Saya Tidak Tua, Tetapi Senior. Belajar Tak Pandang Usia

Senior Tak Pandang Usia

 

Menyambut hari Senior bukan sekedar retorika ritual upacara atau pesta.
Jam berlalu, hari cepat berlalu. 
Usia terus bertambah dengan cepatnya berlalunya hari. 
Fisik makin rentan sakit.
Semangat untuk belajar tetap membara. 
Mengisi kehidupan dengan karya yang bermanfaat 

Tanggal 29 Mei adalah Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) . Hari peringatan itu tujuannya untuk mengingat memberikan perhatian kepada para lanjut usia. 


Senang bukan bagi kita yang sudah lanjut usia mendapatkan perhatian baik dari keluarga maupun pemerintah. Namun, apakah cukup kita menikmati kebahagiaan yang datangnya dari orang lain bukan dari diri kita sendiri? 

Hakiki kebahagiaan utamanya dari diri sendiri , dimana kita masih menggunakan passion, talenta untuk orang lain walaupun dalam keterbatasan fisik maupun pemikiran.

 Kenapa kita mesti abaikan stigma negatif ?


Kita semua tak bisa menolak usia lanjut yang menghampiri, fisik makin menurun . Bahkan ada beberapa teman senior yang sudah mulai merasakan sakit kakinya . Ada yang operasi lutut, ada yang tak bisa berjalan karena kaki di bagian bawah menderita “arthiritis” 

Lalu timbullah stigma melekat dengan usia senior, usia senior sudah waktunya untuk berhenti beraktivitas dan duduk manis di rumah, mengasuh cucu. Jika kita mengikuti apa yang didengungkan dengan stigma, alangkah menderitanya para senior. Fisik yang sudah rentan sakit, masih harus menerima tudingan bahwa kita harus berdiam diri demi kenyamanan palsu .

Pilihan yang tepat bagi para senior ada di tangan kita masing-masing. Menyerah atau memperjuangkan bonus usia yang diberikan oleh Tuhan kepada kita dengan berkarya. Karya yang bermanfaat bagi orang lain. 

Banyak sekali tawaran untuk berkarya sesuai passion, ada yang suka berkebun, fotographi, bermain musik, bernyanyi, menulis. Untuk menulis, banyak kategori tulisan yang dapat dilakukan seperti tulisan ilmiah, non ilmiah. Khusus untuk non ilmiah, ada tulisan prosa maupun puisi. 

Mengadopsi misi dari Komunitas 50 yaitu “Truly life begins at 50”. Memaknai usia bukan dari kemunduran tetapi dari kebahagiaan dan syukur untuk mengisi sisa kehidupan yang dianugerahkan kepada kita. 

Lalu, bagaimana  cara jika kita belajar untuk mengejar passion yang diinginkan? Ada banyak kesempatan atau peluang yang dapat kita ambil untuk dapat belajar mengasah ketrampilan. Salah satunya adalah menulis. Menulis tidak hanya untuk curahan hati semata-mata, tetapi menulis dengan makna terdalam dan punya nilai-nilai yang bisa ditinggalkan kepada generasi selanjutnya .

Cara untuk Menulis


“Saya ingin sich menulis, tetapi saya belum bisa menulis. Namun, saya tak mengetahui bagaimana caranya?” tanya seorang teman.

Inilah waktu tepat untuk belajar menulis dan menerbitkan buku.  Komunitas 50+ yang dipimpin oleh Pak Jim Mintarja  mengadakan  Seri webinar dengan empat sesi bertemakan “Kiat Menulis dan Menerbitkan Buku di Usia 50+” .   Webinar telah dimulai sejak 22 Mei yang lalu, berikutnya 29 Mei, 5 Juni dan 12 Juni 2022. 

Apa yang kita dapatkan dalam 2 webinar yang sudah diikuti: “Membuat Pembaca Jatuh Cinta “ oleh William Win Yang, adalah webinar pertama yang saya ikuti. Judulnya saja sudah membuat kita ingin sekali mengikuti. 

Ternyata apa yang disajikan,dipaparkan oleh William (panggilan dari William Win Yang), cara menyajikan konten yang dapat membuat pembaca jatuh cinta, sangat fantastis. 

Saya terpana dengan quote yang disajikan oleh sang masterpiece dari 3 buku bestseller “How to be A Taipan”, “The Dragon Slyaer Strategy”, “Secret of the Dragon” “No one can create masterpiece. The masterpiece will choose you to create them”.

