"Let’s Read", Berpetualang Lewat Membaca

Dokpri



Adit anak lelaki, tetanggaku berusia 7 tahun. Dia sering datang ke rumah, berceloteh dengan diriku. “Oma, dulu ketika Adit masih boleh masuk sekolah (tatap muka), Adit senang sekali dech!”
 “Apa yang menyenangkan Adit?” tanyaku. 

Dia berlari ke dalam rumahnya mengambil buku-buku yang berjudul “Aneka Festival Indonesia” by Duta Cahaya, based on boardgame from Manikmaya Games

“Adit bisa belajar suku bangsa di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Yang lucu, aneh, dari adat istiadat tiap suku bangsa, tiap daerah itu beda," sambung Adit.
 “Oh, begitu! Ayo Adit cerita kepada oma apa saja festival itu”

 Lalu, Adit membuka buku dengan gambar yang sangat menarik dan bagus beserta tulisan besar tentang nama festival dan tempat dimana festival itu diadakan. Beberapa contoh dari nama-nama festival di Indonesia itu adalah:
  • Sendra Tari Ramayana di Yogyakarta, Jawa Tengah,
  • Karapan Sapi Festival, di Madura Galungan Festival di Bali,
  • Ogoh-ogoh Festival Nyepi di Bali, 
  • Lembah Baliem Festival di Papua,
  • Isen Mulang Festival, di Palangkaraya, Kalimantan,
  •  Erau Festival, Kalimantan,
  •  Bau Nyale Festival, Lombok.

 “ Apa yang Adit sukai dengan buku ini?”tanya saya.
 “Adit, bisa tau tempat dan lihat festivalnya!” jawabnya singkat. 
 “Lalu apa yang sekarang Adit sedihkan?”
 “Adit ngga bisa lagi jalan-jalan ke Nusantara karena buku Adit sudah habis dibaca!” jawabnya polos. “Nanti oma berikan buku yang tak kalah menariknya yach, pasti Adit akan membaca buku dengan menyenangkan”. 

Begitulah percakapan singkat saya dengan Adit. Kesan saya yang mendalam dengan Adit, dia sudah menyukai dan memiliki budaya membaca yang berakar. Tidak perlu mengajar bagaimana menyukai bacaan , apa gunanya membaca dan cara membaca dan mendapatkan manfaat membaca. Adit telah memiliki dasar literasi membaca. 

Keprihatinan kita untuk generasi anak-anak terhadap rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan studi “World’s Most Literate National” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat atau budaya membaca. 

Ironisnya, Indonesia memiliki peringkat di atas negara-negara Eropa dalam segi penilaian infrastruktur yang mendukung kegiatan membaca. Ada berbagai inisiatif atau kegiatan dari pelbagai pihak termasuk perpustakaan yang membangkitkan minat baca bagi masyarakat.

Patut diingat bahwa membaca itu bukan sekedar baca saja, tetapi membaca dengan memahami apa yang dibaca, dapat menganalisa, memaknai dan mendapatkan “insight” apa yang dibacanya. 

Jika warga atau masyarakat Indonesia belum juga masuk ke lingkaran budaya membaca, maka kita akan terus tertinggal dari negara-negara lain yang budaya literasinya sudah maju dan meningkat. Budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah sampai masyarakat. 

Penguasaan enam literasi dasar, baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial dan budaya dan kewargaan jadi sangat penting dan krusial bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. 

Pintu masuk untuk masuk literasi baca adalah dengan melalui penyediaan bacaan dan peningkatan minat baca anak. 

Cara Membaca yang Benar: 

Membaca dan menulis berkorelasi positif dengan kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakata.

Masukan kata-kata dan gagasan didapat melalui membaca, sedangkan keluarannya disalurkan melalui tulisan. Anak-anak yang sudah terbiasa membaca, akan banyak kosa kata yang dimiliki dan membuat komunikasi berjalan dengan baik. 

