Hoaks Kesehatan, Cek Faktanya, Lawan Mis/Disinformasi

dokumen pribaid

 
 
 
Ketika Anda melihat suatu foto dengan narasi yang sangat tak masuk akal, apakah kamu begitu percaya saja dengan fakta dari foto, video yang disajikan itu?
 
Hoaks Kesehatan
"Kartini Gunakan Jilbab, HOAX Bukan?"   Sumber: liputan6
 
 
 Ada beberapa orang yang kadang-kadang tidak percaya begitu saja. Mereka akan mengecek dulu kebenaran berita, foto, video itu.
 
 Faktanya hoaks Kesehatan berterbaran makin banyak sekali.. Ironisnya, justru sekarang banyak orang yang tanpa berpikir panjang , langsung meneruskan, menyebarkan berita ,foto, video itu kepada teman-temannya di media social.tanpa cek dulu.  
 
Kita sekarang diserbu dengan berbagai informasi atau disinformasi yang ribuan datangnya . Dari ribuan informasi tidak semuanya benar. Hal ini disebut dengan infodemik.
 

 Kenapa jumlah informasi yang kita terima begitu besar?

 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id


Indonesia itu pengguna internet terbesar kedua di dunia ,175,4 juta dari total populasi 250 juta. Dari pengguna internet itu, ternyata ada 160 juta (61,8% dari total populasi) adalah pengguna media sosial yang sangat aktif. Durasi penggunannya 3 jam /hari (Sumber: we are Sosial,2021).
 
Hal ini membuat infodemik, arus informasi terlalu banyak diterima termasuk yang salah dan menyesatkan sehingga sulit mendapatkan sumber yang dipercaya. Media sosial yang digunakan oleh warga Indonesia sesuai dengan peringkat dari 1 hingga 16 adalah youtube, whatsapplication, Facebook,Instagram, twitter, Line, Mesanger, Linkedin, pinterest, wechat, snapchat, skype, tiktot, tumblr, reddit, Sina Weibo.
 
Pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia sejak tahun 2020 makin meningkat terus menerus. Sayangnya, pertumbuhan dari penggunaan atau penetrasi internet yang tinggi ini tidak diimbangi dengan kemampuan bersikap kritis atau punya literasi digital terhadap foto,video,berita yang beredar di internet. Sangat menyedihkan sekali jika sebagian pengguna internet yang aktif di media social itu terpapar oleh beragam informasi tanpa literasi digital yang memadai.
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

 
 
 Tingkat Literasi Digital Rendah: Tingkat literasi digital di Indonesia di tahun 2020 menunjukkan bahwa literasi informasi dan literasi data paling rendah(3.17), yang paling tinggi adalah kemampuan teknologi dan keamanan (3.66).
 
Hal ini terjadi akibat internet masuk duluan , baru setelah itu , edukasi literasi digital diadakan oleh pemerintah. Jelas Pemerintah kewalahan melihat warga Indonesia yang belum tersentuh literasi digital dalam menyikapi serbuan informasi yang datangya begitu cepat melalui media social. Contohnya jika seorang punya 8 media social, setiap media social belum akses 8 jam, ada berita 100 di satu media, berapa kali paparan yang dia dapatkan 8 x8x 100.
 
 Ketika survei diadakan dan ditanyakan kepada responden, dari mana mereka mengakses berita ? Sebagian besar menjawab bahwa mereka mengakses dari media social yang pertama kali, baru TV dan ketiga atau terakhir berita online . 
 
Sementara sumber media yang paling dipercaya , responden mengatakan Televisi, media social , pemerintah dan media online (jawaban media social sebagai yang terpercaya, sangat menyedihkan). Padahal Akses terbaik untuk berita adalah dari situs dari berita online secara langsung (hanya dilakukan oleh 25%), sementara yang sisanya  melakukan melalui whatsapplication (menyedihkan). 
 
Contoh : Untuk menghadapi virus Covid19, konsumsilah bawang putih . Hali ini terbukti sebagai hoaks Kesehatan karena tidak sesuai fakta. 
 

Dampak serius dari hoaks kesehatan ? 

tempo.co.id


 Dua tahun terakhir ini pandemi Covid belum juga reda, bahkan bulan Juni 2021, jumlah orang  yang terpapar Covid -19 makin meroket tajam. Ditengah pandemi, bersliweran berita tentang covid yang menghebohkan, contohnya : “48 orang meninggal usia di vaksin Corona”, “Ivermectin, Obat yang Dipercaya Mampu Mengobati Covid akan Dibagikan di Kudus”. 
 
