Papua, Destinasi Wisata Hijau




Menginjak pulau terujung di Timur Indonesia, Papua, jadi impian saya untuk mengunjunginya. Setiap kali Pak Jokowi berkunjung ke Papua, hati saya ikut bergetar melihat perkembangan kemajuan infrastruktur Papua. 

Bukan sekedar infrastruktur yang membuat hati saya makin jatuh cinta dengan Papua, setiap kali teman-teman saya mengirimkan video atau hasil foto-foto jepretan wisatanya di Raja Ampat. Decak kagum saya tak henti-hentinya.


 Keindahan alam Raja Ampat yang begitu memukau. Saya hanya bisa melihat dan mendengar Raja Ampat dari orang lain saja bukan dari pengalaman saya sendiri.

Mimpi saya, suatu hari saya dapat mengunjungi Raja Ampat yang saya kenal itu untuk melihat keindahan alam bawah lautnya yang luar biasa sehingga bisa melihat kekayaan ikan-ikan yang mendiami laut. Biota laut yang beragam. Bahkan menurut The Nature Conservancy, sebanyak 75% species laut dunia ditemukan di perairan raja Ampat.  Ketika Anda menyelam, akan menemukan 1.511 jenis ikan dan penyu laut.

dokumen Magda Toruan
Kegiatan di Raja Ampat yang ingin saya lakukan bukan sekedar “sightseeing” saja, tetapi saya ingin melakukan ekowisata (ecotourism) untuk belajar lebih banyak bagaimana warga Papua itu sudah menjaga , merawat kekayaan biota laut dan hutan yang sangat indah itu. 

dokumen Magda Toruan

dokumen Magda Toruan

Namun dibalik keindahan laut dan alam itu , ada ancaman yang selalu menghadang untuk bisa tetap menikmati keindahan itu . Mereka yang ingin merusak biota laut dengan niat yang sangat merugikan baik untuk alam dan warga pemilik alam setempat. 

Di samping Raja Ampat yang kagum dengan hutan Papua  sebagai wilayah konservasi dunia. Sering disebut dengan Papua destinasi wisata hijau. Hutan Papua dulunya merupakan hutan yang utuh. Arti hutan utuh adalah udara yang sejuk dan bersih, air hujan dapat dipakai untuk tanaman, burung dan kelelawar menyerbuki tanaman dan serangga hama, makanan dan obat-obatan alami, air tawar untuk irigasi dan minum, air bebas sedimen untuk pembangkit tenanga listrik. 

Namun, hutan utuh itu sudah berubah wajahnya. Hutan itu jadi deforestasi, kebakaran hutan menyebabkan sakit pernafasan, tanah longsor menghancurkan desa, banjir menyebabkan rumah hanyut, erosi menyebabkan sedimentasi, nyamuk malaria berkembang biak digenangan, penebangan bakau membuat kota pesisir terpapar. 

 Mengenal Raja Ampat: 

dokumen Magda Toruan
Raja Ampat adalah kabupaten di Provinsi Papua Barat. Perbatasannya dari Raja Ampat sebelah utara adalah Samudera Pasifik dan Republik Palau, sebelah selatan adalah kota Sorong , sebelah timur Kabupaten Seram Utama, sebelah barat, Laut Seram.

Dari 24 distrik yang berada di 4 pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan Pulau Misool.

dokumen Magda Toruan
Jika memilih jalur penerbangan, maka kita dapat terbang dari Jakarta ke Sorong. Dari Sorong ada dua alternative yang dapat dilakukan , melalui udara atau laut. Jika melalui udara dapat memaki Wings Airs setiap hari Senin, Rabu, Jumat. Tiket hanya dapat dibeli secara langsung di bandara Sorong.

dokumen Magda Toruan
 Jika melalui laut, melalui penyebarang kapal feri cepat dari Sorong ke Waisai dilayani sehari dua kali. Ancaman Raja Ampat dan Hutan seisinya: Potensi Raja Ampat untuk wisata air dan Hutan untuk wisata hijau sangat besar sekali karena Raja Ampat sangat indah dan hutan di Papua itu diakui dunia sebagai hutan terbesar kedua.

dokumen Magda Toruan
 Namun, kedua potensi sumber kekayaan alam itu menghadapi tantangan berat, ancaman perusakan dari kedua wisata unggulan itu. 

