Keranjang Takakura, Salah Satu Cara Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca dan Zero Waste

Masih ingatkah kita dengan aksi suporter Jepang yang memungut sampah di sekitar GBK Senayan? 


 Aksi viral itu sangat menampar kita sebagai tuan rumah yang seharusnya menjaga kebersihan Gedung GBK dari sampah, tapi justru suporter yang jauh datang dari Jepang yang membersihkannya. 

Bukan sekali saja supporter Jepang itu melakukan bersih-bersih sampah di tempat umum, saat Piala Dunia 2022 di Qatar, aksi bersih-bersih yang dilakukan oleh suporter Jepang pun sangat menarik perhatian semua orang. 

Setelah pertandingan usai, mereka tetap mengenakan pakaian nasional dan memungut sampah berupa botol-botol dan bungkus makanan yang ditinggal oleh penonton di tribun. Budaya bersih-bersih sampah itu bukan sekedar pencitraan tetapi menjadi suatu kebiasaan dan budaya agar hidup manusia itu yang menciptakan sampah tetap harmoni dengan lingkungannya. Caranya mudah sekali yaitu dengan memelihara dan merawat bumi dari sampahnya. 

Sebenarnya apa yang terjadi dengan bumi tempat kita berpijak? 

zero waste
sumber:  coral.org.com


Bumi kita sudah rusak. Adanya perubahan iklim yang terjadi secara global di seluruh dunia makin panas dan cuaca anomali. Global warming atau perubahan iklim panas disebabkan oleh Lapisan Gas Rumah Kaca (GRK) yang terbentuk, salah satunya Gas Metana dan CO2. 

Gas Metana ini dihasilkan oleh pembusukan sampah organik di TPA. Penyumbang emisi karbon terbesar gas metana adalah sampah. Sampah organik yang ditumpuk dan tidak diolah dengan baik menyumbang 20% emisi methane, 80 kali terkuat seperti CO2. Semua berasal dari Tempat Penampungan Akhir (TPA).

Kesimpulannya emisi gas metana dari sampah ini menyebabkan perubahan iklim . Kontribusinya secara global mencapai 70% dari gas rumah kaca dan sampah plastik dengan proses “life cycle” . 

 Gerakan untuk Zero Waste Cities

zero waste
sumber: ydbb.com


Secara legal, kita sudah memiliki Undang Undang no.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, mengurangi sampah dari sumbernya adalah tujuan utama bagi TPA agar tidak ada lagi tragedi Leuwigajah, korban meninggal karena tumpukan sampah tidak dikelola dengan baik.

Kegagalannya adalah bagaimana menerapkan penanganan sampah berwawasan lingkungan, yang menghasilkan system pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Mother Earth Foundation (MEF) suatu Lembaga nirlaba dari Philipina yang berhasil mewujudkan prinsip Sustainable Solid Waste Management

Di Indonesia, YPBB dibawah pengawasan MEF mengembangkan model pengelolaan sampah. Selama 2 tahun dalam waktu intensif 6-9 bulan dilakukan oleh 2 kelurahan dan 2 kecamatan di Kota Bandung dan 5 desa di Kabupaten Bandung dan Cimahi. 

Dari Pemilahan hingga Kompos “Keranjang Takakura” 

zero waste
sumber: ypbb.com




 Memilah sampah organik dan anorganik itu mudah loh? Mudah bagi mereka yang mau berkomitmen untuk melakukannya.  

 Yuk, kita harus berkomitmen bahwa sampah itu adalah dari kita yang menghasilkan dan kita yang mengelolanya. Setiap hari tumpukan sampah dari dapur sebelum memasak. Sisa makanan yang tidak sudah tidak dikonsumsi dibuang bersama dengan sisa-sisa sayur yang tidak diolah. 

Kita harus dengan aktif mengolah dan memilah sampah organik dari sampah anorganik seperti kemasan botol, kardus, kertas. Setelah dipilah, kita masukkan masing-masing sampah ke dalam box bekas atau kaleng bekas. 

Petugas sampah akan tetap memilah sampah organik dan anorganik dalam pengumpulannya. Sementara sampah anorganik kita kumpulkan untuk dikirim ke pemulung. Pemulung akan mendaur ulang atau menyerahkan untuk dijual kepada pengepul. 

Untuk sampah organik yang telah diambil oleh petugas sampah, akan diolah menjadi kompos di Tempat Penampungan Sementara (TPS) sebelum diangkut ke TPA atau Tempat Pemprosesan Akhir. 

