Menebar Kebaikan Ditengah Pandemi Covid-19





Dunia ini termasuk Indonesia sekarang ini sedang digoncang oleh suatu virus baru bernama Covid-19. Mahluk kecil , bentuknya 27-34 kilobase mampu menaklukkan hampir 162 negara.



Dimulai dari Wuhan, Cina di awal 2020, sekarang ini telah sampai menyebar di berbagai belahan dunia. Tercatat 162 negara dan 183.202 orang terinfeksi dengan angka kematian 7.177 orang. Hingga di Indonesia pun kena imbasnya, data per tanggal 15 April 2020 penderita yang terpapar positif corona ada 5,136 , orang yang dirawat 4,221 , meninggal 469 dan 446 sembuh.

Pandemi covid-19 telah mengubah perilaku manusia . Mereka harus mengisolasi diri dengan kesadaran diri secara penuh bahwa dia tidak mau tertular dan tidak ingin menularkan kepada orang lain apabila dia sebagai carrier.

Akibat atau dampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)  yang diberlakukan oleh Pemerintah Daerah Khusus (DKI) maupun provinsi Jawa Barat, Bogor, Tangerang, membuat para pelaku ekonomi lemah sangat terpukul. Banyak PHK dari perusahaan yang tidak kuat dengan cashflow karena tidak adanya kegiatan ekonomi.  Sosial ekonomi yang menekan membuat orang makin gelisah, khawatir dan kehilangan masa depannya.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu, menghantam para pelaku usaha kecil, menengah, baik bekerja secara informal maupun formal. Bagi mereka yang sehari-hari saja hidupnya sulit, dengan berdagang untuk mendapat keuntungan harian,  harus menutup usahanya membuat terpuruk hidupnya. Tidak mendapatkan uang sama sekali bagi keluarga dan dirinya.

Kehidupan sulit ini membuat orang jadi stres dan frustrasi. Bahkan mereka akan menjadi pengganggur non produktif. Memang Pemerintah sedang mengusahkan bantuan sosial melalui bantuan sosial dan Kartu Sembako murah dan lain-lainnya.

Namun, kondisi sulit ini tidak menyurutkan bagi mereka yang memang punya niat untuk membantu demi kebaikan berbagi. Mereka ini sebenarnya bukan orang kaya atau mampu, tetapi hati yang sangat tergerak untuk membantu  mereka yang membutuhkan di saat mereka sendiri kekurangan.

Bocah Usia 10 tahun, Akram menyerahkan Tabungan untuk APD:


Empati seorang anak berusia 10 tahun bernama Akram Ataya Khaizuran berasal dari Pangkep sangat mengharukan. Ketika dia di rumah sering mendengarkan acara TV dimana terdapat banyak kekurangan APD (Alat Pelindung Diri) di rumah sakit.

Hatinya berdetak, dia merasa ingin membantu. Lalu, dia ingat bahwa dia punya tabungan sebesar Rp.570,000 dari tiga “celengan”. Tabungan itu sebenarnya untuk membeli sepeda.

  Dengan ketegaran hati dan empatinya terhadap perawat dan dokter yang merawat di Rumah Sakit, dia datang ke RSUD Batang Siang Pangkep untuk menyerahkan APD yang dibelinya dari hasil tabungannya. Inilah bentuk kepedulian dan solidaritas tinggi seorang anak terhadap orang lain ditengah kerinduannya memiliki sebuah sepeda.

Produksi Hand Sanitizer:
Hand Sanitizer buatan Anak UI   Sumber: Kompas.id


Hand sanitizer jadi barang langka di semua apotik, toko-toko yang menjual alat kesehatan membuat panik orang yang membutuhkannya. Seolah hand sanitizer jadi barang mahal. Tentunya hand sanitizer sangat dibutuhkan oleh setiap orang baik yang bekerja di rumah maupun mereka yang terpaksa hidup mencari sesuap nasi di luar rumah seperti bubur ayam atau tukang ojek online.

Latar belakang kelangkaan hand sanitizer yang sulit diakses itu membuat Departemen Kimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dibantu relawan memiliki ide untuk memproduksi hand sanitizer yang dibagikan kepada publik.

Tentunya pembuatan hand sanitizer ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi sendiri. Bahan-bahannya tidak dapat diperoleh atau dibeli secara umum. Bahan-bahan itu terdiri dari etanol 96%, H2O2 3%, gliserol 98%, parfum, dan aquadest steril.

