Bersyukur Saat Puasa Ditengah Pandemi



Ada hal yang unik saat puasa dengan adanya pandemi Covid-19. Ketika ekonomi di setiap keluarga menjadi sulit karena adanya pengurangan gaji, bahkan PHK, puasa jadi tekanan bukan hanya fisik tapi mental dan psikis.

Tetapi tetap diajarkan bahwa orang yang berpuasa ditengan pandemic itu harus pandai bersyukur. Bersyukur bukan pada saat berlebihan, tetapi pada saat kekurangan. Jika kita bisa makan dua kali saat puasa, maka diharapkan juga kita mampu memberi kepada mereka yang tengah terpuruk bahkan tidak bisa makan sama sekali.

Bersyukur bahwa kita masih sehat sehingga melaksanakan puasa. Diantara kita ada teman, saudara yang terpapar Covid-19. Mereka itu mungkin tidak bisa puasa, walalupun keinginan ada, tapi fisik sedang lemah.

Bersyukur ketika ada keluarga di rumah yang menopang kegiatan kita untuk memasak. Anak-anak berkumpul untuk juga membantu ketika ibunya sibuk untuk membuat takjil atau untuk buka .

Bersyukur karena waktu untuk tawarih bisa dilakukan di rumah tanpa harus ke luar rumah. Ibadah dengan waktu yang lebih lama. Juga dapat dilakukan bersama dengan kepala keluarga sebagai imam.

Bersyukur karena udara yang dingin di saat puasa, walaupun kita tak bisa ke luar, tetapi masih diberikan kesempatan untuk membeli makanan online yang dikirmkan dari tempat-tempat resto yang buka.

Bersyukur jika kita masih diberikan kesempatan untuk bisa menghirup udara dari hari ke hari. Karena penderita Covid-19 sulit untuk bisa mendapatkan oksigen yang mereka perlukan. Mereka harus berjuang untuk bisa melewati masa krisis yang sangat sulit diperjuangkan.

Bersyukur karena adanya orang-orang yang mau bekerja sebagai relawan , dokter, suster di garda depan untuk menangani Covid-19 agar para penderita Covid-19 bisa secepatnya sembuh dan bisa kembali di tengah keluarga dalam keadaan baik dan sehat.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!