Biasanya TPS berbentuk wadah untuk menampung sampah warga di sekitarnya dan kapasitasnya sesuai dengan jumlah potensi sampah warga. 

Beberapa cara pengomposan:

 1.Batu Terawang 

zero waste
YPBB.com


Sarana untuk pengkomposan sampah organik menggunakan susunan bata berbentuk kubus dan tidak rapat. Tujuan rongga agar masuknya oksigen dan membantu terjadi proses pembusukan atau pengomposan. 

Proses: 




  • Memasukkan sampah organik dari lubang bagian atas 
  • Menutup dengan kompos atau tanah , perbandingan volume kira 1 sampah organik: 2 kompos/tanah
  •  Tutup kembali tutupnya 
  • Isi secara rutin sampai bata terawang penuh selama kurang 60 minggu sejak pengisian pertama
  • Bila panen tiba, buka tutup bagian bawah Ambil kompos yang sudah jadi dengan sekop Bagian yang berukuran besar bisa dikembalikan ke dalam bata terawang kompos bisa diayak.

 2. Kompos “Keranjang Takakura”

zero waste
Sumber: ypbb.com


 Ide kompos keranjang Takakura diperkenalkan oleh Koji Takakura. Seorang ahli kimia terapan dari Himeji Institute of Technology Japan. Prinsipnya adalah mengurangi timbunan sampah dengan Keranjang Takakura. Beberapa negara sudah mengadopsi dengan system kompos dengan teknologi yang sangat sederhana dalam skala rumah tangga.

Proses pengomposan ala keranjang Takakura merupakan pengomposan aerob, dibutuhkan udara sebagai asupan penting dalam proses pertumbuhan mikroorganisme yang menguraikan sampah jadi kompos. Masukkan sampah ke dalam keranjang setiap harinya dan lakukan kontrol suhu dengan cara pengadukan dan penyiraman air. 

 Manfaat Zero Waste 

zero waste
dokpri-canva.com


 1. Lingkungan 

Jika pengolahan sampah dilakukan dengan memilah sampah dengan benar, maka lingkungan sekitar kita akan terlihat bersih dan kesehatan pun akan terjamin aman.

 2. Sosial 

Komunitas dalam setiap lingkungan yang melakukan pengolahan sampah menjadi zero waste dengan benar dan baik, akan mudah mengakses kesehatan karena Kesehatan yang tetap terjaga.

 Jika Komunitas untuk pemilahan sampah telah terbentuk, maka mereka akan bersama-sama untuk mengurangi sampah untuk mengurangi emisi karbon 

3.Ekonomi 

Petugas pengumpul sampah yang terlibat dalam pengangkutan sampah dapat mengurangi kemiskinan karena mereka mendapatkan uang extra dari penjualan dari sampah anorganik dari pengepul.

 4. Politik 

Tentunya partisipasi dari para politisi agar mereka membantu dan mendukung program zero waste ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mereka dalam pencapaian kurangi sampah secara nasional.

Skenario terbaik untuk pengelolaan sampah (di kota Bandung) Tahun 2030

zero waste
sumber : ypbb.com


 Secara global, Indonesia telah melakukan komitmen pada Conference of Parties (COP) 15 pada tahun 2009 untuk menurunkan emisi Gas Rumah kaca (GRK) sebesar 26% . 

Komitmen ini diperkuat dengan Nationally Determined Contribution (NDC) pada November 2016 ditempatkan sebesar 29% sampai 41% pada tahun 2030.

Bandung  telah jadi role model untuk Zero Waste Cities, melalui YPBB melakukan riset dengan beberapa skenario yang terbaik untuk tahun 2030.

 Ada 3 skenario yang diusung baik dari segi treatment maupun strategi terbaiknya. Dari segi semua unsur treatment dibandingkan dengan strategi Business as usual, incinerator maupun ROD to ZW 2030, ternyata secara moderat pemilihan terbaiknya adalah pengurangan di sumber. 

Zero waste
sumber: ypbb.com


 Mengapa? Karena dengan kapasitas dan usaha yang sangat minimal pun, hasilnya paling besar yaitu dapat mengurangi 13% dari total timbunan , pada akhirnya berdampak pengurangan di TPA sebesar 62% (13% pengurangan di sumber, 49% dari sampah terolah). 