 Proses pembuatan ini harus dilakukan di laboratorium. Cara pembuatannya juga tidak boleh asal campur, tetapi melalui beberapa proses kimiawi. Ethanol dicampur dengan H2O2 dan dikocok dalam sebuah gelas khusus untuk laboratorium.

Setelah bahan semua menyatu dimasukkan ke dalam satu tabung besar seperti galon air minum. Dari galon itu dipindahkan ke tempat pot-pot hand sanitizer yang telah disiapkan. Jumlah produksi setiap harinya ada sekitar 800 pot, sedangkan tenaga mahasiswa yang menggarap itu hanya 10 orang.

Oleh karena itu mereka membuka kesempatan bagi relawan yang ingin bergabung. Ternyata respons cukup banyak. Dibatasilah 10 tenaga relawan per hari untuk membantu mengisi hand sanitizer yang sudah tercampur itu dan memasukkan ke pot botol.

Nah, setelah selesai, botol-botol hand santizer yang telah rapi itu siap dibagikan kepada warga Jakarta yang memang sangat membutuhkan.

Saat ini jumlah warga DKI yang terpapar makin meningkat. Hand sanitizer tersebut tersedia di FKUI Jl. Diponegoro, yang bisa warga tebus dengan harga 5 ribu rupiah sebagai pengganti biaya produksi.. Kabarnya ada juga yang dibagikan secara cuma-cuma dengan syarat tertentu.

Relawan Nutrisi Garda Terdepan :
Nutrisi Makanan untuk Para Medis Covid 19.   Sumber: TravelKompas.com

Melihat latar belakang para medis yang harus melayani pasien makin banyak sekali, maka Eghar Anigrapaksi, seorang mahasiswa kedokteran UI sangat khawatir dengan jumlah tenaga perawat dan dokter. Dengan beban kerja tinggi itu sudah tentu perlu bantuan untuk fisiknya atau staminanya tetap baik.

Untuk itu Eghar memprakasai, "Nutrisi Garda Terdepan" program yang memberikan dan membagikan makanan besar dan suplemen berupa vitamin dan susu kepada para pekerja kesehatan sebanyak 1200 orang dari beberapa rumah sakit besar.

Dananya sendiri dikumpulkan dari warga melalui crowd funding di kitabisa.com. Sukarelawan yang telah menyatakan mendukung program tersebut di atas jumlahnya 40 orang khusus untuk rumah sakit khusus penanganan Covid-19 di Jakarta. Ke-40 orang itu terdiri dari mahasiwa/mahasiswi beberapa bidang dari beberapa universitas di Jakarta.

Diriku Ikut Sumbang untuk Covid-19:

Bukan hanya melihat orang lain saja dalam menebar kebaikan. Tuhan membukan jalan. Saya mendapat email dari change.org .  Diceriterakan bahwa  Denok seorang gadis yang bekerja di Jakarta sedangkan orangtuanya yang telah berusia 60 tahun itu tinggal di kampung di Balikpapan. Dia teringat kepada kebijakan pemerintah untuk tidak mudik. Dilematis timbul dalam hatinya, orangtua yang sudah tua, dia tidak bisa mudik, jika mudik justru dia membahayakan orangtuanya sendiri.   Namun, beruntung ibunya  masih bisa berdagang untuk menutupi kehidupannya saat anaknya tidak mudik.


Nach bagaimana dengan orang-orang lanjut usianya lainnya yang tidak punya uang untuk beli sembako. Dianjurkan agar kita membantu dana yang  disumbangkan melalui  Dompet Dhuafa untuk disalurkan kepada lanjut usia untuk mendapatkan sembako, vitamin, perlengkapan kebersihan.





Anda pun Juga Bisa Berbuat Kebaikan:

Kebaikan apa yang ingin Anda  tabur di masa sulit

Bagi mereka penganut agama Islam, tentunya sangat mudah untuk berbagi dengan zakat. Zakat melalui Dompet Dhuafa . Dompet Dhuafa memiliki program khusus untuk Sembako Mereka yang Berdampak Covid 19.  Ada 5 pilar yang Anda bisa pilih sesuai dengan visi dari Dompet Dhuafa, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan Dakwah serta Budaya.

 Jangan takut berbuat baik, berbagi. Kita tidak terjatuh miskin karena berbagi. Justru sebaliknya, apa yang kita tabur/bagikan, akan menjadi suatu yang sangat berarti bagi orang lain yang menerima dan kita pun turut bahagia .

Dalam berbagai bentuk kebaikan, Allah juga menjamin akan melipatgandakan pahala dan balasannya seperti halnya sedekah.




Tidak ada komentar