ESG pada Limbah: Solusi untuk Bumi dan Ekonomi



 
 
 
Ketika saya sedang menonton sebuah film documenter “Kota Limbah Industri - Kami Hidup dengan Apa yang Kamu Buang”, perasaan saya bercampur aduk, tertegun, gentar menghadapi ancaman kondisi limbah industri yang mencemari kota Tangerang. 
 
Berangkat dari sebuah kabupaten Tangerang yang luasnya 959.60 m2 , di tahun 2014 telah dipenuhi dengan industri Bahkan Tangerang dikenal dengan nama Kota 1000 industri. 

 
 
Sayangnya, sebagian besar dari sekian banyak industri ,800 industri yang berada di Tangerang itu tak peduli dengan pengolahan limbahnya. Mereka membuang limbah industri makanan, sepatu, tekstil ke Sungai Cicarab. 
 
Limbah industri yang merupakan hasil sisa dari proses manufaktur dari suatu produk itu seharusnya diolah dengan sistem yang ditentukan sesuai dengan UU No. 101 tahun 2014 tentang pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun.
 
 Akibat dari pembuangan limbah industri ke sungai Cicarab maka air sungai itu dipenuhi dengan limbah kimiawi yang sangat membahayakan, airnya berwarna dan bau menyengat serba berbuih. 
 
Dampak bahaya limbah industri bukan hanya bagi manusia untuk kesehatannya (gatal, paru-paru) juga langsung merusak lingkungan seperti ikan sebagai biota di sungai akan mati. Bahkan, sungai yang dulunya bisa dimanfaatkan untuk perairan sawah, mandi dan untuk keperluan mencuci sekarang berubah total, membahayakan tak bisa dimanfaatkan sama sekali.
 
Ekonomi dan tatanan sosial dari warga di sekitarnya jadi berkurang tingkat kesejahteraannya. Mereka harus bersiap untuk mengganti air sungai yang kotor itu dengan membuat sumur dari air tanah dengan kedalaman yang sangat tinggi atau membeli air dengan harga cukup mahal. Mereka tidak bisa memanfaatkan air sungai untuk keperluan sehari-hari. Hal ini menimbulkan ketahanan hidup baik secara ekonomi dan sosial,  kualitas Kesehatan terganggu. 
 

Limbah Perusak Lingkungan

 
Limbah industri tetap jadi perhatian masyarakat dan pemerintah karena dampak serius yang ditimbulkannya akan merusak seluruh ekosistem dari lingkungan hidup. Seperti kasus limbah industri di Sungai Cicarab itu telah merusak sepanjang hulu (Legok) sampai hilir (Sukadiri) . Lalu buangan limbah itu akan mengalir ke laut.
 
Laut kita akan rusak, akhirnya merusak seluruh kehidupan di laut. Kerusakan lingkungan itu lama kelamaan akan mengurangi sumber daya alam yang makin lama akan berkurang dan akhirnya punah apabila dibiarkan demikian rupa.
 

Siapa yang  Bertanggung Jawab Terhadap Kerusakan Lingkungan?

 
Setiap perusahaan yang tak melakukan pengolahan limbah industri dengan baik harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan itu seharusnya tidak terjadi apabila para CEO yang menjadi orang tertinggi di perusahaan memiliki visi ESG. 
 

Apakah ESG itu?

ESG pada limbah
https://www.cesgs.or.id/id/2020/12/29/apa-itu-esg/
 

 ESG adalah Environment, Social, and Governance. 
 
Environment dalam hal ini perusahaan selalu ikut dalam program pembahasan tentang pemakaian energi, limbah, polusi, konservasi, sumber daya alam dan perilaku terhadap flora dan fauna . Saat perusahaan melakukan proses produksi selalu ada mitigasi atas risiko perusahaan, juga menganalisa untuk meminimalisir risiko apabila terjadi di lingkungan . 
Pertimbangan untuk evaluasi adalah bagian dari tugas perusahaan sebagai tanggung jawab operasional perusahaan.
 
