Sukses bukan Sekedar IQ tinggi saja, Miliki 5 Kecerdasan Ini untuk Sukses


google.com

Anggapan sementara orang bahwa kesuksesan hanya diperoleh dari mereka yang memiliki intelegensia (IQ) tinggi saja. Kunci sukses bukan terletak hanya di IQ saja, karena IQ tinggi tidak menjamin masa depan yang cemerlang.

 Ketika masih kecil, masuk ke TK sudah terlihat pandai, lalu masuk ke SD di sekolah yang bagus, melanjutkan ke SMP dan SMA di sekolah unggulan dengan tujuan agar dapat memperoleh nilai yang tinggi. Nilai yang tinggi hasil dari UN itu jadi pintu masuk untuk bisa masuk perguruan tinggi terkemuka.  Prestasi akademik di Universitas terlihat sangat memuaskan. Lulus dari Universitas, berharap langsung dapat pekerjaan bagus karena nilai IPK yang tinggi.

 Ternyata, apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan, hasil interview tidak menunjukkan bahwa anak yang IQ tinggi itu belum memiliki EQ yang memadai. Pertanyaan sederhana, kenapa Anda ingin melamar di pekerjaan ini? Dijawabnya dengan bangga dan percaya diri: “Saya memiliki kecerdasan yang tinggi untuk dapat melakukan pekerjaan ini!”
 Kebanggaan yang dinilai hanya berdasarkan angka bukan dari kesanggupan berkontribusi kepada perusahaan dimana dia melamar. 

Kecerdasan kedua yang harus dimiliki adalah Emotion Intelligence (EI ) atau Emotional Quotient (EQ). Kemampuan seseorang untuk mengetahui kemampuan dan mengenali emosi dan mengelola persaan dengan menggunakan untuk bersikap dan berpikir sesuai dengan lingkungan dan mencapai tujuannya.

 Kecerdasan emosi jauh lebih penting ketimbang kecerdasan kompetensi. Orang yang IQ tinggi belum tentu memiliki rasa empati, bijak, mengelola perasaaannya dengan baik. Riset menunjukkan bahwa orang yang memiliki EI tinggi akan memiliki kesehatan mental, hasil pekerjaan yang dan skill leadership yang jauh lebih baik ketimbang mereka yang tak punya EI. Apalagi jika mereka tak punya rasa empati, bijak atau sering marah hanya soal sepele, tak mampu mengendalikan emosi apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. 

Kecerdasan ketiga adalah Adversity Quotient (AQ). AQ diperkenalkan oleh Paul G.Stoltz pada tahun 1997 “Adversity Quotient: Turning Obstacle into Opportunites. Makna dari Adversity adalah kegagalan atau kemalangan. Orang yang memiliki AQ adalah seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara teratur dan dia mampu memperkuat kemampuan dan ketekunan dalam hdapi tantangan besar atau sehari-hari itu. 

Ada tiga tipe orang dalam pencapaian AQ:

 Tipe pertama adalah orang yang disebut dengan Quitter. Quitter adalah orang yang mudah sekali menyerah terhadap tantangan. Jika ia harus naik gunung, dia merasa lebih baik di bawah saja, tak usah naik ke atas, lelah dan cape jika harus naik ke atas. 

Tipe kedua adalah orang yang disebut dengan Camper. Orang yang hanya mencari amannya atau nyaman saja. Contohnya ketika diberikan pekerjaan baru yang menantang, dia memilih tetap menekuni pekerjaan lama yang rutin dan membosankan, tapi merasakan kenyamanan karena tidak perlu cape dan tegang. 

Tipe ketiga adalah orang yang disebut dengan Climber. Orang yang senang menghadapi tantangan atau mencari kesempatan dalam kesulitan. Selalu ingin mengubah tantangan jadi kesempatan. 

Keyakinan dari orang yang memiliki AQ tinggi bahwa ia dapat melakukan atau istilahnya “I can “ jadi dasar dari kesuksesannya. Orang yang cerdas dengan IQ tinggi belum tentu mau melakukan pekerjaan yang dianggapnya rendah, tidak level dengan IQ. 

Namun, mereka yang punya AQ tinggi punya kemauan yang luar biasa untuk melakukan apa yang menurut orang lain dianggap tidak mungkin, tetapi orang ini yakin bisa apabila ada kemauan. Kemauan keras ini jadi kunci dari kesuksesan dari mereka yang punya AQ tinggi. 

 Kecerdasan keempat adalah Financial Quotient ( FQ). Financial Quotient merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengelola finansial /keuangan/kekayaan dengan cara bagaimana uang itu bekerja untuk dirinya. 

Ukuran atau parameter dari orang yang memiliki FQ baik adalah bagaimana cara dia berbelanja , berhutang atau menggunkan kartu kredit, berinvestasi, memiliki “financial planning” dan resiko dan proteksi untuk hidupnya.

 Banyak dari mereka yang berhasil dalam karir dalam pekerjaannya, menjadi CEO atau menjadi bintang film ternama di Hollywood dengan harta yang begitu banyak. Namun, mereka ini tak memiliki kemampuan untuk mengelola keuangannya sehingga dalam sekejab saja ketika karirnya menurun, hutangnya yang sangat banyak dibandingkan dengan aset, akhirnya dia bankrut. 

Kecerdasan kelima adalah Spiritual Quotien(SQ). SQ merupakan kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk bisa mengembangkan dirinya secarah utuh , sukses bukan hanya duniawi yang dikejar saja, tetapi sukses dalam jiwanya yang menerapkan nilai-nilai positif sesuai dengan keyakinan agamanya. Kedamaian hati dan kemampuan melihat tujuan hidupnya dalam jangka waktu panjang.

Tidak ada komentar