Multitasking Bukan Sekedar Mengejar Waktu . Dampak Buruk Multitasking


 
 
Lupa bukan sekedar tidak ingat. Tetapi ada penyebab dari lupa itu sendiri. Dua minggu yang lalu, ketika saya selesai masak. Saya akan berangkat ke supermarket. 
 
Tiba-tiba ingat bahwa ada yang terlupakan saat masak bakso yaitu belum memberikan bumbu bawang putih goreng. Lalu saya masak lagi Begitu selesai memasak, mobil untuk ke supermarket telah datang. Segera saya meninggalkan rumah . 
 
Namun, saat saya tiba di supermarket, pikiran saya masih melayang apakah benar-benar saya sudah mematikan kompor atau belum?” 
 
Hal ini tentu saja menimbulkan kegalauan. Suami saya terpaksa pulang ke rumah untuk mengecek dan memastikan apakah benar-benar kompor sudah dimatikan. 
 
 Beberapa hari setelah peristiwa di atas terjadi, saya sedang mengukus sayur kacang panjang . Saya tinggalkan untuk mengerjakan hal yang lain itu menulis. 
 
Tiba-tiba dari dapur terdengar suara “kerotak” dan bau hangus. Segera saya menghampir dan ternyata apa yang saya kuku situ nyaris “gosong”. 
 
Memaknai dua peristwa yang berturut-turut terjadi, saya mulai berpikir apakah saya sudah mulai “Alzheimer”. Ketika saya buka di google, pengertian dari Alzheimer adalah mengalami gangguan daya ingat yang sifatnya ringan atau pikun, misalnya nama bedan, tempat, atau kejadian . 
 
Namun, untuk peristiwa yang baru saya alami itu bukan Alzheimer, tetapi gejala “multi-tasking”. Sebagai ibu rumah tangga, ada dua -tiga pekerjaan rumah tangga yang ingin cepat diselesaikan. Berpikir bahwa sembari masak bisa menyelesaikan menyapu atau mengepel. 
 
Sayangnya, jika pekerjaan tidak diselesaikan satu persatu, tapi ingin menyelesaikan sekaligus dua pekerjaan dalam waktu yang sama (multitasking) , ternyata  tidak efektif dan justru menimbulkan dampak bahaya kebakaran.
 
 Berikut ini beberapa dampak buruk pekerjaan yang multi-tasking: 
 

Mengurangi Produktivitas 

 
Menurut penelitian Guy Winch, PhD, dalam situs Health, ketika suatu pekerjaan memerlukan perhatian dan produktivitas, kerja otak pun terbatas. Kita harus focus terhadap satu hal saja tidak boleh mencoba lebih dari satu hal. 
 
Lebih baik tidak membela diri bahwa pekerjaan multi-tasking itu membuat pekerjaan cepat terselesaikan. Namun faktanya, ketika Anda melakukan dua pekerjaan sekaligus artinya perhatian anda juga terbelah atau terpecah menjadi dua bagian . 
 
Hal ini tak produktif dan tidak focus. Contoh lain, selain membalas email, anda juga menelpon. Ketika anda kirim email ternyata apa yang anda kirim itu salah kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Kesalahan fatal bukan. 
 

Membuat Kinerja Anda Melambat 

 
Mengganggap multitasking atau dua pekerjaan dilakukan bergantian akan cepat terselesaikan ternyata tidak terbukti. Faktanya pekerjaan yang dilakukan pergantian, justru diselesaikan dalam waktu yang lebih lama. Contohnya jika orang yang menyetir dan menelpon. Sampai ke tujuan akan lebih lama ketimbang menyetir tanpa harus diganggu dengan menelpon. 
 

Kesalahan yang terjadi 

 
Suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli membuktikan bahwa orang akan kehilangan produktivitas sekitar 4% dan tak bisa lepas dari kesalahan jika melakukan pekerjaan multitasking
 
Ketika satu grup atau kelompok diminta untuk mengerjakan dua tugas secara bersamaan. Hasilnya ternyata ada kesalahan yang terjadi . Hal ini disebabkan olhe karena aktivitas sel saraf hanya ada di satu sisi bagian konteks prefrontal (perencanaan, pengaturan , penyelesaiaan, masalah, kepribadian). 
 
Jika diperhadapkan tugas yang lebih besar, maka timbullah kesalahan dalam pengerjaan karena otak kita tidak siap dan tidak bisa focus dengan dua hal yang bersamaan. 
 

Membuat lebih stres 

 
Bagi mereka yang bekerja dengan tekanan yang melebih kapasistasnya, tentu denyut jantung akan dipompa lebih cepat. Contohnya ketika orang sedang menghadapi ujian, kita harus belajar. Tapi saat yang sama kita pengin nonton televisi. Tidak mungkin hal itu terjadi karena akan timbulkan tekanan dan membuat stress lebih cepat. 
 

Kehilangan detail yang penting

Multitasking, dua atau lebih pekerjaan yang ingin dilakukan sekaligus karena dianggap dua pekerjaan pekerjaan itu ringan. Contohnya membaca dan menonton. Ternyata hasilnya tidak memuaskan. Ketika sedang menonton, dia kehilangan hal yang penting dalam bacaan karena otaknya terdistraksi dengan apa yang dilihatnya . 
 

Kesimpulannya: 

 
Tidak perlu lakukan multi-tasking dalam waktu yang bersamaan. Selesaikan satu persatu pekerjaan. Hasilnya jauh lebih memuaskan dan tidak menimbulkan dampak negative seperti stress , kebakaran (karena bahaya memasak ditinggalkan).

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!