Untuk Raja Ampat adanya kerusakan biota laut terjadi dengan mencuri biota laut, mengambil dengan bom, dan juga merusak trumbu karang dan membawanya dengan kapal-kapal pesiar. 

Untuk Hutan atau sering disebut dengan Rimba Tanah Papua, sebenarnya pada tahun 2005-2009, luasnya 42 juta hektar. Sayangnya, tiga tahun kemudian tahun 2011, luas hutan Papua hanya 30,07 hektar. Kemana saja hilangnya? 
jejakpiknik.com

Menurut Pemerintah Daerah hilangnya hutan karena deforestasi rata-rata per tahun sebesar 25 persen atau 293 ribu Ha. Mengerikan karena deforestasi dilakukan akibat adanya ekspansi industri dengan mengorbankan hutan. Hutan ditebang demi sebuah proyek prestisius yang disebut Merauke Integrated Food and Energi Estate (MIFEE). Exploitasi tanah hutan tak terhindarkan. Para pemangku kebijakan tidak bijak dalam memberikan izinnya. 

Apabila kedua hal itu dibiarkan saja, akibatnya sungguh akan merugikan ekowisata air maupun ekowisata hijau. Bahkan akan menghancurkan ekosistem yang ada di laut dan hutan, dan akhirnya musnahlah harta yang berupa alam dan hutan milik warga lokal yang berada di sekitar Raja Ampat dan hutan. Warga Papua asli akan gigit jari. 

 Bersinergi Membangun Raja Ampat dan Hutan dari ancaman kerusakan: 

Masyarakat 3 desa yaitu di Kepulauan Fam Distrik Waigeo Barat Kepulauan melakukan upaya konservasi laut berbasis adat. Tujuannya untuk melindungi kawasan tersebut dari penangkapan ikan secara ilegal. 

Mereka bersepakat untuk membagi dua zona dimana zona pemanfaatan tanpa penangkan ikan di kepulauan Painemo dan Pulau Bambu. Sedangkan zona penangkapan ikan tanpa peralatan yang merusak dan dikelola secara tradisional berada di sekitar Pulau Meoskor. 

Upaya untuk melestarikan hutan di Papua, dilakukan dengan dukungan oleh Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (Yayasan EcoNusa). Yayasan EcoNusa adalah yayasan non-profit yang bertujuan mempromosikan manajemen sumber alam yang berkelanjutan. 

Yayasan EcoNusa menyelenggarakan Lokarya Ekowisata pada tanggal 17 dan 18 Pebruari 2020. Diundanglah 19 orang pengelola ekowisata berkelanjutan (dari 9 Kabupaten Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. 

Drs. Ruland Sarwom, M.Si sebagaiWakil Pemerintah yaitu Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat hadir bersama dengan para fasilitator dari Indonesia INDECON (Indonesia Ecotourism Network)

Diskusi yang menitik beratkan untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi bagaimana cara mengelola wisata alam berdasarkan kearifan lokal. 

Dibangun |kesadaran bagi warga pemilik tanah adat dan hutan di Papua agar tetap melestarikan alam baik di Malaumkarta, Kabupaten Sorong, dan juga menjaga hutan dari konservasi sawit. 

Semua usaha keras ini sangat bermanfaat untuk memajukan ecowisata bagi kesejahteraan warga Orang Asli Papua (OAP) atas tanahnya sendiri.

1 komentar

  1. Papua yang indah, sayang kalau rusak begitu saja ya Bun :(

    BalasHapus