Makna Orangtua Memahami Anak yang Ikut Demo

“Mamah , kuno dech!” kata anak saya yang bukan seorang remaja lagi. Komentar ini timbul karena saya melihat kondisi demo remaja yang berseragam anak sekolah (yang benar-benar anak sekolah bukan penyusup, beraninya melakukan demo tanpa rasa takut sama sekali).

 “Tidak ada yang salah dengan demo !” lanjut anak saya bagaikan mengkuliahi orangtuanya. Anak juga punya hak politik untuk menyuarakan aspirasinya dalam bidang politik. Tuch lihat seperti di Amerika Serikat, anak-anak sekolah disiapkan untuk ikut ambil bagian atau berpartisipasi , apakah mau mengambil peran sebagai lawyer, penasehat hukum atau hakim. Dengan peran itu , diharapkan anak memahami apa pentingnya mengerti dan memahami persidangan itu dan apa sebabnya ada Undang-Undang yang harus ditaati. 

Lebih lanjut anak menceriterakan bagaimana dia sempat mendengar dari seorang teman yang tinggal di Australia. Anak Australia yang telah berusia 18 tahun, juga diberikan kesempatan untuk satu tahun sekali datang ke Parlemen mengikuti sidang Parlemen. Mereka benar-benar mendengarkan, mengikuti proses persidangan dan akhirnya mereka dapat menyimpulkan pentingnya suatu sidang di parlemen. 

“Tapi yang di di jalanan kemarin itu mereka belum memahami atau mengerti apa yang mereka aspirasikan. Contohnya ketika mereka ditangkap dan ditanya oleh polisi saat melemparkan batu-batu, jawaban mereka adalah “Tidak mengerti kenapa mereka ikut demo. Sekedar soladaritas dengan teman yang juga datang!” 

Pemahaman demo untuk aspirasi itu memang belum sematang diketahui oleh anak-anak. Sikap orangtua jaman “Now” ketika mengetahui bahwa anak-anak itu memang lebih mendengarkan apa kata teman ketimbang apa kata orangtua.

 Intonasi Suara Peran Penting

 Intonasi dari saran orangtua ketika memberikan nasehat atau wejangan tidak boleh meninggi. Biasanya jika anak mendengar suara tinggi dari orangtua, mereka akan merasa “allergi” mendengarkan apa yang disampaikan. Seolah mereka merasa digurui. Sebaiknya, orangtua mengajak bicara dari hati-ke hati kepada anak seperti kepada teman saat curhat. 

Strategi curhat ala teman: 

Setelah anak menginjak puber, biasanya mereka menganggap bahwa mendengarkan teman itu lebih baik ketimbang mendengarkan orangtua. Apa yang dianggap benar oleh teman, anak suka mengikutinya. Kenapa demikian? Anak puber atau remaja merasa dirinya sudah dewasa, dia ingin diterima oleh kelompok dimana dia merasa lebih dekat dengan teman-teman. Ketika teman-teman bilang “A”, dia harus menyetujuinya untuk bisa menyatu atau istilah kerennya solidaritas. 

Mereka anggap dengan ikut bersolidaritas, maka mereka menjadi bagian dari keluarga kelompoknya. Padahal untuk demo yang tidak diketahui tujuannya, anak remaja itu tak tahu bahwa mereka terjebak sekedar pola solidaritas tanpa terlebih dulu mengecek apa tujuan dan pentingnya ikut demo. 

Orangtua yang tak pernah mendengar curhat anaknya , tiba-tiba melihat anaknya ikut demo dan pulangnya mereka dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Relasi dan komunikasi antar anak dan orangtua menjadi tegang. 

Nasehat bukan ancaman:
Orangtua tidak mengetahui kenapa anaknya pengin ikut demo, sementara anak dengan merasa tidak yakin bahwa orangtuanya dapat diajak berbicara apabila dia ikut demo pasti orangtua akan melarangnya atau dengan nada tinggi orangtua akan memberikan ancaman apabila dia ikut demo pasti ada risiko untuk tidak diberikan izin maupun 

Di posisi orangtua, tentunya tak mudah menggantikan dirinya sebagai teman, tetapi masih bisa dipelajari bagaimana sich curhat anak terhadap temannya. Apa yang dia rasakan nyaman ketika dia bisa curhat dengan temannya. Mungkin temannya mendengar dengan baik, walaupun tidak setuju. Mungkin temannya ingin bisa memberikan nasehat yang diinginkannya. 

Strategi yang tepat bagi orangtua adalah mendekatkan driinya dengan anaknya tetapi dengan cara yang tepat Tidak boleh mencampuri urusan anak, tetapi mengetahui apa yang diinginkannya dan berikan nasehat dalam bentuk usualan atau saran. Orangtua menempatkan diri sebagai anak atau sering disebut dengan empati. 

 Ketika empati datang, anak merasa yakin bahwa orangtuanya tidak akan mengancam , memberikan perkataan negatif atau menyalahkan, bahkan menekan anak dalam kondisi yang tidak tepat.

 Cara komunikasi efektif orangtua dengan remajanya: 

Menjalin komunikasi dengan remaja, dimana seringkali terjadi ketegangan antara kebutuhan untuk menjalin hubungan sosial dan kemampuan untuk mengembangkan jati diri dan kemandirian. Di masa ini hubungan dengan orangtua bukan lagi senstral, tetapi sudah berubuha. Dimasa kanak-kanak peran anak memang jadi sentral, tetapi di masa remaja, orangtua harus menjadi penamping dari remaja yang kesepian. Cara pendampingannya harus mengetahui apa yang dicurhatkan anak kepada teman-temannya mengenai diri orangtua. Apabila ada hal-hal yang dianggap negatif oleh anak tentang orangtua, berikan penjelasan dengan terbuka dan tidak perlu emosi dan penghargaan kepada anak apabila dia mau terbuka dengan orangtua. 

Orangtua tidak boleh menghadirikan perasaan tertolak dengan menuntut dan membicarakan sisi-sisi negatif anaknya. Tetapi justru membuka sekat dari ruang-ruang dulunya tertutup supaya dapat terbuka dan memberikan kesempatan anak duluan berbicara.

Tidak ada komentar