Heni Sri Sundani, Perempuan Inspiratif Mengentaskan Kemiskinan dengan Pendidikan

“Aku percaya jika pendidikan itu bisa memutuskan rantai kemiskinan. Aku sudah membuktikan sendiri aku dari keluarga yang sangat miskin, bahkan makan nasi sehari sekali sudah sangat bersyukur,” tutur Heni. 
Sumber:  https://www.liputan6.com/lifestyle/


Heni panggilan Heni Sri Sundarni, seorang anak perempuan tinggal di desa, kota Cimahi. Hidup bersama ibunya di rumah gubuk . Kemiskinan sudah dirasakannya sejak ibunya bercerai dari ayahnya. Untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, ibunya terpaksa bekerja sebagai buruh di luar kota. 

Dia tinggal bersama neneknya di rumah gubuk yang hampir rubuh. Nenek juga tak punya pekerjaan tetap. Dalam kemiskinan itu, keinginan bersekolah Heni tetap teguh. Halangan apa pun tak membuatnya gentar. 

Lokasi sekolahnya jauh dari rumah. Dia harus menempuh selama satu jam untuk bisa sampai ke sekolah. Tapi semangat untuk sekolah tetap menggelora. Dia tak pernah mengeluh meskipun tempat sekolah jauh dari rumahnya. Dilakoninya dengan senang hati. Dari kecil dia sudah gemar membaca. 

 Begitu bel sekolah berbunyi untuk istirahat, semua teman Heni pergi ke kantin atau makan bekalnya. Tidak dengan Heni yang tak punya bekal makan atau uang. Dia mengendap-endap pergi ke perpustakaan, di sanalah dia membaca dengan tenang sampai bel berbunyi. Hal ini dilakukannya sejak dia sudah bisa membaca hingga ke kelas 6 SD. 

Ketika Ujian Nasional SD diadakan, Heni dengan tekun belajar sendiri tanpa bimbingan siapa pun. Tanpa disangka-sangka, nilai dari hasil ujian Nasional Heni sangat membanggakan. Dia bisa menyelesaikan dan menamatkan SD dengan nilai SD yang tertinggi di sekolahnya. 

Cita-citanya untuk tetap bisa melanjutkan ke SMP meskipun cibiran dari teman-temannya. Mereka menganggap anak perempuan cukuplah sekolah SD , apalagi ekonomi keluarga Heni yang miskin. Heni tak pernah mengeluh meskipun kesulitan bertubi-tubi datangnya, tidak punya dukungan moral maupun biaya, jarak sekolah yang jauh. 

Kondisi ekonomi keluarga memburuk ketika ibunya tidak lagi bekerja sebagai buruh pabrik karena neneknya mulai sakit-sakitan. Namun, semangat dan tekad Heni untuk tetap melanjutkan sekolah SMP tetap tinggi dan optimis. 

Dengan bekal uang pesangon ibunya, Heni mendaftarkan diri ke SMP Kecamatan tempat ia tinggal. Lokasi SMP ini letaknya sangat jauh dibandingkan dengan sekolah SD. Dia harus menempuh selama dua jam perjalanan dengan berjalan kaki ke sekolah dan dua jam saat pulang ke rumah. 

Selesai sekolah SMP, Heni masih punya impian untuk melanjutkan sekolah di SMK. Meskipun Heni sadar bahwa tidak ada biaya untuk sekolah SMK , Heni terpaksa bekerja sebagai ART, berjualan jilbab dan menawarkan usaha jasa pengetaikan kepada teman-temannya. Kegigigihan dan keuletannya membuat Heni berhasil menyelesaikan SMK. 

Heni masih punya impian besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia ingin menyandang gelar sarjana supaya dia bisa mengajar. Namun, Heni bingung dari mana dana untuk bisa melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. 

Tercetuslah ide yang tak pernah terpikirkan, Heni memutuskan untuk menjadi TKW. Dia berpikir uang hasil kerja TKW itu akan digunakan untuk belajar. Sambil bekerja, dia ingin terus melanjutkan kuliah. Namun, ide yang mengejutkan itu tak disetujui oleh ibu dan neneknya. Mereka sangat menentang karena rasa takut kehilangan Heni dan berita buruk tentang TKW . 

Setelah melalui proses yang sangat panjang, akhirnya ,Heni berhasil merayu ibu dan neneknya . Heni mulai belajar di Balai Latihan Kerja selama hampir 4 bulan. Dia mendapat pekerjaan sebagai baby sitter di Hongkong. Heni selalu berpikir untuk bisa mengubah nasibnya bukan sekedar jadi babysitter di Hongkong. 