Menyerap Bacaan: 


Menyerap dan meramu bacaan, harus dimulai dengan ketertarikan tema bacaan (bagi anak-anak). Setelah tertarik, dia akan fokus untuk membaca, lalu membaca dengan baik dan memahami apa yang dibacanya. Fokus membaca ini meningkatkan daya konsentrasi, kinerja otak jadi maksimal. Di samping itu imajinasi dan kreativitas pun tumbuh dan semakin banyak, wawasan dan cara berpikir makin tajam. 

Bertualang Lewat Bacaan: 


Anak senang dengan dunia yang baru, explorasi apa yang belum diketahuinya. Bacaan anak harus memiliki nilai mendidik, bermutu sesuai dengan tingkat kemampuan anak, jumlah dan variasinya sangat banyak sehingga memilih apa yang disukainya jauh lebih mudah.

Peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu melalui cerita, cerita rakyat/legenda, sesuatu unik dari tiap suku bangsa di Indonesia, masing-masing punya ceritanya. Asal usul daerah, adat, budaya, tokoh, yang dulunya diceritakan secara lisan sekarang berubah jadi buku, dan akhirnya jadi buku digital. 

Perkembangan teknologi informasi di era globalisasi sangat berpengaruh di dunia pendidikan. Tuntutan global ini tentunya menyesuaikan teknologi informasi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Buku digital inilah yang era dari media pendidikan masa kini digunakan oleh warga, keluarga di Indonesia.

Ketika kepala keluarga atau ibu sebagai pendidik di rumah, memberikan bekal literasi baca, maka buku digital jadi pilihannya. Namun, harus diingat bahwa literasi digital terhadap anak penting diterapkan sebelum memperkenalkan cerita digital. 

Literasi digital tentang bagaimana anak mengoperasikan gadget dan bagaimana anak tidak boleh mengakses konten-konten yang tidak diperbolehkan. 

Tentu sekarang ini banyak yang ditawarkan oleh berbagai macam platform untuk buku digital anak. Buku digital anak yang berkualitas dan bermutu sesuai dengan usia, bahasa dan tematik, sesuai dengan karakteristik perkembangan anak dan pertumbuhan aspek kemandirian dari nilai personal (emosional, imajinasi, sosial, etis dan religus), nilai pendidikan dari eksplorasi dan penemuan wawasan multikultural, kebiasaan membaca . 

 “Let’s Read berkontribusi menggiatkan minat baca pada buku anak melalui perpustakaan digital, membantu anak meningkatkan minat baca . Cerita atau konten cerita disesuaikan dengan Bahasa lokal yang diinginkan (ada 50 bahasa asing maupun lokal), fitur-fitur sesuai perkembangan usia anak dari 4- 10 tahun , dan jenis buku mulai dari unggulan sampai semua buku .
                                                     
                                                                     
 “Let’s Read”diprakasai oleh Books for Asia dari Asia Foundation. 

"Let’s Read" berkolaborasi dengan penulis lokal /pegiat literasi untuk menghasilkan cerita fabel atau cerita legenda sesuai dengan negara penulisnya. Anak-anak sebagai pembaca dapat meluaskan wawasan dari legenda negara yang belum pernah dikunjunginya, bahkan memahami budaya lokal suatu negara yang belum dikenalnya. 
dokumen pribadi



 Saat Covid-19, sekolah belum dibuka, anak-anak masih belajar secara daring.   Dalam belajar daring, pertama dibutuhkan adalah gadget, kemudian wifi . Kedua perangkat ini jadi mutlak kebutuhan belajar secara daring. 

Dua kebutuhan ini juga bermanfaat bagi anak untuk tetap berpetualang menjelajahi dan eksplorasi dunia anak di “Let’s Read”, Perspustakaan Digital Cerita Anak.  

Bagaimana Cara Membaca di “Let’s Read”? 


Mudah dan gratis tanpa biaya.  Ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu dengan klik link situsnya atau melalui aplikasi "Let's Read".

