STOP PNEUMONIA, Selamatkan Anak Indonesia

 Kehadiran anak jadi kebahagiaan bagi keluarga. Perilaku dan ketidak disiplinan orangtua jadi penyebab utama dari kematian anak karena pneumonia. Stop kematian  anak di bawah 5 tahun yang  disebabkan oleh pneumonia.  Penyebab dan pencegahan jadi kunci utamanya.


Akleema, seorang balita perempuan berusia 2 tahun itu tergeletak lemah, pucat pasi. Nafasnya tersengal-sengal, demam tinggi, dan tak mau minum susu sedikit pun. Tusukkan jarum itu membuatnya menangis tersedu-sedu, apalagi selang oksigen itu harus dipasang untuk membantu pernafasannya. 

Sehari-harinya dia sangat lincah, senang bermain dengan Aisya teman tetangganya. Bahkan, dia tak pernah mengeluh sakit karena karakternya dia anak yang ceria dan lincah. Namun, pada suatu hari dia mengeluh tak bisa bernafas, tersengal-sengal, bahkan matanya jadi redup karena badannya sangat panas.
STOP Pneumonia
Akleema sedang dirawat.  Sumber: parenting.dream.co.id


Segera Akleema dibawa dan dilarikan ke rumah sakit RS Kebon Jati, Bandung. Dia dirawat di sana untuk kedua kalinya karena kali ini diagnosa adalah pneumonia berat. Jika tidak tertangani dalam jangka waktu singkat, Akleema akan meninggal dunia.

Ketika dokter anak menganjurkan untuk di rontgen, hasilnya sungguh mengejutkan sekali. Paru-paru Akleema terpapar dengan kuman, virus yang berasal dari asap rokok.

Pertanyaan pertama yang diajukan oleh dokter kepada Ibu Nurul, ibunda dari Akleema, “Siapa yang merokok di rumah?” 

“Tidak ada Dokter. Tetapi banyak tamu yang datang di rumah kami. Semuanya merokok. Juga Akleema bermain di antara perokok ketika mengikuti perayaan 17 Agustus”, jawab Ibu Nurul.
STOP Pneumonia
dokumen pribadi


Di atas sekilas gambaran bagaimana pneumonia itu menyerang anak-anak balita. Bahayanya penyakit pneumonia bagi anak-anak sangat mengkhawatirkan karena pneumonia menjadi penyebab kematian nomor 1 di dunia yang membunuh 1 juta anak, 15% dari seluruh kematian balita di Indonesia atau kematian anak nomor 2 di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan , di Indonesia sendiri terdapat 153.987 kematian anak berusia kurang dari 1 tahun dan 314.55 pada kasus anak berusia 1-5 tahun di tahun 2019 dan 443 kematian anak akibat pneumonia  di tahun 2020. Dari segi jenis-jenis penyakit, pneumonia itu merupakan pembunuh balita di dunia , lebih banyak dari AIDS, malaria, dan campak. 

Indonesia berada di peringkat ke-7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi.

Apa itu Pneumonia? 

STOP Pneumonia
dokumen pribadi


Pneumonia adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur dan parasit pada satu atau kedua belah jaringan paru-paru. Kantong udara pada paru-paru yang seharusnya berisi udara bersih, tetapi diisi cairan atau nanah yang membuat sulit bernafas bahkan kekurangan oksigen yang masuk ke dalam tubuh. 

Gejala pneumonia adalah batuk berdahak, demam seperti influenza dan sesak nafas. Pneumonia berbeda dengan influenza. 

Jika pneumonia adalah peradangan paru-paru, influenza adalah virus influenza yang ada dalam pipa nafas. 

Gejala  Awal

STOP Pneumonia
dokumen pribadi


Untuk mendeteksi apakah anak saya itu terjangkit pneumonia, awalnya anak terlihat batuk seperti sakit selesma atau influenza. Tapi diikuti oleh demam selama 2-3 hari, terlihat ada yang muntah-muntah, nyeri pada dada, kehilangan nafsu makan, nafasnya lebih cepat atau tersengal, juga anak mendapat kesulitan dalam bernafas (sesak).
STOP Pneumonia
dokumen pribadi


Anda sebagai ibu atau orangtua tidak boleh tinggal diam. Anak harus  segera dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit. 

Apa Faktor Risiko Pneumonia? 

