Stop Body Shaming Dampaknya Rentan Rusak Kesehatan Mental

"Body Shaming"    Sumber:  SehatQ

When you judge a woman by her appearance, it doesn't define her, it defines you.  (Dr.Steve Marabati).

You have to do what is right for yourself, Nobody else is walking in your shoes.   (Etsy.com)

Kita sering menilai orang hanya dari penampilan atau fisiknya saja. Penampilan fisik yang tak sempurna, gemuk, kurus, cacat tanpa tangan, tanpa kaki, muka yang bopeng, buta, jadi sasaran empuk pembicaraan. Ketika orang senang melontarkan bullying kepada mereka yang tak “sempurna”, seolah diri mereka sendiri yang paling sempurna. "Body Shaming" jadi hal yang menyenangkan bagi mereka yang merasa sempurna.

Ocehan atau ejekan yang dianggap guyon itu dilontarkan kepada orang yang bersangkutan. Tanpa rasa bersalah, dia terus mengejek sampai beberapa kali kepada mereka yang tak bersalah itu.

 Menyerang seseorang berdasarkan bentuk tubuhnya termasuk dalam bullying. Perilaku ini juga dikenal dengan sebutan body shaming. 

Suatu hari, ada dua orang gadis , Maya dan Indra (bukan nama sebenarnya), sedang dalam perjalanan menuju ke kantor. Mereka berdua sedang duduk di bangku peron kereta api. Tiba-tiba mata Maya tertumbuk kepada seorang gadis yang duduk disebelahnya .

Gadis cantik, berhidung mancung dan kulitnya putih bersih dan rambutnya terurai panjang. Namun, begitu dia melihat ke bawah, terlihat kaki kanan gadis cantik yang membuatnya tertegun. Saat melihat gadis cantik itu akan berdiri, dia berdiri dengan terseok-seok, lalu berjalan dengan kaki terseret-seret dan kakinya dibalut dengan besi dan sepatu khusus untuk orang cacat. 

Maya segera berbisik keras kepada Indra, “Lihat, sayangnya yach gadis itu cantik , tapi kok kakinya cacat. Kasihan nasibnya, pasti dia tak disukai oleh lelaki siapa pun!”

Begitu mendengar ejekan Maya, mata gadis itu melihat dengan tajam kedua orang yang baru saja membicarakannya. Ketajaman mata itu seolah mengatakan bahwa dia tak menyukai perkataan itu. Tapi dia sudah terlanjur mendengar tuduhan keras yang menyakitkan bahwa cacatnya itu membuat orang lain pasti tidak menyukainya.

Kata-kata pedas seperti itu sudah sering terdengar di telinga gadis cacat itu. Dia tak bisa menampik bahwa dia tak sempurna. Tapi apakah ketidak sempurnaanya itu jadi alasan orang lain tidak mau menerimanya. 

Awal mulanya dia tak bereaksi dengan “bullying” dari orang yang melontarkan kata-kata kasar itu. Namun, karena kata-kata itu seringkali dilontarkan bukan hanya dari seorang saja, tetapi beberapa orang, dia akhirnya merasa sedih.

Kesedihan itu terpendam terus tanpa solusi. Pada suatu titik, dampak dari body shaming terhadap kesehatan mental tersebut dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi dan gangguan makan. Bahkan, dia tidak tahu beberapa gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi, sehingga ia tak mampu menanggulangi. 

Akibatnya gadis cantik itu bisa terkena kesehatan mental berupa anoreksia, Binge Eating Disorder, depresi. 

Anoreksi adalah gangguan untuk menurunkan berat badan karena perlakuan buruk terhadap penampilannya. Diperlukan perawatan khusus dari psikiater dan terapis.

Binge Eating Disorder adalah orang yang terlalu kurus dan dia berusaha makan tanpa henti. Dia berusaha menambah berat badan dengan cepat karena tubuhnya yang kurus. 

Depresi yang disebabkan oleh body shamping adalah rasa cemas,takut, khawatir yang berlebihan. Bahkan, tak punya harapan dan semangat hidup. 

