Explorasi Wisata Budaya Garut yang Eksotis




Wisata jadi gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi jika wisata itu jadi tren topik gara-gara diunduh di media sosial. Semua orang berbondong-bondong ingin merasakan sensasi dari apa yang jadi tren itu. 

Jenis wisata yang populer saat ini adalah wisata alam, budaya maupun kulinernya. Wisata bukan sekedar menikmati apa yang dikatakan bagus oleh orang lain, tetapi memburu wisata adalah mendapatkan pengalaman baru, penuh dengan kekayaan adat istiadat lokal . 

Nach, jika Anda ingin mendapatkan pengalaman baru tentang budaya, Garut adalah pilihan yang tepat. Apakah sudah sering mendengar kota Garut? Banyak yang mengatakan bahwa Garut terkenal dengan tempat wisata yang sudah dikenal seperti Kampung Sampiren Resort and Spa, Kompleks Wisata Cipantas Garut, Komplesk Wisata Darajat Garut, Karacak Valley, Kebun Mawar Situhapa, Kawah Talaga Bodas, Gunung dan Kawah Papandayan, Curug Sang Hyang Taraje, Kamojang Ecopark, Pantai Puncak Guha.
Kampung Sampiren. Sumber:  nativeindonesia.com 


Begitu banyak wisata alam yang dapat Anda kunjungi apabila Anda ingin berkunjung ke Garut. Tetapi kali ini saya justru ingin memperkenalkan wisata budaya yang sifatnya berbeda dan unik dari sekedar wisata alam.
Cipanas Garut   Sumber:   nativeindonesia.com

Garut, ada yang mengatakan letaknya jauh dari Jakarta, dekat dari Bandung. Buat mereka yang dari Jakarta, rute menuju kota Garut cukup mudah, Anda bisa ke luar dari tol Cileunyi, lalu mengarakan kendaraan ke jalan raya Bandung-Garut. Di jalan Nagreg, belok kanan dan ikuti terus jalan sampai ke pusat kota Garut. Jika Anda dari Bandung, rutenya Majalaya-Ibun-Kamojang-Samarang-Garut. Kontur dari sebuah kota yang dikelilingi oleh dua gunung tertinggi Gunung Cikuray dan Gunung Guntur.

Kota yang disebut eksotis oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat ini memang terlihat dari kehidupan masyarakat lokal yang kenal dengan budaya Sundanya. Begitu menginjak bumi Garut, terdengarlah percakapan asing yang segera dapat kita tangkap yaitu bahasa Sunda. 

Hampir semua penduduk atau warganya menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa lokal. Jadi jika kita sebagai turis lokal datang ke sana, berharap untuk bisa mengexplorasi apa yang ada dalam tatanan budayanya, sebaiknya gunakan bahasa Sunda . 

Beruntung saya punya teman dari Garut, sehingga dia menjadi penerjemah saya yang setia. Ketika di tahun 2018 Garut memperkenalkan daerahnya dengan acara yang sangat unik yaitu Minum Teh Bersama di Nyaneut Festival. 

Mengapa warga Garut memperkenalkan daerahnya dengan “Minum Teh sebagai atraksi Festival?"
Festival Minum teh "Nyaneut"   Sumber:  jelajahgarut.com


Ternyata di masyarakat Cigedug, dikenal dengan tradisi minum teh bersama. Letak Cigedug adalah dari Cikajang, melanjutkan perjalanan ke Lapang Situgede Cigedug di kaki gunung Cikaray. Warga di sini punya tradisi unik untuk selalu minum teh bersama-sama. Minuman teh Nyaneut dituang dalam gelas cangkir yang terbuat dari seng disajikan disertai dengan cemilan rebusan seperti kacang rebus, ubi jalar, siem atau waluh istilah makanan warga sekitar .
Sumber:  jelajahgarut.com

Menikmati udara yang sejuk di bawah kaki gunung Cikaray, sambil melihat kekayaan kesenian lokal yang disebut dengan Kaulinan Barudak Lembur, Seni Geprak Tongkat, Prosesi Nancut, Tari tradisional diiringi dengan musik kolaborasi Etnik dan Angklung Buncis, Karinding Wayang Golek, jadi satu kesempatan yang istimewa. 