Ada orang yang menerima berita itu mentah-mentah dan tidak mengecek lagi kebenarnnya, akibatnya dia hanya menyebarkan di grup whatsapplication. Jika semua orang dalam grup percaya berita itu benar, akibatnya berita yang salah dianggap benar , akan menyebabkan kebingungan dan kepanikan mana yang benar mana yang salah. 
 
 Masyarakat jadi tidak percaya kepada pemerintah, otoritas Kesehatan dan ilmu pengetahuan. Demotivasi (tidak punya motif yang benar) untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan. Sikap apatis padahal konsekuensi besar, bisa menimbulkan kematian jika kita abai melakukan. 
 
Perlu dipahami ada 2 jenis informasi yang salah:
1.Misinformation: informasi yang salah, orang yang membaca tidak paham karena ketidak-tau dan menyebarkan tanpa ada unsur kesengajaan.
 2.Disinformation: informasi yang salah, orang yang membaca telah mengetahui bahwa informasi itu salah dan menyebarkan dengan unsur kesengajaan. 
 
Mis/Disinformation/hoaks dalam bidang Kesehatan: Fakta berbicara bahwa ada 3 Top media paling berpengaruh dari peredaran informasi adalah Media social (83,6%), TV (78,5%) dan Whatsapp (76%), (Sumber: BPS, 2020). 
 
MAFINDO, mencatat jumlah hoaks Kesehatan meningkat dari 7% (86 hoaks pada tahun 2019) menjadi 56% (516 hoaks pada tahun 2020). Pertambahan yang sangat mengerikan bukan? Demikian juga Kementrian Komfindo mencatat 1.471 hoaks diperbaiki media hingga Maret 2021. 
 

Permasalah Mis/Disinformasi/Hoaks Kesehatan: 

 
 1. 17 dari 100 responden menyatakan sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular covid 19 (BPS,2020) . Responden berusia 17-30 (20.2% tertinggi), usia 31-45 (15.4%), usia 46-60 (16.2%) dan usia > 60 (17.4%). 
 
2.Sementara tinggi tingkat Pendidikan, semakin meyakini bahwa Covid-19 berbahaya dan mudah tertular (BPS, 2020) 
 

Agar tidak terjebak tentang hoaks, kenalilah berbagai jenis dari mis-disinformasi 

 
1.Satire:
 Contohnya foto Terawan dengan caption “Sesuai permintaan, akhirnya menkes Terawan mundur”
2.Konten menyesatkan:
Contohnya: pemberitahuan untuk ke luar dari rumah jam sekian karena ada penyemprotan vaksin supaya tidak terjadi virus corona dari Malaysia 
3.Konten aspal 
4..Konten pabrikasi 
5.Gak nyambung 
6.Konteksnya salah 
7.Konten manipulatif .

 

Mengapa orang mudah termakan hoaks khususnya hoaks kesehatan?

 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

Alasan utama orang mudah sekali percaya berita hoaks adalah sebagai berikut ini: 

1.Terlalu mengagungkan atau memebenci seseorang atau sering disebut dengan fanatisme 
2.”Kelompok seberang” tidak layak dipercaya. Orang harus belajar agar mendengarkan pendapat orang 
lain.
 3. Sering muncul di linimasa sama dengan “benar” (gelembung filter). Filter buble adalah mesin pendeteksi akan mempelajari kecenderungan apa yang disukai oleh seseorang (misalnya saya  like  Luna Maya, maka akan dimunculkan tentang berita Luna Maya di beranda kita). Akibat sering muncul dan kita mudah sekali terpapar 
4.Bias perasaan 
 

Kemampuan Dasar Cek Fakta terhadap hoaks kesehatan: 

 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

I. Berita

 1.Cek Sumber Aslinya :

 
 Begitu kita mendapatkan berita terutama dari whatsapplication, ayo coba ditengok, adakah ada  sumber beritanya. Jika tidak ada, hal itu sudah jadi indikasi berita hoax Khusus untuk Kesehatan harus cari  sumber referensi terpercaya:
 
a.Sumber referensi terpercaya: :
 
Website resmi : WHO, CDC, Kementrian Kesehatan, Badan POM, IDI, IAKMI Jurnal ilmiah (The New England Journal of Medicine, the British Medical Journal, nature Medicine, the Lancet. 
 
