Rindu Lebaran Dalam Kondisi Normal



Sebentar lagi kita merayakan Lebaran. Tepatnya pada tanggal 24 Mei 2020. Namun, terasa benar perbedaan antara Lebaran tahun ini dengan tahun yang lalu.

Adanya pandemi Covid-19, membuat kita hanya bisa merayakan Lebaran tahun ini di rumah saja. Slogan Stay at home , membuat kita tak bisa kemana-mana. Bahkan untuk ke masjid atau ke rumah ibu, orangtua atau kakak serta saudara-saudara pun tidak bisa dilakukan.

Yang sangat dirindukan saat lebaran tentunya, silaturahmi untuk berjabat tangan saling memohon maaf atas kesalahan. Ini yang tidak bisa dilakukan juga .

Kita tidak dibolehkan untuk jabat tangan saat pandemi masih berlangsung. Loh minta maaf tanpa jabat tangan rasanya tidak afdol. Iya, jika dilanggar nanti ada akibatnya. Bukannya lebaran, tapi masuk ke rumah sakit.

Mudik:
kompas.com

Tradisi Lebaran yang sangat dinantikan oleh mereka yang punya orangtua di kampong atau di daerah.  Habis salat Ien, bisa dating ke rumah orangtua dan bersama berkumpul dengan keluarga besar.  

Kali ini Pemerintah melarang untuk mudik demi mengurangi penyebaran Covid-19.  Tentunya kita harus menuruti perintah itu untuk kebaikan kita semua. 

Tapi tak usaha kecewa jika tidak dapat mudik, kita bisa mudik secara online.  Caranya dengan whatsapplication, zoom atau dengan googlehangout atau skype.  

Jadi mudik online bisa menggantikan sementara kerinduan kita kepada orangtua atau orang yang dikasihi.

Sungkeman:
kompasiana

Tradisi yang sangat penting dalam lebaran adalahminta maaf kepada orang tua atau kerabat dekat. Tradisi ini sangat diperhatikan dalam semua etnis/lingkungan terutama etnis Jawa. Dilangsungkan sungkeman ini secara tatap muka.  Tetapi saat kondisi Covid-19,  sungkeman tatap muka digantikan dengan sungkeman virtual.  Tidak afdol?  Tentu tidak, ini tergantung dari hati kita yang terdalam.

Saling berkirim Makanan:

Tradisi yang sangat mengeratkan relasi antara tetangga atau teman. Kita mengirimkan makanan, nanti dibalas dengan makanan lagi. APa yang dikirimkan biasanya berupa opor ayam dan ketupa lebaran. Jadi saling mencicipi masing-masing masakan. Ada filosofinya agar makanan yang dikirim, jika habis, maka artinya ada penghargaan atas pembuatan makanan itu, juga rantang dari pengirim tidak perlu dicuci artinya kita mengharagai kiriman makanan itu.

Tidak ada komentar