Senyum Pemulung Menyemai Harapan

Wajah pemulung Muhamad Saputra di Kampung Pemulung di Jalan Haji Sarmili Jurangmangu , Pondok Aren, Tangerang Selatan, penuh dengan peluh. Sengatan matahari di kulit muka dan tangannya tak menyurutkan dirinya untuk mengais barang sisa kebakaran .

Senyum Pemulung Menyemai Harapan
jakarta.tribunews.com
 

Matanya menatap sedih dan sendu, tempat dan rumah yang jadi sandaran hidupnya selama ini telah ludes dimakan si jago merah, api.
Hanya dalam waktu 9 jam Kampung Pemulung Jl.Haji Sarmili, berpenduduk100 rumah hangus terbakar. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 25 Agustus 2021 yang lalu

 

. “Aku tak punya tempat berlindung lagi, semua sudah menjadi tanah lapang rata”, ujar Muhammad Saputra. Muhammad adalah hanya segelintir anak dari 100 keluarga pemulung yang tinggal di Perumahan Pemulung Jl. Haji Sarmili.. 
 
Rumah semi permanen atau dikenal dengan rumah bedeng itu dihuni oleh para pemulung dengan keluarganya. Lingkungan yang tak sehat terlihat dengan banyak tumpukan barang hasil pemulung . Tumpukan seperti seng, kaleng-kaleng bekas, plastik dan besi-besi dibiarkan tertumpuk. 
 
Tumpukan barang itu tentunya menjadi sarang binatang seperti tikus, nyamuk. Ketika hewan-hewan itu berkeliaran di rumah pemulung, akan menimbulkan penyakit . 
 
Selain masalah lingkungan yang tak sehat, masalah ekonomi dan sosial yang tumpang tindih. Para pemulung hanya mengandalkan hidupnya dari memulung sampah. Sampah yang dianggap menjijikan oleh sebagian masyarakat.
 
Kemiskinan membuat para pemulung yang telah menikah, memiliki anak tidak punya akses  kesehatan maupun  pendidikan formil. 
 
Pendidikan formil itu tak bisa mereka peroleh karena suami-istri pemulung yang menikah itu tak punya surat menikah yang resmi. Mereka tinggal di pemukiman pemulung tanpa identitas resmi, baik itu KTP maupun KK (KTP yang dimiliki hanya KTP daerah asalnya).
 
 Ketika istrinya melahirkan, anak-anak itu tidak terdaftar dalam akte lahir karena tidak adanya surat nikah.. Akibatnya anak yang tak punya akte lahir itu tak punya akses untuk masuk sekolah. 
 
Akhirnya sang anak hanya bisa bekerja sebagai pemulung atau pengamen tanpa pekerjaan tetap karena tak ada pendidikan yang formal yang mereka peroleh.
 
 Apabila anak pemulung menikah dengan mereka yang punya profesi yang sama, maka hal yang sama akan terjadi kembali. 
 
Mereka tidak bisa akses ke bidang pendidikan karena tidak adanya identitas yang dimilikinya. Lingkaran setan itu tak pernah berhenti.selama mereka tak memiliki identitas diri yang resmi. Untuk mendapatkan identitas dibutuhkan biaya, dimana mereka tidak punya dana itu.  Kondisi sosial ekonomi yang buruk akan terus menimpa keluarga pemulung. 
 
Seorang pemerhati dan pegiat lingkungan sosial ,Siti Salamah tergerak hatinya untuk mengubah dan memperbaiki masalah sosial, kesehatan, lingkungan di Kampung Pemulung di Cipadu, Jl.Sarmili, Kreo dan beberapa tempat di daerah Tangerang Selatan dan Tangerang. Pemulung harus diberdayakan untuk mengubah stigma negatif dan menaikkan taraf kehidupan mereka yang terpinggirkan dan termajinalkan.
 
