Menebar Kebaikan Bagi Sesama Saat Covid 19



Siapakah yang pernah berpikir bahwa manusia di dunia ini dikalahkan dan ditaklukkan oleh virus bernama Covid-19? Tidak pernah terpikirkan bahwa segelintir virus baru berukuran hanya sekitar 27-34 kilobase, tapi kekuatannya mampu menaklukan dunia dalam waktu yang singkat begitu hebatnya. Apabila sebagian besar orang mengalami dampak besar secara ekonomi. Siapa yang mau membantu?

  Dimulai dari Wuhan, Cina di awal 2020, sekarang ini sudah menyebar di berbagai belahan dunia. Tercatat 162 negara dan 183.202 orang terinfeksi dengan angka kematian 7.177 orang. Saat saya menulis ini, di Indonesia yang telah terpapar covid-19 mencapai 227 orang.

Virus yang dahsyat penyebarannya dan begitu super cepatnya mampu mematikan orang-orang yang terpapar hingga menyebabkan kematian. Virus itu juga menimbulkan ketakutan, kekhawatiran, dan dapat mengubah total rencana yang telah dibuat oleh manusia.

Beberapa negara harus menutup dan mengisolasi warganya agar penyebarannya tidak makin besar. Lockdown diterapkan, membuat warga di dalamnya seperti orang pasif yang tak mampu berbuat apa-apa. Mereka harus beraktivitas dalam lingkup yang sangat kecil, rumah kediamannya sendiri.

Manusia kembali menjadi mahluk homines soli yang tak bisa bersosialisasi satu dengan yang lainnya. Perubahan total sikap manusia terjadi ketika Covid-19 itu dinyatakan WHO sebagai pandemi. Ada yang bersikap negatif, kehilangan toleransi, melakukan panic buying, kekhawatiran yang berlebihan.

Melihat sesamanya yang sedikit sakit flu saja sudah dianggap membawa penyakit. Sikap rasis pun tak terelakkan (khususnya di Eropa) di mana ada yang mendiskriminasi orang-orang Asia karena memang virus tersebut berawal dari Asia, tepatnya Cina.

Namun, ada sikap positif yang juga timbul karena adanya virus corona itu. Mereka sadar bahwa di luar kekuatan manusia ada kekuatan yang tak terselami yang begitu dahsyat, yaitu toleransi dan heroisme.

Seperti dokter paru yang lanjut usia (80 tahun), Dr. Handoko Gunawan serta dokter bersama perawat lainnya, atau sukarelawan yang membuat hand sanitizer bersama dengan tim kimia UI, menyiapkan tempat cuci tangan di tempat publik.

Produksi Hand Sanitizer:
kompas.com


Hand sanitizer jadi barang langka di semua apotik, toko-toko yang menjual alat kesehatan membuat panik orang yang membutuhkannya. Seolah hand sanitizer jadi barang mahal. Tentunya ini sangat dibutuhkan oleh setiap orang baik yang bekerja di rumah maupun mereka yang terpaksa hidup mencari sesuap nasi di luar rumah.

Para pekerja yang jualan makanan seperti bubur ayam atau tukang ojek online. Latar belakang kelangkaan hand sanitizer yang sulit diakses itu membuat Departemen Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dibantu relawan memiliki ide untuk memproduksi hand sanitizer yang dibagikan kepada publik.

Tentunya pembuatan hand sanitizer ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi sendiri. Bahan-bahannya tidak dapat diperoleh atau dibeli secara umum. Bahan-bahan itu terdiri dari etanol 96%, H2O2 3%, gliserol 98%, parfum, dan aquadest steril.

Oleh karena itu tim mereka melakukan proses pembuatan hand sanitizer tersebut di laboratorium UI khusus bagian kimia. Cara pembuatannya juga tidak boleh asal campur, tetapi melalui beberapa proses kimiawi. Ethanol dicampur dengan H2O2 dan dikocok dalam sebuah gelas khusus untuk laboratorium.

Setelah bahan semua menyatu dimasukkan ke dalam satu tabung besar seperti galon air minum. Dari galon itu dipindahkan ke tempat pot-pot hand sanitizer yang telah disiapkan. Jumlah produksi setiap harinya ada sekitar 800 pot, sedangkan tenaga mahasiswa yang menggarap itu hanya 10 orang.

Oleh karena itu mereka membuka kesempatan bagi relawan yang ingin bergabung. Ternyata respons cukup banyak. Dibatasilah 10 tenaga relawan per hari untuk membantu mengisi hand sanitizer yang sudah tercampur itu dan memasukkan ke pot botol. Nah, setelah selesai, botol-botol hand santizer yang telah rapi itu siap dibagikan kepada warga Jakarta yang memang sangat membutuhkan.

Saat ini jumlah warga DKI yang terpapar makin meningkat. Hand sanitizer tersebut tersedia di FKUI Jl. Diponegoro, yang bisa warga tebus dengan harga 5 ribu rupiah sebagai pengganti biaya produksi.

Relawan Nutrisi Garda Terdepan:
tribunews.com


Melihat latar belakang para medis yang harus melayani pasien makin banyak sekali, maka Eghar Anigrapaksi, seorang mahasiswa kedokteran UI sangat khawatir dengan jumlah tenaga perawat dan dokter. Dengan beban kerja tinggi itu sudah tentu perlu bantuan untuk fisiknya atau staminanya tetap baik.

Untuk itu Eghar memprakasai, "Nutrisi Garda Terdepan" program yang memberikan dan membagikan makanan besar dan suplemen berupa vitamin dan susu kepada para pekerja sebanyak 1200 orang dari beberapa rumah sakit besar.

Dananya sendiri dikumpulkan dari warga melalui crowd funding di kitabisa.com. Sukarelawan yang telah menyatakan mendukung program tersebut di atas jumlahnya 40 orang khusus untuk rumah sakit khusus penanganan Covid-19 di Jakarta. Ke-40 orang itu terdiri dari mahasiwa/mahasiswi beberapa bidang dari beberapa universitas di Jakarta.

Di luar apa yang dituliskan di atas, tentu masih banyak kebaikan-kebaikan yang dilakukan masyarakat di tengah kepanikan yang timbul dari wabah Covid-19. Bravo bagi para mahasiswa dan semua yang peduli kepada paramedis yang berada di garis depan untuk menolong pasien positif Covid-19.

Tidak ada komentar

Pesan adalah rangkaian kata yang membangun dan mengkritik sesuai dengan konteksnya. Tidak mengirimkan spam!