleh pemerintah Belanda. Buklet ini didistribusikan kepada 8,5 juta warga dari bulan November 2025 hingga Januari 2026 untuk meningkatkan kemandirian warga dalam menghadapi krisis selama 72 jam pertama
Apa isi pamplet itu?
Daftar panduan mandiri 72 jam itu meliputi:
1.Daftar perlengkapan Nampung (emergency kit) Ada tas darurat yang berisi: Air dan makanan: minimum 3 liter air per orang per hari dan makanan tahan lama (kalengan, kacang-kacangan, buah kering).
2.Komunikasi & informasi: Radio bertenaga baterai atau putar (mendengarkan siaran darurat) , ponsel terisi penuh, power bank
3.Penerangan & kehangatan: Senter dengan baterai Cadangan, lilin , korek api tahan api, dan selimut hangat atau kantong tidur.
4.Uang tunai: disarankan menyimpan sekitar Euro 70 orang dewasa dan Euro 30 per anak dalam bentuk uang kertas dan koin, kemungkinan mesin ATM tidak berfungsi saat pemadaman listirk.
5.Kesehatan & higienitas: Kotak3P, obat-obatan pribadi, tisu basah, pembersih tangan, kertas toilet, dan perlengkapan sanitasi.
6.Dokumen: Salinan paspor, daftar nomor telepon penting (tertulis), kunci Cadangan, peluit untuk menarik perhatian dan peralatan multifungsi (pisau, tang).
Skenario kritis yang diantisipasi
Peristiwa yang diantisipasi akan terjadi dimana layanan pulbik akan terganggu, seperti:
1.Gangguan digital: Serangan siber yang melumpuhkan internet, sinyal telepon, atau sistem pembayaran.
2.Pemadaman listrik masal (blackout): Terhentinya pasokan listirk dalam waktu lama.
3.Cuaca ekstrim dan bajir: Dampak perubahan iklim atau bencan alam.
4.Ketegangan geopolitik: Ancaman kemanan nasional yang dapat menggangu rantai pasokan.
Langkah darurat untuk kondisi emergency:
1.Siapkan Tas darurat: Selalu stand by tas darurat dengan barang-barang penting di salah satu tempat yang mudah dijangkau.
2.Buat rencana darurat: Berdiskusi dengan keluarga terdekat apa yang harus dilakukan jika harus mengungsi atau tetap di rumah tanpa listrik.
3.Membantu: orang lain: Membantu tetangga yang rentan selama krisis terjadi (apakah orang tua yang sudah tidak mampu mandiri, atau orang tua yang sudah sakit tua).
72 jam persiapan, adalah bagian yang penting dalam menghadapi krisis, jangan lengah dan tidak mempersiapikan diri.

Tidak ada komentar
Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!