Lawan Adiksi Nikotin, Konsumsi Rokok Agar Kebutuhan Dasar Terpenuhi

Rokok jadi candu warga . Tak peduli kesehatan, apalagi beras sebagai konsumsi dasar. Sulit cari uang tak jadi kendala. Nikotin itu jadi pelekat perokok. Lupa bahwa asupan makanan penting untuk kesehatan. Kapan mereka sadar? 



Dua orang yang kembar biasanya identik dengan perilaku dan kebiasaan yang mirip sama. Suami dan saudara kembarnya memang punya kebiasaan yang tak bisa dipungkiri sama. Mereka berdua itu suka dan kuat dalam teknologi, belajar otoditak tentang teknologi.

Bukan hanya teknologi saja, tapi ada kebiasaan lain yaitu jika ada waktu luang suami dan kembarannya suka sekali merokok. Mereka berdua termasuk perokok akut dan berat. 

Berjalan waktu, ketika saya hamil, ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk berhenti merokok. Saya tak pernah melarang suami karena saya takut dia marah jika dilarang. 

Namun, atas kesadaran sendiri, dia berani untuk melepaskan diri dari ikatan rokok yang membelenggu dirinya. Sulit sekali dia rasakan di bulan pertama,kedua, selalu ingin jatuh untuk keinginan rokok. Tiap kali ingin jatuh pada cobaan, langsung dia melihat wajah anak saya yang masih bayi. Akhirnya, dia dapat lepas dari belenggu rokok sama sekali .

Ironinya, kembaran suami saya, justru jatuh dalam adiksi rokok yang tak terkendali. Setelah pensiun pun,keinginan untuk merokok itu makin menjadi. Dia pensiun di swasta tanpa uang pensiun, belum punya pekerjaan, istri yang banting tulang, dia tetap saja merokok.

 Beratnya tak ada uang untuk beli rokok bukan alasan untuk berhenti merokok. Justru dia bisa membuat alasan kepada anaknya yang sudah bekerja untuk minta uang. Awalnya , dia minta uang kepada anak dengan alasan untuk beli makanan. Bukan makanan yang dibeli, tapi selalu pergi ke warung atau supermarket untuk beli rokok. Begitu seterusnya, dia tak pernah sadar bahwa rokok telah menjerat hidupnya. Tak ada uang tidak apa, asal ada rokok. 

Bahkan, ketika saat covid-19, dimana dia sering mengantar anaknya bekerja, dia tak peduli tetap merokok. Badannya yang kurus kering dan sering batuk tidak dipedulikannya. Siapa takut? Tak ada orang yang berani untuk mengajaknya berhenti merokok karena dia akan membentak dan memarahi orang yang melarangnya.

Indonesia Jadi Pemenang Perokok:


Sumber: katadata.com

Umumnya,jadi pemenang adalah prestasi yang membanggakan. Sayangnya, kali ini justru jadi pemenang yang merugikan. Dari Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA), menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, 65,19 juta orang . Angka ini tersebut setara 3% dari total penduduk Indonesia pada 2016. 

Dimana Perokok Beli rokok? 


Hampir 79,80% perokok membeli rokok di kios, warung, minimarket, sedangkan 17,6% membeli rokok dari supermarket. Indonesia memiliki 2,5 juta gerai yang jadi pengecer rokok dan kios penjual rokok di pinggir jalan. 

Mirisnya, kategori perokok Indonesia itu datangnya dari middle to low income. Hal ini terbukti dengan data dari BPS yang dikeluarkan 2 Juni 2018 berdasarkan statistik dilakukan tahun 2016, perokok berusia 26-32 tahun, penggunaan pengeluaran non konsumen sebesar 50% per bulan, 6% untuk rokok dan ini berarti lebih besar dari 5% untuk beras. 

Mengapa Konsumsi Rokok Lebih Penting dari Konsumsi Beras? 

dokumen pribadi


Pertanyaan yang menggelitik , secara logika seharusnya orang lebih utamakan beli beras ketimbang rokok di saat pandemi, ekonomi yang sulit. Bagi pecandu rokok yang sudah terpapar nikotin itu ternyata sulit untuk keluar dari jeratan nikotin. 

