Belajar Bahagia dari Ikigai, Hidup Seimbang dari Pareto

Ikigai dan Pareto

 
 
Setiap orang pasti ingin berbahagia. Namun, bahagia yang seperti apa yang ingin dicapai oleh orang? Definisi bahagia tiap orang pasti berbeda. 
 
Bahkan , ada yang belum menemukan definisi tentang bahagia itu. Ketika orang belum bisa menemukan definisi tentang bahagia, yuk kita belajar bahagia dari IKIGAI. Sebuah konsep tentang kebahagiaan dari Jepang. 
 
Budaya Jepang yang menerapkan bekerja keras, tapi bekerja keras bukan untuk mencari uang saja. Namun bekerja kerjas untuk menemukan keseimbangan dalam hidup. 
 
Di dalam merawat kehidupannya , terutama orang yang sudah senior yang hidup produktif , bahagia  dalam umur panjang seperti di Okinawa, ternyata orang-orang ini menjadi orang yang bisa menggali potensi, sekaligus memberikan potensinya kepada orang lain dan pada akhirnya mendapatkan hasil yang cukup untuk apa yang mereka kerjakan. 
 
Ada 4 unsur dalam Ikigai yang perlu kita temukan supaya kita dapat menemukan kebahagiaan itu: Kombinasi dari keempat elemen itu adalah apa kekuatan (strong skill) yang Anda miliki? Misalnya saya suka dengan accounting. Lalu, apa yang Anda sukai (passion)? Misalnya saya suka kreativitas. Apa yang dibutuhkan dunia untuk value yang saya tawarkan? Misalnya dunia sekarang ini butuh skill digital yang mumpuni untuk start-up bisnis. Elemen terakhirnya adalah apakah uang yang dihasilkan cukup berharga dari keempat komponen itu membuat kita bahagia? 
 
Di dalam kehidupan yang kita jalani, bukannya kita menemukan apa yang ada dalam diri kita, tetapi justru kita menciptakan diri kita sendiri. “Life is not finding ourselves. Life is creating ourselves”. Geroge Bernard Shawa 
 
“Saya adalah pecandu kreativitas”, demikian dikatakan oleh Joris  Sebastia saat pembicaraannya dengan Ani Berta melalui IG live streaming. Teori Pareto itu mengingatkan bahwa adanya kejadian atau peristiwa itu pasti ada penyebabnya. Jika kejadian itu dihitung sebagai angka 80% maka penyebabnya itu dihitung dalam angka 20%. Teori pareto ini diperkenalkan oleh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran, dari Italia. Beliau menghitung bahwa dari 80% pendapatan di Italian itu berasal dari populasi penduduk sebesar 20%. 
 
Dalam perkembangannya saat ini, teori Pareto itu bukan lagi 80-20% tapi menjadi 70-20-10%. Apa artinya? Artinya 70% dari aktivitas prima atau utama untuk menghasilkan uang, 20% adalah kreativitas yang dilakukan setelah selesai bekerja, dan sisanya 10% itu adalah kegiatan baru pada waktu luang . 
 
Apabila kita menerapkan teori Pareto dalam kheiudpan sehari baik itu untuk ibu rumah tangga (pribadi), bisnis atau karir, kita perlu adanya evaluasi dan perbaikan terus menerus. Ketika perbaikan itu dilakukan, pasti timbul kreativitas untuk memajukannya. 
 
Kreativitas itu timbul bukan karena orang tidak bisa , tetapi karena tidak diasah sejak kecil. Kita terbiasa dengan system Pendidikan yang mementingkan pencapaian angka/ranking, tetapi tidak dengan kreativitas. 
 
Nach, ketika beranjak dewasa, ktia lupa bangaimana mengasah kreativitas , seolah kreativitas ktia tumpul dan tak bisa berkembang, bahkan untuk hal-hal kecil sekali pun, misalnya buat kado untuk orang terdekat. 
 
Kesadaran untuk kreativitas harus dimulai dari 0 dengan modal 0 tetapi harus berdampak besasr. Prinsip yang sering dikatakan oleh Joris adalah “It is not about money buat about creativity”.
 
Kreativitas bukan berarti mulai dari sesuatu yang mahal , tetapi mulailah dari modal atau budget yang kecil. Ketika hasil dari kreativitas kita gagal, kita tidak menyesali atau hilang modal yang besar sekali.
 
Selamat  hidup bahagia dengan cara Ikigai, belajar hidup seimbang dari Pareto

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!