Mulai sekarang, hentikan body shaming dan berusahalah untuk lebih peka terhadap omongan yang diucapkan. Kalau ingin bertanya seputar masalah psikologis, jangan ragu konsultasi dengan psikolog via aplikasi Halodoc

Halodoc adalah aplikasi solusi kesehatan terlengkap untuk chat dokter, pemeriksanaan, rumah sakit, beli obat, cek lab, buat janji kunjungan rumah sakit (baik covid atau penyakit lainnya), layanan Halofit dan Layanan Halodoc Go. 

Layanan ini merupakan bantuan untuk menghubungkan Anda  yang sedang dalam kesulitan bidang kesehatan dengan para professional atau kebutuhan kesehatan lainnya dengan pihak ketiga.

19 komentar

  1. Saya pernah, Bu pas remaja dikatain "terlalu kurus"; "kerempeng", dll. Kadang muncul perasaan minder gitu. Tapi, kemudian saya coba hempaskan. Ah, yang penting sehat. Ya memang saya kurus sih. Pertama, karena terlahir kembar (kembaran saya juga kurus). Kedua, mungkin juga karena bawaan lahir ya, Bu. Saya pernah gemuk dan berat badan berasa ideal itu pas hamil. Setelah melahirkan dan anak aktif bergerak, BB balik lagi seperti semula. Hihi. Jadi langsing secara alami. Ini lagi promil anak kedua. Salah satu pesan dokter saya, BB-nya agak dinaikin dikit. Hihi.

    BalasHapus
  2. Kadang orang bodyshaming dibiarin sih. Dulu Saya juga gitu. Kok gendutan? Kok jerawatan? Kesal. Diam. Lama2 Saya balas aja. Tau ga caranya supaya langsing? Atau Mbak tiap ketemu Saya kok menghina ? Lalu dia diam. Ga usah ditemenin kalau terus bodyshaming kita

    BalasHapus
  3. Kita ga bisa mengontrol orang lain untuk tidak bodyshaming, tapi kita bisa mengubah cara pandang sendiri agar tetep tenang dan menerima ketika orang mengatakan body shaming. Culup bilang interesting point of view, senyumin aja ..

    BalasHapus
  4. Kadang kaya masih ga percaya ya klo bodyshaming masih ada aja hari gini. Ckckckck, apalagi klo soal kritik mengkritik appearence artis .... Netizen yg budiman langsung nyerbu. Itu dunia maya, kebayang dunia nyatanya kaya gimana. Ga sedikit emang artis yg anoreksia atau malah binge eating disorder gegeara komen pedas soal penampilan si artis.

    BalasHapus
  5. Parah ya akibatnya dari omongan-omongan yang nggak nyenengin. Mungkin sekali dua kali nggak masalah, kalo terus-terusan dan banyak orang yang ngomongin gtu memang iya, pastinya jadi sedih.

    BalasHapus
  6. Body shamming dampaknya memang luar biasa sekali, Sayangnya di sekitar kita masih banyak yang melakukan body shamming dengan dalih becanda. Padahal buat yang mengalaminya bisa saja sakit hati, harus benar-benar jaga ucapan biar nggak bikin orang lain sedih

    BalasHapus
  7. body shamming itu udah kaya hal yang lumrah deh di sekitarku huhu. kalau ketemu sama orang yang lama ga ketemu :kok kurusan? kok gemukan? hiks. Setelah kuperhatikan, orang yang biasa mudah body shaming ke orang lain karena ga deket atau ga punya bahan pembicaraan lain dg orang tersebut. padahal kita harus menjaga lisan kita ya bu

    BalasHapus
  8. Aku pun adalah korban "Bully-ing". Bahkan bisa aku bilang aku tumbuh besar karena bulllying. Nggak ada orang yang mau diciptakan memilki kekurangan, apapun itu. Kalau kita bisa memilih pasti kita tidak mau menjadi seperti itu. Tapi balik lagi kita cuma manusia, jadi harus berdamai dengan diri sendiri dan mulai belajar untuk selalu bersyukur. Terima kasih mbak sharingnya :)