Siti Salamah dipanggil sebagai Siti dan dikenal sebagai pegiat sosial, menggandeng temannya bernama Ranitya Nurlita. Kebetulan Nurlita baru saja pulang dari kunjungan ke Colorado dalam rangka Youth Forum
 
Nurlita melihat bagaimana proses pengelolaan sampah di Colorado yang sangat bersih, tidak bau sama sekali, rapi , dilakukan dengan teknologi tinggi. Hasilnya lingkungan bersih, nyaman dan ramah sampah. Apa yang dilihatnya di Colorado sangat berbeda sekali dengan yang dilakukan di Bantargebang, 
 
Di Bantargebang, sampah dipilah kembali, sebagian diproses jadi kompos dan sisanya dipadatkan jadi bukit sampah. TPST (Tempat Pembungan Sampah Terpadu) Bandargebang jadi tempat pembuangan sangat aktif. 
 
Cara dan ide pengelolaan sampah seperti di Colorado tidak mungkin diterapkan di Indonesia. Di sana pengelolaan sampah mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Di sini dikelola oleh Pemerintah Daerah dengan keterbatasan teknologi dan dana.
 
Senyum Pemulung Menyemai Harapan
Siti Salamah's dokumentasi

Pemberdayaan pemulung dengan memberikan sosialisasi pengolahan sampah melalui memilah jenis sampah antara organik dan inorganik, mengumpulkan sampah inorganik dan menyerahkan kepada bank sampah. 
 
Sementara sampah organik dikelola menjadi kompos.. Hasil dari penyerahan sampah di bank sampah, digunakan untuk penyambung kehidupan keluarga pemulung. Ada pendapatan tetap itu membuat para pemulung lebih tenang hidupnya. 
 
Kehadiran tim dari para pegiat sosial, Ranitya Nurlita, Siti Salamah, Arsad Aji Anto, dan Mohammad Yususf Yusuf sangat membantu pengembangan pengelolaan sampah melalui teknologi.. Tim yang solid, masing-masing dalam kesibukan pekerjaan tetapnya, mereka masih ikut kepesertaan dalam kompetisi. 
 
 Mereka mengikuti suatu kompetisi. Kompetisi yang diikuti itu adalah Youth Action Forum, diikuti oleh 60 pemuda se- Indonesia. Dalam kompetisi itu tiap kelompok diminta untuk memaparkan proposal .
 
 Kelompok Siti , Nurlita dan Yusuf mengajukan proposal dengan gagasan untuk pengembangan, mentoring para pemulung dengan kolaborasi dan terintegrasi menggunakan teknologi. Teknologi yang terintegrasi untuk proyek, program dan ide untuk program baru.
 
Teknologi yang diusulkan bernama wastehub.id Setiap orang bisa menjadi pemimpin dalam arti pemimpin yang menghubungkan antara pemberi proyek dengan pelaku proyek . Pemberi proyek adalah perusahaan atau instansi, sedangkan pelaku proyek adalah pemulung sendiri. Akhirnya, proposal itu berhasil menjuarai kedua .
 
Teknologi wastehub.id adalah wadah untuk sosial bisnis dengan tujuan untuk membangun pengumpulan sampah melalui ekonomi sirkular dan menggunakan pendekatan teknologi. 
 
Produk yang ditawarkan mulai dari kerja sama dengan bisnis usaha (contohnya suatu event), hingga manajemen pengelolaan sampah (contohnya memberikan training kepada institusi atau Kelompok Masyarakat. Proyek bagi pemulung 
 
Senyum Pemulung Menyemai Harapan

Salah satu proyek yang diperoleh dari wastehub.id adalah event organizer yang diadakan di ICE BSD. Event ini cukup besar diikuti oleh ratusan penyewa stan. 
Senyum Pemulung Menyemai Harapan
sumber:  Siti Salamah.

 
 
Acara berlangsung tiga hari. Event organizer menghubungi pegiat sosial melalui wastehub.id untuk pengelolaan sampah . Mereka mengharapkan selesai acara, Gedung tempat acara di ICE BSD kembali bersih.
 
Proses pertama adalah cara mengedukasi pengunjung tentang sampah. Sampah-sampah dipilah ditempat sampah sesuai jenisnya (organik, inorganik, mengandung zat yang membahayakan).
 