Tanpa sepengetahuan majikan pertamanya, dia selalu menggunakan waktu hari liburnya dengan kuliah di Diploma 3 IT Sanit Mary’s University. Dia dapat memiliki akses perpustakaan yang gratis. Dari hasil jernih payahnya, dia bisa membeli laptop. 

Kegemaran membaca digunakan untuk menulis artikel . Artikel itu dikirimkan ke koran, majalah,tabloid berbahasa Indonesia di Hongkong. Dia mengikuti berbagai lomba. Kemampuannya makin terasah . Sambil kuliah, dia bisa mendapatkan uang tambahan. 

Sayangnya dia tak betah bekerja di majikan pertama yang tak memberikan hak-haknya . Lalu, Heni mencari majikan kedua. Beruntung Heni mendapat majikan , Keluarga Lam yang memberikan kesempatan dan mendorongnya untuk belajar. Setiap bulan, Heni selalu menyisihkan dan mengalokasikan gajinya untuk membeli buku-buku. 

Selama hampir 6 tahun di HongKong, ia telah memiliki 3000 buku. Ia mendaftarkan diri untuk kuliah di kampus Sanit Mary’s University. Dia mengambil bidang bisnis di jurusan manajemen wirausaha. Selama di Hongkong dia telah menghasilkan 17 buku dan dipublikasikan di Hongkong maupun Indonesia. 

Keberhasilan Heni untuk menggapai cita-citanya menjadi sarjana dengan predikat cum laude. Heni kembali ke Indonesia. Hal ini sebagai pemenuhan permintaan nenek dan panggilan jiwa Heni untuk mengajar sebagai guru di kampungnya dan mengubah wajah kemiskinan di kampungnya. 

Koleksi buku-buku yang dikumpulkan di Hongkong itu menjadi modal utama saat Heni pulang ke kampung halamannya. Di kampungnya, Heni membangun sebuah perpustakaan pertama yang sederhana. Tepatnya Taman Bacaan yang disebut dengan Gudang Ilmu di Ciamis. Dari perpustakaan ini Heni ingin mengenalkan buku, program sederhana seperti komputer sampai internet kepada anak-anak. Itulah cita-cita Heni sejak kecil, menjadi guru. 

Perpustakaan yang dibuatnya ini adalah sebuah mimpi yang diwujudkan untuk mengentaskan kemiskinan . Kuncinya pengentasan kemiskinan hanya dengan pendidikan. 

Berangkat dari situ, Heni lalu membangun suatu komunitas disebut “Anak Petani Cerdas”. Komunitas dengan tujuan pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan pemberdayaan. Kegiatan komunitas ini adalah memberikan pendampingan belajar, beasiswa dan upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi bagi anak-anak petani dan keluarga marjinal.  Jumlah anak didik sebanyak 7500 anak.

Dana untuk kegiatan pendidikan itu pasti besar. Tapi Heni tak pernah kehilangan akal, dia yang pernah merasakan hidup yang tersulit dan percaya bahwa keberhasilan akan dicapai jika kita punya tujuan hidup. Tujuan hidup harus focus . Ketika rintangan dan halangan besar datang, tidak akan membuat tujuan hidup jadi sirna. Ada semangat yang membara untuk bisa mengatasinya. 

Dalam “Anak Petani Cerdas” ada 3 program yaitu “Local Heroes Scholarship”, “Beasiswa Anak Petani Cerdas” dan “Donatur Cilik”. Masing-masing program itu mendapatkan bantuan dana dari para donatur maupun mitra kerja/perusahan. Pelaksanaan program dibantu oleh para relawan. Dana dari donatur itu akan disalurkan ke masing-masing peserta program. Begitu banyak anak petani yang miskin menjadi peserta . Mereka diberikan kesempatan untuk belajar dan didampingi melalui Empowering Indonesia Foundation.

Saat melihat anak-anak Petani itu berhasil menyelesaikan dan menyandang sarjana seperti dirinya, Heni merasa sangat terharu dan bangga karena ada Heni-Heni lain yang bisa dan mampu mengentaskan kemiskinan. 

Disamping itu Heni masih membangun “Agroedu Jampang Community” untuk mendampingi dan mengedukasi petani di berbagai pelosok Indonesia melalui program Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat. Jumlah keluarga yang didampingi 355 keluarga di seluruh Pelosok mulai dari Aceh hingga Papua. 

 Itulah sekelumit kisah pejuang pendidikan yang sangat inspiratif memperjuangkan pendidikan ditengah kemiskinan hidupnya. Tak pernah berhenti untuk terus untuk “empower” anak-anak miskin petani maupun anak petani. Bahkan, merambah kepada proyek sosial seperti pembuatan MCK, Mushola untuk pelosok .

 

Sumber referensi:

  • Profil Heni Sri Sundani;   viva.com
  • Instagram Heni Sri Sundarni
  • Linke

 


Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman