"I can only Image" , Film Keluarga yang Menggugah Hati untuk Mengampuni



Film “I can only Imagine” direlease pada tanggal 16 Maret 2018 dan pernah masuk box office di hari pertama. Pemasukan miggu pertama mencapai sebesar USD 2–4 juta dari 1.620 gedung bioskop pada akhir minggu pembukaan

 Dambaan setiap orang dalam memasuki sebuah kehidupan berkeluarga adalah kebahagiaan. Bahkan, jika keluarga itu telah dikarunia seorang anak. Namun, tidak dengan Bart Millard, anak lelaki yang dilahirkan dari ayah , Arthur Millard dan istrinya. 

Di usianya yang relatif masih sangat muda, 5-8 tahun, Bart telah melihat kekerasan yang dilakukan ayahnya kepadanya dan kepada ibunya. Jika Bart mengusulkan atau mengemukan pendapatnya tentang keinginannya untuk belajar sesuatu, ayahnya selalu menentang, bahkan mencaci maki. Ketika dia mencoba minta sesuatu pun , ayahnya selalu memukulnya, bahkan tidak jarang piring-pring terbang dilemparkan ke kepalanya. 

Bukan hanya dia yang menderita di rumah itu, hampir tiap malam dia mendengar suara pertengkaran keras antara ayah dan ibunya yang diakhiri dengan pukulan ayahnya kepada ibunya. Hidup dengan kekerasan ayah, Bart kecil merasa tidak nyaman berelasi dengan ayahnya. Antara takut karena dia tidak merasa melawan, tetapi juga merasa ingin ke luar dari zona itu. 

Di sekolah Taman Kanak-kanak , Bart mengenal seorang gadis cilik yang cantik . Gadis cilik bernama Shanon itu sering mencuri perhatiannya. Dia selalu berusaha mendekati Bart dengan matanya yang nakal. Ketika Shanon sedang mengambil makanan dari kantin, Bart yang tidak sengaja menyenggolnya dan tumpahlah semua makanan Shanon. Bart segera minta maaf dan berusaha membersihkannya, tapi saat Bart sedang membersihkan, Bart sempat melirik sebuah buku note book kecil yang tergeletak terbuka, tertulis “I love Bart”. Bart segera menutup buku itu dan pura-pura tidak melihatnya. 

Suatu hari ibu Bart mengatakan bahwa dia sudah mendaftarkan Bart untuk outbond sekolah. Bart keberatan untuk meninggalkan ibunya. Namun, ibunya membujuknya bahwa dengan outbound Bart akan bertemu dengan teman-teman dan lebih dekat hubungannya dan punya pengalaman baru. 

Ketika ibu mengantarkan Bart ke sekolah untuk outbound bersama teman-temannya, dia hanya berpesan agar Bart tetap berbuat baik terhadap teman-temannya. Suasana outbound itu memang menyenangkan terutama di sana ada Shannon. Pada malam hari Shanon berani menyelinap dan mengajak Bart untuk keluar dari tenda. 

Mereka berjalan-jalan di atas rembulan yang menyinari sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Percakapan dua anak yang punya kedekatan hati , berjanji bahwa mereka nanti setelah dewasa akan terus dekat dan menikah. 

Waktu outbound selesai, Bart pulang ke rumah, dia melihat rumahnya yang berantakan. Dia memanggil ibunya, tak kunjung muncul. Justru yang ditemui adalah ayahnya, dia bertanya dimana ibunya. Ayahnya hanya menjawab singkat, ibunya lari tidak bertanggung jawab.

 Bart marah kepada ayahnya, dia berteriak, ibu meninggalkanku karena engkau yang jahat. Ayahnya justru ganti yang marah, dipukulnya Bart dengan melemparkan piring. Kepala Bart tergores dan terluka. 

Sejak saat itu Bart harus hidup bersama ayah yang tak disukainya. Hidup seperti neraka dan tak pernah kenal kasih sayang seorang ayahnya. Suatu saat ketika sekolah meminta dia untuk mewakilnya untuk olahraga kriket. Dengan tekad agar dia bisa berkontribusi, dia sekuat tenaga berusaha menang. Sayang, dia ditabrak oleh lawan, sehingga kakinya terluka serius dan harus dioperasi. 