Nikotin ada dalam semua jenis rokok baik rokok kretek, kretek putih. Nikotin yang merupakan senyawa organic alkaloid memiliki efek kuat dan bersifat stimulan terhadap tubuh manusia. Sekali Anda mencoba merokok, maka Anda seperti masuk dalam lubang besar yang sulit ke luar. 

Ada beberapa orang yang telah mencoba untuk ke luar dari jeratan nikotin itu .  Tetapi mereka gagal karena ada beberapa hambatan yang ada di depannya.

Hambatan itu adalah lingkungan dan gaya hidup. Ketika masyarakat dan warga yang punya mindset bahwa rokok itu adalah bagian gaya hidup, jika merokok dianggap normal, tidak normal jika tidak merokok. 

Survei membuktikan bahwa 7 dari 10 lelaki di Indonesia mengisap rokok dengan paradigma, jika tidak merokok, dianggap tidak normal. Oleh karena itu orang yang sudah mencoba untuk sebulan coba untuk tidak merokok gagal karena lingkungan tidak mendukung, dia jatuh dalam rokok lagi, gagal untuk lepas landas. 

Kegagalan untuk lepas dari rokok juga karena masalah harga dan iklan rokok yang bertubi-tubi. Harga berbagai jenis merek dan jenis rokok (putih dan kretek) pada tanggal 1 Januari 2020 setelah adanya kenaikan cukai sebesar 20% berkisar antara Rp.13.500 hingga Rp.31.800.

Bagi mereka yang punya penghasilan kecil, umumnya membeli secara “ketengan” atau eceran dengan harga sekitar Rp.750 – Rp.2.000 (Contohnya satu bungkus rokok kretek Rp.15.000 dibagi 20 batang jadi Rp.750). Saya menemui beberapa tukang parkir atau tukang ojek yang beli rokok eceran itu dengan mudahnya. 

Tukang ojek dan tukang parkir beli rokok “ketengan” karena menganggap rokok masih murah setara dengan harga satu gelas kemasan air. Ketika mereka berniat beli mie untuk makan, begitu melihat rokok, niatnya berubah beli rokok. Uang yang nilainya sama itu jadi salah satu penyebab mereka memilih beli rokok duluan ketimbang mie untuk makan.

Bukan sekedar harga, tapi juga reklame rokok jadi salah satu penyebab perokok sulit lepas dari rokok. Sejak kecil reklame rokok telah mempengaruhi kehidupan di seluruh kota di Indonesia. Reklame yang dibuat menarik perhatian para perokok karena kata-kata yang menarik, atau bintang reklame yang keren. 

Kesulitan Ekonomi Tapi Masih Merokok? 


Peneliti CISDI, Nurul Nadia dalam Program KBR bertajuk #putusinsaja dengan tema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok” mengatakan:  “Berhenti merokok tidak mudah, adiksi nikotin itu real dibandingkan dengan narkoba, jumlah pemakai nikotin terbesar dibandingkan jumlah pemakai sabu”.


Rokok jadi candu bagi semua perokok dari mereka yang tak berpenghasilan besar. Perilaku untuk tetap merokok itu jadi masalah ketika angka pengangguran meningkat 4-5 juta pada tahun 2020. Kebutuhan sehari-hari saja sulit, kenapa tetap beli rokok yang notabene tidak baik untuk kesehatan. 

Seperti dikatakan di atas, adiksi dari nikotin itu sangat kuat membelenggu perokok. Adiksi dari nikotin ini menimbulkan efek kesenangan sementara di otak.  Akibatnya orang yang kecanduan, gampang marah dan cemas dan tiba-tiba lemas tubuhnya jika tidak merokok.  Disamping itu ada racun yang terkandung dari rokok.  Perokok dapat keracunaan dan terkena serangan jantung, stroke, kanker.

Perokok harus punya komitmen kuat untuk lepas dari rokok. Rokok bahayakan kesehatan dan kantong. Ketika Anda sakit dan harus ke rumah sakit pun, BPJS harus mengeluarkan dana dari semua penderita paru-paru sebesar hampir Rp.8.2 triliun.

Satu-satunya jalan adalah berhenti. Berhenti dengan dasar empati kepada orang lain. Jika aku mati karena rokok, tentu aku tidak mau bunuh istri atau anak. Berhenti memang tidak mudah, tetapi ada komitmen melalui terapi langkah-langkah yang harus dijalani.