    BalasHapus
  9. Aku pun sering terkena body shamming ini sering banget terjadi. Contohnya pas berkunjung ke rumah saudara/teman yang udah lama ga ketemu langsung menjurus ke bentuk tubuh seperti "ih makin berisi aja", "kok sekarang gede banget yaa", dsb. Jujur awalnya ngerasa biasa aja sama diri sendiri, tapi jadinya kadang kepikiran. Kadang enggan juga ikut kumpul karena mau ngejaga kesehatan mental juga, hhe.

    BalasHapus
  10. Body shaming memang bisa berakibat fatal banget ya. Jadi inget berita tahun lalu. Dua orang berteman di tempat kerja, salah satunya dibunuh sama satunya hanya karena ucapan "ndut".

    BalasHapus
  11. Apa susahnya coba untuk nahan diri biar gak ngeluarin kalimat yang bikin sakit hati orang lain. Cukup diam saja, kamu sudah mensupport orang lain agar dia semangat terus. Duh keren nih tulisannya kak. Saya juga beberapa kali ada aja yang bilang saya kurus, kurang gizi ya hemm. Ya walau dengan nada candaan, tetap saja itu membuat sedikit kepikiran. Semoga kita semua bisa menahan mulut kita masing-masing deh😊

    BalasHapus
  12. Sejak kecil, saya suka diledek teman. Karena berasal dari keluarga tidak mampu, sementara mereka keluarga berkecukupan. Sering yg lain diundang acara ultah, dll saya dan adik tidak. Kami hanya melihat dari jendela, karena rumah bilik kami tepat berada di depan komplek perumahannya.
    Saya tidak tahu kalau hal itu termasuk ngebully, tapi setelah saya dewasa, saya tahu gimana sakitnya. Saya tidak ingin anak saya, bahkan seluruh anak-anak mengalami hal seperti yg saya alami...

    BalasHapus
  13. Kalimat pembukanya menohok sekali ya Bu. Sebuah reminder kepada kita untuk lebih menjaga ucapan.

    BalasHapus
  14. Anakku yang baru umur 4 tahun lebih mulai sedih karena kulitnya ga seputih dulu karena dia udah main panas-panasan. Dia minder, tiap malem cuma bilang, "ibu aku sedih deh, kayak mau nangis gitu".

    Aku terus ingetin tentang love self, tentang menghargai dan merawat yang dia punya. Anak sekecil itu udah dapat body shaming. Mungkin dia sedih karena temannya ngejek dia kali ya.

    BalasHapus
  15. Aku dulu ngalamin body shaming, tapi sekarang mah yaaah balik nanya aja lah ya sama si pelaku, apakabar kamu sekarang body dan hidupnya? hehe :D

    BalasHapus
  16. Kenapa yaa ini orang kok mudah banget body shaming, yang paling simpel aja tuh pas kumpul keluarga deh, sering banget gak kita kesel kalo ada orang komen bilang, eh kamu gemukan ya. Heloooo, lo udah berapa lama gak ketemu dan yang pertama lo omongin tuh cuma body shaming. Please lah!

    BalasHapus
  17. Paling ga suka dengan Body Shaming. Soalnya aku sering ngalamin ini. Dari SD malah disebut kurus, sekarang malah disebut gemuk. Sempat bikin ga PD, untungnya dipertemukan dengan orang baik.

    BalasHapus
  18. iya betul itu mb, apalagi sama istri salah kata aja saya di kruest kruest apalagi sama orang lain ya

    BalasHapus
  19. Depresi pasti ya
    Bagaimana lagi semua kan termaka oleh iklan di media televisi atau koran koran
    Wanita atau lelaki sempura alias ideal ya kayak itu. Warna kulit putih, tinggi body langsing, rambut pirang dan lurus.
    Diluar itu akhirnya jadi bahan lelucon bahkan ejekan.

    BalasHapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!