Sekolah itu Tempat yang Menyenangkan Bukan Tempat "Bullying"

google.com


Serasa sedih sekali saya melihat 3 kasus terjadi beruntun tentang “bullying” baik itu dilakukan oleh murid, guru terhadap anak-anak didik.

Ketika membaca kasus dari MS siswa SMP di Malang, yang ramai-ramai diangkat dan terus dibanting ke paving oleh temannya sendiri dalam kondisi terlentang. Saya sedang membayangkan dengan mata yang nanar, kenapa sekolah yang seharusnya jadi tempat terindah, menyenangkan bagi anak sekolah, menjadi tempat penyiksaan bagi siswa itu sendiri.

Ketika membaca kasus berikutnya seorang siswi SMP di Purworedjo mendapat perlakuan yang sangat mengerikan, dipukul, ditendang oleh teman-teman sekelasnya, tanpa bisa melawan sama sekali.

Ketika membaca satu kasus di sebuah tempat sekolah yang baru pagi ini terjadi, di satu sekolah, ada seorang siswa yang datang terlambat dan memakai seragam tidak lengkap, langsung mendapat hukuman berat dari gurunya dengan dipukul dan dianiaya.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan:


Setiap anak sekolah baik SD, SMP maupun SMA punya idealisme tentang “sekolah”. Jika ditanyakan kepada mereka berapa persen diantara semua murid yang memang “bahagia” ketika sekolah, mungkin hanya 20% saja.

Mengapa mereka tidak bahagia? Alasannya tentu bermacam-macam, tuntutan pelajaran yang begitu menekan,tuntutan sekolah agar anak semua mencapai angka tertentu, “kompetisi” yang dijabarkan dalam ranking , tuntutan orangtua agar anaknya harus masuk ke bidang tertentu atau sekolah favorit agar nantinya bisa melanjutkan ke tempat perguruan yang baik. Anak jadi korban dari tuntutan dan idealisme yang tidak berdasarkan kepada pendidikan.

 Pendidikan yang mementingkan angka dan kompetiti akan menjebak anak merasa harus bersaing satu sama lainnya.

Pendidikan karakter yang hilang:


Guru adalah pendidik bukan pentransfer ilmu. Jika guru gagal menjadi pendidik maka hilanglah nilai penting dalam pendidikan karakter. Mendidik karakter dimulai dari gurunya sendiri. Apabila gurunya mendidik dengan cara kekerasan, maka murid pun akan mengikuti pola kekerasan itu. Disiplin itu bukan kekerasan, disiplin diterapkan dengan cinta kasih dan cukup dengan hukuman administrative.

Tidak ada manusia sempurna. Anak siswa terlambat itu banyak faktornya, dia tidak bisa tidur malamnya, dia sakit perut ketika mau berangkat, rumahnya kebanjiran, ayahnya atau ibunya sakit sehingga tidak ada yang antar. Beribu alasan dari background keterlambatan harus diketahui oleh guru sebelum menghukum anak. Memang perlu sanksi jika anak membohongi guru alasan keterlambatan.

Guru yang mengajar kekerasan akan diikuti oleh muridnya dengan kekerasan juga. Murid yang merasa tidak mengikuti pelajaran tetapi dituntut untuk bisa, merasakan stress, lalu, dia melampiaskan kepada kekerasan karena dasar dari pendidikan adalah kompetisi.

Pendidikan karakter adalah untuk mempengaruhi murid agar memiliki watak, sifat batin, budi pekerti, tabiat yang bernilaikan akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi untuk berbagai keputusan maupun kebijakan. Ajarkan anak mengenal lebih dalam apa nilai-nilai kehidupan, kejujuran, kedewasaan, toleransi, kasih kepada yang berbeda, jiwa yang besar untuk mengalah atau menerima orang lain yang lebih kaya, pintar, atau sebaliknya yang miskin, cacat.

Bercermin kepada Pendidikan Finlandia:


Saya tak ingin membandingkan pendidikan Indonesia dengan Finlandia. Tetapi kita harus bercermin dari pendidikan Finlandia yang memang terbaik di dunia.

Berkaca dari pendidikan Finlandia dimulai dari perawatan anak usia dini. Orangtua tidak dipaksa untuk menyekolahkan anak sejak dini. Tetapi apabila orangtua ingin anaknya bersekolah sejak dini, diajukan program anak usia dini disebut ECEC . Program ini mengadopsi belajar melalui permainan dan mempromosikan pertumbuhan seimbang.

Guru di FInlandia, sangat kompeten dan master dalam pedagogi, sangat professional. 80 persen guru sekolah dasar haus berpartisipasi melanjutkan pengembangan professional. Mereka tidak boleh mengajar lebih dari 10 anak. Mengenal dalam kelebihan dan kekurangan anak baik fisik maupun akademiknya. Tingkat pembelajaran dan pengembangan berkelanjutan untuk memastikan Finlandia mendalami ilmu pengajaran. Ketika anak berusia 7 tahun, Finlandia tidak membagi pendidikan dasar menjadi sekolah dasar (SD) dan menengah pertama (SMP).

Mereka ditawarkan pendidikan strutur tunggal selama 190 hari. Sekolah diberikan kelulasan dan ruang untuk merevisi dan mengubah kurikulum sesuai kebutuhan siwa yang mereka anggap unik.

Tujuan dari pendidikan dasar adalah untuk mendukung siswa menuju kemandirian dan keanggotan masyarakat yang bertanggung jawab baik secara ketrampilan, pengetahuan untuk kebutuhan kehidupan mereka di masa depan.

Tidak ada komentar