 Pemilahan sampah dalam rangka Zero Waste 


Di tempat pemukimanku belum adanya program Zero Waste. Namun, sejak aku mengenal program Zero Waste yang sering aku ikuti dalam webinar YPBB maka kesadaranku tentang memilah sampah sudah tumbuh.

 Caraku memilah sampah : 

zero waste
dokumen prbadi- canva


🔺Untuk sampah organik: aku kumpulkan dan pada hari yang telah ditentukan akan diambil oleh petugas sampah dan diangkut ke TPA

 🔺Untuk sampah anorganik bentuk kertas, botol plastik, aku berikan kepada pemulung yang setiap hari berkunjung.

 🔺Untuk sampah anorganik bentuk plastik kresek, sachet , aku kirimkan ke Rebrick (tempat daur ulang).

 🔺Untuk sampah wadah, kaleng, botol kaca, doos aku kirimkan ke bank sampah terdekat. 

🔺Aku sedang melakukan eksperimen Eco -Enzyme.
Eco-enzyme jadi salah satu cara untuk mengurangi sampah TPA, mengurangi produksi metana, mencegah pemanasan global. 
Zero Waste
dokpri. 


 Cara sederhana

  • Sisa buah dan sayuran dipotong sesuai ketersedian waktu masing-masing. Usahakan sebanyak mungkin bahan buah/sayuran. Semakin banyak jenis semakin kaya hasil Eco Enzyme. 
  • Bersihkan sisa buah busuk dari kulitnya Timbang sesuai yang diinginkan. Cuci dan rendam selama 30-40 menit .
  • Bersihkan wadah dari sisa sabun. Ukur volume wadah, masukkan air bersih sebanyak 60% volume wadah. Masukkan gula merah, 10% dari berat air sampai larut, campur dengan air (air keran, air hujan, air buangan AC).
  •  Beri label tanggal pembuatan dan panen, Aduk pada usia 1 minggu.
  •  Periksa pada usia 3 minggu .
  • Tutup rapat diamkan selama 3 bulan. 

Yuk , kita semua ikut aktif berpartisipasi dalam pemilahan sampah dari rumah. Dari rumah sebagai sumber sampah yang utama, untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca. Kita selamatkan bumi dari perubahan iklim.

 Sumber referensi: 

  • 5 Alternatif Cara Menyuburkan Tanah ala Zero Waste Cities: ypbbblog.blogspot.com 
  • Patut Dicontoh! Aksi Suporter Jepang Turun Tangan Bersihkan Sampah di stadion Piala Dunia: https://www.liputan6.com/citizen6/read/5132255/patut-dicontoh-aksi-suporter-jepang-turun-tangan-bersihkan-sampah-di-stadion-piala-dunia
  •  Laporan Zero Waste to Zero Emission
  •  Ringkasan Eksekutif Laporan Zero Waste to Zero Emission 
  • Video Kompak Pilah Sampah dari Rumah


7 komentar

  1. Hebatnya nih Jepang selalu melakukan aksi bersih bersih di manapun ia berada. Kita jadi malu nih

    BalasHapus
  2. Wah bisa dilakukan dengan sampah rumah tangga dulu ya mba. Bisa dicoba nih dirumah, daripada langsung buang-buang gitu aja. Seengganya mulai aja dulu ya mba

    BalasHapus
  3. memang benar, pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan harus dimulai dari diri kita sendiri.

    BalasHapus
  4. Yups setuju sekali kak, sampah itu dari Kita, Maka memang seharusnya dari rumah Kita harus benar-benar memilahnya serta mengupayakan belajar zero waste ya

    BalasHapus
  5. Salut, sama suporter Jepang. Memang kebiasaan membuang sampah sembarangan ini seakan menjadi habit di masyarakat kita. Di sisi yang lain pun, penanganan sampah dari pemerintah masih belum optimal.

    Dan hal ini bisa teratasi jika dan hanya jika, kita mulai dari lingkungan terkecil kita untuk bijak memilih dan memilih sampah dan tujuan pembuangannya.

    BalasHapus
  6. sampah ini masih menjadi pe er yang harus diselesaikan yaa. Kita bisa berpartisipasi menjaga lingkungan dengan mulai dari hal-hal kecil di rumah, misal jangan membuang sampah sembarangan dan sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik

    BalasHapus
  7. Takjub banget sama budaya bebersih ala Jepang ya Bu. Budayanya bukan cuma di negara sendiri, dibawa juga sampai ke lintas negara.

    Btw, seru sekali baca artikelnya. Banyak edukasi baru yang aku dapet.

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman