Tips Betah di Rumah dengan "Growing Mindset"




Selama dalam masa karantina atau bekerja,beribadah dan bermain dalam rumah, selalu timbul pelbagai macam emosi yang bergejolak sampai pikiran negative timbul. Ketika pikiran negatif terus menghantui diri kita, kondisi mental dan jiwa jadi lemah, akhirnya melemahkan fisik kita. Isolasi atau karantina memang hal yang baru buat kita semua.

Siapa yang pernah membayangkan segala kegiatan harus dilakukan di rumah . Saya sendiri hampir setengah abad baru kali ini mengalami hal ini . Kegiatan terpusat di rumah, tak bisa ke luar kecuali beli logistik, dokter dan ke apotik.

Kondisi isolasi di rumah membosankan? SIapa yang tidak pernah mengalam hal itu. Pasti hampir semua orang yang dulu hidup bekerja di kantor, beraktivitas dengan penuh energi, berinteraksi dengan banyak orang, sekarang harus diganti di rumah.

Ruang gerak kita hampir terbatas antara tembok ke tembok. Bertemu dengan anak, istri, mertua, pembantu dari satu jam ke jam. Dimana sebelumnya kita bisa pergi ke kantor, menghabiskan seharian di kantor, pulang ke rumah saat malam tiba. Melihat dua suasana yang berbeda, kantor dan rumah.

Sekarang rumah jadi kantor, kantor yang mungkin terlihat kurang representative dan bahkan mereka yang tak punya ruang kerja tersendiri pun harus berbagi dengan anak-anak atau antar suami-istri.

Timbul keriuhan dan gangguan yang tak diinginkan apabila kita ingin menyelesaikan satu pekerjaan. Kejenuhan dan kebosanan ditambah dengan pikiran yang hanya berfokus akibat isolasi itu akan membuat emosi dan pada akhirnya kepada jiwa atau psikis jadi lemah.

Belum lagi kondisi sosial ekonomi yang terganggu bagi pekerja informal, merasa tidak mampu untuk melakukan bekerja di rumah. Pekerja informal yang umumnya berjualan di lapak dan harus berhadapan langsung dengan pelanggan.

Mereka nekad bekerja seperti biasa di luar rumah untuk bisa sekedar mendapatkan penghasilan. Baginya ada keragu-raguan dan pola pikir salah tentang kerja di rumah. Pertama tidak menghasilkan uang dan kedua adalah nanti kita jadi "apa" apabila terus di rumah.

Paradigma sempit langsung timbul bahwa di rumah itu tak menyenangkan, khawatir tidak bisa mendapatkan uang sama sekali. Lalu ketika gangguan timbul, apa yang terpikir dalam alam sadar kita?

Di bawah ini akan lebih jelas dua perbedaan pola berpikir saat "lockdown"dengan emosi negatif dan pola berpikir yang berkembang.
Raw Energy.com


Mindset saat kita sedang dalam keadaan karantina:
• Semua kegiatan saya sekarang ini ada di rumah
• Semuanya sangat tertutup bagi saya, saya ikut panik.
• Saya merasa tidak memiliki rasa aman dan selalu khawatir.

Alih-alih berkutat dengan cara berpikir kondisi lockdown atau karantina, sebaiknya kita perlu memiliki pola pikir yangberkembang (sering disebut growth mindset) dan berpikir terbuka:
*Saya saat ini berada di rumah berarti "saya menghabiskan lebih banyak waktu saya dengan keluarga saya".
*Saya punya memiliki waktu yang cukup di rumah, oleh karena itu saya harus gunakan dengan bijak. "Gunakan kreativas untuk mengurangi, mendaur-ulang dan mempergunakan ulang barang-barang bekas".

Tidak ada komentar