 Proses kedua, pengunjung diminta membuang sampah di tempat sampah terpilah. Proses selanjutnya, tiap malam sebelum stan tutup, para pemulung/relawan bekerja mengumpulkan/mengangkut tempat sampah ke area kepul. 
 
Mereka memilah sampah yang jumlahnya cukup banyak . Selama tiga hari itu ,total pengumpulan sampah sebanyak hampir 6 ton. Sampah organik yang dihasilkan selama acara , diolah menjadi pupuk kompos. 
 
Sedangkan sampah inorganik diserahkan atau disalurkan ke bank sampah terdekat . Sedangkan sampah organik akan diolah menjadi kompos. Hasil kompos itu bisa dibagikan kepada peserta penyewa . Para penyewa sangat menghargai kerja para pemulung itu. 
 
Bekerja di suatu event besar, Pemulung pun akan mendapat penghasilan yang jauh lebih besar ketimbang mereka memulung di tempat lingkungan perumahan. 
 

Pendidikan anak Pemulung

 
siti Salamah's doc

Sebagian besar anak-anak yang lahir di Kampung Pemulung tidak bersekolah formal. Kesulitan mulai dari ekonomi karena tidak mampu bayar hingga tidak adanya identifikasi KTP /KK, surat nikah dari orangtuanya. 
 
Kondisi sosial yang memprihatinkan itu, membuat para pegiat sosial membantu mereka untuk memiliki KTP, Surat Nikah dengan mengadakan kerja sama dengan RT, RW dan kelurahan setempat. Dana yang dikumpulkan dari sponsor digunakan untuk pengursan surat-sruat itu.
 
Sekarang, sebagian besar dari pemulung sudah punya identitas itu. 
Senyum Pemulung Menyemai Harapan
Siti Salamah's doc

 
 
Selain itu pegiat mengadakan kegiatan mengaji dan belajar agama bagi anak pemulung di Taman Magrib Mengaji pada saat Magrib -Isya. 
 
Khusus bagi anak pemulung yang serius untuk belajar secara informal maupun formal, pegiat bekerja sama dengan beberapa sponsor. Mereka yang pandai dalam akademis akan mendapat beasiswa untuk mengambil paket kerja A,B, hingga C. 
 
Untuk pendidikan formal tentunya ada pendekatan yang dilakukan dengan kerja sama dari sponsor Homeschooling Kak Seto. 
 
 Gerakan Aku Cinta Indonesia merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap hari Kemerdekaan Repbulik Indonesia dengan pelbagai acara. 
 
Program Aku Bersamamu, merupakan program yang dibuat untuk teman-teman disabilitas khususnya tulis, tuna rungu yang berada di Kawasan sekitar kota Tangerang.Kegiatannya berupa pelatihan Bahasa syarat, belajar Bahasa Indonesia untuk teman tuli tuna rungu. 
 

 Dampak pandemi 

 

Sejak pandem merebak, perbagai event maupun kerjasama dengan perusahaan yang ingin agar sampah dikelola oleh para pemulung, dikansel semuanya. 
 
Rumah-rumah di lingkungan membatasi diri dengan portal, pemulung dilarang masuk. Bagaikan petir di siang hari , kegagalan proyek kerja sama itu jadi kesedihan yang mendalam bagi para pemulung. Harapan untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp.200.000-Rp.300.000 per hari sirna. 
 
Dalam ruang gerak yang terbatas , pegiat sosial pun mulai mengumpulkan ide baru apa yang dapat dilakukan bagi para pemulung bisa tetap punya pekerjaan dan mendapatkan uang. 
 
Pembinaan para pemulung untuk dapat mandiri dengan training . Setelah adanya bekal training itu , pemulung mulai bergerak untuk bisa menawarkan diri untuk pekerjaan jadi petugas tetap pengelola sampah di suatu lingkungan. 
 
Pembinaan untuk mengundang aktivis daur ulang . Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan para pemulung dapat membereskan semua sampah inorganik yang perlu didaur ulang, dibuat menjadi barang yang bisa dijual seperti tas, kerajinan tangan. Wastehub.id memfasilitasi promosi hasil kerajinan tangan daur ulang itu. 
 
