Disiplin, Kok Sulit Ya?


Pertanyaan besar yang terus menggema dalam kalbu, ketika PSBB diberlakukan, masyarakat Indonesia masih disiplin menggunakan masker, jaga jarak dan cuci tangan.

Namun, setelah masa “New Normal” diberlakukan, justru banyak yang tidak disiplin untuk menggunakan masker. Apa sich sulitnya menggunakan masker? Apakah mereka tidak memahami setiap hari laporan dari Gugus Tugas COvid-19 menyatakan orang yang terpapar makin hari makin tinggi. Bahkan, belum diketahui tingkat puncaknya. 

Ternyata disiplin itu bukan perkara yang mudah, bahkan boleh dibilang sangat sangat kompleks menurut nara sumber yang berkompeten untuk memaparkan soal disiplin. 

Menurut Bapak Dr. Erwansyah Syarif, MBA, M.Si, jika seseorang mengetahui risiko bahaya Covid tetapi tidak menggunakan masker bahkan dia tak peduli maupun tidak memikirkannya. Contohnya seorang penerjun yang tidak disiplin, dia mau terjun payung tapi tidak menyiapkan alat-alat keselamatan dan perlindungan .

 Contoh lainnya, seorang yang ingin mendaki gunung, justru memakai pakaian normal layaknya akan pergi ke kantor. Dia seharusnya membawa peralatan yang harus dipersiapkan untuk mencegah tidak terjadi hypotherma. 

Disiplin harus dimulai dan diterapkan dari rumah. Orangtua yang menerapkan nilai-nilai disiplin sehngga anak itu bisa mengenal disiplin jika melanggar mana yang benar dan mana yang salah. Contoh: anak berusia dibawah 17 tahun sudah dibiarkan untuk naik motor. Lalu di jalan besar, naik motor bertiga dengan teman-temannya. Ketika dewasa, dia merasa tidak apa-apa jika melanggar peraturan lalu lintas. 

Disiplin itu harus dipaksa dalam situasi tertentu. Contohnya, jika orang Indonesia pergi ke Singapore, dia bisa berlaku disiplin karena melihat orang lain disiplin. Namun, begitu kembali ke Indonesia, dia tak disiplin lagi karena tidak ada orang yang menginspirasi dirinya.

Hukuman atau sanksi fisik tidak selalu membuat orang disiplin. Disiplin dianggap suatu hal yang menuntut keras tetapi bukan berarti kekerasan. Sulitnya disiplin ini harus dimulai dari diri sendiri, bukan melihat orang lain. 

Siklus dari Disiplin: 

  • Pertama adalahPerspektif dimana pengetahuan atau pemahaman orang tentang disiplin, bukan sebatas dari ketepatan waktu saja, tetapi lebih luas nilai yang lebih dalam. 
  • Kedua adalah sikap mental dimana keputusan yang dibuat atas kesadara diri, bukan karena dipaksa 
  • Ketiga adalah kualitas diri : yang membedakan hasil kerja seseorang dibanding dengan orang lain .
  • Keempat adalah Komitment bersama, keteguhan hati untuk konsisten. 
  • Kelima adalah budaya, kebiasaan yang melekat dalam diri setiap manusia Indonesia 
  • Keenam harga diri bangsa yang merupakan kesadaran terhadap marwah bangsa.


Manfaat disiplin:

Untuk menjadi bangsa yang besar dan maju, Indonesia harus mengejar ketertinggalan dalam hal disiplin. Bangsa yang maju itu bukan sekedar faktor usia, submer daya dan intelgensia saja.

Tetapi harus punya prinsip dasar seperti etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dan integritas. Bertanggung jawab. Hormat pada aturan dan hukum masyarakat, cinta pada pekerjaan, berusaha keras untuk menabung dan investasi, kerja keras dan tepat waktu.

Ibu Astrid Regina Sapiie, seorang psikolog memaparkan bahwa perilaku disiplin itu merupakan perilaku seseorang itu umumnya menjadi tanggung jawab pribadi yang tunduk pada “otoritas”. 

Otoritas dalam hal ini adalah orangtua apabila dia masih kanak-kanak. Sebaiknya,Orangtua mengajarkan nilai disiplin kepada anak sejak anak berusia 1-10 tahun karena masa ini adalah golden age bagi pembelajaran disiplin. 

Disiplin harus diajarkan karena bukan perilaku otomatis sejak lahir. Memang orang dewasa bisa belajar disiplin tetapi sangat sulit apabila masa kecilnya tidak pernah disiplin. Dia perlu belajar proses disiplin dengan keras, konsisten dan adil. 

Perubahan perilaku itu membutuhkan waktu minimal 21 hari dengan catatan perilaku baru itu dilakukan tiap hari selama 3 minggu berturut-turut. 

 Juga dalam proses perubahan itu harus ada pengawasan atau coaching, tidak bisa dibiarkan sendirian untuk suatu perubahan perilaku. Perlu kemauan keras jika dilakukan oleh keinginan sendiri.

 Perubahan perilaku ditentukan oleh dua hal :

  1. Terinspirasi:  motivasinya berasal dari internal atau dirinya sendiri ( dilatih oleh orangtua sejak kecil).
  2. Dipaksa :  motivasinya berdasarkan dari eksternal, luar/lingkungan (di lingkungan militer diperlukan disiplin, kondisi darurat, pemerintah yang dictator jika tidak dilakukan ada sanksi dan hukum yang diterapkan secara tegas dan harus membayar).

