Mereguk Kenangan Kota Kelahiran Semarang

Nostalgia untuk kenangan masa kecil yang membangkitkan kebahagiaan dan kegembiraan , adalah hak dari setiap manusia. Bukan untuk euforia kenangan lama, tapi untuk memuaskan otak bawah sadar yang perlu dipenuhi. 
 
 Quote dari Eranest Hermingway “Memory is Hungry”
artinya Kenangan Seperti halnya rasa lapar. Rasa lapar yang perlu dipenuhi dan dipuaskan agar ada kebangkitan dari kehidupan lama untuk bangkit maju. 
 

Perjalanan Jakarta -Semarang 

 
Kapan saya meninggalkan Semarang? Tepatnya tahun 1976, sejak ibu saya meninggal di tahun 2010, saya belum pernah kembali ke Semarang.  Hanya sejenak mampir di tahun 2011 ,karena menemani sepupu dengan urusan kantornya. Belum ada kesan atau pesan apa pun yang dapat disampaikan.
 
Namun, ketika PPKM di Semarang di bulan Oktober ini diturunkan menjadi level 2, timbul dalam hati dan pikiran saya , kenapa saya tidak mewujudkan keinginan untuk menapak tilas kekota kelahiran saya demi memuaskan dahaga.
 
 Lalu, saya pun berangkat dari Jakarta dengan kereta Agro Bromo Aggrek waktu tempuh 4 jam 30 menit, saya pun menginjak kota Semarang. 
 
Stasun Tawang dengan bangunan kokoh berwarna putih dan kombinasi coklat lengkungannya merupakan salah satu bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Plafon dengan ketinggian hampir 4 meter, menjadi ciri khas dari bangunan kuno. 
 

Napak Tilas

 
Begitu dijemput oleh seorang teman, saya diajak jalan-jalan, melintasi dan menyusuri jalan Cenderawasih dan K.H. Salim, lalu melalui Jalan Pekojan, belok ke kanan menuju Gang Lombok. 
 
Kota Tua Semarang
Klenteng  Tay kak Sie-Dokpri

Saya dibawa ke tempat pecinanan terbesar di Semarang. .Mobil pun mencari tempat parkir di depan sebuah Klenteng kokoh berwarna merah dengan patung simbolik . Klenteng ini disebut dengan “Tay Kak Sie”, sebuah klenteng terbesar di Semarang. 
 
Kota Semarang
Klenteng Tay Kak Sie

Dari segi bangunan dan ornamen dan hiasannya yang berwarna merah itu saya bisa menduga bahwa klenteng ini terbagus dan terbaik di Semarang. Begitu masuk ke gapura, bau dupa menyengat di hidung saya. Saya bukan budhis, jadi saya datang bukan sebagai umat, tapi sebagai wisatawan. 
 
Di ruang pertama ada Dewi Welas Asiah Koan Sie Impo Sat. Tempat sembahyang paling besar dan patungnya juga besar, ada tempat untuk sembahyang bagi umat berupa lilin di atas meja.
 
 Menuju sisi kiri dan kanan , tiap dewa maupun dewi dibuatkan tempat sembahyang tersendiri. Bagi umat boleh memilih secara pribadi tempat sembahyangnya. Ada gambar-gambar naga sedang memperebutkan matahari. Mitologi Tionghoa jadi kekuatan dan penjaga dari barang-barang di atas.
 
 Kagum saja dengan kebersihan dan keapikan budaya kultur dari tempat ini. Sebagai warga ex Semarang, saya baru kali ini menginjak klenteng ini , umumnya orang hanya datang ke Sam Poo Kong untuk wisata budaya melihat klenteng yang terbesar di Asia Tenggara. 
 
Menyusuri jalan tempat saya  belajar di masa kecil, Sekolah Kebon Dalam, lalu jalan-jalan  kenangan yang pernah menjadi tempat keseharian saya untuk pulang sekolah.
 

