Meraih Mimpi Mendapatkan Rumah Pertama


dokumen pribadi

Generasi Milenial Sulit Membeli Rumah:

Tingginya harga properti atau rumah saat ini membuat kaum milenial sulit memiliki rumah. Bahkan menurut survei yang dilakukan sebuah pengembang di akhir tahun 2016 yang lalu, diperkirakan hanya 5% dari generasi milenial yang bisa memiliki rumah di Jakarta.

Harga rumah meningkat terus menerus dari waktu ke waktu. Bahkan dikatakan kenaikan untuk rumah yang kecil jauh lebih besar ketimbang rumah besar.  

Grafik Kenaikan Harga Rumah  Sumber: katadata.com
Tambahkan teks

Tingkat kenaikan di tahun 2009,2011, 2012 bisa mencapai 20%, dua tahun terakhir mengalami peningkatan sekitar 6% setiap tahunnya. Melihat betapa tingginya harga properti sedangkan saat Covid 19, banyak para milenial yang kena PHK maupun pengurangan gaji, mereka terpaksa harus meredam mimpinya untuk bisa membeli rumah. 
Menggapai impian itu bagaikan suatu mimpi di siang hari yang sulit untuk diwujudkan.

Pengalaman Anak Milenial : 

beritatagar.id

Anak saya yang telah bekerja hampir empat tahun seringkali mengatakan: " Wah kapan bisa beli rumah yach. Investasi rumah itu seolah hanya mimpi belaka, ngga mungkin memilikinya". 

Diskusi demi diskusi berlangsung. Dia juga bercerita teman-temannya yang akan menikah dan beberapa yang ingin sekali membeli rumah pertama itu harus menunda keinginannya karena terbentur  berbagai persyaratan dan tingginya harga properti yang terus melambung.

 Dimulai  komentar dari anak : “Bayangkan, mah, gaji anak milenial sekarang yang baru masuk kerja biarpun dia sarjana atau S2 pun, jika belum pernah kerja , ngga bisa beli rumah”. 

“Loh kenapa , jika soal gaji tidak terkejar dengan harga rumah yang super mahal, khan bisa dengan kredit dari bank-bank yang bertaburan berikan kredit perumahan!” jawab saya. 

“Ayo, mamah hitung dengan angka . Pertama, harus punya uang untuk bayar uang muka, paling sedikti 15% dari harga rumah, bayar notaris, survey, pajak, asuransi,bayar cicilan l/3 dari gaji . Gajinya masih kecil ngga bisa untuk bayar semua yang tertera dalam ketentuan.  Kedua, belum lagi risiko tinggi apabila tiba-tiba , gaji yang dikurangi karena harus Work from home (Bekerja dari rumah) , dan yang kasihan bagi mereka yang kena PHK, bagaimana bisa bayar angsurannya?" jelas anak saya. 

Tercenung saya mendengar alasan mengapa anak-anak milenial sekarang ini sulit mendapatkan rumah pertama. Seolah gaji tidak terkejar dengan tingginya harga rumah. Padahal rumah itu jadi kebutuhan primer saat mereka ingin menikah, produktivitas tinggi.

Saya Wujudkan Rumah Pertama Idaman :


Rumah idaman yang saya dapatkan tentu berbeda dengan rumah idaman milenial. Saya membeli rumah pertama secara angsuran. Setelah beberapa tahun bekerja, saya sudah memberanikan untuk membeli rumah . Saya sudah cape pindah kos karena orangtua saya tidak tinggal di Jabotabek. 

Setelah melakukan survei rumah yang begitu lama, terpilihlah satu rumah yang memang harganya belum mahal seperti sekarang ini. Rumahnya masih sederhana (yang belum direnovasi). Rumah itu harus saya angsur selama 15 tahun selama saya bekerja di kantor. Kantor memberikan fasilitas pinjaman perumahan saat itu. 

Saya teringat betapa beratnya ketika gaji dipotong untuk angsuran rumah l/3 . Tetapi setelah hampir 14 tahun membayar angsuran hal itu tak terasa lagi karena gaji sudah naik, bahkan saya merasa bahagia bisa mendapatkan rumah dari hasil jernih payah keringat sendiri. 

