Senyum Pemulung Ditengah Perjuangan Keras Melawan Kemiskinan

 
Senyum Pemulung
IG: RumahPohon_tmn


Manusia tak pernah bisa melepaskan diri dari sampah. Sampah menjadi bagian hidup seseorang dan melekat dengan kehidupannya. Apa yang dimakan tiap hari-hari, apa yang dibeli , bahkan apa yang dikonsumsi akan dikeluarkan lagi. Sisa makanan ditemukan setiap waktu, begitu pun barang yang awalnya merupakan barang baru, nanti setelah tiga atau empat tahun akan menjadi sampah.
 
Sampah juga jadi ancaman bagi lingkungan tempat tinggal kita. Bagaimana tidak? Menyimak data dari Indonesia National Plastic Action Partnership dirilis pada April 2020, sebanyak 67,2 ton sampah Indonesia menumpuk setiap tahunnya, dan 9 persen atau 620 ribu ton masuk ke sungai, danau dan laut. 
 
Besarnya jumlah sampah ini diperkirakan berasal dari 85.000 ton sampah dihasilkan per harinya dan terus meningkat hingga hampir 150.000 ton per hari pada tahun 2025.
 Jumlah sampah besar ini sebagian besar, hampir 60 sampai 75 persen berasal dari sampah rumah tangga. 
 
Dampak dari peningkatan sampah yang tak terkendalikan adalah polusi udara, kotornya lingkungan . Lingkungan yang penuh sampah di sekitar selokan,drainase akan mengakibatkan banjir, sementara sampah dibiarkan ditumpuk depan rumah, akan menjadi sarang /sumber penularan penyakit . 
 
Namun, siapa sangka bahwa di balik sampah yang menjijikkan ada orang-orang yang justru berprofesi untuk mengais rejekinya dari sampah. Mereka inilah yang disebut dengan pemulung. Pemulung terpaksa memilih kehidupan yang paling hina tanpa mengerti bahayanya. 
 
Pemulung yang tak punya kemampuan akses kesehatan, pendidikan, karena identifikasi diri yang tak dimiliki , pendidikannya yang rendah, tak punya pilihan hidup. Demi kehidupan , mereka mencari nafkah justru dari mengais sampah. Pemulung di Indonesia bagaikan pejuang pengolah sampah yang justru belum dihargai oleh siapa pun.
 
Salah satu kelompok pemulung yang ditemukan oleh Siti Salamah, penggiat Sosial lingkungan itu adalah Lapak Pemulung Putri Jaya, Jalan Caraka Buana, Tangerang Selatan . Siti menjadi co-founder dari rumahpohon_tmn , media sosial Instagram yang meliput semua kegiatan putra-putri para pemulung sejak tahun 2015.
 
Bersama dengan teman dekatnya Ranitya Nurlita, yang merupakan lulusan dari perikanan, mulai berkonsentrasi untuk mengelola kegiatan Lapak Pemulung Putri Jaya lebih serius. 
 
Terutama sejak kepulangan temannya dari kunjungan ke Colorado dalam rangka Youth Forum. Nurlita melihat bagaimana proses pengelolaan sampah di Colorado yang sangat bersih, tidak bau sama sekali, rapi , dilakukan dengan teknologi. Hasilnya lingkungan bersih, nyaman dan ramah sampah. 
 
Berbeda sekali dengan yang dilakukan oleh Bantargerbang, semua sampah dipilah kembali, sebagian diproses menjadi kompos, dan sisanya dipadatkan jadi bukit sampah. TPST Bantargerbang jadi tempat pembunganan sangat aktif.
 
 Meniru ide pengelolaan sampah seperti di Colorado tentu saja tidak mungkin bisa dilakukan karena kondisi di sana sangat berbeda di Indonesia. 
 
Di sana pengelolaan sampah mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Di sini dikelola oleh Pemerintah Daerah dengan keterbatasan teknologi dan dana.  Oleh karena itu Siti, beserta Nurlita bertekad untuk membina para pemulung. Para pemulung yang punya masalah tanpa identitas harus diberdayakan dari segi sosial, pendidikan, kesehatan 
 
Apa yang dihadapi oleh pemulung bagaikan lingkaran setan dalam hidupnya. Kemiskinan dari orangtuanya yang tak punya surat menikah (menikah siri), sehingga ketika mereka punya anak, anak pun tak bisa masuk ke pendidikan sekolah karena tak ada identitas dari hasil pernikahan. Hal ini akan terus bergulir apabila anak menikah lagi tanpa adanya surat nikah. Kemiskinan yang menjerat ini perlu diputus rantainya agar masalah ini tak berulang kali terjadi. 
 
