Menanti Kejelasan Vaksin Bagi Lansia

Lewat layar TV, mataku tak berkedip memandang Pak Jokowi masuk ke ruangan di istana Merdeka, ruang besar, putih bersih yang biasanya digunakan oleh Presiden Jokowi untuk rapat dengan para Menteri itu telah diubah menjadi tempat bersejarah yang tak pernah kulupakan.
 
 
Seorang dokter dengan rambut putihnya kemilau, kedua tangannya dibalut dengan sarung tangan Kesehatan berwarna putih kekuningan telah siap dengan jarum suntikan. 
 
Matanya bersinar Ketika pak Jokowi menggulung kemeja putih di bagian lengan kanan ke atas . Dengan tangan yang gemetar sosok dokter yang telah menerima kartu tanda telah menerima vaksin pertama itu, mencobloskan jarum kecil dan tajam itu ke dalam tubuh,tepatnya lengan kanan Bapak Presiden Jokowi. 
 
Itulah symbol penerimaan vaksin untuk lansia yang pertama , Bapak Jokowi berusia 59 tahun 6 bulan telah menerima vaksin pertama kalinya sebagai lansia.
 
Sebelumnya kami para lansia sempat khawatir karena prioritas pemerintah untuk vaksin yang pertama adalah nakes, kemudian diikuti masyarakat masyarakat berusia 19-59 tahun. Lalu, kapan para lansia akan menerimanya . 
 
Padahal menurut panitia Covid,. penderita covid dari segi usia 50% adalah lansia, dan mereka yang meninggal yang terbesar adalah para lansia. Membayangkan bagaimana sakitnya para lansia yang sudah rentan itu tak punya daya imunitas, terkena keganasan virus, lalu sakit luar biasa, tak bisa bernafas, bahkan sakit lain yang menyertai jika ia punya penyakit komorbid. 
 
Sakitnya saat diserang virus itulah yang membuat para lansia itu tak punya daya imunitas tak mampu melawannya. Ketika tidak ada proteksi lain kecuali dengan vaksinasasi. Memang vaksinasi bagi lansia tidak jaminan dia tak terkena virus covid, tetapi paling sedikit penderitaannya itu akan berkurang saat dia terserang virus covid. Benteng pertahanan covid bagi lansia adalah vaksin. 
 
Betapa gembiranya kita semua sebagai lansia Ketika pemerintah memberikan prioritas kepada para lansia untuk suntik vaksin. Hadiah yang sangat berharga sekali , bahkan sangat berterima kasih karena pemerintah ternyata tak melupakan para lansia.
 
Awalnya sempat sedih karena anggap pemerintah sudah melupakan dan menanggap lansia sebagai prioritas yang paling akhir. Begitu selesai suntikan vaksin Pak Jokowi, kami para lansia mulai bersiap-siap untuk mencari informasi kapan mendapatkan giliran vaksin. 
 
Pencarian pendaftaran itu sudah dicoba dengan mengisi formulir yang sebenarnya tidak yakin apakah benar formulirnya.  Pendaftaranjang pertama dari Kementerian Kesehatan yaitu www.kemkes.go.id yang kedua adalah sehatnegeriku.kemkes.go.id

Link pertama hanya ketemu dengan Serang sedangkan kami berada di Tangerang Selatan. Link kedua tidak menemukan pendaftaran.
 
Sebelumnya telah bereda link pendaftaran juga ada formulir yang sulit diisi.  Formulir pendaftaran telah diisi dan diunggah tapi belum mendapat tanggapan baik dari laman resmi Kemenkes maupun dari pihak puskesmas atau dari pihak rumah sakit. Jadi saya tidak ahu secara pasti kapan, dimana kami akan mendapatkan vaksinasi Covid-19.
 
Saling sahut-menyahut di grup WA bahwa untuk yang pertama kali mendapatkan giliran adalah lansia di daerah DKI duluan. Jadi mereka yang berdomisili di Jakarta pun sudah mulai aksi dengan antrian Panjang di daerah Jakarta Barat sejak jam 5.00 pagi. 
 
Detak jantung saya berdebar sekali , melihat antrian Panjang itu mengular , mereka itu sudah tua, harus berdiri berjam-jam, lalu juga mereka harus menunggu tanpa kepastian, Ketika nomer yang ditangan menunjukkan nomer ratusan, sedangkan yang baru dilayani masih nomer puluhan, jam berapa mereka harus dilayani?
 
Lalu, bagaimana jika mereka tak bisa diterima setelah sekian puluh jam berdiri? Kegelisahan itu makin membuat saya tak bisa tenang, Ketika menyadari bahwa system pendaftaran lansian untuk vaksinasi ini berbeda dengan tenaga Kesehatan. 
 
PEndaftaran tenaga Kesehatan dengan cara pendaftaran sesuai dengan pemilihan tempat suntikan yang paling dekat dengan tempat kerjanya. Lalu tenaga Kesehatan itu akan diberikan SMS jam dan tempat untuk vaksinasi. Mereka tak perlu berjubel-jubel karena tiap hari dibatasi jumlahnya. 
 
Sementara bagi pendaftaran lansia, entah kenapa tidak dipersiapkan pendaftaran secara matang. Guasar dengan cara online yang tidak mendapat response dengan baik, mereka telpon ke puskesmas, rumah sakit , klinik, namun tidak ada jawaban sama sekali. 
 
Seorang lansia, gusar dengan fasilitas Kesehatan dekat rumahnya yang penuh antrian, dia pindah ke tempat lain.  Salah satu warga di daerah Cipete, mendengar bahwa bisa langsung datang saja ke RSU KEbayoran Lama. Sebagai salah satu wakil dari tetangga di RT nya, dia datang ke tempat itu. Ternyata sesampai di sana, dia ditolak dengn  alasan sudah penuh melayani hampir 300 orang menunggu. Jatah tiap hari RSU akan memberikan vaksin hanya 30 orang, maka jika 300 orang berarti akan memakan waktu 10 hari , tidak termasuk hari sabtu dan minggu. 
 
Sebagai lansia yang melihat kondisi itu semakin gusar hatinya, dan tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya. Apakah data yang diiput dari pihak lansia itu sulit verifikasinya karena tidak ada data pembanding?
 
Dulu saat pemilu saja, hanya ada data per kepala keluarga dalam tiap RT, RW, sekarang harus dipisahkan dengan data lansia dari tiap keluarga. Sulitnya luar biasa bagi pemerintah, namun, jika Pemerintah dapat menggunakan data dari Dukcapil dengan menginput Kembali nama-nama lansia setiap keluarhan, lalu bagi rata jumlah warga lansia ke seluruh fasilitas Kesehatan di tempat terdekat. P
 
Pihak kelurahan akan memanggil warga lansia cukup dipanggil tanpa harus menunggu sampai capai, pegal dan merasakan takut tertular saat mengantri. Semoga dengan demikian para lansia dapat menunggu dengan jaminan dapat vaksinasi tanpa antrian panjang.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!