Persiapan Pembelian Rumah Pertama :


Saya ingin berbagi bagaimana persiapan saya ketika ingin membeli rumah pertama: 

  1.  Miliki rumah sesuai dengan kondisi keuangan kita. 
  2.  Miliki rumah melalui KPR dari Bank yang telah ditunjuk karena ada stimulus fiskal .
  3.  Simulasi dulu berapa kemampuan kita untuk mengajukan pinjaman. Simulasi ini dapat dicoba pada setiap website setiap bank yang menyalurkan kredit rumah. Di sana akan ditemukan berapa cicilan atau angsuran tiap bulan dari gaji yang kita cantumkan dan dari rumah yang akan kita beli.  
  4.  Uang Muka KPR yang perlu disiapkan biasanya 15%untuk Rumah Tapak Pertama, 20% Rumah Kedua, 25% untuk RUmah berikutnya. Besarnya uang muka tiap bank berbeda.
  5. Siapkan biaya-biaya seperti :  *biaya provisi (1% dari KPR dikurangi uang muka), *Pajak Pembeli (BPHTB) (2.5% dari harga rumah-NJOPTKP), *Biaya balik nama (BBN) -1% x harga rumah + Rp.500 ribu .
  6.  Biaya bunga dan besaran cicilan KPR yang dibayar tiap bulan 

Berita Gembira Bagi Calon Pembeli Rumah Pertama:


Covid19 menggerus dan mengurangi penghasilan, Presiden Jokowi telah memerintahkan Kementrian PUPR untuk  subisidi perumahan rakyat. Bagi yang sudah siap dengan dana uang muka dan biaya-biaya lainnya, dan pemotongan gaji, sekarang ada berita gembira sekali. Berita yang menggembirakan datangnya dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah mengalokasikan anggaran stimulus fiskal perumahan sebesar RP.1,5 Triliun untuk 175,000 rumah tangga Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui proses Kredit Pemilikan Rumah (KPR). 

Stimulus fiskal ini diberikan dalam rangka membantu MBR jika mereka harus membayar angsuran kredit perumahan yang mereka harus bayar. Diharapkan bantuan keringanan dalam bentuk Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk KPR
.
Bantuan ini akan diberikan efektif 1 April 2020 di bank-bank seperti BTN, BNI, BRI yang menyalurkan akses subsidi perumahan KPR. 

 Lalu bagaimana mekanisme bantuan itu? 


 Ketika MBR mengajukan permohonan SSB , pembayaran angsuran bunga dengan suku bunga 5% per tahun selama 10 tahun. Pemerintah akan membayarkan subisidi sebesar seleisih angsuran antara suku bunga pasar dari perbankan dengan angsuran yang dibayar debitur. 

Untuk uang muka dari rumah tapak, MBR akan dapat manfaat tambahan yang pemberian sebagian uang muka KPR melalui SBUM sebesar RP.4 juta, khusus untuk Provinsi Papua and Papua Barat SBUM sebesar RP.10 juta. 


Bedah Rumah untuk Rumah Tak Layak Huni: 

Rumah  dengan Bantuan Stimulasi Perumahan Swadaya .Sumber perumahan.pu.go.id

Kementrian PUPR melalui Direktorat Jenderal Perumahan telah menyalurkan Bantuan Stimulasi Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 3772 unit Rumah di 10 kabupaten /kota Wilayah Sumatera Barat. Setiap rumah yang menerima bantuan sebesar Rp.17,5 juta dilakukan dengan pemasangan peneng bagi penerima bantuan.

Selain itu , Bantuan Stimulasi Perumahan Swadaya (BSPS) sebanyak 180 unit rumah di Kabupaten Lima Puluh juga telah disalurkan. Prosesnya sama yaitu dengan pemasangan peneng bagi penerima bantuan. Dalam pelaksanaan BSPS itu dalam bentuk bahan bangunan senilai Rp.15 juta dan Rp.2.5 juta dalam bentuk upah untuk tukang, dan diharapkan agar pemilik rumah juga menanggung sebagian dari biaya itu.

Nurmiati, seorang penerima BSPS sangat terharu ketika dia menerima pendampingan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dibantu dengan tetangga bergotong royong membantu rumah bambunya yang tak layak huni, menjadi layak huni.

 Sebuah testimoni dari Nurmiati "Saya tak pernah bermimpi membangun rumah yang lebih layak , tapi program BSPS telah membuat rumah saya sekarang layak huni".


 Nach, ternyata bagi yang sedang mengejar mimpinya untuk beli rumah pertama, ada banyak bantuan yang bisa dinikmati untuk bisa membeli rumah saat ini.



Tidak ada komentar