 Toko “Oen” 

 
Toko Oen-Dokpri

Jelang sore hari, kami mampir toko kue legendaris di Semarang yang dikenal “Toko Oen”. Bentuk bangunannya tidak berubah, kuno dengan kursi-kursi kayu terbuat rotan. Saya cukup terhenyak dengan arsitektur bangunan ala Belanda, dengan kipas angin yang diletakkan di atas “ceiling”.
 
Dalam usia 85 tahun, ternyata “Toko Oen” tidak tergilas oleh modernisasi bangunan maupun menunya. Otentikasinya tetap terawatt dengan baik. Kafe tempat nongkrong noni Belanda di zaman kolonial itu sekarang pengunjungnya terdiri dari wisatawan dari luar kota.
 
Mengicipi cita rasa menu spekuk dan Hudzarensla (salad Belanda ) serta Ice Cream “tutti frutti” yang jadi menu khas dan andalan dari Toko Oen. Puas akan kelezatan menu andalan ini karena memang tak  ada duanya di toko atau cafĂ© yang lainnya. 
 

Kota Tua Semarang

 
Kota Tua Semarang
Gereja blenduk- Dokpri

Apa yang saya ingat dengan kota Tua Semarang? Kumuh, kotor, dan menyeramkan suasanya. Selama saya tinggal di Semrang hingga usia 17 tahun, saya tak pernah sekali pun menginjak kota tua. Tidak tertarik untuk datang ke tempat ini sekali pun.
 
 Namun, magnet itu datang ketika saya berjumpa dengan orang semarang yang baru saya kenal. Ayo, mampir Semarang untuk melihat kota Tuanya yang sudah berubah jadi Cagar Budaya yang memikat hati setiap orang yang datang. Ach, saya berpikir nanti saja. Tapi Sekarang ketika tiba di Semarang , saya tak menyia-siakan kesempatan ini.
 
 Supir Blue Bird jadi guide saya. Tepat di depan sebuah Gedung megah berwarna putih bernama “Spigel”. Saya kagum dengan kemegahan Gedung ini karena bangunan kuno Belanda itu jadi tempat bersejarah yang telah direonvasi dan dirawat dengan baik.
 
Dalam benak saya masih melihat bangunan kuno yang kumuh tak terawat, sebelum adanya  renovasi. Menurut Jessica Setawati (31, pengelola Tekodeko, keprihatinan untuk mengubah Kota Lama ini jadi tempat nongkrong anak muda jadi inspirasinya. 
 
Kota Tua Semarang
Kota Tua Semarang-Dokkpri

 Spiegel memiliki dua tingkat.  Tingkat pertama tempat untuk bar dan bistro, sedangkan tingkat kedua   untuk kantor dan ruang privat berbagai kegiatan kreatif.. Design bangunan yang sernuansa arsitektur bergaya Eropa, unik dan bagus sekali.
 
 Dari total bangunan kuno sebanyak 116 gedung di Kawasan Kota Lama, menurut AMBO (Asosiasi Masyarakat Mbangun Oudestad) , hanya ada 60 yang telah direnovasi dan dirawat dalam restorasi .
 
Kota Tua Semarang
Kota Tua Semarang-dokpri

Beberapa bangunan kuno yang saya lihat sangat menarik adalah Gedung berwarna merah bata dikenal dengan nama Marba, GPIB Immanuel dikenal dengna nama Gereja “Blenduk” karena ada atap bulat ditengahnya, 
 
Akhirnya, saya mengakui bahwa Kawasan Tua Semarang ini butuh peleastarian jangka panjang. Kekayaan cagar budaya pemikat nasional, merupakan pluralism nilai-nilai keniscayaaan, jejak peradaban bangsa yang memiliki sejarah penjang . Semoga semuanya bukan untuk proyek mercu suar saja, tapi benar-benar untuk kelestarian lingkungannya.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!