Caranya dengan akses Google Scholar Ingat banyak predator junal, jadi cek kebenarannya di jurnal ilmiah yang terpercaya. Predator Jurnal karena dia tidak masuk dalam organisasi professional yang terdaftar dan terpecaya Jurnalnya tidak dapat diindex di data base Jurnalnya tidak familiar Kesalahan Fundamental seperti typo dan judul dan faktanya. 
 
b. Peer-review 
 
 Studi penelitian melalui proses evaluasi dari pakar independent dari bidang keilmuannya. 
 
c Pre Print: 
 
Studi penelitian yang belum melewati proses Peer-review dan kita perlu berhati-hati untuk menyimpulkan temuan, Ternyata konteks Covid, banyak penelitian diterbitkan masih dalam bentuk Pre-print. 
 
d.Studi korelasi vs hubungan sebab akibat: 
 
Menelitii pola kausalitas atau fungsi sebab akibat dari variable terhadap variable lain. Secara teoritis efeknya mempengaruhi variable lainnya. 
 
e. Studi korelasi:
 
 Mengukur derajat keeratan (hubungan korelasi) antara dua variable yang sudah jelas secara literatur 
 
2.Jangan baca judulnya 
3.Identifikasi penulis 
4.Cek Tanggalnya 
5.Cek Bukti pendukung lain 
6.Cek Bias 
7.Cek organisasi pemeriksa fakta 
 Ini paling mudah dilakukan khusus untuk Kesehatan, cek di Tempo,
 Liputan 6 di bagian Cek Fakta. Menkonfimdo, UCD, 
 
  • Cek who.is  dan domainbigdata.com
  • Masukkan kata kunci.insite
 

 II. Verifikasi foto  

tempo.co.id



 
 
 
 
 
 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

 
 
Foto bisa disunting dengan mudah sekali, bahkan digunakan lagi untuk keperluan yang tidak baik. Oleh karena itu perlu kita memverifikasinya sebelum mengedarkan
 
 

 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

 
Caranya: Dengan Google Reverse Image: 
-google reverse image 
-gambar siapkan di file 
-upload gambar 
-open 
-Gunakan yang lainnya   Reverse image Google,  Reverse image Yandex,  Reverse image TinEYE,big.com Microsoft Baidu
 
Untuk mempermudah sekaligus 5 tool, gunakan yaitu RevEye Reverse Image Search
 
 
Hoaks Kesehatan
tempo.co.id

 
 

 III Verifikasi Video  

tempo.co.id


 
 
 
 
 
 
 
 
tempo.co.id

 
 
Video sangat mudah dibuat oleh setiap orang dan membuat kita bingung mengecek kebenarnya. 
 
Cara termudah untuk mengeceknya dengan InVID: Langkah2nya ada dua cara : 
 
 Pertama:
 
  •  Screen caption bagian video secara manual lalu masukkan ke reverse image tools 
 
  • Gunakan InVID untuk memfragmentasi video secara otomatis 
 

 
 
 
tempo.co.id
 
 
 
 
 
 
 
tempo.co.id

 
tempo.co.id

 
tempo.co.id
Kedua: 
 
Gunakan petunjuk dan kata kunci . Menonton video hingga selesai dan temukan petunjuk di dalam video .
 
tempo.co.id

Cari video yang sama atau identik dan pemberitaan dengan berbagai kata kunci contohnya “Kerusuhan atau warga mengamuk di KPU Tapanuli Utara”

24 komentar

  1. Dengan info ini, aku berharap banget banyak masyarakat yang bisa lebih teredukasi terkait hoaks. Nggak mudah telan mentah2 informasi / berita apapun. Aamiin. Terima kasih Bu Ina atas info bermanfaat nya ;).

    BalasHapus
  2. Di indonesia hoax memang cukup banyak menyebar ya. kita harus jeli dalam membaca berita dan memastikan sumber berita yang kita baca valid agar tidak terkena hoax juga.

    BalasHapus
  3. aku bukan tipe orang yang suka buka fb dan chat aneh2 gitu semenjak pilpres 2014. Udah langsung nggak percaya, cuma sayangnya dulu ga percaya terus nggak memastikan juga untuk mengeceknya dan ngasih tahu ke orang2 kalau itu hoax.. jadi info ini penting bgt untuk kita kasih bukti faktanya ya bu

    BalasHapus
  4. duh hoax di negeri kita ini mudah banget ya. DUlu mitigasi kami saat masih di dunia perkuliahan itu dengan mencantumkan sumber penerima beritanya, supaya sanad atau informasi sumber utamanya ga hilang.
    ternyata sulit sekali menerapkan itu, sekarang orang tinggal tekan forward forward saja.