Tahapan awal pasti mempertanyakan mengapa, bagaimana saya harus menjalani hidup tanpa rokok. Tahapan kedua adalah cari pengganti rokok atau Nicotine Replacement Therapy (NRT).  NRT ini tidak dapat dicari di sembarang tempat , hanya didapatkan di  sesi terapi psikiater atau profesional.

Beberapa produk pengganti rokok yang dapat dipilih:
  • Permen karet
  • Tablet isap yang dikonsumsi dengna meletakkan di bagian dalam pipi
  • Tablet sublingual yang dikonsumsi dengan meledakan di bagian lidah
  • Inhaler pengganti nikotin
  • Transdermal atau "Koyo" nikotin
Saat ingin melepaskan diri dari nikotin dengan berhenti rokok, perokok biasanya merasakan gejala dari substansi nikotin seperti “bengong”, tertawa, mengantuk. 

Namun, lingkungan harus terus mendukung para perokok yang komit untuk berhenti rokok. Jangan menertawakan, membully, menganggap tidak “jagoan” jika tidak merokok. 

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Berhasil Berhenti Merokok? 

pixabay.com


Perokok yang berhasil berhenti, harus menghindari “social gathering” dengan teman-temannya yang perokok aktif. Perokok juga punya “planning” untuk terus tetap berhenti merokok, paling sedikit 6 bulan . Tentukan tanggal mulai berhenti sampai 6 bulan kedepan.

 Alihkan pikiran dan fokus untuk tidak  rokok dengan tidak membawa korek api, bawa permen sebagai pengganti. Apabila masih gagal, harus coba sekali lagi, sekali lagi sampai berhasil berhenti merokok. 

Usulan Kebijakan Pemerintah untuk Mendukung Stop Rokok:

dokumen pribadi


Cukai dari industri rokok jadi salah satu pemasukan negara. Ketika pemasukan itu dihentikan tentu sangat besar dampak bagi negara maupun bagi petani. Namun, di sisi lain dengan besarnya perokok di Indonesia jika pemerintah tidak mendukung berhentinya perokok, maka beban pemerintah untuk kesehatan perokok jadi hal yang memberatkan.

Menurut  Peneliti CISDI, Nurul Nadia Luntungan, sebaiknya naikan cukai rokok sebesar 50-100% secara bertahap. Ketika harga HET masih murah, perokok masih banyak, pemerintah dapat alokasikan dananya untuk subsidi program sosial. Ketika harga sudah mahal, perokok berhenti merokok, negara sudah mengurangi subsidi program sosial.

Dukungan dari Lingkungan:


Kampung Penas Tanggul. Sumber:  BBC

M Nur Kasim, Ketua RT 1/ RW 3 dari Kampung Bebas Asap Rokok dan Covid-19 di Cililitan Jakarta, dalam Program KBR bertajuk #putusinsaja dengan tema “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok” mengatakan:  “Sanksi bagi warga yang masih merokok tidak ditindak dengan tegas, hanya penyuluhan dan edukasi saat mereka datang ke RT untuk permintaan surat-surat”.




Ciptakan lingkungan yang ramah bebas rokok baik itu di rumah, tempat kerja maupun tempat-tempat umum.

Seperti contohnya di Kampung Bebas Rokok Cililitan, Bapak Nur Kasim selaku RT1/RW3 telah menerapkan kepada para warga di tempat kampung Cililitan itu untuk tidak merokok di rumah.  Sosialisasi diberikan oleh ibu PKK yang telah mendapat penyuluhan dari Dinas Kesehatan.   Kesadaran dari para warga untuk tidak merokok sepenuhnya dilakukan tanpa harus dipaksa.  




Sumber referensi:

  • Indonesia, Negara dengan Julah Perokok Terbanyak di Asean : Sumber:  databoks[A1] .katadata.co.id
  • Penyakit kecanduan Nikotin:  
  • Terapi Pengganti Nikotin Manakah   yang tepat untuk Anda :  helosehat.com
  • Talk Show Program KBR:  #putusinsaja  Tema: “Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Pokok”

 








1 komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!