Surat-surat identitas seperti KTP, surat nikah ini harus dimiliki oleh para pemulung. Dengan bantuan dari rumahpohon_tmn dan sponsor dan donatur , serta kerja sama dengan RT, RW dan kelurahan setempat, diselenggarakan pengurusan KTP dan surat nikah . 
 
Pemberdayaan pemulung untuk ikut terjun dalam memilah jenis sampah, mengumpulkan sampah organik dan menyerahkan kepada bank sampah . Dana atau uang yang terkumpul untuk dikelola baik untuk biaya hidup keluarga para pemulung. 
 
Apabila ada proyek untuk pengelolaan sampah, para pemulung diberikan pengarahan bagaimana bekerja dalam satu kelompok. Bekerja dengan pola kerja yang standar dan alur kerja dari tempat sampah, memilah dan membersihkan sampai melanjutkan ke bank sampah. Bahkan , Sebagian besar hasil dari Kelola proyek sampah itu bisa digunakan untuk menyumbang pengelolaan sampah di masjid . 
 
senyum pemulung
IG: RumahPohon_tmn

Bagi pemulung yang serius untuk belajar secara informal maupun formal, pegiat bekerja sama dengan beberapa sponsor. Untuk formal tentunya ada pendekatan yang dilakukan dengan kerja sama dari sponsor Sekolah Homeschooling Kak Seto. 
 
Senyum Pemulung
IG: RumahPohon_tmn

Beberapa pemulung bisa mengambil paket kejar A, B sampai C. Bahkan anak-anak bisa ikut belajar mengaji di Taman Magrib Mengaji. 
 
Dalam bidang kesehatan para pemulung diajarkan untuk menjaga kebersihan tubuh untuk menggunakan APD saat berada di tempat yang kotor, menggunakan sarung tangan dan masker ketika memilah sampah baik itu organik maupun inorganik.
 

Pembinaan Penggerak/pegiat sosial

 
Untuk mengaktifkan program pembinaan kepada pemulung, para pegiat sosial, Nurlita, Siti dan Yusuf ikut dalam suatu kompetisi. Kompetisi yang diikuti itu adalah Youth Action Forum, diikuti oleh 60 pemuda se- Indonesia. 
 
Dalam kompetisi itu tiap kelompok diminta untuk memaparkan proposal . Kelompok Siti , Nurlita dan Yusuf mengajukan proposal dengan gagasan untuk pengembangan, mentoring para pemulung dengan kolaborasi dan terintegrasi menggunakan teknologi. Teknologi yang terintegrasi untuk proyek, program dan ide untuk program baru. Teknologi yang diusulkan bernama  wastehub.id 
 
Setiap orang bisa menjadi pemimpin dalam arti pemimpin yang menghubungkan antara pemberi proyek dengan pelaku proyek . Pemberi proyek adalah perusahaan atau instantsi, pelaku proyek adalah  para pemulung itu sendiri. Akhirnya, proposal ini berhasil menjuarai kedua . 
 
Penggerak sosial tak berhenti untuk terus mengembangkan leadership mereka. Para penggerak sosial yang telah menjadi kelompok tim yang solid untuk menata  manajemen pemulung, bergabung dalam “Youth Action Forum” di tahun 2018. 
 
Dalam forum ini mereka diajar untuk berdiskusi, berbagi aksi-aksi positif dari pemuda berbagai latar belakang (penggerak komunitas, pegawai negeri, karyawan swasta dan media). Pembelajaran sangat aplikatif. Mereka dibimbing untuk jadi pemimpin.
 
Para pegiat sosial melanjutkan pembekalan diri untuk menjadi pemimpin sosial yang cerdas dan baik. Di tahun 2019, datanglah kesempatan untuk bergabung dalam “Leadership Experience and Development” (LEAD) yang diadakan oleh Bakrie Center Foundation. LEAD merupakan program pengembangan kepimpinan dan penguatan kapasitas bagi profesional muda dalam penyelesaian masalah sosial sesuai visi Indonesia 2045, berdaulat, maju, adil dan makmur.
 