Sejak saat itu mimpi untuk jadi kriket pun pudar. Dia terpaksa merenung. Namun, ditengah keterpurukannya itu dia melihat ada alat instrumen untuk merekam. Dengan kepedihan hatinya dia memuntahkan dalam sebuah lagu. Ternyata ada gurunya yang tak sengaja mendengar suara emas itu. Dia langsung ditawari untuk menyanyi dalam suatu konser. Tadinya dia menolak karena kakinya masih patah , apa jadinya jika dia harus tampil dengan kaki yang patah. Namun, gurunya meneguhkan bahwa dalam waktu dua bulan pasti kakinya sudah sembuh. Benar, ketika pertunjukkan itu sudah dimulai dengna lagu yang dilantukan oleh Bart, semua orang sangat terpana dan kagum dengan suara emasnya. 

Lalu, tawaran dari seorang produser pun datang. Bart yang sudah ingin ke luar dari zona nyaman segera menyetujui untuk ikut dalam group tour musik itu . Ditinggalkannya ayahnya. Dia hanya mengabari kepada Shanon bahwa dia akan mengadakan tour musik. Jika berhasil dia akan pulang. Ternyata dalam kunjungan tour musik itu satu kegagalan demi kegagalan lain karena lagu yang dibawakannya tidak disukai oleh pengunjung. Bart sangat “down” dia ingin ke luar dari group musik. 

Namun, pengarahnya mengatakan bahwa Bart “belum sepenuhnya menyanyi sesuai dengan hati yang terdalam, ada yang tersembunyi yang dipendamnya . Potensi menyanyinya tak semaximal mungkin karena persembunyian jiwa yang masih mencari”. Dia menyarankan Bart untuk pulang. Bart memang setengah hati pulang ke rumah. 

Dia pikir dia hanya untuk sekedar melihat kondisi ayahnya. Tetapi dia tidak mengetahui sebelumnya, ayahnya pernah jatuh tak berdaya. Ketika hasil laboratorium di rumah sakit menunjukkan bahwa ayahnya menderita kanker . Ayahnya diminta untuk tinggal di rumah sakit. 

Tapi ayahnya bersikeras untuk pulang. Bart sempat mendengar ayahnya sakit di rumah sakit. Dia tanya apa penyakitnya. Ayahnya menyembunyikan penyakit itu , dia bilang hanya kecapean saja. Begitu Bart pulang, dia hanya bergegas untuk mengambil barang-barang miliknya.Ayahnya memanggilnya untuk makan pagi dulu yang telah disiapkannya. 

 Hati Bart tertegun apa yang diperbuat ayahnya itu suatu keanehan. Bahkan, ayahnya menahannya dan dengan kata-kata yang lembut dia mengatakan “Aku minta maaf atas semua apa yang kulakukan saat kamu kecil!”. Bart tak ingin mendengar kata-kata itu, dianggapnya sebagai suatu kamuflase. Hatinya masih mengeras. Dia segera berbalik arah, naik motornya. Namun, motornya tak berhasil dihidupkan. Berganti naik truk milik ayahnya. Ketika dia masuk ke dalam truk, dia menemukan secarik kertas hasil lab yang menyatakan bahwa penyakit ayahnya adalah kanker. 

Tubuh dan pikirannya lemas, dia masuk kembali ke rumah. Dia mengatakan kepada ayahnya bahwa dia perlu ke dokter. Ayahnya mengatakan “tidak”, ada waktu yang sedikit yang dia harus serahkan kepada Tuhan untuk pengampunan. Sekali lagi Bart tertegun dan memahami apa yang terjadi dengan ayahnya. 

Kenapa ayahnya berubah? Masih dengan tanda tanya yang besar, hatinya masih membatu bagaimana ayah yang pernah menyakiti hatinya begitu rapuh. Tapi sakit-sakit itu masih tetap membekukan jiwa dan hatinya untuk menerima perubahan itu. 

Hingga ayahnya minta di baptis pun masih merupakan misteri baginya. Hatinya tetap tertutup. Ketika suatu hari dia mendengar suatu kotbah yang menyatakan bahwa “Yesus yang tak berdosa telah mati bagi umat manusia telah mengampuni dosa manusia , DIA bisa mengampuni manusia, mngapa manusia tak bisa mengampuni sesamanya yang telah berbuat salah. Hatinya mulai cair dan terbuka. 

Luka lama itu sudah dibasuh oleh Yesus, jadi dia juga harus mengampuni ayahnya. Dalam pengampunan itu Bart merasakan kelegaan dan kedamaian yang luar biasa hingga akhir hayat ayahnya. 

Kedamaian itu membuat Bart mampu membuat suatu lirik lagu “I can only image” yang merupakan hits nya yang pertama hingga laris . Jiwa yang terbuka dan mengampuni itu dicurahkan dalam semua liriknya, dia melihat kehadiran ayahnya bukan lagi sebagai monster tapi darah Yesus telah mengubahnya.

1 komentar