    BalasHapus
  5. semoga makin banyak amsyarakat yang paham untuk lebih teliti saat mendapat informasi ya Bu terutama dari WAG agar tidak salah dan keliru

    BalasHapus
  6. Ah iya ya bu
    Banyak banget hoaks kesehatan yang beredar di Indonesia
    pengetahuan cek fakta seperti ini sangat penting

    BalasHapus
  7. Informasi seperti ini penting bu Ina untuk disampaikan ke banyak kalangan. Hoaks mudah banget disebar dan banyak yang mudah percaya pula

    BalasHapus
  8. Pendidikan, wawasan, dan cara berpikir seseorang (critical person) juga berpengaruh.

    BalasHapus
  9. Di awal pandemi Covid 19 belum masuk Indonesia malah hoaksnya Covid 19 akan mati kena sinar matahari. Mati kena air wudu dst.
    Serem ya?
    Beruntung Tempo dkk memilih mengedukasi warga daripada memenjarakan pembuat hoaks ya?

    BalasHapus
  10. Ini acaranya keren ya Bu... saya jadi banyak belajar. Produksi hoaks memang sekarang luar biasa untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan

    BalasHapus
  11. Kalau udah dapat berita aneh dan nggak masuk akal melalui WhatsApp memang sebaiknya nggak perlu di klik apalagi sampai di forward lagi. Jadi nggak cepet termakan isu hoaks ya

    BalasHapus
  12. Hoax kadang lebih dipercaya ketimbang fakta. Semoga dengan edukasi seperti ini masyarakat kita bisa lebih aware akan berita hoax. Bisa memilah dan memilih berita yang akan dibaca.

    BalasHapus
  13. Semoga makon banyak masyarakat yang teredukasi dengan informasi yang Ibu sampaikan ini. Sebab hoaks itu beneran bisa bikin panik dan kacau balau keadaan akibat simpang siurnya berita yang didapatkan.

    BalasHapus
  14. Memang bangak sekali hoaks bertebaran dimana-mana, khususnya di wag. Terkadang mau menegur yang menyebarkan hoaks di wag juga sungkan, apalagi kalau di wag keluarga dan jauh lebih senior.

    BalasHapus
  15. Saya rasa, pihak yang perlu diprioritaskan untuk dibekali pengetahuan tentang cara menyaring hoax adalah praktisi pendidikan dan pemuka agama.
    Karena, praktisi pendidikan yang bertugas mengajar orang sehari-hari.
    Pemuka agama adalah orang yang paling dipercaya oleh mayoritas orang Indonesia pada saat ini.

    Kalau sampai guru dan pemuka agama sudah sama-sama percaya hoax, wah, tamat deh bangsa ini.

    BalasHapus
  16. Kemakan hoaks ini yang kadang bikin petaka, harus saring info kesehatan yang valid memang

    BalasHapus
  17. tingkat literasi digital ini yang bikin Indonesia porak poranda ya?

    masyarakat akhirnya percaya hoaks padahal begitu mudah mencari faktanya

    BalasHapus
  18. Benar Bu Ina, Pentingnya untuk cek dari berbagai sumber dulu, agar tidak mudah termakan hoaks, apalagi bila ingin dibagikan lagi infonya. Thanks atas inpirasinya.

    BalasHapus
  19. Hoax itu memang meresahkan sekali, maka dari itu.penting cek faktanya ya, supaya tidak makin meresahkan.

    BalasHapus
  20. Iya banget nih soal mal atau disinformasi. Khususnya generasi baby boomer mudah sekali terserang hoaKs :')

    BalasHapus
  21. Aku ikut webinar ini juga, Bu. Alhamdullah tercerahkan banget :)

    BalasHapus
  22. Harusnya banyak yang baca artikel ini biar banyak yang sadar akan hoax.

    BalasHapus
  23. Makanya itu saya kalau lihat berita tuh bawaannya kayak nggak enak gitu apalagi nemu berita hoax, sebaiknya kita pun harus pintar mencari sumber berita yang valid dan berkualitas agar bisa memastikan bahwa berita yang kita temui itu sesuai fakta dan akurat.



    BalasHapus
  24. Bahaya ya ternyata kemakan hoaks nih, harus terus nambah wawasan dan pinter cari sumber yang akurat :)

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!