Memasuki Masa Resesi, Kencangkan Ikat Pinggang

 


                                                              

Suatu hari seorang teman yang sudah lama tidak bertemu bercerita kepada saya. Anaknya tiba-tiba kena PHK, lalu dia tidak diberikan pesangon karena belum genap tiga bulan bekerja. Sekarang dia harus jadi tanggungan teman saya lagi. Padahal teman saya sendiri sudah pensiun. Wah dia mengeluh “Betapa beratnya hidup ini, apalagi saya khan butuh uang untuk kesehatan saya sendiri di saat pandemi”. Itulah salah satu sekelumit dari kisah nyata yang dialami oleh mereka yang tak punya keuangan sehat

 Apakah keuangan keluarga masih sehat ketika menghadapi PSBB yang kedua ini ? Pertanyaan ini saya ajukan karena tidak semua orang bisa menyambut PSBB kedua dengan lega seperti cerita di awal . 

Kenapa lega? Bagi sebagian orang yang sudah berpengalaman dalam mengatur keuangan , mereka sudah mempersiapkan emergency funds atau dana cadangan sejak dari awal. Tidak perlu disuruh karena mereka sudah punya pola mengatur keuangan yang baik, yaitu menyisihkan 15%-20% dari pendapatannya untuk dana darurat.

Sekarang setelah melewati 6 bulan PSBB bagi mereka yang sudah melewati dengan baik dan sehat keuangannya, perlu untuk mengatur kembali atau istilah kerennya “mereview” lagi. Mungkin dulu saat PSSB pertama keuangannya masih sehat, tapi setelah hampir 6 bulan dana emergency sudah digunakan dan habislah tabungan. Jadi apakah masih ada yang tersisa untuk menyambung hidup. 

Memasuki Masa Resesi , Kencangkan Ikat Pinggang:


 Jika pada kuartal kedua bulan April – Juni, pertumbuhan ekonomi kita jauh dari target yaitu minus 5.35% maka mendekati akhir kuartal ketiga Juli-September, kita  baru bernafas Juli dan Agustus, tiba-tiba korban Covid-19 meningkat. PSBB diberlakukan di Jakarta.  Ekonomi yang belum bisa bangkit, kita kembali ke nol lagi, kita  bisa merasakan ekonomi akan stagnan.

Dua kuartal berturut-turut terjadi, maka kita akan memasuki resesi. Resesi berarti perekonomian akan berjalan sangat lamban dan perusahaan-perusahaan mulai berhitung apabila cashflow (dana masuk ) tidak mencukupi untuk mencukupi semua biaya pengeluaran tetap seperti listrik, sewa gedung, gaji karyawan, jalan satu-satunya adalah PHK karyawan atau mengurangi gaji karyawan.

Pilihan pahit bagi perusahaan dan karyawan adalah PHK. Ketika PHK terjadi, karyawan harus mencari pekerjaan baru yang notabene sangat sulit di saat ini. Karyawan yang kena PHK dan belum punya pekerjaan baru, tentu harus mengeluarkan dana untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apabila dia masih memiliki emergency fund seperti yang telah diceriterakan di atas, dia bisa gunakan dana darurat. 

Bagi mereka yang gajinya berkurang, tentunya perlu mengevaluasi lagi bagaimana untuk mendapatkan extra pendapatan untuk mengcover kekurangan dari biaya rutin.   Sementara bisa gunakan biaya darurat.

Tapi jika dana darurat sudah dia gunakan ketika terjadi PSBB pertama, maka yang perlu dilakukan adalah berikut ini:

 Evaluasi Dana Pengeluaran: 


Menghitung kembali biaya dasar atau biaya untuk kebutuhan primer. Makanan/minuman, transportasi, pendidikan, listrik, kuota , sewa /kontrak rumah. Apakah ada biaya primer yang masih dapat dikurangi, Contohnya makanan yang dulunya seminggu makan daging 3 kali, perlu dikurangi jadi 2 kali saja. 

Untuk kuota internet, usahakan untuk mendapatkan bantuan keringanan bagi anak dan anak yang sudah jadi mahasiswa yang disalurkan melalui pelbagai dinas pendidikan dan operator seluler yang punya harga murah khusus untuk anak-anak sekolah. Biaya belanja yang dulunya belanja tiap hari bisa dilakukan dua hari sekali dengan mengirit biaya transportasi .

 Prioritaskan Biaya Kesehatan dan Pendidikan:


 Dalam kondisi yang sangat “mepet”, bagi mereka yang tak punya dana cadangan sama sekali, perlu memprioritas pos-pos pengeluaran kesehatan . Pos kesehatan dan pendidikan ini harus didahulukan dibandingkan untuk pembelian hobi atau passion misalnya ngopi atau beli aksesoris dari gadget atau sepeda. 

 Kurangi Pembelian yang tidak dibutuhkan: 


Seringkali kita terutama para ibu kurang menyadari ketika berbelanja di supermarket atau di pasar konvesional, melihat sayur , daging, atau bumbu yang seharusnya tidak masuk dalam list daftar belanja, jadi ikut dibeli. Ketika diperiksa kembali stroke pembelian, kenapa pembelian jadi membengkak, kita baru mengetahui ada pembelian yang seharusnya tidak masuk dalam jadwal pembelian

 Sebaiknya ketika kita akan belanja, cek dulu stok barang yang akan dibeli. Apakah memang masih atau ada ? Jika masih ada, tidak perlu beli lagi. Jika habis, beli secukupnya tidak perlu berlebihan. Pembelian sayuran atau barang yang berlebihan itu bukan hanya memboroskan bagi kita, tapi juga pemborosan bagi lingkungan hidup kita. Ketika dimasak dan dikonsumsi, menyisakan banyak, akan terbuang tanpa bisa bermanfaat. 

Tidak ada hutang baru: 


Sulitnya bagi mereka yang masih harus melunasi hutang, tapi kehilangan pekerjaan. Dana masuk tidak ada tapi harus bayar cicilan. Satu-satunya jalan minta restrukturisasi hutang, artinya minta perpanjangan pembayaran hutang. 

Setelah berhasil, tidak melakukan hutang baru  seperti kartu kredit sebelum semuanya lunas dan mendapatkan pekerjaan baru. Ikatkan pinggang jadi pilihan yang tak bisa ditawar lagi ketika kondisi keuangan sudah sangat sulit dan resesi sudah di depan mata.

Tidak ada komentar