Contoh untuk tipe 1 adalah:

Jepang dikenal sebagai bangsa yang memiliki disiplin tinggi dan budaya disiplin tinggi dapat dipertahankan ditengah zaman post modern .  Contoh lainnya para atlit yang ingin sukses di dunia internasional harus berlatih keras dengan kedisiplinan .

Contoh untuk tipe 2 adalah:

Orang terpaksa disiplin karena melihat orang lain yang memiliki otoritas melakukan disiplin. Contoh lain, saat darurat militer diberlakukan jam malam dan masyarakat terpaksa menerima karena tidak ada pilihan lain.  Demikian juga dalam dunia militer, untuk jadi militer tangguh mereka harus disiplin melakukan berbagai latihan sebelum lulus jadi seorang prajurit.

Untuk melakukan disiplin di tipe 1 waktunya perubahan itu harus dilakukan 21 hari, maka proses panjang pun harus dilalui oleh seseorang untuk perubahan.  Tahapannya mulai dari precontemplation, contemplation, preparation, action dan maintenance.

Ternyata tidak mudah proses perubahan perilaku karena diantara tahapan di atas, kemungkinan orang bisa kembali ke awal bisa terjadi.   Dia tak mau berubah karena setelah kontemplasi, dia mendapatkan tidak ada manfaatnya untuk berubah.

Bahkan, menurut penelitian dari Prochaska N Diclemente, University of Rhode Island ditemukan bahwa seseorang itu bisa berubah apabila dia bisa melewati 21 langkah yang rumit sekali.

Dikaitkan dengan wabah Covid-19,  dimana orang seharusnya menyadari bahwa pandemic ini menimbulkan krisis baik secara ekonomi, psikologis.  Ketika krisis mencakup beberapa tahap situasi psikologis, yaitu ada saat sedih dimana orang kehilangan atau kematian di keluarga, timbullah tahpan 
krisis seperti denial, anger,bargaining, depression, acceptance.

Jadi kesimpulan orang yang memiliki disiplin karena motivasi sendiri pun bisa berubah apabila dia tinggal di tempat yang tak disiplin dan adanya “plurastic ignorance”, tidak melakukan secara konsisten dalam waktu 21 hari .


 Mengapa tidak disiplin?

 Orang yang tidak disiplin, umumnya masuk dalam tahap “bargain”, kenapa saya mesti pakai masker, apa manfaatnya bagi saya, toh yang tidak pakai masker bisa hidup. Ketika sekelompok orang mengabaikan atau tidak melakukan apa-apa terhadap sesuatu yang sebenarnya mereka anggap salah, hanya karena merasa bahwa diri mereka sendiri yang merasa demikian. Hal ini disebut dengan “plurastic ignorance”


Penyebab lain dari tidak disiplin: 

Bisa karena rendahnya literasi, rendahnya sense of crisis, rendahnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, atau campur tangan politik kepentingan kelompok tertentu, sosialisasi dari bidang kesehatan yang kurang bagus di masyarakat, atau krisis kepempinan atau prasangka etnis.

 Solusinya:

 Lebih banyak sosialisasi yang bermuatan emosi yang kental, aktifkan jalur structural yang sudah ada untuk menjangkau masyarat, libatkan para influencer untuk menjangkau komunitas

2 komentar

  1. Secara garis besar sy setuju dg ulasan anda. Tapi ada sedikit catatan perihal kedisiplinan.

    Menurut sy disiplin ada dua tipe yaitu :
    1) disiplin karna kesadaran sendiri ( latihan sejak kecil, faktor budaya, dll )
    2) disiplin karna terpaksa ( kondisi darurat, pemerintahan yg diktator, jika sanksi serta hukum diterapkan dg tegas dan adil )

    Contoh tipe no.1 diatas adl sbb :
    Jepang dikenal sbg salah satu bangsa yg memiliki disiplin tinggi sbg contoh mereka tetap dpt mempertahankan budaya mereka di tengah jaman yg modern. Contoh lain seorang atlet karateka sudah dididik sejak usia dini antara 6-7 tahun. Tak heran jika atlet2 karateka dari Jepang sulit dikalahkan oleh bangsa lain.

    Contoh tipe no.2 diatas adl sbb:
    Pada saat darurat militer diberlakukan jam malam dan masy tidak ada pilihan harus menurut.
    Dapat terjadi juga pd pemerintahan yg diktator spt Korut, China dll aturan yg diberlakukan akan ditaati oleh masyarakat.

    Kesimpulannya tipe disiplin no.2 dpt berubah menjadi tipe disiplin no.1 jika seseorang tinggal / berdomisili cukup lama di area tsb.
    Contoh : jika seseorang punya sifat kurang / tidak disiplin tapi ybs tinggal di Spore utk beberapa lama misal 10 tahun. Maka dg kebiasaan sehari hari sifat ybs dpt berubah jadi disiplin krn pada akhirnya menyadari bahwa disiplin itu penting ( walau mungkin pd awalnya ybs disiplin krn terpaksa)
    Hal ini disebabkan krn neg Spore menerapkan sanksi dan hukum yg keras pd semua warganya tanpa pandang bulu.

    Demikian tanggapan sy semoga bermanfaat. Terima kasih atas ulasan yg jelas dan menambah wawasan. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Josef, saya sangat setuju dengan tanggapan Anda. Betul dengan apa yang Anda ungkapkan karena disiplin itu memang dari faktor internal maupun eksternal. Terima kasih atas tanggapannya.

      Hapus

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!