Festival ini diadakan setiap tahun dalam rangka melestarikan kekayaan budaya lokal . Pada tahun 2018 telah diadakan yang kelima kalinya. “Acara Nyaneut” memiliki makna merekatkan silaturahmi antarwarga. Garut termasuk penghasil teh terbesar di pulau Jawa , komoditas utama dagangan Belanda ke Eropa. Khususnya di daerah perkebunan teh, budaya “Nyaneut” sudah menjadi tradisi masyarakat untuk selalu bertemu antar warga . Ke depannya acara “Nyaneut” ini akan menjadi lebih menarik lagi dengan beragam kesenian ditampilkan. 

Wisata Alam dan Budaya Garut juga kaya dengan wisata budaya. Garut jadi pilihan utama untuk berexplorasi wisata budaya. Spesifiknya Garut yang warganya didominasi oleh suku Sunda. Kita dapat mengexplorasi tempat wisata budaya di Garut yang bisa kita kunjungi untuk mendapatkan pengalaman tersebut. Lokasi wisata budaya di Garut seperti Candi Cangkuang dengan Kampung Pulo nya, Graha Liman Kencana dengan koleksi benda sejarahnya dan Kampung Dukuh dengan Kampung Badui Muslim di Garut Selatan. 

Candi Cangkuang:
Candi Cangkuang  -Flickr

 Lokasi Candi Cangkuang ini berjarak sekitar 18 km dari pusat kota Garut dan dapat ditempuh dalam jangka waktu kurang lebih 1 jam. Lokasi Candi Cangkuang tepatnya di Dukuh Pulo, Keluarahan Cangkuang, Kecamatan Leleas, Kabupaten Garut. Untuk menuju ke Candi Cangkuang, kita akan melewati situ Cangkuang. 

Di dalam situ Cangkung juga terdapat pulau-pulau yang dulunya merupakan bukit-bukit. Pulau-pulau itu merupakan sebuah perkampungan yang disebut Kampung Pulo. Disamping itu ada Terdapat makam Arief Muhammad adalah komandan Kerajaan Mataram Islam. Beliau enggan kembali ke Mataram setelah mengalami kekalahan. Beliau menyebarkan agama Islam. Menyeberang situ dengan rakit yang terbuat dari bambu sangat sederhana. Sayangnya, rakit harus menunggu sampai penuh penumpang barulah diberangkatkan. 

Candi Cangkuang merupakan candi peninggalan Hindu. Ketika ditemukan  bangunan candi hanya tinggal 40% sehingga dibuatlah konstruksi dari bahan penyusun mulai dari kaki candi, atap candi dan sebuah patung dewa Syiwa. Pemugaran candi itu selesai dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1976. Dengan pemugaran candi Cangkuang, kita bisa menggali sejarah bahwa budaya Hindu bisa diterima ditengah warga yang umumnya beragama Islam. Sejarah toleransi warga itu menjadi bukti otentik bahwa perpaduan dua budaya yang bisa diterima di tempat yang dominasinya pada satu agama tertentu. 

Kampung Adat Pulo:
Naik Rakit bambu menuju Kampung Adat Pulo   Sumber: native indonesia.com

 Lokasinya menyatu dengan Candi Cangkuang. Setelah naik rakit dari bambu di Situ Cangkuang, dan berjalan sedikit terlihatlah gerbang dengan tulisan “Kampung Adat Pulo”. Sebuah kampung yang dibangun sejak abad ke-17 itu terdiri dari enam rumah dan satu musala
Komplek Rumah adat KP PUlo   Sumber:  kompas.id

. Rumah-rumah itu diperuntukkan keturunan Arief Muhamad. Masing-masing anak perempuan boleh tinggal di rumah itu dan satu musala untuk anak lelakinya. Ada tradisi dan pembelajaran yang diterapkan di daerah itu yaitu aturan atap rumah, tidak boleh menabuh gong besar dan tidak diperkenankan beternak binatang berkaki empat, tidak boleh datang ke makam keramat pada hari Rabu dan malam Rabu. 

 Atap rumah harus memanjang, gong ada kaitana dengan cerita adat dimana terjadi kecelakaan akibat gong yang terjatuh. Cerita menarik lainnya warga boleh makan hewan berkaki empat tetapi dilarang untuk beternak karena binatang berkaki empat itu dianggap akan merusak sawan dan kebuh mereka dan dianggap akan merusak makam leluhur. Rumah peninggalan yang masih dilestarikan .

