Melatih Anak Punya Daya Juang yang Kuat

KlikDokter.com


Kebanyakan impian ibu atau orangtua kepada anaknya adalah menjadi orang yang sukses. Orang yang sukses dalam belajar, dalam karir, atau dalam pekerjaan. Seringkali orangtua juga terjebak bahwa suksesnya anak apabila dia sudah menjadi juara terus di sekolah , masuk dalam ranking dan akhirnya bisa masuk ke perguruan tinggi ternama, terkemuka dan berhasil menggondol ijazah dengan cum-laude.  Padahal  daya juang seorang anak untuk keberhasilan itu justru faktor yang paling penting.

Sayangnya paradoks orangtua saat melihat anaknya gagal naik kelas, gagal untuk meraih ranking atau gagal untuk masuk perguruan tinggi yang didambakan. 

Ada yang perlu diubah mindset orang tua tentang keberhasilan anak. Keberhasilan anak bukan soal sukses seperti yang telah dikatakan di atas, tetapi juga menghargai kegagalan. Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan seringkali diasosiasikan dengna hal yang negatif atau pengalaman pahit, buruk . 

Tetapi mindset keberhasilan itu adalah menerima kegagalan itu dengan penerimaan dengan hati yang tulus dan menjadikan kegagalan itu suatu pembelajaran untuk lebih kuat berjuang memperoleh yang lebih kuat dan emosi yang matang dan meningkatkan kemandirian dalam mengatasi masalah.

 Contoh yang dapat dijadikan pelajaran kita semua adalah tokoh dunia yang mampu mengatasi kegagalannya dan menjadi figur ternama di dunia seperti Thomas Alfa Edison, Abraham Lincoln, Neslon Mandela, martin Luther King, Bill Gates, Jac Ma . Mereka semua mengalami kegagalan sebelum jadi figur ternama di dunia .

 Grit adalah ketekunan dan ketahanan seseorang dalam mencapai tujuannya dalam jangka waktu yang panjang . Hal ini menunjukkan grit meleibatkan kerja keras, ketekunan dalam usaha dan minat dalam jangka waktu yang lama meskipun mengalami kegagalan demi kegagalan. Faktor daya juang jadi penting sekali.

 1. Respon yang tepat ketika anak mengalami kegagalan.

 Berikan pujian atas proses yang dialaminya bukan kepada hasil yang didapatkannya. Prosesnya yang sulit bagi anak untuk mencapai sesuatu tapi hasilnya belum memuaskan baik bagi anak maupun orangtua. 

 2. Encouragement:

 Bayangkan anak anda dalam situasi atau kondisi yang tidak menyenangkan, contohnya tidak naik kelas, ditambah dengan orang-orang terdekat di sekitarnya mengatakan bahwa dia memang pantas tidak naik sekolah karena tidak pintar. 

Alih-alih mengatakan hal yang negatif, tapi berikan encouragement seperti dorongan supaya anak bangkit kembali dan berusaha lebih keras dan membangun komunikasi dengan teman-teman dan guru lebih baik supaya proses mengajar dapat lebih lancar, orangtua dapat mengetahui kesulitan anak (pelajaran lebih awal) dan memberikan tambahan pelajaran untuk kekurangannya itu. 

 3. Pemahaman baru

Semua anak itu cerdas , hanya ada anak yang tidak mengoptimalkan kecerdasan itu dengan baik sehingga dia terpaksa tinggal kelas. Cedas bukan hanya di pelajaran tapi harus memiliki ketekunan dan menggali potensi yang jadi kekuataan anak itu.

 Gali dan berikan dukungan optimal untuk kekuataan dirinya sehingga anak bisa mengasahnya lebih mudah ketimbang memperburuk kelemahannya. Jangan merendahkan kelemahan anak dan anak tidak bisa melewatinya sendirian. 

 Daya juang atau grit itu menjadi senjata ampuh bagi anak dalam mencetak keberhasilan baik itu dalam bidang akademik, pekerjaan maupun karirnya. Oleh karena itu orangtua harus belajar optimalkan grit anak ketimbang salah persepsi tentang kesuksesan.

Tidak ada komentar