Refleksi Pencapaian Recehku di Tahun 2020

Jelang akhir tahun biasanya orang sering berefleksi, apa yang telah saya lakukan tahun ini sesuai dengan apa yang direncanakan awal , bagaimana realisasinya atau pencapaiannya, sukses atau gagal?

Setiap orang pasti dong punya jurnal rencana, baik itu rencana sekolah, kerja atau menikah,keuangan dan lainnya. Saya pun punya rencana yang sebenarnya tak muluk, bahkan dibilang sangat sederhana. 

Apa tuch rencananya? Yang pertama, hanya bisa bertahan untuk menulis baik itu di blog sendiri atau di Kompasiana, kedua bisa berbagi talenta saya kepada orang lain.

Mengapa bertahan menulis dijadikan rencana atau pencapaian diri? 

Alasan yang paling utama adalah penulis blog itu makin lama makin dituntut kreatif dengan dunia vlog, infografis, yang berbau teknologi. Sementara saya gaptek, ngga mampu untuk bisa melawan kodrat teknologi yang terus berkembang. 

Jadi saya sudah melihat gelagat tulisan tanpa embel-embel infografis dan foto yang kece serta video, mungkin akan tersingkir lambat laun. Kendala saya itu gaptek itu membuat saya tak berani punya pencapaian besar, cukup dengan bertahan nulis, yang penting diri saya tidak pikun karena saya punya daya untuk membaca artikel-artikel aktual.

Bahkan ketika tulisan-tulisan yang pernah ditolak oleh seorang juri dengan nada keras “tulisan Anda seperti sampah”, membuat hati saya menciut. Refleksi yang saya pertanyakan untuk diri sendiri apakah ini langkah awal dan akhir untuk menulis. 

Setelah berpikir cukup lama, target saya , cukup untuk bisa bertahan, tak perlu punya target lebih dari kemampuan. Untuk rencana kedua itu, saya sendiri pengin berbagi tentang menulis, tapi belum punya bayangan siapa pendengar dari sharing saya. 
Umumnya, orang yang berbagi atau bahasa kerennya itu nara sumber itu haruslah seorang yang sudah terkenal dulu , jadi peminatnya banyak. 

Ketika saya ikut lomba “Manfaatkan Produk Keuangan, Makroprudensial Aman Terjaga” diselenggarakan oleh Kompasiana bekerja sama dengan Bank Indonesia, saya tak pernah mengharapkan menang. Hanya satu kata saya , jika kompetensi saya untuk menulis memang hanya di sini saja, artinya saya tak akan pernah menang. 

Saya tak berharap menang, karena ratusan Kompasianer ikut menulis dalam lomba ini. Apa yang mendorong saya tidak menyerah? “Man Jadda Wajadda”, Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil (www.negeri5menara.com).

 Kenapa menyerah sebelum bertarung? “Meski harus jalur gelap dan berlubang jadi rintangan, yakinlah titik awal dari sebuah terang yang akan kau dapatkan di penghujung jalan”. Hebat? Tidak, motivasi dan pendorong kuat itu jadi patokan saya untuk maju terus . 

Nulis bukan hal yang mudah , tapi nulis suatu kreativitas yang dibangun dengan kemampuan menuangkannya. Bagi saya kemenangan sebagai Pemenang Favorit di lomba di atas adalah semata-mata bukti perjuangan itu tak bisa dipungkiri. 
Pencapain REcehku
kompasiana.com


Perjuangan untuk berusaha keras, mengemas tulisan dengan baik dan data pendukung yang actual dan akurat. Rencana itu sudah teralisasi, walaupun tingkatnya hanya juara favorit. Saya tak pungkiri ini hanya kecil saja bagi sebagian penulis yang mumpuni, tapi bagi saya hal ini merupakan pencapaian luar biasa. 

Nach untuk realisasi rencana kedua tentang berbagi, saya sebenarnya ragu-ragu kepada siapa saya harus berbagi tentang menulis. Banyak penulis yang sudah jauh lebih bagus kualitasnya dari saya. 

Tanpa direncanakan tiba-tiba seorang teman ex kantor saya yang lama, menghubungi saya. Kamu harus sharing dong tentang menulis, khan sudah jadi juara menulis. Saya katakan kepadanya, saya bukan juara menulis, tapi saya suka menulis. Jika kamu benar-benar pengin mendengarkan tips tentang menulis ala saya, aku mau berbagi. 

 Akhirnya saya menulis poin-poin tentang menulis yang penting bagi seorang pemula. Mulai dari motivasi, modal, struktur tulisan sampai praktek menulis. Sederhana sekali khan.Saya pun tak tau siapa pengikut presentasi saya. Saya hanya pesan kepada teman saya agar pesertanya itu bukan orang yang sudah mumpuni menulis karena sharing saya itu hanya basic menulis .


Refleksi Pencapaian
dokpri


Tanggal 23 Desember , saya mempresentasikan di zoom dengan gaya informal, namanya juga sharing, jadi ngobrol panjang , cerita panjang. Tanya jawab juga sangat cair saja. 

dokpri


Pencapaian  dua rencana itu sudah berjalan sesuai dengan rencana dan saya merasa sudah bisa menghargai diri saya sendiri karena dalam hidup ini perlu usaha, kerja keras untuk suatu pencapaian. Pencapaian bukan diukur besar atau kecil, tapi berdasarkan kemampuan kita sendiri.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!