Penculikan Anak dapat Dihindari Apabila Anak Kenal Siapa Orang Asing

 
detiknews.com

Penculik anak-anak itu ternyata tidak berhenti untuk memanfaatkan kelengahan anak. Motivasi utama dari penculik anak itu tentunya ekonomi. Mereka menculik anak dengan maksud minta jaminan uang kepada orangtua. Apabila tidak dikabulkan, mereka akan mengancam anaknya akan dibunuh atau dilukai. 

Penculik yang satu ini unik tapi sangat mengancam. Dua anak lelaki berusia 10 tahun baru pulang dari sekolah Rappocini, Makasar. Tanpa disadari oleh dua anak itu, mereka diculik dan dicegak pelaku untuk masuk ke motornya. 

Awalnya pelaku penculikan itu memberikan iming-iming kepada korban akan diberikan uang Rp.5.000 dan ayam. Lalu, dengan paksaan kedua anak itu disuruh naik ke motornya. Dibawanya ke beberapa toko beras.

 Pelaku membeli beras dua karung, tidak membawa uang. Kepada pemilik toko, dia mengaku bahwa dia akan mengambil uangnya di rumah dan meninggalkan korban yang diakuinya sebagai adiknya sebagai jaminan. 

Setelah beberapa jam pelaku tidak muncul juga, mulailah pemilik toko gelisah dan menanyakan kepada korban siapakah mereka. Ternyata korban itu mengatakan bahwa tidak mengenalnya karena mereka dibawa dari sekolah.

 Lalu, pemilik toko melaporkannya ke polisi. Polisi mencari pelaku dan mengembalikan korban kepada kedua orangtuanya masing-masing. 

Sejak dini anak harus diperkenalkan untuk berhati-hati kepada orang asing

Seorang psikokog mengatakan bahwa setiap orang tua yang memiliki anak usia balita, harus memperkenalkan kepada anaknya tentang bahayanya orang asing. Orangtua dengan bahasa dan cara sederhana menerangkan kepada anak. Siapa itu orang asing?

 Orang yang sama sekali tidak dikenal. Walaupun orang itu mengaku sebagai teman, saudara ayah/ibu, dianggap sebagai orang asing. Ketika orang asing itu datang menjemput anak di sekolah atau di tempat bermain. Mereka biasanya mendekati anak dengan mengajak ngobrol santai. 

Setelah anak merasa dekat, mereka mulai mengimingi-imingi akan dibelikan makanan kesukaan anak .Lalu, penculik mengajak anak pergi dan diculiklah. 

Tempat yang paling kondusif untuk penculikan adalah tempat bermain anak, sekolah. Oleh karena itu anak itu perlu waspada di tempat-tempat itu. Tidak boleh lengah apabila diajak oleh siapa pun. 

Apabila ada yang mengancam, harus berteriak, atau jika takut karena ancaman, harus memberikan sandi yang disepakai antara orangtua dan anak. 

Belajar tentang orang asing dengan mainan edukatif: 
Ubaya.com

Shinta Arista, seorang pendidik dari  Universitas Surabaya telah menciptakan satu permainan edukatif yang sangat mendidik anak . Permainan itu disebut Ratokid.  Ada satu tokoh yang berjalan dari rumah menuju sekolah. Ada beberapa halangan yang akan ditemui ketika tokoh itu berjalan dari rumah ke sekolah, misalnya bertemu dengan orang asing

. Orang asing itu membujuk anak untuk ikut dengannya. Jika dia berhasil dibujuk, maka anak itu seolah lenyap. Namun, jika dia berhasil mengindahkan, dia akan berhasil meneruskan perjalanan sampai ke sekolah. Anak dengan senang sekali memainkan perannya dan dia akan memahami apa itu orang asing melalui permainan itu.

 Role play dari orangtua:

 Barangkali nasihat atau permainan masih belum menjeaskan secara gamblang tentang orang asing bagi anak. Oleh karena itu orangtua juga dapat melakukan suatu sandiwara ringan. Ibu pura-pura jadi orang asing, datang mendekati anaknya

. Pura-pura untuk membujuk dengan barang kesukaan anak di tangannya. Jika anak berhasil dibujuk, lalu terjadilah penculikan itu. Namun, apabila anak itu tidak berhasil  dibujuk. Maka segera berikan tepuk tangan karena anak sudah memahami apa artinya “orang asing” dan bagimana anak itu menghindari orang asing yang tidak dikenalnya.

Sekolah ikut berpartisipasi untuk lindungi anak: 

Apabila anak-anak itu pulang dari sekolah. Pastikan tiap anak dijemput oleh orangtuanya . Apabila tidak dijemput oleh keluarga, pastikan juga bahwa orang yang menjemput itu adalah orang yang kenal dengan keluarga anak itu. 

Selama dalam lingkungan sekolah, keselamatan anak jadi tanggung jawab sekolah. Tidak membiarkan anak untuk berkeliaran atau ke luar dengan orang yang tidak dikenal.

Tidak ada komentar