 I. Situs "Let's Read"

Dokpri




  1.  Isi Languange
  2.  Reading level 
  3.  Tag
  4. Search
  5.  Download EPUB atau PDF
  6. Baca

II. Aplikasi "Let's Read"




Let's Read Lewat Aplikasi.  Sumber: dokpri



  1. Unduh aplikasi “Let’s Read” melalui Google Play Store 
  2.  Buka 
  3.  Pilih Bahasa yang ingin digunakan 
  4.  Izinkan Unduh buku untuk dibaca tanpa Internet
  5.  Pilih salah satu buku yang ingin dibaca 
  6.  Diunduh 
  7.  Baca 

Lanjutan kisah saya dengan Adit:


 “Adit, ayo ke rumah oma!” panggil saya sambil mempersiapkan cerita berjudul “Ayo Jelajahi Hutan” di “Let’s Read”. 

Begitu Adit muncul, dia bertanya : “Ada apa oma?” 
“Sini, oma khan janji kepada Adit untuk cerita yang bagus sebagai ganti buku Adit yang sudah habis!” 

Lalu, saya dan Adit duduk berdampingan, memperhatikan pada layar gadget yang sudah saya persiapkan. Pada layar tertulis, “Ayo Jelajahi Hutan”. 

Saya minta Adit membaca cerita mulai dari halaman satu hingga selesai. 

 “Bagus Oma, aku mau seperti Titi yang berani masuk hutan dan bertemu dengan bermacam-macam binatang. Aku belum pernah ke hutan , oma!”
 “Iya, nanti kamu bisa izin dulu kepada mamah dan papah untuk pergi ke hutan. Ada kok yang namanya hutan kota. Adit nanti bilang ke mamah, unduh cerita dari perpustakaan “Let’s Read”, pinta saya.
 “OK oma!” Adit  pulang dengan senyum lebar.

24 komentar

  1. Usia 7 tahun di kota udah bisa baca dan menelaah isi buku ya. Di kampung saya boro-boro. Hehehe....
    Jangankan anak, orang tua saja kakaunada kesempatan baca, lalu disuruh cerita ulang, ga akna selancar dan sedetail seperti Adit

    BalasHapus
  2. Bagus juga Let's Read ini. Perlu banget bukan cuma membaca, tapi memahami dan menyerap bacaan Kita supaya lebih mengerti. Jadi ga asal Baca gitu

    BalasHapus
  3. Itulah eknapa saya merasa membaca harus di suasana yang menyenangkan. Supaya anak gemar membaca. Jadi gak sekadar bisa membaca, tetapi juga memahami

    BalasHapus
  4. Setuju banget sama Mak Myra,lebih memahami itu kadang yang sulit.
    Banyak pembelajaran ketika membaca, salut sama Adit yang paham banget dengan kisah Jelajahi hutan dan menceritakannya.

    BalasHapus
  5. Wah ada yah aplikasi let's read Di play store. Saya baru tau tapi ini harus Saya Unduh Karena anak saya sangat suka membaca. Sejak dini sudah Kami kenalkan ia dengan buku. Sehingga besar sekarang ia suka membaca

    BalasHapus
  6. Wah baru tau sampe ada aplikasinya ya kak, saya juga tiap hari baca buku sama anak sampe dia hafal dan bisa mendongeng sendiri, lucu banget hehe

    BalasHapus
  7. Seneng deh kalau banyak seusia Adit bisa punya minat baca sekuat Adit. Susah dan PR banget di masa kini untuk menerapkan minat baca yang tinggi pada anak.Tapi memang harus diupayakan dan memberi banyak insight dari isu yang berkembang lalu disederhanakan yang dapat dicerna anak.
    Bu Ina salut, mau mengajak Adit cerita :)

    BalasHapus
  8. Let's Read juga bisa jadi pilihan untuk anak-anak yang kecanduan gadget. Orangtua bisa mengarahkannya dengan pelan-pelan mengganti game atau youtube dengan dikenalkan pada Aplikasi Let's Read ini.