 Proyek bagi pemulung 

 

Usaha dari pegiat sosial untuk mendapatkan proyek kerja sama menjadi titik terang. Proyek kerja sama salah satu diantaranya event organizer di ICE BSD. Event cukup besar diikuti ratusan penyewa stan . Acara berlangsung tiga hari . Event organizer membutuhkan pengelolaan sampah yang baik supaya setelah acara selesai, gedung ICE BSD kembali bersih. 
 
Tiap malam sebelum stan tutup, para pemulung bekerja mengumpulkan semua tempat sampah. Mereka memilah sampah yang jumlahnya cukup banyak . Selama tiga hari itu ,total pengumpulan sampah sebanyak hampir 6 ton. 
 
Setelah memilah dengan teliti, mereka menyalurkan ke bank sampah untuk sampah non organik. Sampah organik diolah dan dibuat kompos. Hasil kompos itu bisa dibagikan kepada peserta penyewa yang sangat menghargai kerja para pemulung itu. 
 

 Dampak pandemi

 

 Sejak pandem merebak, perbagai even maupun Kerjasama dengan perusahaan yang ingin agar sampah dikelola oleh para pemulung, dikansel semuanya. Rumah-rumah di lingkungan membatasi diri dengan portal, pemulung  dilarang masuk.
 
 Bagaikan petir di siang hari , kegagalan proyek kerja sama itu jadi kesedihan yang mendalam bagi para pemulung. Harapan untuk mendapatkan uang paling sedikit Rp.200.000-Rp.300.000 per hari sirna. 
 
Dalam ruang gerak yang terbatas , pegiat sosial pun mulai mengumpulkan ide baru apa yang dapat dilakukan bagi para pemulung agar  tetap  punya pekerjaan dan mendapatkan uang. Pembinaan para pemulung untuk dapat mandiri dengan training . Setelah adanya bekal training itu , pemulung mulai bergerak untuk dapat menawarkan diri untuk pekerjaan jadi petugas tetap pengelola sampah di suatu lingkungan.
 

I
IG:  RumahPohon_tmn

 
 
Pembinaan untuk mengundang aktivis daur ulang . Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan para pemulung dapat membereskan semua sampah inorganik yang perlu didaur ulang, dibuat menjadi barang yang bisa dijual seperti tas, kerajinan tangan. Wastehub.id memfasilitasi promosi hasil kerajinan tangan daur ulang itu. 
 
Para pegiat bersama pemulung mengadakan program “Pilah Sampah dari Rumah”, program “Penjaja Sampah”. Kedua program ini diutamakan bagi para bunda, ibu-ibu yang telah memilah sampahnya dapat memanggil koordinator pemulung atau pegiat untuk mengambil sampah inorganik(paling sedikit sebanyak 5 kg). Sampah yang diambil itu akan dikirim ke bank sampah
 
Dengan adanya program ini pemulung masih bisa bernafas lega untuk mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya. Gerakan dan program yang terus berlanjut , pemulung yang dulunya sangat terpuruk saat pandemi karena tidak ada pemasukan uang dari event besar atau perusahaan, sekarang mulai bersemangat lagi.
 
Senyum lega atas usaha keras melawan kemiskinan melalui pegiat sosial masih harus terus diperjuangkan. Kesejahteraan keluarga jadi landasan kuat agar mereka tidak lagi jadi masyarakat yang terpinggirkan, termarginalkan.
 
Diharapkan warga masyarakat tidak menutup ruang gerak para pemulung, berikan  kesempatan kepada para pemulung untuk dapat mengangkat harkat hidup mereka.
 
 Tangerang Selatan, 3 Desember,2021
 
 Ina Tanaya
 
 

Nara Sumber:

Siti Salamah,Tangerang:“Sistem Pengeloaan Sampah Terintegrasi Berbasis Teknologi”




3 komentar

  1. Luar biasa, Bu Ina. Sukses untuk blog competition-nya

    BalasHapus
  2. Tulisan Bu Ina selalu aktual dan sangat inspiratif. Lanjutkan Bu. Kerennn

    BalasHapus
  3. Sukses terus bu ina, Artikel ibu sungguh luar biasa.

    LG HAUSYS

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!