Para pegiat bersama pemulung mengadakan program “Pilah Sampah dari Rumah”, program “Penjaja Sampah”. Kedua program ini diutamakan bagi para bunda, ibu-ibu yang telah memilah sampahnya dapat memanggil koordinator pemulung atau pegiat untuk mengambil sampah inorganik(paling sedikit sebanyak 5 kg). Sampah yang diambil itu akan dikirim ke bank sampah. Dengan adanya program ini pemulung masih dapat bernafas lega untuk mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya. 
 
Gerakan dan program di atas dulunya sempat berhenti, sekarang terus berlanjut, pemulung yang dulunya sangat terpuruk saat pandemi karena tidak ada pemasukan uang dari event besar atau perusahaan, sekarang mulai semangat bekerja . 
 
Senyum lega atas usaha keras melawan kemiskian melalui pegiat sosial masih terus diperjuangkan . Pemerintah Tangerang Selatan menjanjikan 44 rumah kontrakan sebagai pengganti rumah yang terbakar.  Kesejahteraan keluarga jadi landasan kuat agar mereka tidak lagi jadi masyarakat yang terpinggirkan, termarginalkan. 
 
Diharapkan warga masyarakat tidak menutup ruang gerak para pemulung, berikan kesempatan kepada para pemulung untuk dapat mengangkat harkat hidup mereka. 
 
Tangerang Selatan, 25 Desember 2021
 
 Ina Tanaya

9 komentar

  1. masalah pengelolaan sampah emang udah jadi masalah yang cukup besar di negara kita. karena berhubungan dengan orang-orang yang berada dan bekerja di daerah TPA atau TPS. benar seperti kata bu ina bilang, soal kesehatan , kesejahteraan dan pendidikan terabaikan. beruntung masih ada orang - orang yang peduli ya, seperti tim nya siti salamah dkk ini.

    BalasHapus
  2. iya Mbak Ina, retribusi sampah di Indonesia paling mahal cuma Rp 25.000

    sementara di luar negeri sekitar Rp 500.000/KK dan diselenggarakan pihak swasta

    Perusahaan swasta ini harus melalui seleksi ketat

    hasilnya, negara mereka bisa bersih karena penduduknya menaati peraturan

    BalasHapus
  3. Saya seneng banget ketika tahu ada program khusus untuk memberdayakan para pemulung. Karena bagaimanapun mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sama

    BalasHapus
  4. Seharusnya sampah itu selesai di rumah tangga masing-masing sih ya, paling sisa sedikit ga sebanyak sampah sekarang. Semoga pengelolaan sampah di negara kita terus berusaha semakin baik dan baik lagi. Para pemulung mudah2an ditangani negara sesuai dengan pasal di dalam UUD hehe...

    BalasHapus
  5. Saya baru tahu kalo di Kreo ada kampung pemulung. Padahal udah tinggal di daerah Kreo lebih dari 10 tahun.

    Salut buat para pegiat yg menghadirkan teknologi wastehub.id dan membantu para pemulung beserta anaknya untuk punya identitas untuk dapat aksess pendidikan yg lebih baik

    BalasHapus
  6. Semoga bukan hanya janji belaka ya, tapi pemerintah menuntaskan janjinya memberikan rumah dan kelayakan hidup pada pemulung ini.. Terima kasih sudah membukakan mataku soal realita kehidupan pemulung yang ternyata lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalku, Mbak Ina

    BalasHapus
  7. ya ampun aku baru tahu ternyata mereka ga sekolah dan jauh dari akses pendidikan karena masalah tidak tervatatnya di akte ya mba, alhamdulilahnya kabar baik dengan para penggiat sosial semoga makin dimudahkan dalam melawan keterbatasa tersebut

    BalasHapus
  8. Baru tahu ada kampung pemulung ini mba. Nah iya, ruang gerak pemulung itu jangan dibatasi ya mba.

    BalasHapus
  9. Sedih baca ini, semoga pemerintah benar-benar tepat janji ya Mba. Kalau udah jadi ibu baca cerita tentang anak-anak yang menyedihkan rasanya kayak tersayat rasanya :(

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!