 Tradisi yang menarik bahwa warga Kampung Pulo beragama Islam tetapi tidak meninggalkan tradisi Hindu. 

Museum Graha Liman Kencana: 
Gapura Kampung  Graha Liman    Sumber:   jelajahgarut.com

Begitu tiba di lokasi terlihatlah arsitektur Pura Bali . Kampung Graha Liman kencana sering disebut dengan Kampung Bali. Lokasinya di Jl.Ki Hajar Dewantara, Sarmanjah 17 Cibunar, Cibatu, Garut, satu jam dari kota Garut. Lalu apa istimeanya? 
Sumber:   TripTrus.com

Kampung ini penuh dengan candi,pura, patung-patung seolah menjaga Kampung Graha Liman Kencana. Dulu daerah ini termasuk daerah gersang, sekarang sudah dipugar dan terlihat kehijauan, sebagai wisata budaya dan edukasi hijau, sehingga pelancong tidak merasa kepanasan. Pemerkasa H.Derajat Hadiningrat, seorang koletor dari Keraton Solo. 
Sumber: TripTrus.com

Semua hasil koleksinya diletaakn dalam sebuah museum yang penuh dengan benda pusaka . Benda pusaka itu terdiri dari 1000 pusaka., keris Ken Dedes , sederet wayang golek peninggalan dalang kondang dari almarhum H. Asep Sunadar Sunarya. Ada tongkat komandanpresiden pertama yang dirawat dan dipamerkan di Graha Liman Kencana. 

Bagi kalian yang penasaran dengan pusaka-pusaka peninggalan jaman kerajaan hingga peninggalan Wali Songo, tempat ini memang cocok untuk kalian kunjungi..

 Wisata budaya sudah selesai, umumnya kita lelah dan perlu makan dan mencicipi kuliner istimewa dari kota yang dikunjungi. Tidak salahnya sambil mencicipi kuliner khas Garut yaitu jika kita mencicipi Soto Ayam , kita bisa berburu oleh-oleh : 
  •  Jaket Kulit Garut 
Sumber: lifestyle.com

Jaket kulit garut cukup dikenal memiliki kualitas yang bagus. Bahkan sudah diekspor ke mancanegara. Selain jaket kulit, banyak juga terdapat produksi kerajinan kulit lainnya seperti tas, ikat pinggang, topi, sarung tangan, dan lain sebagainya. Sentra kerajinan kulit di Garut terletak di Sukaregang. Lokasinya kurang lebih 2 KM dari pusat kota Garut, gampang kok untuk menuju lokasi. 
  •  Dodol Garut
Dodol Garut     Sumber:   makananoleholeh.com

 Selain jaket kulit, dodol juga menjadi salah satu oleh-oleh khas garut. Produsen yang sudah cukup terkenal disini adalah Dodol picnic. Dodol picnic garut memiliki berbagai pilihan rasa dan menggunakan kemasan yang bagus. Cocok untuk anda jadikan oleh-oleh. Selain itu, rasanya juga enak, tidak terlalu manis. 

  •  Chocodot :
Sumber: Kompasiana

Coklat Khas Garut Chocodot merupakan produk coklat yang sekarang menajdi buruan oleh-oleh khas dari Garut. Coklat ini memiliki berbagai rasa yang unik, dengan kemasan yang lucu dan nyeleneh. Cocok sekali kalau anda bawa sebagai oleh-oleh setelah liburan ke Garut. 

Kuliner Lainnya 

Selain tiga hal diatas, kota ini juga memiliki berbagai produk kuliner yang khas seperti;
 • Jeruk garut 
• Dorokdok atau kerupuk kulit 
• Opak 
• Burayot 
• Angleng 
• Ladu 
• Rangginang 
• dan lain-lain.

 Produk-produk kuliner khas Garut bisa anda temukan di sentra oleh-oleh yang banyak terdapat di kawasan Tarogong dan juga di jalan Ciledug. 

 Sumber referensi:

  • Jelajah Garut
  • 10 Makanan Khas Garut yang harus dicoba 
  • Wikipedia

Tidak ada komentar