STOP Pneumonia
dokumen pribadi


  1. Balita yang premature dan berat badannya kurang dari 2,5 kg ketika dilahirkan. 
  2.  Gizi kurang atau stunting 
  3.  Imunisasi yang tidak lengkap
  4. Tidak dapat ASI selama 6 bulan , MPASI selama 2 tahun 
  5.  Kurangnya asupan vitamin 
  6. Terpapar oleh asap rokok atau lingkungan 

Cara Hindari dan Cegah Pneumonia:


 Sebelum anak terpapar pneumonia, kita harus melindungi anak sebagai berikut ini: 
dokumen pribadi


  • ASI eksklusif selama 6 bulan dan makanan pendamping (MPASI )selama 2 tahun. 
  • Imunisasi dasar lengkap, meskipun saat pandemi, para ibu balita harus rajin menanyakan kepada puskesmas atau Rumah sakit jadwal anaknya untuk mendapatkan imunisasi yang belum dilakukan. Imunisasi yang belum dilakukan itu bisa dilakukan dua  jenis kali sekaligus (ini atas anjuran dokter). 
  • Malnutrisi: memperhatikan asupan gizi anak agar tidak terjadi stunting , selalu mengikuti perkembangan pertumbuhan anak. 
  •  Asupan gizi: sejak ibu mengandung janin, harus ada kecukupan asupan gizi yang cukup untuk janinnya. Begitu lahir pun ibu menyusui dan bayi/balita juga harus cukup asupan gizi untuk tumbuh kembang bayi.
  • Sirkulasi udara bersih tanpa asap: Stop merokok bagi siapa pun ketika berada di lingkungan balita karena walaupun perokok merokok di luar, tapi paparan asap rokok yang dibawa masih terpapar di baju ayah/ibu yang merokok.  Rumah harus BEBAS ROKOK.  Tidak ada alasan dari mereka yang merokok di luar rumah, tapi paparannya masih ada melekat di bajunya.

 STOP  PNEUMONIA

STOP Pneumonia
dokumen pribadi


S = Berikan ASI hingga 6 bulan dan MPASI hingg 2 tahun
T= Tuntaskan imunisasi dasar balita 
O= Observasi anak sakit, segera bawa ke fasilitas kesehatan 
P = Pastikan kecukupan gizi ketika anak sehat 

Save the Children Indonesia  lahir dari Deklarasi yang diadopsi oleh PBB 1989 dalam  bentuk Konvensi Hak Anak.   Save the Children Indonesia didirikan pada tahun 1976 untuk membantu anak, dalam Yayasan Sayangi Tunas Cilik.

Dalam rangka Hari Pneumonia sedunia, Save The Children Indonesia telah melakukan kerja sama dengan semua pihak yaitu Dinas Kesehatan dan Kementrian Anak dan Perempuan dan seluruh warga yang ingin terlibat dalam kampanye STOP Pneumonia. 

Dinas kesehatan telah mendukung kampanye STOP Pneumonia dengan langkah-langkah:

  1. Program yang mengukur angka kematian anak: pemantauan angka kematian anak.
  2. Mengurangi kematian anak dengan mencari penyebabnya.
  3. Prioritaskan program angka kematian dengan jangka pendek: edukasi, dan jangka panjang : menyediakan fasilitas sesuai dengan kebutuhan seperti obat dan tenaga kesehatan yang teredukasi.
  4.  Manajemen terintegrasi/terpadu secara dini.


Ayo, selamatkan anak-anak Indonesia dari kematian dengan STOP Pneumonia 


Sumber referensi:

  • Lagi, Cerita Sedih Anak Terkena Pneumonia Berat Karena Rokok : parenting.dream.co.id
  • STOP Pneumonia,  "Save the Children"

18 komentar

  1. Baca kisah Alkema aku jadi sedih, mbak..Apalagi ini terjadi akibat rendahnya kesadaran ttg kesehatan. Hal yg masih jauh dibawah harapan.

    Kesadaran dalam menjaga kesehatan diri dan sekitar emang gak tumbuh instant ya, mbak. Tapi, korban kelalaian sekitar kita pastilah yg posisinya lemah tawar, seperti anak-anak.

    Perlu pemaksaan khusus dari pihak pemerintah lewat peraturan jelas agar kasus seperti Alkema jadi yg terakhir.

    Terima kasih sharingnya mbak..
    Btw, Kalau aku sih sering ikut acara(dulu sebelum pandemi) dg save the children terkait pengembangan soft skill.