    Btw, anakku suka juga baca lewat Let's Read.. selalu jadi alasan untuk pinjam HP ibunya hehe.

    BalasHapus
  9. Benar ya, buku adalah jendela dunia. Bnyk baca jd bnyk tau. Alhamdulillah skrg ada banyak cara utk mengenslkan bacaan 😘

    BalasHapus
  10. Walah saya baru tahu ada aplikasi let's read lho. Bagus banget nih ada aplikasi ini. Aku sungguh Salut sama anak kecil seperti Adit yg sudah punya minat baca tinggi.

    BalasHapus
  11. Dua tahun lalu aku baru tahu bahwa baca tulis termasuk salah satu kemampuan literasi, Bu. Yup karena baca bukan sekadar mengeja suku kata menjadi kata menjadi kalimat dan paragraf tapi ada proses pemahamannya

    BalasHapus
  12. wah omah baik banget mau ajak adit bercerita. saya pun pakai aplikasi ini omah untuk alternatif ketika lagi traveling sm anak pas ga bawa buku. atau saat2 tertentu, anakku merasakan "main hape" dengan aplikasi ini haha. main hape yang bermanfaat

    BalasHapus
  13. Senangnya. Salam untuk dek Adit ya, Bu.

    Memang ya, membaca itu akan terasa menyenangkan jika anak sudah punya dasar literasi yang baik. Wah, saya jadi tergoda juga untuk mengunggah aplikasi Let's Read oni deh Serunya bisa banyak punya referensi bacaan dari smartphone saja.

    BalasHapus
  14. Wah sekarang makin mudah yaa kak untuk bercerita. Aku jadi pengen download aplikasinya ah sekalian aku pengen baca juga hehe

    BalasHapus
  15. Aduh Adit, ngegemesin banget
    "Lets Read ini solutif banget ya mbak Ina
    Cukup buka aplikasi untuk baca buku
    Karena di situasi new normal ini sebaiknya emang batasi keluar rumah

    BalasHapus
  16. Jadi flashback ke masa-masa kehamilan Anak Pertama, waktu itu sering membacakan buku ke "Perut" dengan harapan kelak Anaknya gemar membaca dan menyerap banyak pemahaman di dalam bacaan tersebut. Alhamdulillah, dari sejak usia menuju 6 tahun, Anakku sudah mulai suka membaca dan sekarang belajar menulis ceritanya sendiri. Terima kasih untuk infonya mengenai "Let's Read" Mba, aku mau download juga deh jadinya :)

    BalasHapus
  17. Bersyukur ya, jaman sekarang banyak media untuk menyalurkan minat baca anak. Kayak Lets Read ini. Diharapkan orang tua juga support anaknya untuk terus gemar membaca

    BalasHapus
  18. Let's read akan saya coba buat menumbuhkan kembali habit membaca dalam keseharian, jujur aku jadi jarang banget baca sekarang tuh mba

    BalasHapus
  19. Sekarang ini aku lagi ngajarin anak suka membaca juga, dengan cara menyenangkan. Akhirnya kerajinan membeli buku anak.

    BalasHapus
  20. Keren sekali Adit ! Saya baru tahu ada aplikasi Let's Read dan harus langsung install nih , thank.you infonya mba .

    BalasHapus
  21. Menarik ya aplikasi Let's Read ini. Kebetulan di rumah lagi ngembangin perpustakaan umum buat anak-anak, remaja, dan ibu-ibu tapi bacaannya masih sedikit. Bisa pakai aplikasi ini sama anak-anak :)

    BalasHapus
  22. Menarik banget ini aplikasi let's read yah dan nanti mau download ahh

    BalasHapus
  23. Sangat disayangkan minat baca di Indonesia terbanding terbalik dengan infrastruktur yang telah tersedia. Ini merupakan masalah bagi kita bagaimana caranya meningkatkan minat baca di Indonesia.

    BalasHapus
  24. Adit pintar banget ya baca bukunya, sudah pandai mengulas dan kritis..

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!