Social dikaitkan dengan konteks ESG adalah hubungan perusahaan kepada pihak eksternal . Pihak eksternal yang dimaksud adalah komunitas, masyarakat, pemasok, pembeli, media, dan perusahaan yang terkait dengan pekerjaan. Apakah hubungan relasi yang diadopsi oleh perusahaan , menghasilkan citra perusahaan sehingga perusahaan bisa mengatasi hubungan dengan baik dan sesuai dengan kebijakan perusahaan. 
 
Governance artinya perusahaan tunduk dan fokus dengan apa yang jadi peraturan tata Kelola limbah dan melakukan proses yang berkelanjutan di bagian internalnya termasuk manajemen dan operasinya. 
 

Bagaimana Menjadi Seorang CEO yang Berhasil Melakukan Tata Kelola Lingkungan?

 
Envirnomental Research and Public Health menunjukkan bahwa kesadaran seorang CEO terhadap lingkungan tergantung dari karakater dan background pendidikannya dan teknologi. Ketika karakaternya dan background itu berasal dari seorang yang berasal dari accounting, mereka akan memiliki kurang visi untuk pelestarian lingkungan . Pertimbangan dana dan biaya yang besar untuk mengelola limbah jadi factor utama. Mereka takut biaya itu akan mengurangi profit perusahaan di masa depan. 
 
Sementara CEO yang berlatar Pendidikan teknologi , akan memiliki kesadaran pentingnya teknologi untuk mengolah limbah dalam proses produksinya. Adanya Research & Development di perusahaan yang bisa mengolah pembuangan limbah akan jadi nilai tambah . Tapi sisi yang lainnya , banyak perusahaan yang tak berdaya secara finansial untuk punya R&D yang mendukung lingkungan. 
dokumen pribadi
 
Lalu, bagaimana solusi bagi CEO yang punya visi lingkungan tapi belum punya sumber daya manusia yang punya kapasitas untuk melakukan pengolahan data  pengolahan analisa dan perubahan agar limbah yang terbuang itu tidak jadi kerusakan lingkungan. 
 
Apabila Anda ingin sukses jadi CEO yang memiliki visi Lingkungan tapi punya kendala di atas, Anda tak perlu khawatir karena  Anda dapat dengan mudah melakukan pendekatan kepada CESGS
 
CESGS adalah Center for Environmental, Sosial & Governance Studies. Tujuan CESGS adalah untuk mendukung riset akademik, membangun para eksekutif memiliki wawasan yang berkelanjutan, berikan solusi yang jitu di depan terhadap rekomendasi atas masalah lingkungan, sosial dan tata Kelola. Dukungan itu semua berdasarkan riset ilmiah yang dilakukan oleh para top akademisi dalam bidang Envirnomentals, Social and Governance. 
 

Keuntungan Bagi CEO yang Miliki ESG dari CESGS

 

Dalam dunia bisnis yang bergerak “Go Green” , CEO harus memiliki strategi yang tak bisa dilepaskan dari ESG agar perusahaan memiliki sustainable investing . Dengan perusahaan yang telah punya ESG, maka akan berdampak positif pada kinerja perusahaan dari segi keuntungan, harga caham, dan citra perusahaan. 
 
Akhirnya. perusahaan pun punya kepercayaan kuat dari investor karena ESG mampu mengidentifikasi perusahaan dengan cara menganalisis: 
  1.  Laporan tahunan 
  2.  Laporan Keuangan 
  3.  Laporan Tata Kelola Perusahaan (GCG)
  4.  Laporan Keberlanjutan (sustainability) 
  5. Laporan tanggung jawab sosial 
 
Siapkah Anda sebagai CEO yang memiliki visi wawasan berkelanjutan dengan dukungan dari CESGS.
 
Sumber referensi: 
 
  • ESG: “Definisi, Contoh, dan Hubungannya dengan Perusahaan: https://www.cesgs.or.id/id/2020/12/29/apa-itu-esg/ 
  • The Power of One: How CEO Power Affects Corporate Environmental Sustainability : https://www.researchgate.net/publication/291365125_The_Power_of_One_How_CEO_Power_Affects_Corporate_Environmental_Sustainability 
  •  Youtube: “Kota Limbah Industsri -Kami Hidup dengan Apa yang Kamu Buang” 

 


 

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!