    BalasHapus
  2. Ya ampun baru tau ternyata penyebabnya asap rokok
    Anakku sulung pernah masuk rumah sakit di usia 18 bulan
    Duh sedih banget lihat bayi mungil tersengal sengal kesulitan bernapas
    Saya ga tau penyebabnya asap rokok ayahnya 😢😢😢

    BalasHapus
  3. Aku sangat mendukung kampanye STOP Pneumonia. Aku concern banget menjauhkan anak dari bahaya asap rokok. Tapi yang penting juga menurutku menyadarkan perokok untuk stop merokok di dekat anak kecil dan harus bebersih diri setelah merokok sebelum pegang anak kecil

    BalasHapus
  4. Balita jadi kelompok risti pneumonia. Sayangnya, banyak masyarakat yang kurang peduli

    BalasHapus
  5. Sedih baca cerita kisah Alkema, berharap semoga anak-anak tidak terkena penumonia lagi dan harus butuh asupan gizi yang sehat dan terus menjaga kesehatan supaya bisa terhindar dari penyakit

    BalasHapus
  6. Serem juga yah bu. Kasian anak2, terlebih mereka adalah generasi2 penerus. Pentingnya informasi2 seperti ini dapat tersebar dan terbaca oleh semua lapisan masyarakat terutama para orang tua. Terimakasih Bu Ina atas informasinya ;)

    BalasHapus
  7. Serem juga yah bu. Kasian anak2, terlebih mereka adalah generasi2 penerus. Pentingnya informasi2 seperti ini dapat tersebar dan terbaca oleh semua lapisan masyarakat terutama para orang tua. Terimakasih Bu Ina atas informasinya ;)

    BalasHapus
  8. Hiks, mendengar Pnemonia ini aku jadi teringat akan anak bayi salah satu sahabatku yang meninggal karenanya. Semoga makin banyak edukasi tentang Stop pnemonia ini, biar makin paham orang tua.

    BalasHapus
  9. Tempo hari ikut webinar stop pneumonia. Banyak insight banget. Pneumonia ini emang penyakit berbahaya banget buat balita apalagi.

    BalasHapus
  10. sedih banget lihat alkeema terbaring lemah, padhal pasti jiwanya pengen banget main. semoga lekas sembuh yaa

    pneumonia ini serem juga yaa, ternyata bisa dilihat dari pola makan dan kondisi lingkungan juga, harus wanti2 banget kalo ada lingkungan yg bnyk orang ngerokok.apalagi covid gini, gejalanya hampir sama ya bu. semoga kita sehat semua yaa. thanks for sharing bu

    BalasHapus
  11. Duh, bikin sedih deh kalo ngomongin anak-anak sakit. Apalagi ini pneumonia. Ternyata salah satu penyebabnya adalah asap rokok. Alhamdulillah di rumah gak ada yang merokok. Semoga perokok semakin berkurang ya, biar anak-anak, terutama bayi bisa terbebas dari ancaman pneumonia.

    BalasHapus
  12. Pneumonia ini sering dianggap sepele yah, ternyata besar sekali akibatnya. Hiks. Semoga selalu sehat yah

    BalasHapus
  13. Huuuh makanya akutu paling sebeeel kalo ada orang ngerokok apalagi di area publik gitu. Udah mah asapnya biki sesek, kadang kalau ditegur malah nyolot. Sedih banget ni liatin kasus anak yang jadi korban asap racun itu.. Dan bener banget kita sebagai ortu harus bener-bener teliti dan menjaga anak sebaik mungkin yaaa.. semoga kasus pneumonia anak ini makin berkurang yaa amiinnn

    BalasHapus
  14. sedih banget ya pastinya kalau harus melihat anak sakit kayak gitu. apalagi kalau penyebabnya adalah anggota keluarga sendiri kayak misalnya ayah yang merokok. huhu

    BalasHapus
  15. ternyata sisa asap rokok yang masih menempel di pakaian juga bisa menyebabkan anak kena pneumonia ya? wah serem juga yaa.. Semoga masyarakat kita semakin aware akan bahaya penyakit penumonia ini dan tahu bagaimana cara mencegahnya

    BalasHapus
  16. sedih ya kalau yang jadi korbannya justru anak-anak :( Balita memang jadi kelompok yan beresiko tinggi, padahal vaksin juga sudah tersedia. Tp kadang orang tua kurang aware ;(

    BalasHapus
  17. Itulah bahayanya merokok. Ayah saya meninggal akibat tumor paru-paru, yang disebabkan dari merokok aktif selama bertahun-tahun.
    Dan sekarang ini kayaknya saya juga harus periksa kesehatan, kemungkinan ada bisa terkena paparan dari asap rokok.

    BalasHapus
  18. Wah aku baru tahu penyakit ini begitupula dengan penyebab dan penanganannya. Terima kasih atas ilmunya kak. Saya pun ter-edukasi untuk memahami ini sebelum berumah tangga. Ditunggu artikel ² selanjutnya kak

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!