Buku-buku masterpiece yang diterbitkan oleh William , dijelaskan bagaimana cara penyusunannya. Menyusun buku dimulai dari opening, ending, cut properly, mystery, enlighting. 

Misteri jadi bagian penting agar apa yang kita janjikan kepada pembaca, jika kamu membaca buku ini pasti kamu akan mendapatkan ……… 

Tehnik yang saya kagumi untuk bisa dipraktekkan adalah “AHA” moment. Mencari momen yang super tepat untuk bisa membuat pembaca mendapat pencerahan ketika membaca buku kita. Contoh buku tentang dunia bisnis. 

Tehnik lain yang saya dapatkan dari William , “Alfa & Omega”. Artinya pembuka dan penutup adalah sesuatu yang maha penting untuk dikemas. Pembuka yang baik akan membuat pembacara serius untuk meneruskan keinginan membaca lebih lanjut. 

Penutup bukan suatu kesimpulan atau hanya sekedar penutup tanpa kesan. Tetapi berikan kesan mendalam apa yang sudah dipelajari dari buku yang dibacanya. Setelah pembuka dan penutup dibuat, barulah kerangka disusun. 

Selama ini saya justru terbalik, saya membuat kerangka lebih dulu ketimbang pembuka dan penutupnya.


 “Tertib Menulis” oleh Teha Sugiyo. Diawali dengan presentasi menggambarkan arsitektur dari Ibukota Baru . Detail dari suatu bangunan itu harus teliti, rinci dan tidak boleh melupakan yang terkecil sekali pun. Apabila terlupa, maka bagian yang kecil itu membuat bangunan itu kehilangan nilai estetikanya. Itulah kata pembuka dari Bapak Teha, panggilan dari Teha Sugiyo. 

Apa bagian yang kecil? Tertib dalam tata tulis mulai dari ejaan, diksi, kalimat, sampai paragraf. 

Serasa kuliah di malam hari, Pak Teha menjelaskan ejaan itu bisa dilihat dari KBBI, diksi diperkaya sesuai yang tepat /tidak multi tafsir, kesesuaian pendengar/pembaca dan kalimat mulai dari kalimat efektif dengan paragraph yang jelas.

Berbagai jenis karya tulis baik itu non ilmiah maupun non ilmiah dipaparkan agar kita mengetahui bagaimana menulisnya masing-masing kategori itu. 

Belajar Tanpa Henti 


Kesempatan dan peluang tidak datang untuk kedua kali. Ketika saya sendiri melamar suatu magang CopyWriter di kantor digital marketing. 

Prosesnya ketat sekali, saya diminta untuk membuat contoh tulisan yang temanya sudah disiapkan. Setelah proses seleksi, saya diminta untuk mengirimkan CV. Menunggu dengan “deg2-an” apakah proses bisa dilanjutkan atau tidak. Ternyata, saya diperkenankan lanjut ke tahap berikutnya yaitu interview.

Begitu saya melakukan tatap muka secara online dengan founder, saya merasa agak terkejut, usia founder ini seusia dengan anak saya.

“Bu, apakah serius mau belajar, Ibu  tertua diantara kandidat lainnya, semuanya anak kuliah” tanya founder. 

“Jika saya diizinkan, kenapa tidak?" jawab saya.

Ini tantangan saya untuk belajar dunia baru untuk penulisan digital, SEO CopyWriter. Akhirnya, saya dinyatakan lulus interview.

Saya mengikuti pembelajaran yang cukup serius dan berat.  Riset, Review, Reflection. Untuk design thinking, tahapnya sangat panjang, mulai dari explorasi,identifikasi, ideasi, visualisasi, evaluasi dan presentasi.

Perlunya suatu riset agar artikel tidak overgeneralisation,  premature closure dan halo effect.

Salah satu konsep /model riset yang umum digunakan dalam dunia bisnis adalah 4C Diamond : Model to analyse Business Landscape, terdiri dari change, competiton, company, customer.

Pembelajaran masih akan terus berlanjut dengan teori "Framework  of SEO CopyWriter" , untuk mempraktekkan teori yang sudah dipelajari.   Tantangan berat karena risetnya ribet banget!

Usia bukan angka, usia 50+ menjadi Senior merupakan tantangan dan momen untuk berkarya, bermanfaat , hidup berkualitas dengan kemampuan yang dianugerahkanNya.

1 komentar

  1. Luar biasa bu Ina. Saya dukung dan doakan ibu sukses. Gbu.

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!

Total Tayangan Halaman